"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. ada yang aneh.
***
Beberapa hari telah berlalu, tapi ada yang aneh dengan Arfen. Keadannya tak kunjung membaik, tubuhnya selalu lemah. Dia juga merasa heran, kenapa selama ini prosesnya? Biasanya tidak, apalagi ini adalah rumah sakit terbaik di kota ini.
Dan, sejujurnya dia kurang nyaman dengan dokter yang selalu menebar senyum itu, entah kenapa sepertinya dokter itu selalu saja punya topik untuk di bicarakan dengan Thifa.
"Hahaha, kamu tau aja, saya memang suka bersih-bersih di rumah." Dokter Tara tertawa mengobrol dengan Thifa, di depan mata orang yang terbaring lemah itu.
"Kan?" sahut Thifa yang juga sepertinya asyik menikmati obrolan itu.
Mata Arfen menatap tajam kedua orang yang tengah berbicara di sofa itu. Tanpa sengaja Thifa menoleh ke arah Arfen, bibir ranumnya langsung tersenyum indah saat sadar suaminya sudah bangun.
"Udah bangun? Mau makan? Laper?" Tanya Thifa yang langsung bangkit berdiri menghampiri Arfen.
Setiap malam, setiap malam aku selalu memikirkan obrolan apa yang akan aku bahas dengan Neira keesokannya. Obrolan apa yang membuatnya nyaman dan tersenyum. Aku memikirkannya setiap malam, tapi dia? ... Dia dengan hanya membuka mata sudah berhasil menarik kembali Neira? Apa semua ini?!
Tara menunduk, dia merapatkan giginya kuat-kuat demi menahan amarahnya.
"Dokter? Ini gimana keadaan Arfen? Udah lebih baik kah?" Tanya Thifa.
Apa ini? Apa? Kenapa aku yang berjuang susah payah tidak dipandang sama sekali, dan dia yang hanya membuka mata sudah di dekati? Apa semua ini? Jangan bercanda!
Sementara Tara masih sibuk akan lamunan, menolak fakta bahwa Thifa pergi meninggalkannya demi Arfen.
"Dok?"
"Dokter!"
"Eh! Iya, ada apa??" Tara tersentak kaget sadar dari lamunannya.
"Keadaan Arfen gimana?"
Tara memeriksa denyut nadi dan jantungnya.
Sesuai perkiraan ku, aku meberinya obat pelemah tubuh. Yayaya, tujuannya biar kau mati secara perlahan Arfenik Arkasa. Pergilah, kau terlalu parasit untuk hidup.
"Dia baik-baik saja, kondisinya konsisten. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Dengan luka kecelakaan yang kau derita, dan obat khusus dari ku. Damailah..., damailah di neraka, sendirian.
Kali ini Tara tersenyum tulus, sama seperti ketulusannya untuk membunuh Arfen.
Ada yang aneh, tapi apa? Apa yang aneh?
Arfen mencoba berfikir keras.
***
"Tuan muda, saya tidak tau apakah informasi ini penting, tapi saya rasa, saya harus memberitahukannya pada anda." Ujar pria itu, yah Alan yang menghadap Arfen di kursi khusus kebanggaannya.
"Apaan? Kalo gak ada sangkut paut sama makanan, mending ga usah." jawab Arfen, ngelantur seperti biasanya.
"Soal Non Thifa, i--"
"Katakan."
Alan menghela napasnya panjang, kalau soal Thifa mana mungkin Arfen bisa menolak, berita sekecil apapun itu.
"Saat saya menyelidiki keluarga Non Thifa, saya mengetahui dia memiliki seorang sepupu laki-laki, yang ternyata menyukainya. Karna pria itu menyukai non Thifa, dan tidak bisa di beri nasihat atau dibimbing lagi, dia di kirim ke asrama. Dan ingatan Non Thifa soal pria itu di hapus perlahan menggunakan bantuan psikiater."
"Darimana ka--"
Tiba-tiba Arfen membuka matanya, napasnya tersengal. Dia melihat kanan kiri, di kanannya dalam pelukannya ada istri mungilnya yang terbaring. Sisanya tak ada siapa-siapa lagi.
Arfen menghela napasnya panjang, dia sadar dia di rumah sakit, dan obrolannya dengan Alan hanya mimpi melalui ingatan sebelumnya. Selama ini, orang itulah yang Arfen cari.
Kenapa sekarang, di saat seperti ini? Malah mimpi ini?
Arfen menjulurkan tangannya, dia ingin meminum obatnya. Tapi, entah kenapa dia ragu. Dia menatap obat itu seolah benci.
Arfen membuang dua butir obat itu. Entahlah, dia tidak tau apa keputusannya benar atau salah. Tapi, Arfen selalu mengikuti kata hatinya. Saat hatinya bilang buang, maka buanglah.
Aku harus segera sembuh, dan menyelesaikan semua masalah ini.
"Ughhh,"
Tanpa Arfen sengaja, tangannya menyentuh perut Thifa. Hatinya tergerak oleh sesuatu, tapi entah apa itu. Rasanya, nyaman sekali memegangi perut berisikan buah hatinya itu.
Tenang aja, papa bakal urus semua masalah ini sebelum kamu lahir.
***
Pagi ini Shiren ke rumah sakit lebih dulu, bodoamat kalo terlambat, yang penting liat kakaknya dulu.
Brukhhh!!!!
Karna buru-buru, Shiren menabrak salah satu suster yang sedang membawa obat-obatan itu.
"Eh maaf, maaf, biar aku bantu ya." seperti ucapannya, Shiren membantu merapikan obat-obatan itu.
"Ini obat apa?" tanya nya sedikit penasaran menatap obat pil berwarna biru itu.
"Obat pemulihan untuk orang yang habis kecelakaan, biar cepetan sembuh. Maaf ya, saya buru-buru." Suster itu berjalan lebih cepat.
Langkah kakinya yang mungil akhirnya menuntunnya ke ruangan kakaknya. Mengobrol sedikit, ah lebih tepatnya saling menghina. Wajar, mereka berdua emang jauh dari kata waras.
"Nah, Arfen ayo minum obat." Thifa sudah bersiap dengan obat pil warna putih di tangannnya.
Obat buat kak Arfen? Buat pemulihan kan? Kok putih? Bukannya biru ya?
***
IPA dan IPS besanan