Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Menjelang waktu makan siang, aroma masakan yang sangat menggugah selera mulai tercium dari arah dapur. Bu Lastri tampak sibuk bergerak lincah di sana, menyiapkan hidangan istimewa untuk merayakan hari pertama mereka menempati rumah baru. Ia memasak sayur asem, ikan bakar bumbu kecap, tumis kangkung, dan sambal terasi yang harumnya memenuhi seisi rumah. Kini tangannya terasa ringan dan hatinya damai, tak lagi gemetar karena takut dimarahi atau disalahkan seperti dulu.
Sementara itu, di ruang tengah, Samantha dan Suci duduk bersandar di sofa empuk sambil menata berkas-berkas kecil dan sketsa di atas meja. Mereka sedang asyik merencanakan segala persiapan untuk pembukaan salon kecantikan pertama mereka.
"Jadi menurutku, bagian depan kita buat menjadi ruang tunggu yang nyaman dengan dekorasi bunga segar dan majalah terbaru," ujar Samantha sambil menunjuk sketsa denah ruangan. "Supaya pelanggan tidak bosan saat menunggu giliran."
Suci mengangguk mantap sambil mencatat poin penting di buku catatannya. "Setuju, Sam. Lalu untuk ruang perawatannya, sebaiknya dipisah antara area wajah dan area penataan rambut ya? Supaya lebih rapi dan tidak berdesak-desakan. Aku juga sudah mencatat daftar alat dan bahan yang harus kita beli nanti."
"Bagus sekali," puji Samantha sambil tersenyum. "Nanti kita juga akan cari karyawan lain yang terampil, tapi kamu tetap akan menjadi orang kepercayaanku yang mengatur semuanya di sana. Aku yakin kamu bisa belajar dengan cepat dan menjadi pemimpin yang baik nantinya."
Wajah Suci berseri-seri mendengar dukungan itu. "Terima kasih, Sam. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga. Rasanya mimpi sekali kita bisa mewujudkan cita-cita ini bersama-sama."
Tidak lama kemudian, suara Bu Lastri terdengar memanggil dari pintu dapur. "Nak Samantha, Suci... ayo makan dulu! Masakan Ibu sudah siap di meja makan."
Mereka pun segera menutup buku dan berkasnya, lalu berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana tersaji hidangan sederhana namun penuh dengan kasih sayang, menjadi bukti kebahagiaan yang mulai tumbuh di rumah baru mereka.
Mereka menyantap hidangan buatan Bu Lastri dengan nikmat. Suasana meja makan terasa begitu tenang, hangat, dan penuh rasa syukur. Tidak ada lagi ketakutan atau kecemasan yang dulu selalu membayangi, hanya ada kebahagiaan sederhana menikmati kebersamaan satu sama lain.
Setelah selesai makan, Samantha dan Suci serentak berdiri hendak membereskan piring kotor dan sisa makanan. Namun Bu Lastri segera menahan tangan mereka berdua dengan lembut.
"Sudah, biar Ibu saja yang membereskannya," larang Bu Lastri sambil tersenyum ramah. "Kalian berdua lanjutkan saja menyusun rencana salon tadi. Itu jauh lebih penting dan butuh pemikiran yang tenang. Ibu senang sekali melihat kalian punya cita-cita besar yang dijalani bersama. Biarkan Ibu yang mengurus hal kecil di dapur ini, Ibu sudah biasa melakukannya dan malah merasa senang bisa membantu seperti ini."
Melihat ketegasan sekaligus kelembutan di wajah Bu Lastri, Samantha dan Suci akhirnya mengangguk dan menuruti permintaannya.
"Baiklah kalau begitu, Bu. Terima kasih banyak ya," ucap Samantha tulus. "Kalau Ibu butuh bantuan, panggil kami saja segera."
"Iya, Bu. Jangan dipaksakan ya," tambah Suci.
Mereka pun kembali duduk di ruang tengah, menyusun kembali sketsa dan catatan yang tadi sempat tertunda. Sementara Bu Lastri dengan hati gembira membawa piring ke dapur, merasa akhirnya ia pun bisa berperan serta mendukung langkah baik putrinya dan sahabatnya.
Setelah semua rencana salon tersusun rapi dan catatan penting sudah disiapkan, Samantha baru teringat dengan ponselnya yang sejak tadi diletakkan di meja samping dalam keadaan senyap. Ia pun mengambilnya dan menyalakan layar, seketika matanya menangkap notifikasi panggilan tak terjawab yang cukup banyak.
Wajahnya seketika berubah cemas. "Ya ampun... ada lima panggilan tak terjawab dari Samuel," gumamnya pelan.
Tanpa menunggu lama, Samantha segera menekan tombol panggil balik. Jantungnya berdegup kencang menunggu nada sambung, namun detik demi detik berlalu, panggilan itu tidak diangkat dan akhirnya berhenti sendiri.
