NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Beberapa menit kemudian, seorang sipir yang sedang melakukan patroli rutin menghentikan langkahnya tepat di depan sel Fitria.

Matanya membelalak lebar begitu melihat tubuh yang terkulai tak berdaya tergantung di sudut ruangan.

"Tolong! Ada tahanan mencoba bunuh diri! Buka pintu sel cepat!" jerit sipir itu panik seraya menggedor pintu lorong.

Kunci besi diputar terburu-buru. Beberapa petugas menyerbu masuk, segera memotong tali kain yang terikat di ventilasi dan menahan tubuh Fitria yang terkulai lemas.

Suasana lorong rumah tahanan mendadak gempar oleh suara teriakan dan langkah kaki yang berlarian.

"Masih ada denyut nadinya! Cepat panggil ambulans!"

Tim medis penjara bertindak cepat melakukan penanganan darurat sebelum akhirnya Fitria dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara dengan pengawalan ketat polisi.

Di rumah utama, suasana malam yang hangat mendadak terganggu saat ponsel Adrian di atas meja berdering nyaring.

Adrian mengernyitkan dahi saat melihat nomor tidak dikenal yang tertera di layar.

"Halo?" sapa Adrian dingin.

"Selamat malam, Pak Adrian. Kami dari pihak Kepolisian dan Rumah Tahanan. Kami ingin mengabarkan bahwa tahanan atas nama Fitria baru saja melakukan percobaan bunuh diri di dalam selnya," ujar suara di seberang telepon dengan nada mendesak.

Genggaman tangan Adrian pada ponselnya seketika mengetat.

Sasi yang duduk di sampingnya langsung menyadari perubahan raut wajah suaminya.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Adrian datar.

"Saat ini dia kritis di ICU Rumah Sakit Bhayangkara. Sebelum hilang kesadaran, dia terus memanggil nama Anda dan dokter menyarankan jika Anda berkenan hadir, mungkin itu bisa membantu stabilitas kondisinya sebelum tindakan medis lebih lanjut."

Adrian diam terpaku. Kebencian dan amarah bergejolak di dadanya, namun naluri kemanusiaannya membuat dadanya bergemuruh hebat.

Sasi menyentuh pelan lengan Adrian, menatap suaminya dengan lembut.

"Ada apa, Mas?"

Adrian mengembuskan napas berat, lalu menatap Sasi penuh keraguan.

"Fitria, dia mencoba mengakhiri hidupnya di penjara. Sekarang dia kritis di rumah sakit dan minta bertemu Mas."

Sasi terpaku sejenak, terkejut mendengar kabar tersebut.

Namun, alih-alih panik atau marah, Sasi justru memegang jemari Adrian dengan erat.

"Pergilah, Mas," tutur Sasi lembut namun mantap.

"Selesaikan semuanya malam ini. Jangan biarkan ada penyesalan atau urusan yang menggantung di antara kalian."

Adrian menatap istrinya dengan rasa haru yang mendalam.

Ia mengecup dahi Sasi singkat, lalu mengambil kunci mobilnya.

"Mas akan menyelesaikan semuanya malam ini juga, sayang."

Langkah kaki Adrian menggema keras di lorong Rumah Sakit Bhayangkara yang sunyi dan berbau karbol.

Dua orang polisi berseragam berdiri menjaga ketat pintu ruang ICU.

Begitu melihat kedatangan Adrian, salah satu petugas membukakan pintu.

Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi suara bip teratur dari monitor detak jantung.

Di atas ranjang, Fitria terbaring lemah dengan alat bantu napas dan selang yang menempel di tubuhnya.

Memar kebiruan tampak jelas mengitari lehernya yang kusam.

Begitu mendengar suara langkah kaki, mata Fitria yang sayu terbuka perlahan.

Binar obsesi dan tangis haru seketika pecah di mata wanita itu saat menangkap sosok Adrian berdiri di samping tempat tidurnya.

"M-Mas Adrian," bisik Fitria sangat lirih dari balik masker oksigennya, tangannya yang gemetar berusaha terangkat menggapai udara.

"Ini anak kamu, Mas. Bukan anak Hendrik," ucap Fitria penuh kebohongan.

