Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayaran Menembus Kabut Samudra
Debur ombak Samudra Timur menghantam tiang-tiang dermaga kayu di kaki tebing karang dengan suara gemuruh yang konstan. Bau garam pekat bercampur embun pagi menyelimuti udara, menciptakan suasana magis yang seolah memisahkan daratan Tiga Benua dari dunia luar. Perahu layar kecil yang terikat di ujung dermaga bergoyang perlahan mengikuti irama air, seolah tak sabar menyambut hempasan angin laut yang mulai bertiup kencang dari arah cakrawala.
Ji Mo-Xian melangkah tenang menuruni jalan setapak batu yang curam, diikuti oleh Lin Su di belakangnya. Gadis pelayan itu membawa sebuah bungkusan kecil berisi pakaian ganti dan perbekalan secukupnya, melangkah hati-hati namun penuh ketegasan di setiap pijakannya.
Begitu mereka tiba di dermaga kayu, Ji Mo-Xian melompat ringan ke atas perahu. Tubuhnya mendarat tanpa menimbulkan suara sedikit pun, membuat perahu itu hampir tak bergeming. Ia meraba permukaan kemudi kayu dengan tangan kanannya, merasakan getaran halus dari arus air laut yang mengalir di bawah lambung kapal.
Lin Su menyusul naik dengan sigap, lalu duduk di bagian tengah perahu, memegang tali layar utama yang terbuat dari serat jerami kuat.
"Tuan Muda, layar sudah siap," ucap Lin Su dengan suara yang menunjukkan sedikit rasa gugup bercampur antusias. "Tetapi... apakah perahu kecil ini benar-benar sanggup menembus badai spiritual di tengah samudra luas sana? Hamba pernah mendengar cerita para nelayan tua bahwa ombak di sana bisa menelan kapal perang sebesar gunung."
Ji Mo-Xian sedikit menoleh ke belakang, kain sutra hitam di matanya menghadap ke arah cakrawala biru tua yang membentang tanpa batas. "Ukuran fisik sebuah kapal tidak pernah menentukan kekuatannya, Lin Su," jawab Mo-Xian dengan nada datar namun menenangkan. "Badai spiritual atau ombak setinggi langit hanya menghancurkan mereka yang berlayar dengan keserakahan dan rasa takut. Selama niat kita murni dan kita berjalan selaras dengan aliran alam, samudra ini hanyalah sebuah jalan penyeberangan."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Ji Mo-Xian menyalurkan sedikit aliran Qi dari telapak tangannya ke dalam kemudi kayu perahu.
Syuuuup!
Serat-serat kayu perahu itu mendadak berpendar memancarkan cahaya biru samar, menyerap energi dari seruling giok naga purba yang tersimpan di dalam jubahnya. Seketika itu juga, angin buritan bertiup kencang menerpa layar perahu, mendorong perahu kecil tersebut melesat meninggalkan dermaga dengan kecepatan yang luar biasa, jauh melampaui kecepatan kapal spiritual mana pun di daratan utama.
Perahu itu membelah ombak biru tua, meninggalkan jejak buih putih yang panjang di belakangnya.
Dalam hitungan jam, daratan Tiga Benua perlahan-lahan menyusut, kabur, dan akhirnya lenyap sepenuhnya di balik garis cakrawala. Kini, di sekeliling mereka tidak ada apa pun kecuali air laut yang tak bertepi dan langit luas yang mulai diselimuti oleh gumpalan awan abu-abu tebal.
Semakin jauh mereka berlayar ke tengah samudra, atmosfer di sekitar mereka mulai berubah drastis. Suhu udara mendadak turun tajam, membuat embun membeku di permukaan kayu perahu. Langit yang tadinya cerah kini tertutup oleh kabut ungu pekat yang berputar-putar pelan membentuk pusaran raksasa di kejauhan.
Itu adalah Pusaran Kabut Kehampaan—batas alami yang memisahkan dunia fana Tiga Benua dengan benua misterius di seberang samudra, tempat di mana para kultivator lemah biasanya kehilangan arah, akal sehat, dan jiwa mereka akibat tekanan energi purba yang menghimpit.
