Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Penulis Hebat
Guyuran air dingin tampaknya cukup berhasil mengusir kegalauan Doni. Dia keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang jauh lebih segar dibandingkan dengan saat kamar kosnya diinvasi oleh si gadis SMA berkuncir kuda. Setelah memakai kaus santai berwarna hitam dengan logo band ‘Avenged Sevenfold’, Doni duduk di depan laptopnya.
Drrt… Drrt…
Sebuah panggilan masuk dari kekasihnya. Kali ini panggilan video. Marcella memang sudah terbiasa menghubungi Doni dengan panggilan video di jam-jam setelah petang seperti ini. Doni menghela napas panjang, merapikan kausnya sejenak agar tak terlihat kusut, lalu menggeser ikon hijau di layar. Wajah cantik Marcella seketika memenuhi layar ponsel. Senyum hangat khasnya menyapa Doni, lengkap dengan kacamata berbingkai tipis yang biasa dia pakai saat bersantai di rumah. Ya, Marcella memang mempunyai mata yang minus, tepatnya minus 1,25. Karena minusnya tidak terlalu tinggi, dia tidak harus memakai kacamata sepanjang hari. Dia biasanya lepas kacamata kalau sedang jalan-jalan, kuliah, atau saat hangout di luar. Tapi saat dia di rumah, saat sedang membaca atau mengerjakan tugas di laptopnya, dia akan memakai kacamatanya agar matanya tidak cepat lelah dan pusing.
“Halo, Sayang! Lagi ngapain?” tanya Marcella penuh perhatian.
“Halo, Cell. Lagi… nggak ngapa-ngapain, sih. Aku barusan banget selesai mandi. Ini baru mau buka laptop. Mau… ngerjain tugas”, jawab Doni dengan nada suara selembut mungkin, lengkap dengan senyuman tipisnya. “Kamu sendiri lagi ngapain?”
“Oh, gitu. Berarti aku ganggu, dong? Ya udah, lanjut aja…”
“Eh? Ng-nggak kok, Cell”, potong Doni sedikit panik. “Nggak apa-apa, kok. Masa ditelpon pacar sendiri ganggu, sih? Tugasnya dikit aja, kok. Lagian… belum besok juga dikumpulinnya. Aku cuma nyicil-nyicil doang, mumpung lagi ada waktu senggang”, sambungnya mencoba menenangkan Marcella.
“Becanda, Don”, ucap Marcella terkekeh. “Iya, aku juga cuma mau nelpon bentar doang, kok”, tambahnya sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.
“Lama juga nggak apa-apa banget kok, sayang”, ujar Doni mesra. “Muka kamu yang full se-layar ini jadi penerang kosanku yang gelap”, sambungnya layaknya seorang pembaca puisi yang handal.
“Cie elah… apaan banget kamu, Don!” ucap Marcella geli namun tetap tersipu malu.
“Gimana? Udah romantis, belum?” tanya Doni terkekeh sambil mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, membuat Marcella tertawa lepas di seberang sana.
“Don! Deket amat! Jauhin dulu muka kamu!” balas Marcella yang masih tertawa dengan menutup mulutnya anggun.
“Hah? Oke oke”, ucap Doni berpura-pura lugu sambil menjauhkan wajahnya dari layar ponsel. Setelah puas tertawa, barulah Marcella bisa menyampaikan alasannya menelpon dengan tenang.
“Jadi gini, Don”, Marcella membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring karena tertawa tadi. “Malam ini kan, Papa udah pulang dari luar kota. Jadi besok Papa mau ngadain makan malam yang berapa kali batal gara-gara si Oliv turnamen mulu. Nah, mumpung dia lagi ga ada turnamen deket-deket ini, makan malam besok jadi lengkap, semuanya ada. Trus, Papa bilang ajak Doni juga. Besok kamu ada acara, nggak?”
“Hmm… kayaknya nggak ada sih, Cell”, jawab Doni setelah berpikir sejenak. “Tapi aku kira itu khusus keluarga kamu doang, kenapa ngajak aku juga?”
“Ya… kamu kan udah kayak keluarga sendiri, Don. Udah sering dateng ke rumah juga. Papa sama Mama juga udah kenal”, ucap Marcella menjelaskan. “Gimana? Mau, ya?”
“Iya, deh”, jawab Doni tersenyum. “Oh iya, kalau gitu sekalian aku mau ngembaliin kaus Polo-nya Papa yang aku pakai kemarin. Besok aku bawain, ya?”
“Oh, yang itu. Santai aja kali, Don. Nggak usah buru-buru juga nggak apa-apa”, ucap Marcella santai.
“Ya… aku yang nggak enak dong, Cell. Masa pakai baju orang nggak dikembaliin”, balas Doni sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok kamar kosnya yang dingin.
“Oke, deh. Bawa aja”, kata Marcella menerima. “Oh iya, Don. Kamu tau NovelToon?”
