NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 Berlutut di Kampus

Gerimis tipis menaburkan titik-titik bening di pelataran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jagatara siang itu. Langit menggantung kelabu, seolah ikut menahan napas bersama udara yang lembap dan dingin.

Koridor utama kampus dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang, sebagian berlari kecil sambil melindungi kepala dengan map, buku, atau telapak tangan. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi kopi dari kedai di sudut gedung.

Di tengah riuh yang biasa itu, sebuah sedan mewah tiba-tiba mengerem mendadak dan berhenti sembarangan tepat di depan lobi.

Pintu mobil terbuka. Elara Arabelle keluar dengan langkah tergesa.

Perempuan yang selama ini selalu tampil sempurna itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh pijakan hidupnya. Wajah cantiknya pucat. Riasan di sekitar matanya mulai luntur, meninggalkan bayang-bayang gelap di bawah kelopak yang sembap. Rambut yang biasanya tertata tanpa cela kini sedikit berantakan, beberapa helainya melekat di pelipis akibat gerimis.

Tak ada lagi aura anggun seorang putri pengusaha kaya.

Tak ada lagi ketenangan seorang alumni berprestasi.

Begitu menapakkan kaki di aspal, semua topeng sempurnanya lepas, hanya tersisa kepanikan murni di wajahnya.

Elara berjalan cepat, nyaris berlari, melintasi koridor menuju lorong ruang dosen. Beberapa mahasiswa yang mengenalinya sempat menoleh dan berbisik, tetapi perempuan itu tak peduli.

Hari ini, harga dirinya bukan sesuatu yang ingin ia pertahankan.

Hari ini, ia hanya ingin menyelamatkan keluarganya.

Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu.

Ruang kerja Dosen Luar Biasa Bisnis & Manajemen Strategis—Ravian Adhikara Evander.

Tangan Elara gemetar ketika meraih gagang pintu. Ia bahkan tidak sempat mengetuk.

Klek.

Pintu terbuka.

Di baliknya, suasana begitu tenang. Aroma kopi arabika mengambang lembut di udara, berbanding terbalik dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam dada Elara.

Di balik meja kerja, Ravian duduk dengan santai setelah baru saja menutup sesi bimbingan skripsi daring. Kemeja putihnya tampak licin tanpa cela, dan kacamata berbingkai tipis di wajahnya mempertegas kesan akademis; sebuah penampilan yang terasa sangat ironis bagi pria yang namanya dalam satu malam saja mampu meretakkan fondasi kerajaan bisnis Arabell Group hingga ke akar-akarnya. Pria yang di dunia korporasi dijuluki 'Monster Finansial.'

Ravian menurunkan kacamatanya dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, lalu mengangkat pandangannya.

Tidak ada keterkejutan.

Tidak ada kemarahan.

Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa kedatangan Elara berarti sesuatu baginya.

"Ruang dosen adalah area privat, Saudari Elara," tuturnya tenang.

Kata-kata itu diucapkan tanpa riak emosi, tetapi efeknya justru jauh lebih menyakitkan daripada makian keras.

"Ada etika untuk mengetuk pintu sebelum masuk."

"Ravian..." nada bicaranya terdengar parau.

Sisa-sisa amarah yang tadi sempat berkobar di dalam dirinya kini luruh tak berbekas, menguap ke udara dingin ruangan. Yang tertinggal hanyalah keputusasaan yang telanjang; sebuah kerapuhan murni yang tak lagi bisa ia sembunyikan di hadapan pria itu.

Ia melangkah mendekati meja kerja Ravian dan mencengkeram ujungnya erat-erat, seolah kayu itu satu-satunya benda yang mampu menahan tubuhnya agar tidak roboh.

"Tolong..."

Satu kata itu keluar seperti serpihan harga diri yang dipaksakan untuk ditelan.

"Saya mohon. Tarik kembali instruksi kamu kepada bank konsorsium," air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Papa saya..." napas Elara tercekat. "Papa masuk rumah sakit karena serangan jantung pagi ini setelah tahu Arabell Group dinyatakan default."

Ravian menyandarkan punggungnya. Jemarinya bertaut di atas meja. Wajahnya tetap tenang.

"Setiap keputusan dalam bisnis maupun tindakan pribadi selalu memiliki risiko," tatapannya tertuju tajam, memaku Elara di tempatnya berdiri. "Kamu yang paling tahu itu sebagai lulusan manajemen."

Elara menggeleng keras.

"Tapi ini tidak adil!" suaranya pecah, melengking di antara dinding ruangan yang sunyi.

"Kamu menghancurkan bisnis ratusan orang cuma gara-gara..." ia terisak. "...gara-gara mahasiswi miskin itu?!"

Napasnya memburu, memutus udara yang kian menipis di antara mereka.

Ravian tidak berkedip saat nama itu terucap dari bibir lawannya. Detik itu juga, kehangatan di dalam ruangan seolah menguap tanpa bekas.

Di seberang meja, Ravian mulai bangkit. Gerakannya begitu lambat dan presisi; sebuah ketenangan absolut yang justru jauh lebih mengintimidasi daripada ledakan amarah.

Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang di lantai. Elara tanpa sadar mundur satu langkah ketika pria itu mulai berjalan mengitari meja.

Selangkah.

Dua langkah.

Hingga Ravian berhenti tepat di hadapannya.

"Nama dia..." ia berbisik dengan nada berat yang menekan atmosfer ruangan. "...Liora Valeska Arwen."

