Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana di ruangan itu terasa sangat intim, hangat, dan dipenuhi oleh sisa-sisa aroma gairah yang kuat.
"Kau benar-benar akan berangkat besok pagi, Bayu?" tanya Bu Rina dengan nada manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu lebar Bayu.
"Jadwal pendaftaran mahasiswa baru di universitas nasional tidak bisa ditunda, Rina," jawab Bayu santai sambil membelai rambut guru biologi itu.
"Aku pasti akan sangat merindukan pelajaran tambahan bersamamu di jam istirahat," goda Bayu yang membuat wajah Bu Rina semakin memerah padam.
"Aku pasti akan datang mengunjungimu ke ibukota kalau libur semester sekolah tiba," bisik Bu Rina penuh harap, tangannya mengelus pelan dada Bayu.
Natasha yang duduk di sisi lain cemberut lucu, merasa sedikit cemburu namun tidak berani protes terang-terangan.
"Lalu bagaimana denganku? Kau hanya mempedulikan Bu Rina saja," rengek Natasha sambil menarik pelan ujung lengan kemeja Bayu.
"Aku masih harus mengurus persiapan masuk universitas lokal di kota ini sesuai permintaan Papa, jadi aku tidak bisa sering menjengukmu."
Bayu menoleh ke arah Natasha, tangannya berpindah mengelus pipi lembut dan hangat gadis primadona tersebut.
"Kau harus menjadi anak yang patuh dan pintar selama aku tidak ada, Tuan Putri," ucap Bayu dengan suara rendah yang menggetarkan.
"Jangan biarkan pria mana pun berani mendekatimu, atau aku akan pulang hanya untuk mematahkan kaki mereka semua."
Mendengar nada bicara yang sangat posesif itu, hati Natasha langsung berbunga-bunga dan rasa cemburunya menguap seketika.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah melirik pria lain selain dirimu, sayang," jawab Natasha patuh, menatap Bayu dengan mata berbinar penuh cinta.
"Tuan Bayu adalah milik kita bersama, kau tidak perlu cemburu padaku, Natasha," ucap Bu Rina sambil tersenyum keibuan pada gadis itu.
Dua wanita yang dulunya sangat sombong dan saling menjaga jarak itu kini bisa duduk akur berdampingan karena ketundukan mutlak mereka pada satu pria.
"Kalian berdua adalah tanggung jawabku di kota ini, aku sudah meminta Siska untuk mengurus segala kebutuhan kalian," perintah Bayu.
"Kalau ada masalah dengan sisa-sisa keluarga Kevin atau preman jalanan, hubungi Siska atau Pak Herman segera."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami di sini, fokuslah pada kuliahmu nanti," balas Bu Rina lembut.
"Aku percaya kau akan menjadi dokter terhebat di negara ini dalam waktu singkat," tambah Natasha dengan nada sangat bangga.
Ting! Tong!
Suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring, memecah suasana intim mereka bertiga.
Bayu menepuk pelan paha kedua wanita itu, mengisyaratkan mereka untuk tetap duduk manis di sofa.
"Biar aku yang buka," ucap Bayu sambil berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu.
Cklek.
Pintu utama terbuka, menampilkan sosok pria tegap berseragam militer dengan baret hijau di kepalanya.
Pria itu langsung merapatkan kakinya dan memberikan hormat militer yang sangat kaku saat melihat Bayu.
"Lapor, Tuan Bayu! Saya Letnan Haris, komandan regu dan utusan pribadi dari Jenderal Aditama," ucap tentara itu dengan suara lantang.
"Ada apa mencariku malam-malam begini, Letnan?" tanya Bayu dengan nada tenang tanpa membalas hormat tersebut.
"Jenderal Aditama memerintahkan saya untuk mengawal keberangkatan Anda ke ibukota besok pagi."
"Kami sudah menyiapkan helikopter pribadi di landasan pacu kota untuk membawa Anda langsung ke kediaman keluarga Aditama tanpa hambatan lalu lintas," jelas Letnan Haris.
Bayu tersenyum miring, Jenderal tua itu benar-benar tahu cara memperlakukan tamu kehormatannya dengan sangat baik.
"Tidak perlu berlebihan sampai membawa pasukan, tapi aku terima tawarannya."
"Jemput aku di lobi apartemen ini besok jam delapan pagi tepat," jawab Bayu menyetujui.
"Siap laksanakan, Tuan Bayu! Nona Aurel juga menitipkan pesan pribadi bahwa dia sangat menantikan kedatangan Anda di rumah," lapor Letnan Haris sebelum akhirnya pamit undur diri.
Bayu menutup pintu apartemennya dan kembali berjalan santai menuju ruang tengah.
"Helikopter pribadi dari militer? Jenderal Aditama benar-benar memanjakanmu layaknya raja," ucap Bu Rina dengan nada takjub.
"Itu karena Tuan Bayu adalah orang yang menyelamatkan nyawa cucu kesayangannya, itu hal yang sangat wajar," sahut Natasha bangga.
Bayu kembali duduk di antara kedua wanita cantiknya, merentangkan tangannya agar mereka berdua bisa memeluk pinggangnya dengan erat.
"Malam ini adalah malam terakhirku di sini sebelum berhadapan dengan badai baru di ibukota."
"Aku ingin kalian berdua melayaniku sampai matahari pagi terbit," perintah Bayu dengan tatapan dominan yang tidak terbantahkan.
Kedua wanita itu saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk patuh dengan wajah yang sudah memerah padam karena gairah.
Malam itu, di dalam penthouse mewah di atas awan, Bayu menikmati hasil dari penaklukan panjangnya di kota kecil tersebut tanpa gangguan.
...
Keesokan paginya, suara baling-baling helikopter terdengar bergemuruh keras membelah langit.
Bayu duduk di kursi kulit VIP di dalam kabin helikopter tersebut, menatap ke bawah melihat pemandangan kota yang semakin mengecil.
Perjalanannya dari murid sekolah miskin yang kelaparan menjadi sosok penguasa bayangan di kota ini telah selesai sepenuhnya.
Kini, matanya menatap tajam ke arah cakrawala luas, tempat di mana gedung-gedung pencakar langit ibukota mulai terlihat dari kejauhan bagaikan hutan beton.
Di ibukota, Universitas Kedokteran Nasional sudah menunggunya dengan ribuan mahasiswa jenius dari seluruh penjuru negeri.
Di sana juga ada sindikat medis raksasa seperti Medika Utama yang diam-diam mulai mengincar nyawa dan resepnya tanpa dia sadari.
"Selamat datang di wilayah udara Jakarta, Tuan Bayu," ucap Letnan Haris dari kursi depan melalui interkom.
"Kita akan mendarat di helipad pribadi keluarga Aditama dalam waktu lima menit lagi."
Bayu hanya mengangguk pelan, senyum percaya diri yang sangat mematikan terukir jelas di wajah tampannya.
"Panggung yang lebih besar berarti musuh yang lebih licik dan wanita yang lebih menantang untuk ditaklukkan."
"Mari kita lihat seberapa jauh kota metropolitan ini bisa menghibur kebosananku," batin Bayu penuh antisipasi.
Helikopter itu perlahan menurunkan ketinggiannya, bersiap membawa naga yang sedang terbangun ini untuk memporak-porandakan tatanan elit di ibukota.