Samantha mencoba menelepon sekali lagi, namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban. Perasaan cemas mulai menyelimuti hatinya. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana.
"Pasti dia marah ya karena aku tidak mengangkat teleponnya sama sekali," batinnya sedih. "Padahal tadi kami sudah berjanji untuk bertemu makan siang. Dia pasti mengira aku sengaja menghindarinya atau tidak menepati janji."
Suci yang melihat perubahan wajah sahabatnya segera mendekat dan menepuk bahu Samantha pelan. "Kenapa, Sam? Wajahmu terlihat cemas sekali. Tidak diangkat teleponnya?"
Samantha mengangguk pelan sambil menghela napas panjang. "Iya, Suci. Dia menelepon berkali-kali tadi, tapi ponselku di silent . Sekarang aku yang menelepon balik, tidak diangkat lagi. Aku takut dia kecewa dan marah padaku."
"Tenang dulu, Sam," hibur Suci lembut. "Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang ada urusan mendadak sehingga tidak sempat mengangkat. Belum tentu dia marah. Nanti kalau sudah ada waktu luang, pasti dia akan membalas atau menelepon kembali."
Samantha hanya tersenyum tipis, namun kekhawatiran itu masih tersisa di hatinya. Ia berharap dugaan salahnya saja, dan Samuel bisa memahami keadaannya.
Samantha segera berdiri dari duduknya, berusaha menepis sedikit rasa cemas yang masih tersisa. Ia menatap Suci dan Bu Lastri dengan senyum yang kembali tenang.
"Bu, Suci... sepertinya aku harus pamit pulang dulu ya," ucapnya lembut. "Sekarang aku harus segera menjemput Aisyah, keponakanku. Waktunya pulang sekolah sebentar lagi ."
Suci mengangguk pengertian, lalu berdiri ikut menyambut perpisahan itu. "Baiklah, hati-hati di jalan ya, Sam. Jangan terlalu dipikirkan tadi, nanti pasti ada waktu lagi untuk bicara sama Samuel."
"Terima kasih ya sudah mengerti," jawab Samantha sambil menepuk pelan lengan sahabatnya. "Ngomong-ngomong, besok pagi aku akan menjemputmu. Kita akan pergi survei lokasi untuk tempat salon kita. Aku sudah menyiapkan beberapa pilihan tempat yang strategis, supaya kamu juga bisa melihat dan menentukan mana yang paling cocok menurutmu."
Mata Suci langsung berbinar cerah mendengar itu. "Wah, seru sekali! Aku sudah tidak sabar, Sam. Terima kasih sudah melibatkanku dari awal seperti ini."
Bu Lastri pun mendekat dan menyalami Samantha. "Hati-hati menyetirnya, Nak. Sampaikan salam Ibu untuk Aisyah. Semoga urusan kalian besok berjalan lancar."
"Aamiin. Terima kasih, Bu. Assalamualaikum," pamit Samantha sambil melambaikan tangan, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, harapan baru kembali menyelimuti hati Samantha meski masih ada sedikit kekhawatiran soal Samuel, ia yakin segala hal baik akan berjalan sesuai waktunya.
Bu Lastri dan Suci berdiri berdampingan di ambang pintu, menatap lekat-lekat mobil putih milik Samantha yang perlahan melaju meninggalkan halaman. Mata mereka terus mengikuti pergerakan kendaraan itu hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan, menyisakan debu tipis yang perlahan jatuh kembali ke tanah.
Suasana di halaman depan menjadi hening sejenak, namun keheningan itu terasa hangat dan penuh rasa syukur. Bu Lastri menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut sambil menatap ke arah jalan yang sudah kosong.
"Sungguh baiknya hati anak itu ya, Suci," ucapnya pelan namun penuh kekaguman. "Belum pernah aku bertemu orang yang begitu kaya dan berkuasa, tapi tetap rendah hati dan mau berbagi nasib dengan orang miskin seperti kita. Semoga Tuhan senantiasa melindunginya dan membalas segala kebaikannya dengan kebahagiaan yang berlipat ganda."
Suci mengangguk mantap, matanya masih menatap ke arah kepergian sahabatnya. "Iya, Bu. Samantha memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dia tidak hanya menyelamatkan hidup kita, tapi juga memberi kita harapan dan masa depan yang cerah. Aku berjanji akan bekerja sekeras mungkin agar tidak mengecewakannya."
Bu Lastri lalu menoleh ke arah putrinya, menepuk bahu Suci dengan penuh kasih sayang. "Ibu yakin kamu pasti bisa, Nak. Ayo, mari kita masuk. Kita persiapkan semuanya dengan baik untuk hari esok."
Mereka pun berjalan masuk kembali ke dalam rumah baru itu, hati mereka tenang dan damai, siap menyambut hari esok yang penuh harapan.
Bersambung...