Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Pertengkaran yang Menghancurkan Ketenangan
YB terpaku di tempatnya, menatap layar ponsel di tangan Karen dengan pandangan yang kosong, bingung, dan tak percaya. Foto itu terlihat begitu nyata — ia berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalinya, tangan wanita itu menyentuh pipinya dengan lembut, dan wajah mereka berdua tampak begitu dekat seakan sedang berbisik hal-hal yang tak boleh didengar siapa pun. Namun kenyataannya, pertemuan itu hanya berlangsung sesaat, terasa aneh, tiba-tiba, dan wanita itu pergi begitu saja tanpa menjelaskan siapa dirinya atau apa tujuannya mendekat. Bagaimana mungkin ia menjelaskan hal itu kepada Karen, sementara ia sendiri pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mengatur semua ini di balik layar?
"Siapa wanita itu, YB?" tanya Karen kembali, suaranya bergetar namun matanya menatap tajam, tak berkedip sedikit pun ke arah suaminya. "Jangan berdalih lagi. Aku sudah melihatnya sendiri dengan mataku. Selama ini aku menahan diri, berusaha percaya padamu meski segala tanda-tanda itu muncul satu per satu — struk belanja barang perempuan yang tak pernah kuterima, noda lipstik merah di kerah bajumu yang bukan warnaku, wangi parfum asing yang melekat di tubuhmu setiap kali kau pulang terlambat tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang? Aku melihatnya langsung di depan gerbang rumahku sendiri. Katakan padaku — sejak kapan kau menyembunyikannya dariku? Dan berapa lama semua ini terjadi di belakang punggungku?"
YB menghela napas panjang, dadanya terasa sesak seakan ditindih beban berat. Ia ingin jujur, ingin mengakui semuanya — bahwa satu-satunya wanita yang ia temui di belakang pernikahan ini bukanlah orang asing dalam foto itu, melainkan Cynthia. Namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan, tak sanggup terucap. Ia takut melukai hati Cynthia, takut nama baik wanita itu ternoda di mata semua orang, takut kehancuran yang akan menimpa semua orang jika kebenaran itu terungkap. Maka ia hanya bisa menggeleng lemah, berusaha menjelaskan dengan cara yang terdengar selembut dan sejujur mungkin, meski tahu penjelasannya terdengar rapuh.
"Aku sungguh tidak mengenalnya, Karen... Pertemuan itu terjadi begitu saja, tiba-tiba, ia mendekatiku tanpa aku panggil, dan pergi begitu cepat tanpa sempat aku tanya siapa dirinya. Aku tak tahu siapa wanita itu dan mengapa ia berbuat demikian. Percayalah, aku tidak menyembunyikan siapa pun darimu."
Karen tertawa sinis, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang kini terlihat semakin pucat. "Tidak mengenalnya? Lalu mengapa wajahmu tampak begitu tenang bersamanya? Mengapa kau tidak menolak saat ia menyentuh pipimu begitu akrab? Mengapa tanganmu sendiri terangkat dan menindih tangannya seakan kau senang-senang saja? Dan semua bukti lain itu — apakah itu juga kebetulan semata? YB, aku sedang mengandung anakmu. Tubuhku semakin berat, aku semakin sulit bergerak, mudah lelah, dan sering merasa cemas sendiri. Di saat-saat seperti inilah aku paling membutuhkanmu, kehadiranmu, perhatianmu. Tapi justru di saat itu, kau pulang terlambat, diam seribu bahasa, dan ternyata... ternyata ada wanita lain di antara kita!"
Suara Karen meninggi, memecah keheningan rumah yang biasanya tenang dan damai. "Kau bilang tak ada siapa-siapa? Lalu untuk siapa barang-barang itu dibeli? Untuk siapa bibirmu dicium hingga meninggalkan noda di kerah baju? Dan wangi itu... wangi yang manis, memikat, sama sekali bukan milikku! Jangan anggap aku bodoh, YB! Aku adalah istrimu! Aku tahu persis apa yang biasa kupakai dan apa yang tidak!"
Dari arah dapur, Cynthia muncul seakan baru saja mendengar keributan itu. Ia berjalan mendekat dengan wajah yang tampak cemas dan bingung, lalu berdiri di antara keduanya, berusaha menenangkan suasana dengan sikap yang seakan tulus dan peduli.
"Sudahlah, Karen..." ucapnya pelan, menatap ke arah wanita itu dengan wajah yang terlihat iba. "Mungkin ada kesalahpahaman yang tak sengaja terjadi. YB tidak mungkin melakukan hal seburuk itu apalagi di saat kau sedang mengandung. Pasti ada penjelasan lain yang belum kita ketahui bersama..."
"Kau?" Karen menoleh tajam ke arah Cynthia, matanya menyala cemburu dan curiga. "Kau selalu membela dia, bukan? Selalu saja ada alasan untuk membelanya. Apakah kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui? Apakah kau melindunginya karena kau memang tahu siapa wanita itu? Katakan jujur padaku!"
Cynthia menggeleng cepat, wajahnya pucat seakan tersinggung dengan tuduhan itu. "Tentu saja tidak. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya tidak ingin kalian berdua bertengkar hebat seperti ini, apalagi di saat kondisimu sedang tidak baik. Aku hanya ingin kalian baik-baik saja, ingin rumah tangga kalian tetap utuh untuk anak yang akan lahir nanti..."
