Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Kris, jangan main-main. Kau pasti bercanda kan?" Anton terlihat sangat ketakutan.
Pria bahkan sampai jatuh, ia kemudian menyeret kakinya mundur, namun Kris terus maju sambil terus menodongkan pistol itu.
"Itu ilegal, letakkan pistol itu. Ini area perusahaan, kau melanggar aturan." Anton yang ketakutan, sudah tak mampu berjalan mundur lagi.
Kedua kaki dan Anton gemetaran, sedangkan Kris. Pria itu masih terlihat serius, Anton teringat saat ia memakinya. Terlihat berbeda, seperti 1 orang dengan dua kepribadian yang sama. Tampak sangat menakutkan.
"Apa ini, mengapa dia sangat berbeda dengan biasanya. Namun tidak mungkin, bagaimana bisa dia mempunyai senapan itu. Itu pasti palsu." Batin Anton.
Anton mulai percaya, bahwa Kris hanya menggertaknya. Pria itu pun kembali berdiri, mengumpulkan kembali keberaniannya.
"Jangan kau pikir ini di luar, ini bukan negara bebas. Kau tidak akan bisa punya senjata kecuali kau polisi atau tentara." Anton menghampiri Kris.
Kris tak mau berbicara panjang lebar seperti Anton, ia lebih suka aksi nyata dari pada harus berbicara hal tak penting seperti itu. Kris mengarahkan pistol itu ke langit-langit plafon. Pria itu menarik pelatuk pistol, tak berselang lama dari itu,
DOOOOORRRRR!
Pistol itu bukan mainan, Anton benar-benar salah perkiraan. Ia kemudian teringat suara yang sempat ia cari beberapa waktu yang lalu.
SREK! SRAK! TAK!
Suara yang muncul itu berasal dari peluru pistol yang tengah di isi ulang. Raut wajah Anton yang sudah sempat kembali seperti semula, kini kembali pucat. Pria itu kembali jatuh di atas lantai.
Kris tak main-main kali ini, "bagaimana? Masih mau menganggapku remeh?"
Tidak ada pilihan lain, selain meminta maaf dan memohon pada Kris untuk melepaskannya. "Kris, aku mohon. Maafkan aku, aku hanya menjalankan perintah."
Raut wajah Kris seketika menjadi bingung, perintah. Namun mengapa harus mengolok-oloknya. Tangan pria itu juga kini mengepal, ia menurunkan pistol itu.
Kini berjongkok untuk mensejajarkan tinggi Anton saat ini. "Perintah? O, ya ya ya. Ini pasti perintah pria tua itu."
"Hah?" Anton terlihat kebingungan. Namun ia tak mau memperpanjang masalah dengan orang sakit mental ini.
"Apa dia berpikir Tuan Darren, namun, ini kan perintah..."
***
Beberapa jam yang lalu, tepat saat pukul 6 pagi. Saat itu Anton tengah menyiram kaktus di balkon apartemennya. Aktivitas pria itu seketika terhenti, saat sebuah panggilan telepon masuk.
Anton yang mendengar suara telepon, kini masuk ke dalam kamarnya. Pria itu mengambil ponsel yang ia letakkan di atas kasur.
"Halo..." Anton membalas panggilan teleponnya.
Jauh dari tempat Anton, seorang wanita kini tengah mengangkat panggilan telepon itu.
"Bagaimana kabar Anda paman Anton?" Tanya wanita itu
"Baik, lalu bagaimana kabarmu Aurora." Wanita itu rupanya adalah Aurora.
"Paman, bisa kau tolong aku. Aku ingin izin tidak masuk kantor hari ini. Lalu apa kau bisa bantu aku, ada dua orang yang seenaknya di sana. Kau bisa memberikan hukuman kepada mereka. Mereka adalah Anne sahabatku dan juga Kris, dia pacarku."
Mendengar ucapan Aurora dari telepon, membuat Anton yang mendengarnya langsung kebingungan. Pasalnya pria itu tau, bahwa Aurora sangat dekat dengan mereka. Ia bahkan tak mau mendengarkan ucapan orang lain selain Anne.
"Paman? Halo... mengapa kau hanya terdiam?" Ucapan Aurora seketika membuyarkan lamunan Anton. Pria itu bahkan kini merasa lega karena akhirnya wanita itu, kini telah sadar.
"Akhirnya kau sadar juga."
"O iya paman, jangan lupa ya ucapanku tadi. Jangan lembut sedikit pun kepada mereka, terserah mereka mau membawa-bawa namaku pun terserah. Yang jelas kau harus tegas pada mereka."
***
Kris berpikir bahwa orang yang menyuruh Anton adalah Tuan Federic. Padahal untuk mengangkat telepon saja ia belum bisa.
"Apa tidak apa-apa? Halah, sudahlah. Lebih baik langsung iya saja dan pergi dari sini." Batin Anton.
Kris masih menodongkan pistol itu, tak berselang lama, Kris menurunkan pistol miliknya.
"Sudah, pergi sana. Jangan ganggu saya lagi. Atau kau, akan ku bunuh. Cepat pergi!" Kris membiarkan Anton pergi begitu saja.
Anton yang melihat kesempatan juga kini langsung lari menjauh dari Kris. Tepat setelah Anton pergi, Kris teringat akan suatu hal penting. CCTV kantor yang belum mati.
"Sial," Ucap Kris sambil menatap ke arah kamera cctv.
***
Ruang keamanan perusahaan, tempat di mana para petugas berjaga di depan layar komputer. Terdapat beberapa panel komputer di sana, dan semuanya terlihat menyala, dari berbagai sudut terlihat semua bilik ruangan yang di pantau dengan menggunakan CCTV. Saat para staf di ruangan tengah berjaga, beberapa staf kini di serang oleh sosok misterius bertopeng yang tiba-tiba saja masuk dan menghajar semua orang di sana.
BRUUUUKKKK!
BRUUUKKK!
Pria itu menggunakan tongkat baseball, untuk melumpuhkan para korbannya.
Setelah semuanya terjatuh, kini sosok itu duduk, ia menghapus semua data rekaman cctv hari ini. Tak butuh waktu lama baginya, semua rekaman itu berhasil ia hapus dalam waktu 20 menit.
Sosok itu kini membuka topeng yang ia kenakan, pria itu adalah Kris. "Sekarang sudah selesai, aku aman." Batin Kris, yang akhirnya mampu bernapas lega.
***
Aurora masih berada di cafe, ia kini sudah berbincang santai dengan Amel. Tidak lagi membahas hal yang menurut mereka menyebalkan seperti Anne.
TING!
Notifikasi pesan masuk ke ponsel milik Aurora. Pesan itu di kirimkan oleh Pak Anton. Beliau menuliskan dalam sebuah chat.
"Aurora, sebaiknya kau berhati-hati pada pacarmu. Dia bukan orang sembarangan." Pesan itu di tulis lewat Anton melalu chat.
TAK!
Aurora seketika menjatuhkan ponselnya, Aurora langsung menatap Amel. Amel yang merasa aneh dengan sikap Aurora, kini mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang di kirimkan Anton.
Amel juga kini terdiam, mereka saling menatap. Dengan wajah panik, kini keduanya langsung pergi ke kasir, untuk membayar makanan dan minuman yang sempat mereka pesan.
Keduanya kini keluar cafe, dengan terburu-buru. "Kau mau kemana?" Tanya Amel.
"Aku harus bertemu Jordan, bisa kau menjaga adikku selama aku pergi?" Tanya Aurora dan Amel langsung mengangguk.
***
Jordan saat ini tengah berada di area permainan anak, pria itu tengah duduk di kursi tunggu. Menatap ke arah Rumero yang bermain trampolin bersama Luna.
"Ternyata dia sama saja." Jordan menepuk jidatnya dengan tangan. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Rumero yang ternyata sama saja.
Drtttt drtttt drtttt!
Panggilan telepon masuk ke ponsel milik Jordan, pria itu kini tersenyum, saat mendapati bahwa orang yang meneleponnya adalah Aurora.
"Ya Rora?" Raut wajah awal Jordan masih tampak sumringah, hingga pada akhirnya di tengah percakapan. Raut wajah pria itu berubah menjadi serius.
"Ya, kesinilah, aku akan menunggumu." Jordan mematikan panggilan telepon.
BERSAMBUNG
Tambahan cerita...
"Buku apa ini?" Aurora kini tengah berada di kamarnya, wanita itu tengah membuka laci meja untuk mencari charger yang baru.
Bukannya menemukan charger, wanita itu malah mendapati sebuah buku dengan banyak tulisan di dalamnya. Tertulis dengan rapi, Aurora kemudian membaca buku itu.
"Anne, sahabat baik... Cuih." Baru membaca itu, Aurora langsung membalik lembaran lain.
"Apa ini buku diarynya?" Tanyanya, kepada diri sendiri.
"Eh, ini. Nama-nama karyawan kantor? gabut juga dia rupanya sampai menulis semua staf kantor di dalam buku ini. Hem, General Manager. Apa ini atasan dia secara langsung. Bagaimana jika aku menghubunginya. Paman Anton? Apa mungkin pria ini pamannya? Ya baiklah, ku rasa tidak ada salahnya mencoba."