Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kalian bisa bantu mommy balik lagi sama daddy kalian kan?," tanya Wilona yang berada di tengah Sena dan Sean di kamar si kembar.
Sena sudah pulang membawa banyak obat yang harus diminumnya untuk kesembuhan lambungnya. Harus makan makanan sehat supaya mempercepat penyembuhannya.
"Iya, Mom." sahut keduanya singkat.
"Zuraida tak pernah sayang sama kalian. Nggak ada orang lain yang bisa menyayangi kalian seperti mommy ibu kandung kalian. Jadi please tolong mommy ya?."
Keduanya mengangguk.
Wilona keluar kamar, anak-anaknya mau tidur. Besok Sean yang mulai sekolah dan Sena di rumah untuk sementara waktu sampai benar-benar pulih.
Sena dan Sean tak ada yang bicara, hanya mata mereka saja saling tatap.
Dari luar kamar si kembar Wilona berjalan ke arah kamar Arfan. Tanpa mengetuk pintu Wilona memasuki kamar tidurnya miliknya.
Arfan dan Zuraida sama-sama kaget dengan kedatangan Wilona.
"Bisa kan ketuk pintu dulu?," tegas Arfan.
"Ini kamarku," balasnya lalu duduk di tempat tidur yang sama seperti seleranya. Kemudian Wilona tersenyum menatap Arfan lalu berpindah menatap Zuraida.
"Semua yang ada di kamar ini semuanya masih tentang aku. Itu artinya apa, Zuraida?. Itu kasih tahu, artinya Arfan masih sangat mencintaiku. Sampai-sampai di kamar ini masih tentang aku."
Memang benar di kamar itu masih bau aroma Wilona. Tapi tak masalah bagi Zuraida karena ia hanya orang baru dalam hidup Arfan.
"Jangan kurang ajar kamu, Wilona!." Arfan bergeser, berada beberapa langkah di hadapan Zuraida. Melindungi istrinya dari mantan istrinya.
"Itu dulu aku sangat mencintaimu. Tapi setelah perselingkuhanmu dan Edwin semua perasaan cinta itu menjadi rasa kecewa dan sekarang kamu tidak akan pernah lebih dari sekedar ibu dari Sena dan Sean." Sangat tegas dan jelas Arfan mengatakan itu.
Membungkam Wilona yang bersikap semena-mena di kamarnya.
"Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu," sembari mengacungkan telunjuk tepat di hadapan Wilona.
"Jangan pernah ganggu Zuraida atau kamu nggak akan bertemu dengan anak-anak lagi." Ancamnya serius.
Wilona pergi tanpa membalas sepatah kata pun kepada Arfan. Ia tahu kemarahan itu sama dengan kemarahan saat ketahuan selingkuh. Lebih baik ia pergi dari kamar itu, menyusun rencana demi kembali bersama Arfan.
*
Hari ini pertama Sean masuk sekolah. Sean sudah bisa membaca dan menulis dengan baik dan benar. Siap mengikuti pelajaran di sekolah sama seperti murid-murid yang lain.
"Mau ke mana Zuraida?, tanya mama mertua.
"Mengantar Sean sekolah, Bu."
"Kamu nggak lihat di sini ada Wilona?. Biar Wilona yang antar."
"Baik, Bu."
Wilona mengantar Sean berangkat sekolah. Zuraida kembali lagi ke kamar.
"Cepet bener sudah balik lagi?," tanya Arfan sambil becanda.
"Sean diantar mommynya." Sembari duduk di tepi tempat tidur.
"Wilona yang mau?." Tanyanya menyelidik.
Zuraida menggeleng.
"Sean?."
"Mama mertua."
Arfan langsung ikut duduk di samping Zuraida. Merangkulnya dengan meletakkan tangannya pada pundak Zuraida. Menatap lekat wajah Zuraida.
"Orang tuaku pasti bisa menerimamu, bersabar aja ya."
"Iya, Mas."
"Dan Wilona, aku pastikan tak akan lama tinggal bersama kita. Sampai Sena kembali ke. sekolah."
"Iya nggak apa-apa, Mas, pasti Sena membutuhkan mommynya."
"Terima kasih." Lalu Arfan mengecup kening istrinya.
Di hari pertama Sean di sekolah masih tak punya teman. Namun paling tidak sekarang belum ada yang mengejeknya. Meski belum berani tapi Sean sudah duduk di barisan bangku paling depan. Belajar dengan sungguh-sungguh mengejar ketinggalannya.