Lin Su merinding ketakutan. Ia mendekatkan tubuhnya ke tengah perahu, mencengkeram erat lututnya saat ia mendengar suara lolongan angin yang menyerupai tangisan ribuan makhluk dari kedalaman laut. "T-Tuan Muda... tempat apa ini? Udara di sini terasa sangat berat, seolah menekan dada hamba..."
"Tetaplah fokus, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian tegas, tangannya tetap memegang kemudi dengan mantap. "Jangan biarkan pikiranmu dikuasai oleh ilusi yang dibawa oleh kabut ini. Mereka yang meragukan diri sendiri adalah mangsa pertama bagi kehampaan."
Tepat saat perahu kecil itu memasuki area kabut ungu yang pekat, permukaan air laut di sekitar mereka mulai bergolak hebat.
BWOOOOM!
Dari dalam kedalaman air yang gelap, sesosok bayangan raksasa melesat naik ke permukaan. Air laut terbelah dua, memunculkan seekor Ular Naga Samudra—binatang buas purba tingkat sepuluh yang memiliki panjang ratusan tombak, dengan sisik keras berwarna kehitaman dan sepasang mata merah menyala yang memancarkan niat membunuh yang pekat. Makhluk itu adalah penguasa gerbang kabut kehampaan, monster yang selama ribuan tahun bertugas memangsa setiap pelintas yang mencoba menyeberangi samudra.
Ular naga itu membuka mulutnya yang lebar, memperlihatkan taring-taring tajam beracun yang siap meremukkan perahu kecil Ji Mo-Xian dalam sekali gigitan. Tekanan spiritual dari binatang buas itu setara dengan kultivator puncak alam Nirwana, menciptakan gelombang kejut yang membuat air di sekitar perahu mendidih.
Lin Su menjerit tertahan, menutup matanya karena ngeri melihat ukuran monster tersebut yang jauh lebih besar dari perahu mereka.
Namun, Ji Mo-Xian sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Ia tidak mencabut pedang, juga tidak melepaskan pukulan fisik. Ia perlahan melepaskan tangannya dari kemudi, lalu merogoh lipatan jubahnya dan mengeluarkan seruling giok naga purba.
Ia mengangkat seruling itu ke bibirnya, menutup matanya rapat-rapat di balik kain sutra hitam, lalu mulai meniupkan nada pertama dari syair kematian samudra.
FZZZRT—KENCENG!
Gelombang sonik berwarna biru galaksi meledak dari seruling giok, berpadu dengan deru angin samudra dan ombak yang mengganas. Gelombang itu melesat cepat, membentuk perisai transparan yang menyelimuti perahu kecil, sebelum langsung menghantam kepala sang ular naga purba secara telak.
CRACK! BOOM!
Suara benturan itu menggema memecah keheningan kabut kehampaan. Ular naga raksasa itu membeku seketika di udara. Sisik keras di sekujur tubuhnya retak berkeping-keping dari dalam akibat getaran syair maut tersebut. Sebelum makhluk purba itu sempat mengeluarkan raungan kesakitan, tubuhnya hancur lebur menjadi serpihan es dan kabut darah yang langsung diserap oleh air laut di bawahnya.
Dalam satu tiupan, penjaga gerbang samudra tewas tanpa sisa.
Kabut ungu di sekitar mereka perlahan tersapu bersih oleh gelombang sonik seruling giok, membuka jalan yang terang di hadapan perahu kecil tersebut.
Ji Mo-Xian menurunkan serulingnya, lalu kembali memegang kemudi kayu dengan tenang. Ia menoleh sedikit ke arah Lin Su yang masih terperangah kagum.
"Buka matamu, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian lembut. "Badai telah berlalu. Di depan sana, daratan baru sedang menanti langkah kita."
Lin Su membuka matanya perlahan. Di hadapan mereka, menembus sisa-sisa kabut tipis, sebuah daratan megah dengan pegunungan menjulang tinggi yang diselimuti cahaya keemasan kini tampak jelas di ujung cakrawala. Pelayaran menembus samudra telah membawa mereka menuju babak baru yang luar biasa dalam perjalanan sang pendekar buta dan pelayan setianya.