Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.
Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.
Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parenting
Dara turun dari bus berjongkok dekat semak-semak untuk memuntahkan sesuatu yang sudah ia tahan. Seseorang menyodorkan sebotol minuman pada Dara yang langsung diambil tanpa melihat siapa yang menyerahkannya.
"Sudah lebih baik." Dara menoleh menatap orang yang berdiri di dekatnya. Ia berdiri, ketika menyadari jika Reza yang menyerahkan air minum. Namun, karena habis muntah dan tiba-tiba berdiri, ia merasa pusing. Wanita itu terhuyung memegangi kepala. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk kepalanya.
"Kau baik-baik saja." Reza menahan badan Dara dengan tatapan khawatir.
"Jika masih sakit lebih baik tidak usah berangkat bekerja," ucap Reza.
"Uhh... tidak, Pak. Saya hanya pusing nanti baikan."
"Baiklah masuk ke mobil."
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa jalan kaki restoran juga sudah dekat," tolak Dara.
"Masuk atau kau kembali pulang saja," ancam Reza.
Menghembuskan nafas lelah Dara masuk. Reza memutari mobil masuk pada kursi kemudi dan melajukan mobil ke parkiran restoran. Saat keluar dari mobil banyak yang memperhatikan Dara karena satu mobil dengan Reza. Mereka menatap heran sekaligus bingung pada Dara. Tidak ada yang berani menanyakan apapun. Mereka bahkan pura-pura tidak tahu. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangan Dara.
"Semua, saya minta perhatiannya sebentar," ucap Reza.
Semua karyawan menghampiri dan mengelilingi Reza. Banyak diantara mereka yang berbisik membicarakan informasi apa yang akan diberitahukan Reza.
"Mulai hari ini dan seterusnya kasir akan digantikan oleh Dara. Saya harap kalian tidak ada yang keberatan akan keputusan saya. Jika ada yang ingin ditanyakan saya persilahkan." Salah satu karyawan mengangkat tangan ingin mengajukan pertanyaan. Reza mengangguk mempersilakan salah satu karyawannya untuk bertanya
"Kenapa harus Dara, Pak, padahal kasir sebelumnya tidak ada masalah."
"Saya memiliki alasan khusus yang tidak bisa diberitahukan, tapi saya sudah berdiskusi dengan kasir sebelumnya dan dia tidak masalah."
Dara menatap bingung pada pengumuman Reza. Dirinya dipindah tugaskan pada bagian kasir, bagaimana bisa? Di hari ia masuk sudah mendapat tanggungjawab besar. Melirik pada Fera wanita itu hanya tersenyum misterius terhadapnya. Apa semua rencana Fera agar pekerjaan Dara menjadi lebih ringan. Jika iya, Fera sangat keterlaluan karena pasti akan menimbulkan benak tanya di karyawan lain, apalagi Reza yang tidak memberitahu alasannya.
Dara melebarkan mata menutup mulutnya saat terlintas pernyataan jika Fera sudah memberitahu kehamilannya pada Reza, dan lagi tadi Reza memergoki Dara yang sedang muntah. Apa semua akan terbongkar secepat ini.
"Baiklah silakan kembali pada pekerjaan kalian masing-masing dan Dara silakan menuju kasir. Sinta yang akan mengajarimu beberapa hal," ucap Reza yang mendapat anggukan dari para karyawan dan juga Dara.
Semua bubar mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Dara dan Sinta masuk pada bagian kasir. Sinta menjelaskan dengan singkat apa yang perlu diperhatikan saat menjadi kasir, seperti bersikap ramah, murah senyum, menghitung uang pembayaran serta pengembalian, dan konfirmasi jika terjadi kesalahan sistem. Dara memperhatikan semua yang diucapkan dan dipraktekkan Sinta kepadanya. Setelah itu Sinta pamit pergi mengurus yang lain. Dara berusaha menyesuaikan diri dengan tempat barunya. Sebelum tiba-tiba Fera datang menggebrak meja membuat Dara melonjak kaget.
"Fe, astaga kamu bikin aku jantungan." Dara mengelus dada berusaha meredakan debaran karena terkejut. Fera hanya meringis tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Ya, sorry. Ehh ... lo suka, 'kan ada di sini? Gue loh yang merekomendasikan lo gantiin Sinta," ucap Fera sangat percaya diri karena berhasil meringankan pekerjaan Dara. Setidaknya Dara tidak akan mondar mandir mengurusi pesanan pembeli.
"Aku gak percaya, kamu tega melakukan itu sama aku, Fe. Cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu." Fera menatap bingung pada perkataan Dara yang ambigu.
"Maksud lo apaan, Dar."
"Jangan sok polos Fera. Dara tahu kamu pasti sudah memberitahu kehamilan Dara sama Pak Reza agar Dara dipindah tugaskan di bagian kasir." Dara menatap Fera tak habis pikir. Namun, Fera tertawa keras atas pemikiran Dara yang terlalu over.
