Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 25
"Lapor Baginda, investasi yang diinginkan Cale sudah digagalkan," ucap Norman. Dia yang punya tugas untuk mengurus Cale. Dan semua dilalukannya dengan sangat baik.
"Bagus, sangat bagus. Lakukan dengan cara apapun, buat dia benar-benar bangkrut. Bila mungkin, jadikan dia bangsawan tanpa harta," jawab Lucien.
"Siap Baginda."
Lucien tersenyum senang. Dia tidak akan membiarkan orang yang mengejar Cattleya hidup dengan tenang. Lucien akan mematahkan kaki Cale jika perlu, agar pria itu tak bisa menyentuh Cattleya.
"Baginda."
Erson memanggil, dia membawa Countess Elia yang merupakan kepala dayang di Istana utama.
"Salam hormat kepada Baginda, sang Matahari Kallistar."
Countess Elia membungkukkan tubuhnya, memberi salam hormat kepada kaisar. Dia sendiri mulai jarang bertatap muka dengan Lucien semenjak Lucien menjadi dewasa. Pada dasarnya, Countess Elia memang kepala dayang untuk seorang permaisuri. Sehingga saat istana ini belum memilik permaisuri, maka tak banyak yang dikerjakan.
"Bangunlah Elia, aku tak terlalu membutuhkan salam sapa mu itu. Ada yang perlu kamu lakukan untukku," ucap Lucien. Dia meminta Countess Elia untuk segera bangun dari posisinya.
"Apa perintah Anda, Baginda?" tanya Countess Elia tanpa menengadahkan wajahnya yang sejak tadi tertunduk.
"Rapikan Istana Bulan, persiapkan sampai layak dan cocok dihuni."
Degh!
Countess Elia tercengang mendengarkan perintah dari Lucien. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk, kini langsung menengadah dan melihat ke arah Lucien.
Merasa bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah kelancangan, Countess Elia langsung kembali pada posisinya.
"Baginda, maaf jika saya lancang. A-apa benar Putri Duke Mortain akan menjadi permaisuri Anda?"
Hah?
Lucien mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Countess Elia. Namun hanya beberapa detik saja Lucien bingung. Dia lalu tersenyum saat menyadari sesuatu.
"Tidak Elia, bukan dia. Lagi pula wanita di kekaisaran ini banyak. dan bukan dia yang akan jadi permaisuri. Kamu kemarilah," ucap Lucien.
Dengan ragu, Countess Elia berjalan mendekat ke arah Lucien. Lucien berdiri, mendekatkan wajahnya pada telinga sang countess lalu membisikkan sesuatu.
Mata Countess Elia membulat sempurna. Matanya menganga lebar dan dengan cepat menutupinya dengan tangan.
"A-apa benar begitu?" tanyanya.
"Ya, apa kau melihat aku berbohong Elia?" jawab Lucien cepat.
Countess Elia langsung menggelengkan kepalanya. Dia mana berani meragukan ucapan tuannya.
"Kalau begitu laksanakan. Tapi ingat, tutup mulutmu dengan rapat. Jangan sampai bocor."
"Baik Baginda, saya akan mengunci mulut saya. Permisi, saya juga akan menyiapkannya sesegera mungkin."
Lucien menganggukkan kepalanya. Dia yakin bahwa Countess Elia akan melakukannya dengan sangat baik karena memang itu adalah tugasnya.
Perombakan besar-besaran dari Istana Bulan tersebar dengan cepat. Rumor bahwa Kaisar siap mengangkat permaisuri mencuat. Semua bangsawan langsung membicarakan hal tersenbut. Dan yang paling percaya diri adalah Adelle.
"Wang Putri, agaknya Baginda sangat mencintai Anda. Beliau menyiapkan dengan baik Istana Bulan," ucap salah satu nona bangsawan yang tengah berada di kediaman Mortain. Ya Adelle sedang mengadakan jamuan pesta teh.
"Iya, kamu sungguh iri. Jadi tidak sabara rasanya melihat Anda bersanding dengan Baginda," ucap yang lainnya.
Adelle hanya senyum, dia tak perlu berkoar-koar lagi sekarang dan tinggal menikmati hasilnya.
Dalam hati Adelle juga merasa yakin bahwa semua yang Lucien lakukan adalah untuk dirinya.
"Hanya aku yang pantas, tak ada lagi. Memangnya siapa yang lebih pantas selain aku. Dan untuk siapa Lucien menyiapkan semua itu jika bukan untukku."
Adelle benar-benar besar kepala sekarang. Dia sudah merasa bahwa semua wanita yang ada di kekaisaran ini berlutut di bawah kakinya.
TBC