Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembukaan
Pagi itu, rumah Nara Askiya dipenuhi kesibukan, bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tersusun rapi. Suara para tamu yang datang silih berganti terdengar dari ruang depan. Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Nara.
Hari ketika ia duduk di samping Arka yang mengucapkan janji suci di hadapannya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa beberapa menit lagi, seluruh kebahagiaan itu akan berubah menjadi luka.
Nara berdiri di depan cermin.
Kebaya putih yang dikenakannya membuat tubuh tinggi dan anggunnya semakin terlihat menawan. Rambutnya ditata secantik mungkin, bunga melati menghiasinya, wajahnya dihiasi riasan lembut.
Ia tersenyum kecil melihat bayangannya sendiri.
“Sebentar lagi aku jadi istri kamu, Arka.”
Nama itu membuat senyumnya semakin lebar.
Arka adalah laki-laki yang sudah beberapa tahun mengisi hidupnya. Laki-laki yang selama ini ia percaya akan menjadi tempatnya pulang.
Mereka telah melewati banyak hal bersama, Pertengkaran, Kesalahpahaman, Kebahagiaan.
Bahkan masa-masa sulit.
Karena itulah Nara tidak pernah membayangkan bahwa hari ini justru akan menjadi hari ketika laki-laki itu menghancurkan hidupnya.
“Nara!”
Suara ibunya dari ambang pintu membuat Nara menoleh.
“Iya, Bu?”
“Sudah siap? Sebentar lagi penghulu datang.”
Nara mengangguk.
“Sudah, Bu.”
Ibunya masuk dan menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Cantik sekali anak Ibu.”
Nara tersenyum.
“Doakan semuanya lancar, Bu.”
“Tentu.”
Ibunya memeluk Nara erat, tidak ada yang mereka tahu. Bahwa di tempat lain, Arka sedang melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Waktu berlalu.
Penghulu sudah tiba, Para keluarga dari kedua pihak mulai berkumpul. Namun satu orang belum juga datang.
Arka.
Awalnya semua masih berpikir laki-laki itu hanya terlambat karena perjalanan.
Lima belas menit, Tiga puluh menit.
Satu jam.
Kegelisahan mulai memenuhi rumah. Ayah Nara beberapa kali mencoba menghubungi Arka, tetapi teleponnya tidak aktif.
Nara yang sejak tadi duduk di dalam kamar mulai gelisah.
Tangannya dingin.
“Kenapa Arka belum datang?”
Tidak ada jawaban, Ibunya mencoba tersenyum.
“Mungkin sebentar lagi.”
Namun suara ibunya terdengar bergetar, Kemudian ponsel Nara berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari Arka.
Nara membukanya dengan tangan gemetar, Hanya ada satu kalimat.
"Maaf, Nara. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Dunia Nara seakan berhenti, Matanya terpaku pada layar.
“Tidak…”
Ia membaca pesan itu sekali lagi, Kemudian sekali lagi.
Air matanya jatuh.
“Apa maksudnya ini?”
Ia segera menelepon, Tidak tersambung.
“Arka!”
Nara berdiri dan mencoba menghubunginya berkali-kali, Tetap tidak aktif.
di sampingnya ibunya ikut tak percaya, Ibunya langsung terkejut melihat wajah putrinya.
“Nara?”
Nara menatap ibunya dengan mata penuh air mata.
“Arka pergi, Bu.”
“kenapa bisa nak?”
“Dia meninggalkan aku.”
Suara Nara pecah.
“Dia tidak datang.”
Kabar itu menyebar seperti api. Keluarga Arka yang hadir pun tidak tahu harus berbuat apa, Beberapa tamu mulai berbisik.
Ada yang merasa kasihan, Ada pula yang mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ayah Nara bolak balik kebingungan bak orang tak tahu arah, dan tak tahu harus menaruh rasa malu itu ke mana.
Nara hanya bisa duduk dengan tubuh gemetar.
Hari yang seharusnya menjadi pernikahannya berubah menjadi penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Ia ingin menangis, Ingin berteriak. Namun harga dirinya membuatnya hanya mampu menundukkan kepala.
Sampai kemudian terdengar suara seorang laki-laki dari ruang depan.
