Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Altar Pembuktian
Gemuruh kepanikan seketika melanda seluruh penjuru Aula Sidang Agung Kekaisaran bawah. Suara bisik-bisik dari ribuan menteri dan tetua dewan terdengar bagai dengungan lebah raksasa yang memenuhi kubah pualam hitam.
Di tengah podium bundar, Marsekal Vane mencengkeram hulu pedang emasnya dengan wajah yang memerah padam menahan murka, sementara Brakala di sampingnya mencoba menstabilkan napasnya yang sempat tercekat akibat tekanan intimidasi aura safir milik Alden.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau mengacaukan Sidang Agung, Alden!" bentak Marsekal Vane, suaranya yang lantang menggelegar mencoba merebut kembali wibawa ruangan. "Pengawal! Divisi Zirah Hitam! Tunggu apa lagi? Seret pembelot ini dan wanita cacat di sampingnya ke penjara bawah tanah sekarang juga!"
Puluhan prajurit berzirah hitam berat yang berjaga di setiap sudut pilar langsung menghentakkan tombak mereka ke lantai marmer dengan bunyi DANG! yang memekakkan telinga.
Mereka mulai melangkah maju, membentuk kepungan rapat dengan mata tombak yang mengarah lurus ke dada Alden dan Clara.
"Tahan senjata kalian!" Sebuah gaung vokal yang teramat berat dan sarat akan otoritas absolut mendadak menghentikan pergerakan seluruh pasukan.
Kaisar Tertinggi Valerius berdiri dari singgasana emasnya. Jubah putih bertahtakan permata bintang miliknya berkilau indah di bawah cahaya lilin sihir yang melayang. Sepasang mata sang penguasa tertinggi menatap tajam ke arah tengah ruangan, beralih dari Marsekal Vane menuju sosok Kapten Alden yang tetap berdiri tegak tanpa setitik pun ketakutan di wajah obsidiannya.
"Kekaisaran ini dibangun di atas fondasi hukum dan keadilan sejati, bukan atas dasar kepanikan seorang Marsekal," ujar Kaisar Valerius, suaranya yang tenang namun menekan membuat seisi ruangan mendadak bungkam.
"Kapten Alden, kau telah melanggar protokol dengan menerobos dinding utilitas istana. Namun, kau menyebut tentang bukti konkrit persekongkolan keji. Tunjukkan bukti itu di hadapan altar dewan sekarang, atau kepalamu akan terpenggal di tempat ini sebelum fajar menyentuh menara."
Alden tidak membuang waktu. Dengan gerakan tangan kiri yang efisien, ia meraba bagian dalam jubah perang hitamnya. Pria itu mengeluarkan sebuah botol kristal kecil yang sejak tadi mendekam di dalam sakunya.
Begitu botol itu diangkat ke udara, seisi ruangan terkesiap. Di dalam tabung kaca transparan tersebut, gumpalan asap hitam pekat berdenyut samar, memancarkan pendaran simbol-simbol kuno Sekte The Obsidian Dawn yang bergerak liar seperti cacing yang kelaparan.
Hawa dingin yang pekat langsung menguar dari botol itu, menurunkan suhu udara di sekitar podium hingga ke titik beku.
"Ini adalah sisa esensi kutukan hitam yang diekstrak langsung dari dalam darah Rin dan Toby, dua anak keturunan militer Kekaisaran yang berada di bawah pengasuhanku," seru Alden lantang, suaranya bergema memenuhi setiap sudut kubah. "Kutukan ini ditenun dari esensi Phoenix Ice terlarang yang hanya dimiliki oleh sekte pengkhianat utara. Dan racun mistis ini dikirimkan ke dalam kediamanku melalui jalur pasokan logistik resmi yang segel otoritasnya ditandatangani langsung oleh Menteri Pertahanan Luar Anda, Marsekal Vane!"
"Fitnah! Itu adalah manipulasi sihir murahan untuk membersihkan namamu yang bersalah, Alden!" potong Marsekal Vane dengan urat-urat leher yang menegang, matanya melirik tajam ke arah operator sihir di sudut ruangan.
Namun, sebelum Marsekal Vane sempat menggunakan pengaruhnya untuk mengacaukan pembuktian, Mayor Cakra yang sejak tadi bersiaga di sudut barat langsung melangkah tegap ke tengah podium.
Dengan gerakan militer yang licin tanpa cela, ia mengeluarkan selembar perkamen logistik militer dari balik jubahnya dan membentangkannya di depan meja utama Kaisar.