"Baik-baik saja?" Karen tertawa pahit, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Bagaimana mungkin kami baik-baik saja, sementara suamiku ternyata menyembunyikan wanita lain dan membohongiku setiap hari? Kau tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit ini, jadi jangan berpura-pura memahami perasaanku!"
YB menatap Cynthia sekilas, lalu kembali menatap Karen dengan wajah yang penuh kepedihan yang mendalam. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjelaskan lebih lanjut, namun tak ada kata yang pantas terucap. Semakin ia berusaha menjelaskan, semakin terdengar seperti kebohongan di telinga istrinya. Dan kehadiran Cynthia di sana justru membuat suasana semakin tegang — Karen seakan melihat sesuatu yang lain di antara mereka, sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa begitu nyata dan mengganjal di hatinya.
"Aku tidak berpura-pura," jawab Cynthia lembut, menundukkan wajahnya seakan ikut bersedih. "Aku hanya memohon agar kau tenang dulu, pikirkan kandungan itu, pikirkan kesehatan anak yang ada di dalam perutmu. Jangan biarkan amarah ini merugikan siapa pun."
Kata-kata itu justru semakin menyakiti hati Karen. Ia menatap YB dengan tatapan yang penuh kekecewaan yang tak bisa lagi diukur dengan kata-kata. "Dengar itu, YB. Bahkan Cynthia lebih memikirkan anak ini daripada kau. Kau tahu betapa aku membutuhkanmu setiap harinya. Setiap hari perutku semakin membesar, tubuhku semakin berat, dan aku tak bisa melakukan banyak hal sendirian seperti dulu. Yang aku butuhkan hanyalah kau — suamiku, ayah dari anak ini, teman hidup yang kujaga kepercayaannya. Tapi apa yang kuterima? Kebohongan, keheningan, dan tanda-tanda perselingkuhan yang tak pernah berhenti muncul!"
YB maju selangkah, ingin merangkul istrinya, ingin menenangkan, namun Karen mundur menjauh dengan wajah yang dingin dan tertutup. "Jangan sentuh aku," ucapnya pelan namun tegas, tajam dan menyakitkan. "Sampai kau jujur padaku sepenuhnya, jangan mendekat."
Suasana hening seketika, hanya terdengar napas berat ketiga orang itu yang terasa begitu menyesakkan. Di dalam hati Cynthia, ada rasa puas yang perlahan tumbuh dan mekar — rencananya berjalan persis seperti yang ia inginkan. Rumah tangga mereka mulai retak, kepercayaan Karen hancur berkeping-keping, dan YB terdiam tanpa mampu membela diri. Namun di balik kepuasan itu, ada rasa lain yang ikut muncul — rasa yang sedikit tidak enak melihat YB yang terjepit di antara dua kebenaran dan Karen yang hancur begitu. Cynthia segera mengusir perasaan itu, mengingat kembali bagaimana Karen memperlakukannya selama ini — merendahkan, menyakiti, memamerkan kebahagiaannya dengan sombong, dan menganggapnya tidak lebih dari pembantu. Semua ini pantas didapatkan Karen. Semua ini adalah balasan yang setimpal.
"Aku tidak akan diam saja, YB," ucap Karen pelan namun tegas, memecah keheningan yang menyakitkan itu. "Foto ini baru permulaan. Aku akan mencari bukti yang lebih lengkap dan nyata. Dan jika kau memang menyembunyikan wanita itu, aku akan mengetahuinya sendiri, dengan caraku. Sebelum kau kehilangan aku dan anak ini sepenuhnya, aku berikan kesempatan sekali lagi — jujurlah sebelum semuanya terlambat."
YB menunduk, tak mampu menatap mata istrinya. Ia ingin jujur, namun kebenaran yang sebenarnya justru akan melukai orang lain yang ia sayangi dan menghancurkan masa depan semua orang. Ia terjebak di antara dua kebenaran, dan tak tahu jalan mana yang harus diambil agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini..." jawabnya pelan, suaranya terdengar lelah dan tak berdaya. "Tapi percayalah, aku tidak berkhianat padamu dengan wanita lain yang kau maksud. Itu saja yang bisa kukatakan."
Karen mengangguk pelan, senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat. "Baik. Kalau begitu, biarkan waktu yang membuktikan siapa yang sebenarnya berbohong."
Dengan langkah yang berat dan tertatih, Karen berbalik menuju kamar mereka, meninggalkan YB yang berdiri terpaku sendirian di ruang tengah, dan Cynthia yang diam di sudut ruangan — pura-pura sedih dan prihatin, sementara di dalam hatinya rencana itu terus berjalan, perlahan namun pasti menuju tujuan yang telah ia tetapkan sejak lama.
Tujuh tahun kesetiaan, tujuh tahun menunggu, namun pada akhirnya semua pengorbanan seakan tak pernah dilihat. Alurnya begitu menyentuh, setiap kalimat terasa hidup dan menusuk sampai ke hati. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta, tapi tentang dihargai atau diabaikan, tentang berjuang lalu terluka. Kalau kalian mampir ke sini, jangan lewatkan untuk membacanya dari awal sampai akhir — kalian pasti akan ikut merasakan setiap perasaan tokohnya. Karya yang luar biasa indah dan berharga! Semangat terus menulisnya Kak! ❤️⭐⭐⭐⭐⭐