Tatapan Ravian mengunci mata Elara. Ada sesuatu yang bergerak di balik ketenangan itu.

Bukan kemarahan yang meledak.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, amarah yang telah dikendalikan sampai menjadi dingin.

"Dan kamu telah membuat kesalahan fatal," Ravian menjeda. "Kamu menyentuh batas yang paling terlarang dalam hidup saya."

Elara menelan ludah.

"Saya... saya cuma menggertaknya, Ravian!" air matanya jatuh. "Saya cuma ingin dia menjauh dari kamu!"

Suara tangisnya semakin pecah. "Maaf... saya minta maaf."

Elara berusaha meraih tangan Ravian, tetapi pria itu tidak bergerak.

"Saya akan minta maaf kepada Liora. Saya akan tarik semua orang yang saya kirim ke Yogyakarta. Saya akan melakukan apa pun yang kamu mau, " ia terisak hebat. "Tolong..."

Kata itu nyaris tak lebih dari bisikan.

"Tolong pertimbangkan kondisi keluarga saya."

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, ketika kesombongan tak lagi mampu menjadi perisai, Elara akhirnya melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan dilakukannya seumur hidup.

Ia berlutut.

Lututnya menyentuh lantai dingin ruang dosen.

Seorang perempuan yang bertahun-tahun dibesarkan di tengah kemewahan, nama besar, dan kekuasaan kini merendahkan dirinya di hadapan pria yang telah menghancurkan seluruh fondasi keluarganya.

Tangannya gemetar saat mencengkeram ujung celana kain Ravian. Air mata mengalir deras.

"Ravian... tolong," hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Ravian menunduk. Ia menatap Elara tanpa sedikit pun iba. Tatapan itu begitu kosong hingga Elara merasa seolah-olah dirinya tidak sedang berhadapan dengan manusia, melainkan dengan sebuah keputusan yang telah lama dijatuhkan.

Ravian mengambil satu langkah mundur, cukup untuk membuat genggaman Elara terlepas dari pakaiannya.

"Maaf kamu..." suaranya tetap rendah. "...tidak akan mampu membayar biaya perawatan medis yang mungkin dibutuhkan Ibu Rahayu jika tim kamu sempat menyentuhnya."

Elara membeku.

Ravian menatapnya beberapa detik.

"Dan belas kasihan..." ia mengenakan kembali kacamatanya dengan gerakan tenang. "...adalah variabel yang tidak pernah ada dalam kamus bisnis Evander Corp."

Kalimat itu jatuh seperti palu. Tak ada ruang untuk tawar-menawar. Tak ada pintu untuk kembali.

Tepat saat itulah pintu ruang dosen bergerak pelan. Terbuka sedikit. Seseorang berdiri di ambang pintu.

Liora.

Gadis itu datang dengan sebuah map berisi laporan magang mingguan yang hendak diserahkannya kepada Ravian. Rambutnya sedikit basah oleh gerimis, beberapa tetes air masih menggantung di ujungnya.

Namun langkahnya terhenti. Matanya membesar. Pandangannya terpaku pada pemandangan di dalam ruangan.

Elara Arabelle, perempuan yang ia kenal sebagai sosok anggun, berkelas, dan nyaris tak tersentuh sedang berlutut di lantai sambil menangis.

Sementara di hadapannya berdiri Ravian. Dingin. Tegak. Tak tergoyahkan.

"L-Liora...?" suara Elara terdengar lirih.

Liora tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di sana, seperti seseorang yang baru saja membuka pintu menuju sebuah dunia yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

Ravian menyadari kehadiran Liora. Dan sesuatu yang aneh terjadi. Dingin di wajahnya lenyap. Seolah salju yang menutupi seluruh permukaan danau tiba-tiba mencair hanya karena satu nama.

Tatapannya berubah. Tidak lagi tajam. Tidak lagi mengintimidasi.

Ada kecemasan di sana.

Kecemasan yang begitu kentara hingga Liora dapat melihatnya bahkan dari kejauhan.

"Liora."

Ravian melangkah melewati Elara tanpa melirik sedikit pun. Ia menghampiri gadis itu.

"Kenapa ke sini?" suaranya terdengar jauh lebih lembut.

"Kenapa tidak menunggu di mobil?" tangannya terangkat secara alami.

Jemarinya menyentuh sehelai rambut Liora yang basah, lalu merapikannya dengan gerakan perlahan.

Begitu sederhana.

Begitu lembut.

Begitu bertolak belakang dengan pria yang beberapa detik sebelumnya berdiri di hadapan seseorang yang sedang berlutut memohon ampun.

Ravian sama sekali tidak memedulikan Elara yang masih berlutut di lantai. Dunia seolah hanya menyisakan satu orang untuknya.

Liora.

Gadis itu menatap Ravian dalam diam. Perlahan, matanya beralih kepada Elara lalu kembali kepada Ravian.

Liora memahami sesuatu yang selama ini hanya samar-samar ia rasakan. Pria yang berdiri di sisinya bukan sekadar seorang dosen. Bukan sekadar seorang pengusaha. Bukan sekadar lelaki yang selalu muncul ketika ia membutuhkan pertolongan.

Di balik ketenangan Ravian Adhikara Evander, ada kekuasaan yang begitu besar hingga mampu membuat seseorang yang memiliki segalanya kehilangan harga diri dalam sekejap.

Dan yang lebih menggetarkan hati Liora, kekuasaan sebesar itu ternyata sedang berdiri di sisinya.

Melindunginya.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!