"Lapor, Yang Mulia Kaisar Tertinggi!" seru Mayor Cakra dengan suara baritonnya yang mantap. "Saya, Mayor Komando Utama Cakra, membawa salinan manifes pengiriman logistik Sektor Utara tiga bulan terakhir. Kode segel energi pada botol kutukan yang dibawa oleh Kapten Alden terbukti identik seratus persen dengan tanda tangan sihir milik Marsekal Vane. Tidak ada manipulasi, ini adalah catatan resmi yang coba dihapus dari sistem pusat dua jam yang lalu."
Mendengar laporan dari salah satu perwira seniornya sendiri, wajah Marsekal Vane seketika berubah pucat.
Riuh rendah kepanikan kembali meledak di antara para menteri dewan. Beberapa tetua dewan mulai menatap Vane dengan pandangan penuh kecurigaan yang mendalam.
Melihat sekutu politiknya mulai terpojok, Brakala tidak tinggal diam. Ambisi liciknya berputar cepat mencari celah untuk membalikkan keadaan. Sepasang mata Brakala mengunci sosok Clara yang berdiri anggun di samping Alden. Seringai kejam kembali terukir di bibir sang Penasihat Sihir.
"Yang Mulia Kaisar yang agung." Brakala maju satu langkah, suaranya dibuat sehalus mungkin untuk memanipulasi opini dewan. "Bukti fisik itu mungkin bisa diperdebatkan nanti. Namun, mari kita lihat siapa yang dibawa oleh Kapten Alden ke dalam ruang suci ini. Wanita di sampingnya... dia adalah Clara, seorang mantan Penyembuh Agung yang telah dicabut seluruh gelarnya dan diusir dari kuil suci karena kelalaian fatal di masa lalu! Dia adalah seorang kriminal tanpa inti sihir yang namanya telah buruk di ibu kota!"
Brakala menatap Clara dengan pandangan merendahkan, mencoba membangkitkan kembali trauma masa lalu wanita itu di hadapan ribuan orang. "Bagaimana bisa seorang Kapten Langit yang terhormat menjadikan wanita cacat pembawa sial ini sebagai kaki tangannya untuk menuduh seorang Marsekal? Berdasarkan hukum kekaisaran pasal perlindungan suci, kesaksian dari seorang buangan kuil adalah tidak sah dan batal demi hukum!"
Kata-kata Brakala bagai belati beracun yang sengaja dihunuskan untuk merobek kembali luka lama di dada Clara.
Seluruh mata di dalam aula kini tertuju pada Clara, menanti kehancuran mental dari wanita yang tak memiliki kekuatan supranatural tersebut.
Namun, Brakala salah besar. Clara yang berdiri di samping Alden malam ini bukanlah Clara yang rapuh seperti tiga tahun lalu. Sentuhan hangat dari ketiga anak tirinya dan perlindungan mutlak dari suaminya telah menempa hatinya menjadi sekeras baja langit.
Clara melepaskan genggaman tangannya dari Alden secara perlahan. Ia melangkah maju satu langkah, mendongakkan kepalanya dengan dagu terangkat tinggi, menatap lurus ke dalam mata Brakala tanpa ada setitik pun ketakutan yang tersisa. Jubah wolnya yang sedikit kotor justru membuat penampilannya malam ini tampak seperti seorang pejuang yang tangguh.
"Gelar suci dari kuil mungkin telah hilang karena kelicikan konspirasimu di masa lalu, Penasihat Brakala," ujar Clara, suaranya yang jernih bergaung dengan ketegasan yang luar biasa berwibawa, membungkam seringai di wajah pria pirang itu. "Namun malam ini, aku berdiri di altar ini bukan sebagai perwakilan kuil, melainkan sebagai seorang ibu yang menuntut keadilan bagi anak-anaknya yang diracuni oleh ambisi busuk kalian! Dan di bawah hukum keluarga Kekaisaran, seorang ibu sah memiliki hak mutlak untuk membawa bukti kejahatan yang mengancam nyawa penerus darah militer!"
Di balik dinding partisi, Hana yang menyamar sebagai pelayan mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan air mata haru melihat keberanian luar biasa dari nyonyanya yang berhasil memukul balik argumen hukum Brakala.
Alden menatap punggung ramping istrinya dengan binar rasa bangga yang tak terhingga. Rahang sang Kapten mengeras. Ia melangkah maju, kembali menempatkan tubuh tegapnya yang tinggi besar di samping Clara, lalu menatap tajam ke arah Kaisar Valerius.
"Semua bukti telah terhampar, Yang Mulia. Sekarang, keputusan berada di tangan keadilan tertinggi Anda," tegas Alden dengan wibawa militer yang absolut.
Atmosfer di dalam Aula Sidang Agung kini telah mencapai titik didih yang paling krusial, menanti ketukan palu dari sang penguasa tertinggi yang akan menentukan hidup dan mati jalannya konspirasi besar ini.