NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Jauh

Beberapa minggu setelah suasana kembali tenang, sebuah kabar gembira menghampiri Mira. Taehyung akhirnya mendarat di Paris setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembukaan cabang baru bisnis mereka di Seoul.

Sore itu, bel pintu apartemen Mira berbunyi. Begitu pintu dibuka, sosok Taehyung berdiri dengan senyum khasnya, membawakan koper kecil dan buket bunga favorit sang adik.

"Oppa!" seru Mira spontan, langsung menghambur ke pelukan kakaknya.

Taehyung membalas pelukan itu dengan erat, mengelus rambut adiknya penuh kerinduan. Setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan diterpa drama yang cukup melelahkan, kehadiran Taehyung membawa rasa aman yang luar biasa bagi Mira.

Mereka berdua duduk di ruang tengah apartemen baru Mira. Setelah saling menanyakan kabar dan mencicipi teh hangat, raut wajah Taehyung perlahan berubah menjadi lebih serius. Ada penyesalan yang terpancar dari sorot matanya saat menatap sang adik.

"Mira-ya," panggil Taehyung pelan. "Soal kepulanganku ke Seoul yang terkesan mendadak waktu itu... Oppa mau minta maaf."

Mira memiringkan kepalanya ragu. "Bukankah Oppa kembali ke Seoul memang untuk perjalanan dinas biasa?"

Taehyung menghembuskan napas panjang, menunduk seraya meremas jemarinya sendiri. "Sebenarnya... itu bohong. Oppa mengaku hanya perjalanan dinas biasa karena Oppa tidak mau membuatmu sedih. Kita sudah berencana untuk tinggal bersama di Paris setelah sekian lama, tapi justru Oppa harus langsung kembali ke Seoul demi membuka cabang baru perusahaan."

Mira tersentak pelan. Rasa kecewa sempat terlintas, mengingat betapa sepinya ia saat pertama kali ditinggalkan sendirian di Paris hingga berujung pada kerumitan hubungannya dengan Jungkook. Namun melihat raut bersalah di wajah sang kakak yang begitu tulus, Mira menarik napas panjang. Ia sadar Taehyung melakukannya demi kebaikan dan masa depan bisnis keluarga mereka.

Dengan berat hati namun berusaha dewasa, Mira mengangguk pelan. "Aku mengerti, Oppa. Oppa fokus saja pada pekerjaan oppa..aku akan menyelesaikan kuliahku dengan baik disini"

Taehyung tersenyum lega, mengusap puncak kepala adiknya hangat. "Terima kasih sudah mau mengerti, Mira-ya. Sebagai gantinya, malam ini Oppa mau mengajakmu makan malam di restoran favoritmu."

Malam harinya, sebuah restoran bergaya klasik di tepi Sungai Seine menjadi tempat pilihan mereka. Suasana restoran begitu hangat dengan alunan musik jazz pelan.

Mira tampil anggun dengan gaun rajut krem yang simpel. Ia duduk berhadapan dengan Taehyung, menikmati hidangan dan perbincangan hangat yang sudah lama tak mereka rasakan.

Namun, di tengah-tengah santap malam mereka, Taehyung melirik ke arah pintu masuk dan melambaikan tangannya pelan.

"Di sebelah sini!" seru Taehyung.

Mira menghentikan suapannya dan ikut menoleh secara refleks. Langkah jantungnya seketika terasa berhenti mendadak.

Jungkook berjalan mendekati meja mereka dengan setelan jas rapi. Raut wajah pria itu tampak ragu dan penuh rasa sungkan, seolah ia sendiri merasa tidak enak hati harus hadir di tengah momen adik-kakak tersebut.

"Maaf aku terlambat, Tae," ujar Jungkook pelan, sebelum pandangannya bergeser menatap Mira.

Pria itu menundukkan kepalanya memberi salam yang sangat formal. "Selamat malam, Mira-ssi."

Mira mematung di kursinya, menatap Taehyung dan Jungkook bergantian dengan rasa terkejut yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.

Suasana di meja makan yang tadinya hangat seketika berubah kaku dan dipenuhi ketegangan tak kasat mata.

Taehyung yang menyadari perubahan raut wajah adiknya tetap berusaha bersikap biasa saja. Pria itu menepuk kursi kosong di sampingnya, memberi isyarat agar Jungkook duduk.

"Duduklah, Jungkook-ah. Kami juga baru saja memesan hidangan utama," ujar Taehyung santai.

Jungkook menarik kursi kayu itu perlahan. Posisinya kini tepat berhadapan dengan Mira. Sepanjang proses duduk hingga merapikan serbet di pangkuannya, pandangan Jungkook sama sekali tidak berani menatap langsung ke arah Mira. Ada rasa sungkan dan rasa bersalah yang masih membendung di matanya.

"Mira-ya," panggil Taehyung, mencoba mencairkan suasana. "Oppa sengaja mengajak Jungkook karena bagaimanapun, dia sahabat Oppa dan dia yang membantu mengawasi beberapa hal selama Oppa di Seoul."

Mira hanya menyunggingkan senyum tipis yang amat formal—senyuman diplomatik yang biasa ditunjukkan pada kenalan jauh.