"Ya, gak lah, lo ngaco." Masih tertawa memegang perut.
"Jadi, gimana kamu meyakinkan Pak Reza untuk memindahkan Dara."
"Gampang, gue bilang lo itu sakit dan gak boleh capek kalau gak mau penyakit lo kambuh, gitu. Dan Pak Reza percaya aja tuh," bisik Fera agar tidak terdengar orang lain bahwa ia telah membohongi sang atasan.
Dara mengacungkan jempol atas ide gila Fera. Cukup salut karena Fera memiliki keberanian membohongi Reza. Setelah mengutarakan apa yang seharusnya Dara tahu agar tidak terjadi kesalahpahaman, Fera pergi ke belakang. Dara menatap pada radio kecil di samping komputer, tangannya gatal ingin menyalakan radio. Secara gesit Dara menyalakannya mendengar penyiar radio berbicara.
Hallo welcome to Suaradio, kembali lagi bersama saya, Pevita Malik dalam ilmu parenting. Hari ini kita akan membahas tahapan yang harus diketahui para orang tua agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan gendernya. Mari kita mulai pembahasan yang seru ini.
Dara menyimak apa yang dikatakan penyiar radio. Topik yang dipilih memikat perhatian Dara dalam sekejap.
Usia 0 sampai 2 tahun
Di usia ini anak harus dekat dengan ibunya. Karena ibu harus menyusui anak sampai dengan 2 tahun. Menyusui, bukan memberi asi semata praktik terbaiknya langsung disusui tanpa pumping.
Tanpa sadar Dara mengangguk.
Usia 3 sampai 6 tahun
Di usia ini anak harus lebih dekat dengan kedua orang tuanya. Dekat dengan ibu, juga dekat dengan ayahnya dan perbanyak aktivitas bersama sama dengan si anak.
Dara tersenyum miris mendengarnya, karena anaknya tidak akan merasakan hal tersebut.
Usia 7 sampai 10 tahun
Di usia ini dekatkan anak sesuai dengan gendernya. Kalau anak laki-laki, maka dekatkan dengan ayah. Ajak si anak untuk beraktifitas yang menonjolkan sisi ke-maskulinnya. seperti nyuci motor dan lain sebagainya. Dan jika anak perempuan, maka dekatkan dengan ibunya. ikut sertakan anak dalam aktifitas yang sangat menonjolkan sisi ke-feminimannya. Seperti utak-atik di dapur bersama anak perempuan, dan melibatkannya saat bersih-bersih rumah, menjahit dan lain sebagainya.
Dara akan mengusahakan anaknya tidak akan kekurangan figur ayah.
Usia 11 sampai 14 tahun
Pada Usia ini mulailah menukar kedekatan si anak sesuai dengan gender. Jika anak laki-laki maka dekatkan pada ibunya, jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya. Ada sebuah penelitian yg menunjukkan jika anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase pertumbuhan ini, maka dalam data penelitian tersebut menunjukkan anak akan 6x lebih rentan ditiduri oleh laki-laki lain. Di sebuah artikel parenting, saya juga pernah menemukan hal tersebut.
Jika tidak dekat dengan ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki-laki yang menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata. Logis juga sih. Saat ada laki-laki yang memuji kecantikannya, mungkin anak perempuan tersebut tidak mudah baper karena ada ayahnya yang lebih sering memujinya.
Kalau ada laki-laki yang memberikan hadiah, anak perempuan tersebut tidak akan mudah tertarik karena ada ayahnya yang lebih dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah, maka sebaliknya dengan anak laki-laki harus dekat dengan ibunya. Efek yang sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki-laki punya potensi lebih besar untuk jadi suami yang kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
Hati Dara tersentil mendapat fakta tersebut. Dia tidak bisa sepenuhnya menggantikan figur seorang ayah. Tanpa diminta air matanya sudah menetes.
Oke, terima kasih banyak para pecinta suaradio atas waktunya. Nantikan terus ilmu parenting lainnya. Saya Paveta Malik pamit undur diri dan terima kasih.
Suara radio tergantikan oleh alunan musik yang merdu. Dara menghapus air mata, kemudian mematikan radio tersebut. Hatinya gundah setelah mendengar siaran tadi. Apa ia harus meminta peran Raffa dalam mengurus anaknya kelak.
"Apa yang harus aku lakukan," lirih Dara. Ia teringat perkataan Oma mengenai lingkungan tumbuh kembang anak. Semua sangat membingungkan.
***
Happy reading.
Sudah-sudah jangan marah lagi. Nih author kasih ilmu parenting untuk para orang tua, maupun calon orang tua atau anak muda yang tidak dekat dengan salah satu orang tua. Maafkan author terlalu menguras esmosi kalian, ehh salah maksudnya emosi hehe.
Salam sayang dari aku.
heheh
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius