Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Confrontation
Hari terakhir Ujian Akhir Semester seharusnya ditutup dengan upacara pelemparan kertas buram ke tempat sampah atau ritual sujud syukur massal di depan papan pengumuman nilai. Namun, bagi Gavin Dewantara, hari penutupan semester satu ini justru berubah menjadi ajang sirkus birokrasi yang melibatkan harga diri, ancaman pemerasan, dan sebungkus tahu sumedang goreng yang minyaknya masih menetes.
Gavin melangkah keluar dari ruang ujian nomor 302 dengan gaya berjalan yang luar biasa acak-acakan. Kemeja flanel kotak-kotaknya sengaja tidak dikancingkan sama sekali, memamerkan kaos oblong hitam bergambar ayam jago yang legendaris. Di tangan kanannya, ia memegang selembar papan ujian plastik yang dijepitkan di bawah ketiak, sementara tangan kirinya sibuk memegang kantong kresek hitam berisi tahu sumedang yang ia beli dari penjaja keliling di depan gerbang fakultas.
"UAS Kimia Fisika tadi bener-bener merusak tatanan sel saraf gue, Gav," keluh Rian yang berjalan di sampingnya sambil memegangi kepalanya yang terasa loyo. Kacamata tebal berselotip hitamnya tampak melorot ke bawah akibat keringat stres. "Gue ngerasa tadi pas ngerjain soal nomor empat, otak gue mendadak ngelakuin forced restart tanpa sempat backup data."
"Halah, cemen lu, Yan," sahut Gavin ugal-ugalan sambil melempar sebutir tahu sumedang panas ke dalam mulutnya sendiri, mengunyahnya dengan suara nyam-nyam yang keras. "Soal kayak gitu mah gampang. Tinggal lu bayangin aja molekul gas ideal itu kayak preman terminal yang lagi nyari penumpang. Makin sempit ruangannya, makin tinggi tekanan psikologisnya, makanya mereka gampang tawuran. Rumusnya otomatis ketemu sendiri di kepala."
"Analogi lu bener-bener merusak estetika sains, sumpah," cibir Rian, namun ia tetap merebut sebutir tahu dari kresek Gavin.
Tepat saat mereka berdua hendak berbelok di koridor utama lantai satu menuju tangga keluar gedung, langkah mereka dihentikan secara paksa. Di tengah koridor yang luas dan ramai oleh mahasiswa yang baru keluar ujian, berdiri Tiko bersama empat orang pengikut setianya dari jajaran mahasiswa tingkat atas yang berbadan besar.
Tiko berdiri dengan angkuh, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman miring yang penuh rasa dendam. Di tangannya, ia memegang sebuah bundel berkas tebal yang dijilid rapi dengan kertas sampul warna merah menyala, lengkap dengan cetakan foto viral Gavin yang mengenakan jas tuksedo mewah di Jakarta.
"Wah, wah, lihat siapa yang baru keluar dari kandang gembelnya," seru Tiko dengan suara yang sengaja dikencangkan hingga menggema di sepanjang koridor. Ratusan mahasiswa yang sedang berjalan langsung menghentikan langkah kaki mereka, membentuk kerumunan lingkaran besar yang siap menonton drama gratis di siang bolong. "Si pangeran mahkota gadungan yang hobi main miskin-miskinan di kosan hijau, Gavin Dewantara."
Rian langsung melangkah mundur setengah langkah secara otomatis, wajahnya memucat karena terkejut melihat konfrontasi yang tiba-tiba ini. Namun, Gavin justru menghentikan langkahnya dengan sangat santai. Ia menurunkan papan ujiannya, memindahkan kantong kresek tahu sumedangnya ke tangan kanan, lalu menatap Tiko dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang luar biasa konyol.
"Waduh, Tiko..." Gavin menghela napas panjang, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat seolah sedang melihat anak kecil yang kehilangan balonnya di pasar malam. "Hari terakhir ujian bukannya pulang mandi biar aura burik lu ilang, malah berdiri di tengah koridor bawa map merah kayak sales asuransi panci keliling. Lu mau nawarin gue paket hemat pemakaman dini atau gimana, dek?"
Beberapa mahasiswa di kerumunan langsung menahan tawa mati-matian mendengar celotehan slengean Gavin.
Wajah Tiko langsung menegang, namun ia berusaha mempertahankan ekspresi arogansinya. Ia melangkah satu blok lebih dekat ke arah Gavin, mengangkat bundel berkas merah di tangannya tinggi-tinggi ke udara agar bisa dilihat oleh semua orang. "Jangan banyak bacot lu, berandalan! Gue tahu rahasia lu! Foto lu pake jas mewah di Jakarta udah kesebar di seluruh kampus! Dan gue juga udah tahu kalau donor dana misterius seratus juta buat baksos kemarin itu berasal dari jaringan hukum keluarga lu!"
Tiko menyeringai kejam, matanya menyipit penuh kemenangan semu. "Ini adalah bukti pelanggaran kode etik berat, Gavin! Gue bersama perwakilan mahasiswa udah menyusun laporan resmi terkait dugaan nepotisme nilai dan gratifikasi terselubung yang dilakukan oleh Dewantara Group kepada pihak rektorat kampus demi menjaga nilai ujian lu tetep sempurna! Bokap gue sebagai wakil dekan udah tanda tangan berkas ini, dan siang ini juga laporan ini bakal masuk ke meja rektor! Lu dan seluruh keluarga kaya lu bakal kena skandal besar atas dugaan suap akademik!"
Mendengar ancaman Tiko yang membawa-bawa isu nepotisme dan suap nilai secara publik, suasana koridor mendadak berubah menjadi sangat tegang dan hening. Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik, memandang Gavin dengan pandangan ragu. Isu suap nilai adalah hal yang sangat sensitif di kalangan mahasiswa yang berjuang keras belajar setengah mati.
Rian yang panik langsung memegang lengan Gavin. "Gav... gawat, Gav. Ini kalau masuk ke rektorat, nama lu bisa dicoret dari daftar mahasiswa..."
Namun, dinamika komedi segar khas Gavin Dewantara justru pecah di tengah-tengah ketegangan tingkat tinggi tersebut. Alih-alih panik, marah, atau mencabut ponsel khusus militer miliknya untuk melakukan panggilan darurat, Gavin justru menatap tahu sumedang di tangannya yang mulai mendingin.
Dengan gerakan yang sangat ugal-ugalan dan kasual, Gavin melangkah maju tepat di depan Tiko. Sebelum Tiko sempat bereaksi, tangan kiri Gavin bergerak kilat mencengkeram bundel berkas tebal bermap merah di tangan Tiko, merebutnya dengan sekali sentakan kasar tanpa hambatan.
"Eh! Kurang ajar! Balikin berkas gue!" teriak Tiko panik, mencoba merebutnya kembali namun langsung dihadang oleh postur tubuh tegap Gavin yang menjulang tinggi di depannya.
Gavin tidak membalas makian Tiko. Ia justru membuka lembar demi lembar berkas laporan tuduhan suap tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat serius, seolah-olah sedang membaca dokumen kontrak bisnis internasional bernilai triliunan rupiah. Namun, aksi berikutnya benar-benar merusak seluruh wibawa hukum dari berkas tersebut.
Gavin meraba kantong kresek hitamnya, mengambil sebutir tahu sumedang yang paling berminyak, lalu dengan sengaja menjadikannya sebagai media untuk membalik halaman berkas tebal tersebut. Akibatnya, noda minyak gorengan berwarna kuning kecokelatan langsung tercetak besar dan merata tepat di atas wajah foto formal Gavin yang mengenakan jas tuksedo mewah di lembar pertama berkas laporan Tiko.
SREEEET... PLOP.
"Wah, Tik... analisis hukum lu di bab dua ini sebenernya lumayan kreatif," ucap Gavin slengean sambil mengunyah tahu sumedangnya dengan santai di depan wajah Tiko yang mulai memerah menahan murka. "Tapi sayangnya, layout tulisannya kurang estetik. Terus ini noda minyak tahu dari gue anggap aja sebagai cap stempel legalitas resmi dari kasta tertinggi jalanan. Biar berkas lu kelihatan punya nilai gizi dikit pas dibaca rektor."
HA-HA-HA-HA!
Kerumunan mahasiswa di koridor langsung meledak dalam tawa massal yang tidak bisa dibendung lagi. Aksi sabotase berkas menggunakan minyak tahu sumedang itu benar-benar menghancurkan seluruh wibawa intimidasi yang coba dibangun oleh Tiko sejak awal.
