“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
•••
Malam hari di Metrosentra, di sebuah gedung apartemen mewah.
Ting tong...
Terdengar bunyi bel dari luar pintu sebuah apartemen. Dengan langkah gontainya seorang gadis berjalan membuka pintu untuk seseorang di luar.
Pintu terbuka, memperlihatkan dua orang pria berpostur tinggi, berwajah datar dengan setelan jas hitam lengkap. Satu berkacamata dan satu lagi terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya tengah menunggu di luar apartemen sang gadis.
"Selamat malam Nona, bisa kami bicara dulu sebentar?" ucap si pria berkacamata.
"Hmm..."
Mendapat jawaban acuh seperti itu, rekan si pria berkacamata tadi membuka bicara.
"Izinkan kami memperkenalkan diri, saya Juna dan ini Kalvin. Pengawal baru Nona." ujar pria bernama Juna tersebut sambil menunjuk Kalvin pria di sampingnya.
"Seperti yang Nona ketahui, Tuan sangat mementingkan keamanan dan keselamatan Nona. Karena itu Tuan telah memerintahkan kami untuk menjaga Nona selama dua puluh empat jam penuh." lanjut Juna.
"Dengar! Aku bukan boneka Tuanmu.”
“Aku bukan anak kecil yang harus dipantau dalam setiap pergerakanku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan aku tak butuh orang-orang seperti kalian." sungut sang gadis mulai jengkel.
"Nona, kami hanya menjalankan perintah. Kami akan memantau aktivitas Nona dalam jarak tertentu setiap harinya untuk memastikan keamanan Nona. Kami—”
"Aku tidak peduli dan sampaikan ini kepada Tuan kalian itu, aku akan terus-menerus membuat masalah sampai Tuanmu mau menemuiku." ujar sang gadis penuh penekanan.
"Kami mengerti Nona, tapi kami yakin Nona pasti tahu jawaban Tuan tentang hal itu. Dan… satu lagi Nona, sebentar lagi Tuan akan mengirimkan uang bulanan Nona." sahut Kalvin.
Melihat si gadis hanya diam tak menunjukkan reaksi apapun, Juna pun memohon izin untuk pergi.
"Kalau begitu kami permisi. Selamat beristirahat dan selamat malam Nona." ucapnya membungkuk hormat diikuti oleh Kalvin.
Setelah kepergian Juna dan Kalvin—dua orang bodyguard yang dikirim oleh seseorang yang mereka sebut Tuan.
Giselle Uchiyama, gadis tadi, mematung cukup lama sambil menatap kosong lorong apartemen.
Keheningan yang tersisa membuatnya menutup pintu dan melangkah masuk. Ia berjalan menuju dapur, mengambil minuman dingin dari kulkas dalam keadaan termenung.
Hampa.
Itulah yang selalu dirasakan Giselle, gadis cantik berusia dua puluh tahun itu, setiap hari. Tinggal sendiri di apartemen seluas ini hanya mempertegas rasa kosong yang tak pernah benar-benar pergi.
Giselle tersadar dari lamunannya oleh bunyi notifikasi di layar ponsel, sebuah pesan teks dari nomor tak dikenal.
[Private Number]
[Sudah ditransfer.]
Disusul notifikasi dari aplikasi bank yang menandakan seseorang baru saja menambahkan sejumlah dana ke rekening pribadinya.
Menghela napas panjang, Giselle menjatuhkan diri ke sofa dengan rasa kesalnya.
•••
Keesokan malamnya, Giselle datang ke sebuah kelab yang cukup terkenal di pusat kota bersama dua sahabatnya, Karina dan Yesha.
Giselle masih bersyukur memiliki sahabat seperti mereka—yang selalu siap menemani kapan pun ia membutuhkan.
Pergi ke kelab seperti ini hanyalah pelarian kecil baginya untuk menutupi rasa sepi yang tak pernah benar-benar hilang.
“Astaga… kenapa begitu banyak pria tampan di sini?”
Ucapan Karina, membuatnya berhasil mendapat hadiah pukulan ringan di kepala belakang dari dua orang di sampingnya.
“Benar, di sini memang banyak pria tampan,” ujar Giselle santai. “Tapi lihatlah… mereka semua bajingan.”
Ia menunjuk seorang pria yang sedang asik berciuman dengan seorang wanita di pojok ruangan, lalu mengalihkan telunjuknya ke arah pria lain yang duduk sambil merangkul dua wanita di sisi kanan dan kirinya.
“Benar,” sahut Yesha datar. “Tapi ada yang aneh. Kau bilang mereka bajingan lalu kau sendiri apa, bodoh?”
Giselle tersenyum tipis. “Aku? Ratu dari segala bajingan…”
Tawa ketiganya pecah.
“Haha… dasar bodoh,” gumam Karina.
“Hei, bagaimana kalau kita bertaruh? Berapa banyak pria yang akan kita dapatkan malam ini?”
Giselle menggeleng pelan. “Aku mengajak kalian ke sini bukan untuk bertaruh atau mencari pria. Malam ini aku hanya ingin minum sepuasnya.”
Ia melangkah pergi lebih dulu meninggalkan Karina dan Yesha.
“Tunggu kami!” teriak Yesha sambil menyusul.
Seperti yang Giselle katakan sebelumnya, niatnya datang ke kelab ini hanya untuk minum dan terbukti dengan banyaknya jumlah gelas kosong bekas minuman beralkohol tersebut.
Yesha mendekat pada Karina kemudian berbisik pelan, "Sebenarnya ada apa dengan Giselle? Biasanya dia tak minum sebanyak ini."
Karina mengendikan bahu, "Entahlah, mungkin sedang ada masalah. Lagipula dia tipe orang yang akan bercerita jika mau, sebaiknya jangan tanya apapun dulu sebelum dia sendiri yang menceritakannya."