"Tentu, Oppa. Tidak masalah," sahut Mira singkat dengan suara yang teratur dan datar. Ia sama sekali tidak menunjukkan riak amarah maupun rasa canggung yang berlebihan.

Sikap Mira yang terlalu tenang justru membuat Jungkook kian serba salah. Pria itu menyimak perbincangan antara Taehyung dan Mira dengan lebih banyak bergeming. Ketika makanan disajikan, dentang pelan sendok dan garpu di atas piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mendominasi meja mereka.

Setiap kali Taehyung mengalihkan topik dan bertanya pada Jungkook mengenai perkembangan proyek di Paris, Jungkook menjawabnya dengan singkat dan formal, sesekali matanya secara tidak sengaja bertubrukan dengan garis pandang Mira. Namun setiap kali hal itu terjadi, Mira dengan sangat halus akan memalingkan wajah atau mengalihkan perhatiannya pada cangkir minumannya—seolah-olah keberadaan Jungkook di sana hanyalah sebuah bayangan yang tidak perlu diusik.

Bagi Jungkook, diabaikan dengan cara yang sangat sopan dan berjarak seperti ini jauh lebih menyiksa daripada dimarahi atau dicaci maki. Ia dipaksa menyadari bahwa di mata Mira, statusnya kini benar-benar tak lebih dari sekadar 'sahabat sang kakak'.

Ketika makan malam selesai dan Taehyung pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh tangan, keheningan di meja itu makin mencekam.

Jungkook memegang cangkir kopinya erat-erat, menunduk menatap cairan hitam di dalamnya sebelum akhirnya memberanikan diri bersuara dengan nada yang amat pelan.

"Maaf... kalau kehadiranku malam ini membuatmu tidak nyaman, Mira-ssi."

Mira yang sedang merapikan tas kecilnya mendongak pelan. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi berarti.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Jungkook-ssi. Anda adalah tamu Oppa," jawab Mira halus namun tegas, menyematkan batas yang tak akan pernah bisa ditembus lagi oleh pria di hadapannya.

Taehyung kembali ke meja makan dengan langkah santai, memecah keheningan kaku yang baru saja terjalin di antara Mira dan Jungkook. Ia merapikan jasnya, melirik cangkir kopi Jungkook yang sudah kosong dan tas kecil Mira yang sudah berada di pangkuan sang adik.

"Bagaimana? Sudah siap untuk pulang?" tanya Taehyung seraya tersenyum, mengisyaratkan bahwa jamuan makan malam itu telah berakhir.

Mira langsung berdiri lebih dulu. "Iya, Oppa. Besok pagi aku ada kelas awal di kampus."

Jungkook ikut berdiri perlahan, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya tertuju pada Mira hanya selama selintas detik sebelum ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Taehyung, berusaha keras menyembunyikan rasa perih akibat penolakan halus yang baru saja ia terima.

"Tae, terima kasih untuk makan malamnya," ujar Jungkook dengan suara bariton yang dalam namun terdengar tertahan.

"Harusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah menyempatkan waktu," balas Taehyung hangat. Ia lalu menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Kau membawa mobil sendiri, kan? Mau langsung pulang atau kembali ke kantor?"

"Langsung pulang. Ada beberapa dokumen yang harus kuselesaikan di rumah," jawab Jungkook singkat.

Mereka bertiga melangkah keluar dari restoran. Angin malam Paris yang dingin menyambut mereka begitu pintu kaca restoran terbuka. Di tepi jalan yang diterangi lampu-lampu jalanan bernuansa keemasan, mobil sedan milik Jungkook dan taksi yang dipesan Taehyung sudah sama-sama menunggu.

Taehyung membukakan pintu taksi untuk Mira. Sebelum masuk, Mira berbalik menghadap Jungkook, lalu memberikan anggukan kepala yang sangat formal.

"Selamat malam, Jungkook-ssi. Hati-hati di jalan," ucap Mira dengan nada suara yang begitu teratur, sopan, dan berjarak.

Jungkook mematung di tempatnya berdiri. Sapaan ramah namun dingin itu rasanya seperti menancapkan sekat kaca tebal di antara mereka. Bibirnya gemetar tipis saat membalas anggukan tersebut.

"Selamat malam... Mira-ssi. Hati-hati di jalan," bisik Jungkook parau.

Mira mengangguk sekali lagi lalu masuk ke dalam taksi tanpa ragu. Taehyung menepuk bahu Jungkook satu kali lagi sebagai gestur pamit, sebelum akhirnya menyusul masuk dan menutup pintu taksi.

Mobil taksi itu perlahan melaju menyusuri trotoar, membawa Mira dan Taehyung menjauh.

Dari dalam taksi, Mira duduk bersandar di kursi belakang, memandang lurus ke depan tanpa sekali pun melirik ke arah kaca spion. Hatinya terasa ringan dan utuh; kehadiran Jungkook tidak lagi mampu menggoyahkan kedamaian yang sudah payah ia bangun.

Sementara itu, Jungkook tetap berdiri mematung di depan restoran. Ia memperhatikan lampu belakang taksi tersebut yang perlahan memudar dan menyatu dengan keramaian malam Paris—menyadari sepenuhnya bahwa sejauh apa pun ia berdiri di dekat Mira, jarak di antara mereka telah menjadi sesuatu yang tak akan pernah bisa ia seberangi lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!