"Sialan lu, Gavin Dewantara!" teriak Tiko gila-gilaan, wajahnya berubah warna dari merah menjadi keunguan karena malu yang luar biasa di depan ratusan mahasiswa. Ia memberikan isyarat tangan pada empat orang pengikutnya yang bertubuh besar di belakangnya. "Hajar dia! Ambil balik berkasnya dan patahin tangan slengeannya!"
Empat orang mahasiswa tingkat atas berbadan kekar itu langsung melangkah maju secara bersamaan, mengepalkan tinju mereka bersiap melakukan pengeroyokan fisik di tengah koridor.
Di titik kritis ini, suasana kembali menegang. Rian yang melihat empat orang berbadan besar itu maju langsung menutup matanya ketakutan. Kirana Putri yang baru saja berlari menyusul ke koridor setelah mendengar keributan langsung membelalak panik dari kejauhan. "Gavin! Awas!" teriak Kirana.
Namun, gerakan Gavin tidak menunjukkan kepanikan sepeser pun. Menggunakan teknik efisiensi ruang bela diri jalanan yang digabungkan dengan dinamika komedi slapstik, Gavin beraksi dengan sangat taktis.
Saat preman pengikut Tiko yang pertama maju melayangkan pukulan hook kanan ke arah wajahnya, Gavin menunggu hingga tinju itu tinggal berjarak beberapa sentimeter. Dengan refleks kilat, Gavin merunduk rendah, namun di saat yang sama, ia mengangkat papan ujian plastiknya secara vertikal tepat di depan wajahnya sebagai tameng darurat.
DUAK!
Tinju keras preman pertama menghantam permukaan papan ujian plastik murah milik Gavin dengan telak. Papan itu pecah menjadi dua bagian, namun hantaman keras tersebut justru membuat buku-buku jari preman pertama mengalami cedera memar yang parah hingga pria itu berteriak kesakitan sambil memegangi tangannya.
Bersamaan dengan momentum tersebut, Gavin memanfaatkan pecahan papan ujian plastik di tangan kanannya untuk menyabet pergelangan kaki preman kedua yang mencoba menendangnya dari sisi kiri. Gerakan sapuan rendah Gavin begitu cepat dan ugal-ugalan hingga preman kedua kehilangan keseimbangan secara dramatis, tergelincir di atas lantai koridor yang licin, lalu terjerembap ke depan dengan posisi wajah menghantam lantai semen terlebih dahulu—BRAKK!
Dua orang preman tersisa yang melihat dua temannya dilumpuhkan lewat jalur tameng plastik dan sapuan lantai semen langsung tertegun, nyalinya menciut dalam hitungan detik.
Gavin berdiri tegak kembali, membetulkan letak kemeja flanelnya yang terbuka, lalu melempar sisa kresek tahu sumedangnya ke arah dada preman ketiga secara kasar hingga minyaknya membasahi kemeja pria itu. "Nih, pegangin tahu gue. Jangan sampai dingin, ntar rasanya kurang ugal-ugalan," celetuk Gavin santai.
Gavin melangkah maju dua blok, memperpendek jarak di antara dirinya dan Tiko hingga tubuh tegapnya berdiri kokoh tepat satu jengkal di depan hidung Tiko. Aura slengean dan konyol di wajah Gavin mendadak padam total dalam hitungan mikrodetik, berganti dengan kilatan mata yang sedingin es, tajam, dan memancarkan kharisma kekuasaan old money yang mutlak—sebuah otoritas sejati yang lahir dari trah tertinggi keluarga Dewantara yang selama ini ia kunci di dalam rumah mewah Menteng.
Tekanan psikologis yang dipancarkan Gavin begitu pekat hingga Tiko reflek mundur satu langkah dengan lutut yang mulai gemetar hebat. Ia menyadari bahwa di depan matanya saat ini bukan lagi Gavin si gembel kosan yang bisa ia intimidasi dengan jabatan bapaknya, melainkan sang penguasa aset triliunan rupiah yang sesungguhnya.
Gavin mencengkeram kerah kemeja Tiko dengan tangan kirinya, menarik tubuh cowok arogan itu mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. Gavin berbicara dengan nada suara yang sangat rendah, berat, lambat, namun penuh dengan penekanan yang mematikan di dekat telinga Tiko.
