"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kifa ladi malah
Happy reading
❄️❄️❄️
Suara merdu berasal dari gumaman manis seorang gadis kecil, yang terdengar memecahkan kesunyian pagi. Membuat orang-orang yang berada di rumah itu merasa gemas, Karena sang pemilik suara, terlihat mengemaskan saat dia sedang mengikuti setiap irama lagu yang dia ikuti lewat tivi besar di ruangan keluarga. Setiap orang-orang yang melewatinya, pasti akan berhenti, hanya untuk sekadar tersenyum saat melihat gadis kecil itu bergumam dengan nada yang lembut.
"Kupu-kupu yan lucu. Ke mana entau telban Hilil mudit mencali, Buna-buna yan kemban." Nyanyi Khilva saat sebuah lagu muncul dilayar tivi itu, yang membuatnya ikut bernyanyi dengan suara lembutnya, hanya saja setiap katanya terkadang belum terdengar dengan jelas.
Zafina yang baru saja turun kelantai bawah, dibuat gemas oleh nyanyian cucunya. Apalagi ia baru saja turun kelantai bawah, tapi cucunya itu sudah menyambutnya dengan tingkah lucunya, yang membuat paginya terasa berwarna.
"Bagusnya suara cucu, Oma." Ucap Zafina sambil melangkah mendekati Khilva.
Khilva yang tadi sedang menatap layar televisi, menoleh kearah Zafina saat mendengar suara Oma nya.
"Oma, cuala Kifa baduc kan, Oma?" Tanya Khilva dengan senyuman bahagianya. Bahkan deretan giginya yang rapi sampai terlihat.
"Iya, cucu Oma. Suara Khilva sangat bagus, Oma saja sampai kagum mendengarnya."
"Benaltah Oma?" Tanya Khilva antusias. Apalagi pujian dari Zafina, membuat gadis kecil itu semakin bersemangat.
"Iya sayang, sangat bagus." Jawab Zafina mengangkat kedua jari jempolnya."Emangnya besar nanti Khilva mau jadi apa?"
"Kifa mau dadi penyanyi, Oma. Sama seperti yan di tivi-tivi." Jawab Khilva, sambil menoleh kearah layar televisi yang memperlihatkan artis cilik disana.
Mendengar jawaban dari cucunya, membuat Zafina hanya tersenyum lucu. Karena tau kalau cucunya itu memiliki banyak cita-cita. Setiap apa yang Khilva lihat, pasti cucunya itu ingin seperti mereka. Mungkin sudah banyak, cita-cita yang Zafina dengar dari Khilva selama ini.
"Oma, kenapa diam?" Tanya Khilva sambil mengusap pipi Zafina."Apa Oma catit." Raut bahagia tadi, seketika lihat khawatir.
Sedangkan Zafina yang mendapatkan sentuhan lembut dari Khilva, serta pertanyaan lucu, tapi penuh perhatian dari cucunya, Lagi-lagi hanya tersenyum.
"Iya, Oma tidak apa-apa."
"Lalu kenapa Oma diam?"
"Karena Oma, sedang berpikir bagaimana nanti, kalau cucu Oma ini besar dan menjadi penyanyi yang terkenal." Jawab Zafina sambil menggendong tubuh Khilva.
"Dan Kifa, akan masut tivi Oma.... Asyit.." Ucap Khilva dengan riangnya didalam gendongan Zafina.
"Tapi sekarang Khilva makan dulu, agar Khilva cepat besar dan menjadi penyanyi yang berbakat." Jawab Zafina melangkah kearah ruangan makan yang tidak terlalu jauh dari ruangan keluarga tadi.
"Tapi Oma, Kifa tida mau matan." Tolak Khilva, membuat Zafina mengehentikan langkahnya lalu ia menatap cucunya itu dengan bingung, karena tumben Khilva tidak mau makan.
"Kenapa Khilva tidak mau makan? Oma, sudah meminta bibik untuk masakin makanan kesukaan Khilva loh."
