Season 1 : Nadia dan Nathan (Tamat)
Season 2 : Nara dan alex (Tamat)
Baca juga kelanjutannya dengan judul dan kisah baru "Pernikahan Paksa Karina"
Seperti biasanya, baca lima episode dulu ea biar enak bacanya.
Nadia Ayu Purnama adalah seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang terpaksa menikah dengan seorang rentenir.
Menjadi istri muda dari seseorang yang lebih pantas disebut paman olehnya membuatnya tersiksa. Apalagi tekanan dari Devi, istei pertama Bondan yang selalu menyiksanya bukan hanya dengan fisik, tapi juga dengan perkataan yang selalu membuat air mata Nadia meleleh.
Akankan seumur hidup dia berada dalam kubangan menjadi istri kedua yang menderita? Atau apakah dia dapat terlepas dari laki-laki yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri?
Mari kita Do'akan agar Nadia menemukan laki-laki yang dapat menyelamatkan hidupnya dan menerima Nadia dengan cintanya yang tulus. Aamiiin.
Ikuti ceritanya ya Zheyenk 😘
Jangan lupa Vote dan Rate dulu dong 😁
Terus masukin juga jadi favorit kamu 😎
Ya udah deh. Silahkan membaca 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mempertimbangkan Saran
Kehamilan Nadia sudah masuk bulan ketiga. Hingga saat ini Nadia bisa menyembunyikan kehamilannya dengan semua orang. Walaupun kadang Nadia merasakan nyeri setelah melakukan kewajibannya pada suaminya, untung saja semua masih aman terkendali.
Bidan Asti bahkan berkata jika Janin yang dikandung Nadia adalah janin yang kuat. Nadia patut bersyukur saat ini. Apalagi di saat merasakan getaran kecil di dalam perutnya. Ia akan merasa jauh lebih baik. Nadia harus kuat demi bayi yang dikandungnya. Cucu untuk bapak yang tak sempat ia kabarkan pada bapaknya....
Hari ini Nadia memutuskan untuk pergi ke klinik bersalin di kota. Ia ingin melakukan pemeriksaan yang mendetail pada kondisi kehamilannya. Ia berencana akan melakukan USG.
Tak ada yang tahu keberangkatannya. Kecuali Joni dan Nita yang memang ia percayai.
Sesampainya di klinik Nadia segera masuk dan mendaftarkan diri. Joni tidak masuk ke dalam klinik. Ia hanya menunggu di luar. Nadia duduk di depan ruangan dokter menunggu giliran. Ada empat pasangan suami istri yang duduk. Sama dengannya yang sedang menunggu giliran. Ia sempat minder karena hanya dirinyalah yang tidak didampingi oleh suaminya.
Apalagi mereka memandang Nadia dengan pandangan yang merendahkan. Mungkin mereka berfikir jika Nadia hamil di luar nikah. Melihat wajah Nadia memang masih muda dan tidak ada seseorang yang menemaninya.
“Bu Nadia.” Suara itu mengejutkan Nadia yang sedang melamun. Nadia menoleh. Karena terlalu larut dalam lamunan, ia sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang berada di sampingnya.
“Maaf saya sudah mengagetkan anda.”
“Ah tidak apa-apa dokter. Saya yang melamun sampai tidak menyadari kedatangan dokter. Dokter Nathan sedang apa disini?”
Tidak langsung menjawab, Nathan minta izin duduk di samping Nadia. “Boleh saya duduk disini?”
“Em. Tentu saja.”
“Saya menemui adik saya. Kebetulan dia salah satu dokter anak disini.” Nadia hanya manggut-manggut. “Bu Nadia sendiri?” lanjutnya.
“Saya sedang memeriksakan kandungan.”
“Sudah berapa bulan?”
“Masuk tiga bulan.”
“Juragan Bondan masih belum tahu?” tanya Nathan. Ia tahu sejak awal jika kehamilan wanita cantik yang sempat mencuri perhatiannya itu dirahasiakan.