Deg. Doni yang tadinya bersandar, tiba-tiba terbangun mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang. ‘Kok Marcella bisa tau aplikasi itu? Aku harus jawab apa, nih’, batinnya. Ponsel di tangannya terasa sedikit lebih berat. Dia berusaha menetralkan raut wajahnya di depan kamera sambil menyusun jawaban di pikirannya.
“Don?” panggil Marcella mengagetkan.
“Eh… iya, Cell? Anu… tadi… sinyalnya lagi nggak bagus”, bohong Doni. “Itu… NovelToon, ya? Tau sih, sering liat iklannya lewat di sosmed. Aplikasi baca novel online gitu, kan? Kenapa emangnya, Cell?” sahut Doni, berusaha sepolos mungkin.
“Iya bener yang itu, Don”, ujar Marcella dengan mata berbinar-binar antusias, mengubah posisi tidurnya jadi menyamping. “Aku tadi dikasitau sama temen di kampus. Katanya kalo lagi gabut, coba baca-baca aja, banyak genre-nya. Jadi, aku coba deh baca satu judul di halaman rekomendasi yang menurutku lumayan ringan ceritanya, aku nggak terlalu suka yang berat-berat soalnya. Tadi itu judulnya ‘Di Antara Dua Saudari’, fiksi remaja gitu”, Marcella membetulkan posisi ponselnya.
Jantung Doni seketika berhenti berdetak sesaat. Pengakuan Marcella yang menyebut judul novel buatannya, judul yang secara jujur ditulis Doni untuk menggambarkan situasinya sendiri, membuat tangannya yang memegang ponsel mendadak kaku.
“O-oh ya? Tentang apa ceritanya?” pancing Doni, berusaha sekuat tenaga agar nada suaranya terdengar polos.
“Walaupun ringan, tapi menurut aku menarik sih, Don”, tutur Marcella dengan gaya bercerita yang hangat. “Jadi, tokoh utamanya namanya Dani. Nah, dia ini awalnya pacaran sama adiknya, mereka adem ayem aja, jarang berantem juga. Tapi suatu hari, dia bertamu ke rumah pacarnya, ketemu lah dia sama kakaknya. Eh, malah se-frekuensi! Suka klub bola yang sama, suka musik yang sama, bahkan mereka suka rasa martabak manis yang sama!”
Marcella terkekeh pelan, seolah sangat menikmati alur cerita tersebut.
“Nah, yang bikin aku makin ketagihan tuh bab terbaru yang baru aja di-publish tadi siang! Asli Don, bab kali ini emosinya berasa dapet banget. Si Dani lagi terjebak situasi canggung banget gara-gara nyimpen rahasia soal barang punya kakak pacarnya yang masih ada di rumahnya! Aku pas baca sampai ikutan tahan napas! Menurut aku sih, penulisnya hebat banget ya. Kok bisa gitu, nulis deskripsi kepanikan si Dani secair dan senyata itu? Kayak beneran pernah ngalamin aja!”
Doni menelan ludah secara diam-diam. Tenggorokannya terasa sangat kering. Mendengar Marcella mengulas novel buatannya sendiri, bahkan menyebut nama Dani, karakter yang memang diciptakan sebagai cermin dirinya, membuat rasa bersalah di dada Doni makin menumpuk. Namun, kewaspadaan Doni yang membuatnya mempunyai ide untuk menukar status kakak-adik itu, tampaknya masih berhasil menyelamatkannya. Setidaknya, identitas sang ‘penulis hebat’ itu masih belum disadari oleh wanita yang sedang berbicara dan memujinya setinggi langit saat ini.
“M-masa sih? Mungkin penulisnya emang pinter ngolah imajinasi aja, Cell”, sahut Doni berusaha tersenyum wajar.
“Iya kali, ya. Tapi beneran deh, author-nya pinter banget. Aku makin penasaran gimana nasib si Dani ini selanjutnya”, jawab Marcella manis, yang kemudian menguap kecil, lalu melepaskan kacamatanya.
“Udah ngantuk, Cell? Ya udah, bobo sana”, ucap Doni perhatian.
“Iya, nih. Kamu juga istirahat ya, jangan begadang terus”, omel Marcella tak kalah perhatian. “Good night, Don. Jangan lupa besok!” Marcella mengingatkan.
“Iya, iya. Aku usahain dateng. Good night, Cell”, balas Doni.
Panggilan video terputus. Layar ponsel kembali gelap.
Doni merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar kos yang samar. Suasana hening kembali menyergap. Antusiasme Marcella saat menceritakan sosok Dani dan judul novelnya terus bergaung di kepala Doni. Besok sore, Doni akan kembali melangkah ke rumah Marcella, membawa kaus Polo Papa, dan harus siap berhadapan dengan Marcella serta Olivia dalam satu meja makan yang sama. Lagi.