"Tapi Kifa, tida mau matan Oma. Coalna Kifa ladi malah."
"Marah? Marah sama siapa?" Tanya Zafina lembut dengan kening mengerut bingung
"Cama papa, Oma. Kata papa kemalin, papa akan kembali sama unda, kalau ulucannya udah celecai. Tapi campai tadi malam, unda tida kembali ladi, Oma." Jelas Khilva."Altinya unda habic dapat malah sama papa. Matanya unda enda mau tembali ladi buat ketemu sama Kifa dan kak Fata." Jawab Khilva dengan wajah seriusnya menatap Zafina yang dari tadi menyimak semua perkataan cucunya itu."Oma, papa itu suta setali malah-malah campai-campai unda enda mau ketemu cama Kifa dan kak Fata, ladi."
Zafina yang mendengar perkataan Khilva mulai mengerti, kenapa kedua cucunya berkata seperti tadi malam. Ternyata mereka merindukan gadis yang selama ini mereka panggil dengan panggilan bunda dan mencari sosok bunda mereka kepada gadis yang selama ini datang untuk menyayangi kedua cucunya tanpa meminta sebuah imbalan.
"Oma, apatah Oma atan menampaitan pecan Kifa pada, papa?" Zafina tidak langsung menjawab ucapan Khilva sekarang, karena ia perlu merangkai kata yang pas untuk menjelaskan kepada cucunya itu.
Zafina kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Setelah sampai dimeja makan, wanita paruh baya itu mendudukkan tubuh cucunya di atas kursi sedangkan ia berjongkok, agar ia bisa menatap wajah polos Khilva yang terus menatapnya sebab gadis kecil itu menanti jawaban darinya.
"Khilva sayang.... Cucu Oma. Oma akan memberitahukan papa, tapi Oma tidak bisa berjanji kalau papa akan membawa bunda kembali." Jelas Zafina menatap cucunya itu dengan lembut.
"Kenapa Oma? Butannya udah adalah unda nya Kifa dan kak Fata?" Tanya bocah perempuan itu dengan tatapan penasarannya.
"Karena bunda, bukan bunda nya Khilva. Bunda hanya orang asing yang Khilva dan kak Fatha panggil dengan panggilan bunda. Bunda juga tidak bisa tinggal disini bersama Khilva dan kak Fatha, karena rumah bunda bukan disini." Jelas Zafina berusaha untuk membuat cucunya itu mengerti, karena Khilva sangat dekat dengan Azkia. Gadis yang kedua cucunya panggil dengan panggilan bunda.
"Tapi Oma, unda itu undanya Kifa butan olan asin.... Kifa pelcaya kalau papa atan membawa unda kecini nanti, setelah Oma meminta nya kepada papa."
Bocah perempuan berusia dua tahun setengah itu masih tetap pada pemikirannya walaupun Zafina sudah menjelaskan nya beberapa kali, tapi cucunya itu begitu sangat bersihkeras mengganggap Azkia adalah bundanya.
Mungkin ini bukan yang pertama Zafina menjelaskan kepada Khilva, karena ini untuk yang kesekian kalinya Zafina menjelaskan kalau Azkia adalah orang asing dan bukan bunda nya. Tapi bocah perempuan itu masih tetap kukuh pada pendiriannya, seakan tidak goya sama sekali. Entah terbuat dari apa perasaan cucunya sehingga sulit untuk di bujuk dan di buat mengerti.
"Apa yang gadis itu berikan kepada cucuku, sehingga Khilva sangat susah untuk dijelaskan kalau gadis itu bukanlah bunda mereka?" Batin Zafina menatap lekat-lekat wajah tidak berdosa Khilva yang sekarang sedang menatapnya penuh harap."Granny will tell Papa that she will bring Mother home, as she wishes, Khilva." Ucap Zafina tersenyum menangkup wajah Khilva.
"Benarkah Oma?" Zafina hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Khilva barusan.
……