Nadia menggeleng. “Saya takut apa yang mereka alami juga akan saya alami dok. Mau seperti apapun hubungan antara saya dengan bapak, saya sangat menyayangi anak saya.” Nadia mengelus perutnya. “Sebenarnya saya tidak enak menyembunyikannya dari bapak. Tapi kalau saya bilang. Bu Devi juga pasti akan segera tahu.”
Nathan mengerti apa yang ditakutkan Nadia. Ini lumrah. Sebagai seorang calon ibu, keselamatan anak yang dikandungnya sangatlah penting. Apalagi mengingat banyaknya kasus yang terjadi di masyarakat. Apalagi sekarang yang hamil adalah istri sah. Pasti usaha untuk melenyapkannya akan jauh lebih besar.
“Tapi kalau boleh saya sarankan, lebih baik semua ini anda bicarakan dengan juragan Bondan. Bilang padanya untuk merahasiakannya juga. Saya rasa dia juga akan berusaha melindungi anak kalian.”
Nathan tidak bisa membantu. Tapi ia bisa memberi saran. Dari awal sebenarnya ia tidak setuju jika Nadia menyembunyikan kehamilannya pada suaminya. Jika suaminya terlalu kasar saat berhubungan akan menimbulkan dampak yang bisa saja membahayakan, sehingga saran ini mungkin yang paling baik untuk diberikan.
Nadia menimbang perkataan dokter Nathan. Joni juga sering memberinya saran seperti itu. Tapi ia masih bingung. Sebenarnya ia juga ingin membagikan kabar bahagia ini pada suaminya. Tapi rasa takutnya akan keselamatan bayinya membuatnya ragu.
“Kak Neil.” Suara seorang wanita membuat atensi kedua orang itu mengarah kepadanya. Seorang wanita mendekati mereka dengan jas putih khas dokter. Wajahnya cantik. Rambutnya yang panjang digerai ke belakang dengan poni tipis di dahinya. Dilihat dari kontur wajahnya, sedikit ada kemiripan dengan Nathan. Karena ia memang adiknya, Natasya Charmeida Mahardika.
Dokter Nathan dan Nadia bangun saat Natasya mendekat. Kedua kakak beradik itu saling berpelukan melepaskan rindu. Sudah hampir setengah tahun sejak Nathan ditugaskan menjadi dokter relawan di puskesmas, mereka tidak bertemu. Dan sekarang, Natasya juga sedang melakukan koasnya di kota yang sama. Ini kesempatan mengadakan reuni keluarga.
“Sya perkenalkan ini salah satu warga desa tempatku mengabdi. Bu Nadia.” Nathan melihat ke arah Nadia dan Natasya bergantian. “Bu Nadia, ini adik saya satu-satunya Natasya.”
“Nadia”
“Natasya.”
“Saya senang sekali bertemu dengan anda Bu Nadia.” Natasya tersenyum. Ia mengamati wanita muda cantik di samping kakaknya. Dilihat dari penampilannya yang sederhana memang jelas dia dari desa. Tapi wajahnya cantik alami tanpa make up berlebih.
“Nadia saja. Sepertinya kita seumuran.” Nadia tersenyum ramah.
“Baiklah. Oh ya Nadia. Kamu tampak serasi dengan kakakku. Apa kalian?” Natasya memicingkan matanya. Penuh selidik. mungkinkah wanita muda yang terlihat cantik itu adalah calon kakak iparnya.
“Jangan berfikir yang bukan-bukan.” Nathan segera mematahkan anggapan Natasya.
“Ibu Nadia!” panggil seorang suster yang terlihat di ambang pintu ruang dokter kandungan yang sedari tadi ditunggu oleh Nadia.
“Saya Sus.” Nadia menengok sekejap sebelum pamit pada Nathan dan Natasya. Nadia merasa beruntung panggilan suster itu menyelamatkannya dari suasana canggung yang tercipta beberapa detik yang lalu. Nadia masuk ke dalam ruangan dengan gugup.
“Aku kira dia wanita hebat yang berhasil membuatmu tertarik kak.” Kata Natasya setelah Nadia hilang di balik pintu.