Jam istirahat baru saja dimulai. Sean kedatangan seorang murid perempuan.
"Sena sakit apa?."
"Sakit lambung."
"Iya sih Sena jarang makan. Bekal makanannya selalu dihabiskan teman-temannya."
"Kamu tahu juga."
"Iya tahu." Jawab Sheren sangat bersemangat.
"Teman kelasnya juga atau kelas enam saja yang selalu mengambil bekal dan uang Sena?."
"Teman kelas dan kelas enam."
Sheren dan Sean langsung akbar. Mereka pergi ke kantin bersama menghabiskan sisa waktu istirahatnya.
Ketenangan Zuraida setelah Arfan pergi ke kantor harus terganggu dengan kedatangan Wilona.
"Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini sebab aku sudah di sini."
"Maaf, tapi saya nggak bisa pergi seperti yang kamu inginkan."
"Kamu tak diterima di rumah ini, Zuraida. Harusnya kamu punya rasa malu untuk tetap tinggal di sini."
"Untuk apa saya malu, saya tinggal di rumah suami saya. Kamu yang seharusnya malu, masih mau tinggal di sini menggunakan anak-anak padahal sudah bukan istrinya lagi."
"Kamu...."
Harga diri Wilona terkoyak, pergi dari hadapan Zuraida membawa segudang kemarahan yang tak mampu dilupakannya pada Zuraida. Alhasil perempuan itu keluar dengan mengendarai mobilnya.
Kring Kring
Wilona menjawab panggilan telepon dari Edwin.
"Ada apa lagi menelepon?."
"Kamu tak ingin pisah darimu Wilona. Aku sangat mencintaimu."
Tiba-tiba saja matanya basah. Marah, kecewa dan terluka menjadi satu. Karena cintanya pada pria itu menghancurkan rumah tangganya. Sekarang pria itu bermain dengan model baru yang masih segar.
Rasanya sangat sakit. Pasti itu juga yang dirasakan Arfan dulu.
"Ayo kita ketemu Wilona, Aku tunggu di apartemen."
"Aku nggak bisa Edwin."
"Please Wilona."
Wilona memutus sambungan telepon sepihak. Ia tak kuasa menahan air matanya. Mobilnya menepi, ia menangis sesenggukan di sana.
Kembali ke rumah di mana Zuraida sedang menemani Sena di kamarnya.
"Mereka nggak ada meneleponmu Sen?."
"Nggak Zuraida. Mereka pasti takut aku akan laporkan mereka ke pihak sekolah."
"Tapi saya sudah melaporkan mereka Sena. Mereka harus mendapatkan pertolongan, mereka harus sembuh. Masa depan mereka cerah dan perjalanan mereka masih panjang."
"Kamu serius Zuraida melaporkan mereka?." Sena sangat kaget. Ia belum bicara siapa saja yang terlibat dengannya karena minuman itu.
"Tentu saja saya serius, saya nggak mau ada korban lagi. Cukup kamu aja, rasanya sangat sakit kan?."
Sena mengangguk.
"Kamu tahu dari mana nama-nama mereka?."
"Mudah saja, di kontak handphonemu."
Sena terdiam, di sana ada grup yang terdiri dari orang-orang yang minum.
"Sean kok belum pulang ya?." Zuraida bangkit sambil melihat jam dinding.
Tak berselang lama handphonenya berdering
Kring Kring
"Selamat sore Ibu Zuraida."
"Selamat sore Ibu Guru. Ada apa ya?."
"Sean masih di sekolah, belum ada yang menjemput."
"Baik, Bu, saya segera ke sekolah."
"Mommy ke mana?," tanya Sena.
"Nggak tahu Sen, saya ke sekolah dulu jemput Sean."
"Iya Zuraida."
Zuraida sudah di jalan menjemput Sean. Ia tak banyak berpikir apa-apa. Ia harus secepatnya sampai di sekolah. Mobil Zuraida sudah parkir, Sean tak ada di tempat biasanya menunggu. Zuraida ke dalam sekolah mencari Sean.
Sean sedang berdiri menunduk di lorong sekolah yang sudah sepi. Pakaiannya kotor dan rambut acak-acakan.
"Se..."
Sean langsung memeluk Zuraida tanpa memperlihatkan wajahnya. Menyembunyikan wajahnya pada gamis Zuraida.
"Siapa yang melakukannya Se?."
Sean tak menjawab.
"Seharusnya kamu bisa melawan. Itu bentuk pembelajaran diri. Jangan diam terus."
Bersambung