“Kalau masalahnya adalah akad tetap harus dilakukan hari ini…”
Semua orang menoleh, Seorang laki-laki berdiri di sana.
Tinggi.
Gagah.
Berwajah tenang.
Namanya Deon Satya.
Selama ini ia dikenal sebagai laki-laki sederhana yang tidak banyak bicara. Bahkan tidak banyak orang mengetahui kehidupan sebenarnya, Deon tinggal tak jauh dari rumah Nara, ia hadir karena undangan, namun Nara tak mengenalnya.
Deon menatap keluarga Nara.
“Kalau keluarga Nara berkenan…”
Ia menarik napas.
“Aku bersedia menggantikan posisi Calon suami Nara.”
Ruangan seketika sunyi, Nara yang mendengar ucapan itu langsung menatap Deon.
“Apa?”
Deon menatapnya.
“Aku tidak ingin kamu menanggung malu sendirian.”
Nara menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya tegas.
“Aku tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak aku cintai.”
Deon tidak tersinggung.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu mengatakan itu?”
“Karena aku tahu bagaimana rasanya dipermalukan di depan banyak orang.”
Nara terdiam, Deon melanjutkan dengan suara rendah.
“Aku tidak meminta kamu mencintaiku hari ini.”
“Lalu?”
“Kenali aku dulu.”
Nara menatap laki-laki itu lama, Di kepalanya, semuanya terasa kacau.
Ia masih mencintai Arka.
Namun Arka baru saja menghancurkan kepercayaannya. Di sisi lain, seorang laki-laki yang hampir tidak dikenalnya justru berdiri di hadapannya dan menawarkan pernikahan demi menyelamatkan harga dirinya.
Ibunya menggenggam tangannya.
“Nara…”
Nara memejamkan mata.
Air matanya kembali jatuh. Ia tidak tahu apakah keputusan ini akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Atau justru jalan menuju kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.
Akhirnya, setelah perdebatan panjang dan desakan keluarga, Nara mengangkat wajah.
“Baik.”
Semua orang terdiam, Nara menatap Deon.
“Aku akan menikah denganmu.”
Deon mengangguk pelan, Namun tidak ada senyum kemenangan di wajahnya.
Justru tatapannya terlihat seperti seseorang yang sudah mengetahui sesuatu yang belum diketahui Nara.
Akad pun dilaksanakan.
Dalam keadaan hati yang hancur, Deon mengucapkan ijab kabul dengan Nara yang baru saja masuk ke dalam kehidupannya.
Deon resmi menjadi suaminya. Namun Nara tidak tahu satu hal.
Laki-laki yang ia kira hanya seorang pria sederhana itu sebenarnya bukan orang biasa.
Deon Satya adalah pemilik mall terkenal tempat Nara bekerja. Selama ini Deon sengaja menyembunyikan identitasnya.
Ia ingin hidup sederhana.
Tanpa pengawal, Tanpa kemewahan. Tanpa orang-orang yang mendekatinya hanya karena harta.
Dan kini… Nara adalah istrinya.
Perempuan yang bahkan belum mengetahui siapa sebenarnya laki-laki yang baru saja menikahinya.
...
Malam harinya, Nara duduk di dalam kamar dengan tatapan kosong. Deon masuk beberapa saat kemudian.
Nara langsung menatapnya.
“Deon.”
“Ya?”
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Deon berhenti.
“Apa?”
Nara menarik napas panjang. “Kenapa kamu mau menikah denganku?”
Deon menatapnya lama. Kemudian ia menjawab dengan tenang.
“Karena aku sudah mengenalmu lebih lama daripada yang kamu kira.”
Nara mengernyit.
“Maksudmu?”
Deon hanya tersenyum tipis.
“Nanti kamu akan tahu.”
Nara semakin bingung. Ia tidak menyadari bahwa sejak lama, Deon sudah memperhatikannya.
Dan pernikahan ini… bukan sepenuhnya kebetulan.
Nara tetap duduk terdiam di tepi ranjang tidurnya yang di hiasi bunga, tatapannya masih tetap kosong belum sepenuhnya menerima kenyataan pahit, hatinya merasa dendam pada Arka, ia ingin sekali tahu apa alasan Arka meninggalkannya dan bahkan wanita mana yang membuat Arka pergi.