"Tiko, dek... dengerin gue baik-baik," bisik Gavin, suaranya terdengar seperti desis ular beludak yang siap menyuntikkan racun. "Bapak lu mungkin punya kursi jabatan empuk sebagai wakil dekan di kampus ini yang bisa lu pamerin ke anak-anak baru. Tapi lu kudu tahu satu rahasia kecil keluarga gue: gedung rektorat tempat bokap lu rapat setiap pagi, tanah tempat lu berdiri megah hari ini, bahkan seluruh anggaran dana operasional universitas ini untuk sepuluh tahun ke depan... itu semua bisa gue beli lunas pake arus kas pribadi perwalian hukum gue sebelum matahari terbenam sore ini."
Gavin mempererat cengkeramannya, membuat Tiko kesulitan bernapas dan wajahnya pucat pasi seperti kain kafan. "Gue gak pernah pake nama bokap gue buat dapet nilai ujian kimia organik kemarin, karena otak gue terbukti cukup jenius buat bikin lu kelihatan tolol di setiap lembar jawaban. Berkas laporan merah lu ini..." Gavin mengangkat bundel berkas tebal yang penuh noda minyak tahu di tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang sangat kasual melemparnya masuk ke dalam tong sampah besi besar di sudut koridor dengan sekali lemparan jitu.
PLUNG.
"Berkas lu udah masuk ke tempat yang bener, Tik. Tempat sampah," lanjut Gavin dengan senyum miring andalannya yang kini memancarkan ancaman mutlak. "Kalau sampai besok pagi gue denger lu berani bawa-bawa isu gratifikasi atau coba-coba ngusik beasiswa Rian lagi ke meja rektor... gue pastikan bokap lu bakal kehilangan kursi jabatannya, seluruh aset rumah dinas keluarga lu bakal disita bank terafiliasi Dewantara Group, dan lu bakal dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus ini dalam waktu dua puluh empat jam. Jangan pernah nantang singa Menteng kalau lu cuma punya nyali selevel preman pengkolan jalanan. Paham lu?!"
Tiko mengangguk dengan sangat cepat, seluruh tubuhnya gemetar hebat menahan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Air mata cemas mulai mengalir di sudut matanya yang pucat. "P-paham... paham, Tuan Gavin... ampun, Tuan..." ratap Tiko dengan suara yang hampir habis akibat syok psikologis tingkat tinggi.
Gavin melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Tiko terhuyung ke belakang menabrak pengikutnya yang masih memegang kresek tahu sumedang. Gavin berbalik badan, kembali memasang ekspresi slengean dan ugal-ugalan andalannya seolah-olah baru saja menyelesaikan pertunjukan komedi kampus yang menghibur.
Ia berjalan mendekati Rian dan Kirana yang berdiri mematung di ujung koridor dengan mulut terbuka lebar. Gavin merangkul pundak Rian dengan sangat kasar dan akrab seperti biasa, melupakan sejenak ketegangan kelas atas yang baru saja ia peragakan.
"Yuk ah, Yan, Ran! Misi penegakan keadilan koridor resmi selesai!" seru Gavin ugal-ugalan dengan siulan santainya, menyeret Rian berjalan menuju tangga keluar. "Papan ujian gue pecah nih, berarti gue punya alasan ilmiah buat minta Bu Broto ngasih diskon kas kosan lagi lima puluh ribu karena kerugian alat belajar! Level keuntungannya tetap terjaga!"
Rian yang baru bisa bernapas lega langsung menjitak pinggang Gavin dengan sisa tenaganya. "Sialan lu, Gav! Papan ujian plastik dua puluh ribu lu pake buat gertak anak wakil dekan sampai nangis di tempat! Lu bener-bener triliuner paling stres se-Indonesia tahu gak!"
Sementara itu, Kirana Putri yang berjalan di samping Gavin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya penuh pasrah dengan sebuah senyuman manis terindah yang menghiasi wajah anggunnya. Gadis ambisius itu menyadari bahwa di tengah badai konfrontasi akhir yang penuh dengan ancaman kekuasaan, Gavin Dewantara selalu punya cara yang sangat unik, cerdas, penuh dinamika komedi segar, dan ugal-ugalan untuk meruntuhkan kesombongan manusia-manusia culas, tanpa pernah mengorbankan satu persen pun dari prinsip kesetiaan kawannya yang berdiri tegak tak tergoyahkan di atas aspal jalanan perantauan.