“Dia memang berhasil membuatku tertarik. Tapi dia sudah ada yang punya. Kamu lihat, dia sedang memeriksakan kandungannya. Dia hamil anak suaminya.” Aku Nathan. Sekaligus curhat dadakan. Membagi sedikit pilu hatinya yang sedang patah hati.
“Ck. Kasihan sekali kakakku ini. Baru pertama kali jatuh cinta sudah dibuat patah hati aja.” Cibir Natasya.
“Sudahlah jangan dibahas.” Dokter tampan yang baru saja mengakui perasaannya itu menyesal telah memberitahukan perasaannya pada adik satu-satunya.
“Cie kakakku yang tampan ini ngambek.” Natasya semakin gencar menggoda Nathan. Laki-laki tampan itu segera memiting adiknya untuk dia bawa pergi dari sana.
Sedangkan di dalam ruangan dokter kandungan. Nadia dibuat takjub dengan apa yang terlihat di monitor. Meskipun hanya terlihat gambar hitam dan putih, tapi janin kecil itu sudah terbentuk. Tangan dan kakinya yang kecil sudah terlihat lucu. Belum lagi bentuk kepala yang telihat lebih besar dengan lekukan-lekukan yang membentuk wajah.
“Ini kaki dan tangannya mulai terbentuk. Tapi jenis kelaminnya belum dapat dilihat.” Jelas dokter wanita itu dengan ramah. Nadia ikur memperhatikan hambar kecil di monitor.
“Detak jantungnya bagus. Geraknya juga lincah.” Katanya lagi. Nadia hanya diam mendengarkan dengan seksama.
“Sering ajak bicara ya bu. Dalam tahap ini bayi sudah bisa merespon apa yang kita ucapkan.”
“Iya dok.” hanya itu yang mampu terucap. Dapat melihat sendiri bagaimana perkembangan si kecil di dalam membuatnya takjub. Ia tak pernah membayangkan akan ada makhluk kecil di dalam rahimnya. Perlahan air matanya menetes. Haru.
“Sayangnya air ketubannya agak keruh. Ibu jangan terlalu berfikir keras ya. Ini dapat mempengaruhi janin.” Dokter Friska tersenyum. Namun dengan keseriusan dalam setiap katanya. Ia memang tidak mengetahui segalanya tentang pasiennya. Tapi dia hanya bisa memberikan saran agar segala sesuatu yang berkaitan dengan kandungan sang pasien berjalan dengan baik.
“Iya Bu. Saya akan mencoba.” Dokter dengan Nametag Friska itu tersenyum. Calon ibu muda di depannya ini adalah satu-satunya wanita yang datang seorang diri. Apakah ada masalah di keluarganya hingga ia datang seorang diri?
“Apa ada keluhan lain yang Bu Nadia rasakan?”
“Apakah masalah dok jika melakukan hubungan suami istri setiap hari?”
“Saya sarankan sebaiknya kurangi frekuensi berhubungan. Apalagi jika penetrasinya sampai dalam. Dikhawatirkan akan melukai yang di dalam.” Jelas Dokter Friska.
Sebenarnya Nadia malu untuk mengatakan masalah rumah tangganya. Namun ini pentung demi anak yang ada di rahimnya. Dia juga sering merasa tidak nyaman setelah berhubungan.
Di dalam mobil yang membawanya kembali ke desa, Nadia terus memikirkan perkataan dokter Friska. Perkataan itu menjadi pertimbangan untuk langkahnya ke depan.
“Anda dan suami masih bisa tetap berhubungan. Namun harus hati-hati. Selalu ingatkan suami agar melakukannya dengan pelan. Juga jangan terlalu dalam. Gunakan posisi yang nyaman. Jangan sampai membuat perut anda tertekan.”
“Huft” Nadia membuang kasar nafasnya. Perkataan dokter Friska membuatnya berfikir jika saran Joni dan Nathan memang benar. Kehamilan ini harus dibicarakan dengan pihak kedua yang lebih berhak tahu.
*
*
*
Jangan Lupa Like 👍Vote💪 dan komen📄
Apresiasi kamuh adalah semangat akoh...😎
Terima kasih 😊
^^^~*{Aku Istri Muda}*~
^^^