Suaranya terdengar parau dan putus-putus dari balik masker oksigen, namun matanya memancarkan kebohongan yang terpeta amat jelas.

Fitria mencoba untuk menghasut Adrian dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

Tangannya yang gemetar bergerak pelan, mencoba menyentuh ujung lengan jas Adrian, berharap racun kebohongan itu mampu menggoyahkan keyakinan pria di hadapannya.

"Mas, tolong percaya sama aku. Anak yang aku kandung ini., darah daging kamu." bisik Fitria seraya terisak pelan, berusaha menguras rasa iba dan rasa bersalah Adrian.

Namun, Adrian tetap berdiri tegap tanpa bergeming sedikit pun.

Tidak ada raut kaget, ragu, apalagi penyesalan di wajahnya.

Sorot matanya yang sedingin es menatap Fitria lurus-lurus, seolah bisa membaca setiap inci niat busuk yang tersembunyi di balik tangisan drama tersebut.

"Cukup, Fitria," potong Adrian dengan suara rendah, tenang, namun penuh tekanan yang amat mematikan.

Ia bahkan tidak membiarkan jemari Fitria menyentuh pakaiannya, menarik langkahnya mundur satu tapak.

"Semua bukti tes DNA dan rekam medis yang kamu palsukan sudah ada di tangan pengacaraku dan pihak kepolisian. Hubunganmu dengan Hendrik, aliran dana, sampai semua rekayasa ini, semuanya sudah terbukti," ujar Adrian dingin tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Fitria untuk mengelak.

Mata Fitria membelalak lebar. Suara bip dari monitor detak jantung di sampingnya mendadak berbunyi lebih cepat, menandakan kepanikan yang luar biasa.

"Aku datang ke sini bukan karena aku percaya atau kasihan padamu," lanjut Adrian penuh penekanan.

"Aku datang untuk memastikan satu hal: bahwa kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau kebohonganmu sudah berakhir. Jangan pernah sebut nama Sasi, dan jangan pernah mimpi bisa menghancurkan hidup kami lagi."

"Mas Adrian!" jerit Fitria parau, air matanya kian deras mengalir melewati masker oksigennya.

"Kalau memang kamu tidak percaya, tolong, peluk aku untuk terakhir kalinya, Mas. Sekali ini saja sebelum aku pergi."

Suara bip dari monitor detak jantung makin nyaring dan tak beraturan.

Fitria mengulurkan kedua tangannya dengan tatapan memohon yang begitu meyakinkan, seolah ia benar-benar berada di ambang kematian.

Adrian mengepalkan tangannya di samping tubuh.

Menganggap itu adalah permintaan terakhir dari seorang wanita yang berada di garis antara hidup dan mati, Adrian menghela napas berat.

Pria itu melangkah maju satu tapak, merundukkan tubuhnya untuk memberikan dekapan formal sebagai tanda perpisahan atas nilai kemanusiaan.

Namun, di detik saat dada Adrian mendekat, mata Fitria yang semula redup seketika memancarkan kilatan kegilaan yang mengerikan.

Dari balik selimut rumah sakit, jemari Fitria yang gemetar ternyata telah menggenggam erat sebuah pisau bedah (scalpel) tajam yang berhasil ia curi dari troli medis saat proses evakuasi.

Zrrhhks!

Dengan sisa seluruh tenaganya, Fitria menghujamkan pisau bedah itu tepat ke dada Adrian.

Adrian tersentak hebat. Napasnya tercekat seketika saat rasa dingin dan nyeri yang amat luar biasa menembus jas dan menghujam dadanya.

Pria itu mundur beberapa langkah seraya memegang dadanya yang mulai membasah oleh darah segar yang merembes deras.

"Aku milikmu, Mas! Bukan Sasi! Hahaha!" Fitria tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking gila.

Tawa histeris itu menggema di seluruh ruangan ICU, berpadu dengan suara nyaring alarm monitor medis.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu, Sasi juga tidak akan pernah bisa memilikimu selamanya! Hahaha!"

Adrian melepaskan cengkeramannya pada pinggiran ranjang, pandangannya mendadak kabur dan memburam.