Yesha mencegah Giselle dengan menurunkan tangan sahabatnya itu dari gelas berisi vodka.
"Giselle, hentikan, kau sudah minum terlalu banyak."
"Tenang saja, lagipula aku tidak akan mabuk. Jangan khawatirkan aku, lebih baik kalian nikmati saja pesta ini…" sahut Giselle seraya mengibaskan tangannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Karina memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Giselle.
"Ya… dia akan baik-baik saja, jadi mari nikmati pesta ini."
Benar saja ketiga gadis itu menggila di tengah hiruk-pikuk suasana kelab tersebut. Giselle bahkan minum seperti tak ada hari esok. Karina pun sudah menghilang di tengah ramainya kerumunan orang-orang di atas lantai dansa.
Giselle yang hanya duduk diam bersama Yesha menyesap minumannya mulai bosan. Dia pun berjalan dengan sempoyongan ke tengah lantai dansa. Menari dan melompat-lompat tak jelas di sana.
Tak seperti Giselle dan Karina yang asik berdansa, Yesha memilih duduk menikmati minumannya, dia tak boleh terlalu mabuk malam ini. Jika tidak, siapa yang akan membawa pulang dua orang gila itu pikirnya.
Tak lama berselang, netra Yesha menangkap sosok seorang pria yang tak asing di pandangannya. Meski sempat ragu, ia tetap beranjak menghampiri untuk memastikan.
“Yohan?” sapanya.
Pria itu menoleh dengan sedikit terkejut.
“Yesha… kau ke sini sendiri?” tanya Yohan sambil melirik sekilas ke kanan dan kiri.
Yang ditanya hanya memamerkan senyum tipis di bibir manisnya, lalu menjawab, “Tidak, aku datang bersama Karina dan Giselle.”
“Giselle? Di mana dia?” tanya Yohan bersemangat.
Lengkungan manis di wajah Yesha seketika memudar.
Yohan mungkin terlalu antusias mendengar Giselle juga berada di tempat ini hingga tak menyadari perubahan raut wajah Yesha—sebuah tanda bahwa gadis itu tak menyukai pertanyaan yang baru saja Yohan lontarkan.
“Dia di sana.”
Yesha menunjuk asal sebelum berbalik pergi, meninggalkan Yohan yang tampak kebingungan.
•••
Di tengah lantai dansa tempat Giselle sedang asik menggoyangkan tubuhnya, terdapat seorang pria yang tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Giselle dari belakang.
Terkejut, Giselle pun berbalik menghadap pria yang hanya memandangnya dengan tatapan nakal itu.
Mencoba melepaskan diri dari pelukannya hanya usaha yang sia-sia, pria itu tetap lebih kuat darinya apalagi dengan keadaan Giselle yang setengah mabuk.
Pria itu mempererat pelukannya dan mengikis jarak antara dirinya dan Giselle. Tangan Giselle bergerak cepat menahannya agar tak berbuat hal yang tidak diinginkan.
"Apa yang kau lakukan?!" ujar Giselle marah.
"Apa yang aku lakukan?" seringai menakutkan terbit di wajah pria tersebut, "Kau jelas tahu apa yang akan aku lakukan."
Kembali mendekat, Giselle pun makin histeris berteriak meminta untuk dilepaskan.
"Lepas! Lepaskan aku sialan!" Teriak Giselle memukul dada bidang pria itu sekuat tenaga.
"Giselle sayang, tak ada yang akan mendengarmu di sini." Ucap pria itu mulai memiringkan kepalanya.
Giselle masih berusaha sekuat tenaga mendorong pria itu menjauh darinya. Tapi yang terjadi selanjutnya benar-benar tak terduga baik oleh Giselle maupun si pria.
Tiba-tiba seorang pria lain datang menarik kerah bagian belakang pria yang sebelumnya memeluk Giselle. Akibatnya Giselle terhuyung ke belakang.
Pria tadi langsung menghajar pria sebelumnya, memukul rahang bahkan memberikan tinjuan yang tak sempat dibalas oleh pria sebelumnya.
Giselle sendiri yang jatuh terduduk di lantai memperhatikan wajah pria yang tengah menolongnya tersebut meski sedikit samar.
Keadaan menjadi tidak kondusif bahkan DJ club tersebut sampai menghentikan permainan musiknya.
Orang-orang yang tadinya sibuk berjoget ria turut menghentikan aktivitas mereka, menyaksikan bagaimana seorang pria dengan aksi brutalnya memukul seorang pria lainnya di tengah-tengah kerumunan.
Dirasa cukup si pria penolong tadi mulai berhenti memukuli pria sebelumnya.
Dia berjalan menuju Giselle, melepas jaket lalu dikenakannya pada Giselle yang terduduk di lantai untuk menutupi kakinya yang terbuka karena roknya sedikit tersingkap. Kemudian pergi meninggalkan kerumunan tanpa sepatah kata.
Giselle hanya bisa memandang punggung tegap pria yang telah menolongnya tersebut.
Pria sebelumnya juga sudah dibawa pergi oleh teman-temannya.
Dari arah berlawanan Karina dan Yeji menghampiri Giselle dengan paniknya karena menemukan Giselle yang duduk di lantai dalam keadaan melamun.
"Ya ampun… apa yang kau lakukan di situ? Giselle, ayo berdiri... Giselle..." Pekik Karina panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya yeji.
Tanya yang sebenarnya dituju entah kepada siapa dan tak mendapat jawaban pula, membuat Yeji dan Karina semakin kalut. Keduanya memutuskan membantu Giselle untuk berdiri kemudian pergi membawanya pulang.
•••Vienbluu (annavienbluu)