Tubuh gagahnya limbung dan roboh menghantam lantai dingin ruang ICU, tepat saat pintu ruangan didobrak paksa oleh para petugas kepolisian dan tim medis yang panik melihat ceceran darah di lantai.

"Amankan tahanan! Panggil tim bedah darurat sekarang!" jerit salah satu petugas kepolisian seraya menerjang Fitria dan mengunci tangannya ke ranjang.

Fitria masih tertawa melengking, tawa gila yang membahana di lorong rumah sakit meski tubuhnya dihimpit paksa oleh petugas.

"Hahaha! Mati kamu, Mas! Kita mati bersama!"

Sementara itu, beberapa dokter dan perawat mengerumuni tubuh Adrian yang tergeletak kaku di lantai.

Darah merah pekat terus membanjiri bagian depan kemeja putihnya, menggenang cepat di atas lantai keramik yang dingin.

"Tekanan darahnya anjlok drastis! Cardiac arrest! Siapkan brankar, kita harus bawa ke ruang operasi sekarang juga!" bentak dokter utama dengan raut wajah panik.

Tubuh Adrian digotong cepat ke atas ranjang dorong. Roda-roda brankar berderit nyaring menelusuri lorong Rumah Sakit Bhayangkara yang mencekam.

Tim medis berlari kencang memompa kantong oksigen manual dan menekan luka di dada Adrian untuk menahan pendarahan hebat yang tak kunjung berhenti.

Di saat yang sama, ponsel Adrian yang tergeletak di lantai ruang ICU mendadak berdering nyaring.

Nama "Sasi" berkedip-kedip di layar ponsel yang sudah terciprat noda darah segar.

Petugas kepolisian yang mengambil ponsel itu memegang gagang telepon dengan tangan gemetar sebelum mengangkatnya.

"Halo, Mas Adrian? Mas sudah selesai? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak sekali ya, Mas." suara Sasi terdengar cemas dan gemetar di ujung telepon.

Petugas polisi itu menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram ponsel rapat-rapat.

"Selamat malam, Ibu Sasi? Ini dari kepolisian Rumah Sakit Bhayangkara. Kami minta Ibu segera datang ke rumah sakit sekarang. Pak Adrian ditusuk oleh tahanan dan saat ini dalam kondisi kritis di ruang operasi."

PRANG!

Di rumah utama, gelas kaca yang dipegang Sasi terlepas dari genggamannya, hancur berkeping-keping di lantai. Dunia Sasi seketika runtuh.

Jeritan histerisnya memecah keheningan malam, mengisyaratkan kepanikan dan ketakutan luar biasa yang kembali mencengkeram hidupnya.

1
sunaryati jarum
Selamat Sasi Adrian kaliin akan jadi orang tua
sunaryati jarum
Setelah badai berlalu semoga hanya kebahagiaan yang kalian dapatkan, sedangkan Fitria menghabisinya sisa hidup di penjara
sunaryati jarum
Hebat kau Sasi dari wanita yang diperkosa dan dijadikan pion rencana jahat dari Hendrik bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan memuaskan, semoga berhasil dan perusahaan semakin berkembang dan menuntaskan masalah,selama Adrian dirawat
sunaryati jarum
Mudah sekali menangkap dua ular berbisa tanpa perlawanan dan drama
sunaryati jarum
wow mantap semoga berhasil
sunaryati jarum
Hendrik dan Fitria sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri 😂😂😂
sunaryati jarum
Menyesal kan Adrian.Pests dan nikmati kebebasan sementara kamu, Fitria.Pembalasan Adrian nanti ,kamu ingat seumur hidupmu
sunaryati jarum
Semoga perangkap untuk Hendrik dan Fitria berhasil Adrian
sunaryati jarum
Drama yang sempurna , semoga Sasi selamat
sunaryati jarum
Analisis dokter masuk akal
sunaryati jarum
Timbul iba jadi cinta , Adrian
sunaryati jarum
Istri nggak mau punya anak sendiri, tidak usah menikah Fitria.Beriksn tubuhmu pada banyak pria tidak terikat apa- apa.
sunaryati jarum
Emak suka karakter Sasi yang tidak mau ditindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!