Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pesta & Tamu Tak Diundang
Cahaya pagi menyelinap masuk, menimpa wajah Arga yang terbaring tenang di sampingku. Tanganku menyentuh dadanya — berdetak pelan namun pasti, hangat dan nyata. Semalam, di bawah bulan purnama, ia memberikan separuh cahayanya, separuh hidupnya, agar aku bisa tetap berada di sini. Di dunia ini. Di sisinya.
Aku menunduk, mencium keningnya lembut. "Terima kasih... sudah memilihku," bisikku pelan.
Arga membuka mata perlahan, menyambutku dengan senyum yang lembut namun pucat. Tangannya mengusap pipiku. "Selamat pagi, nyonya hidupku. Kau terlihat... utuh kembali."
Dan memang, aku merasakannya — tubuhku tak lagi ringan, bayanganku kembali gelap dan tegas, suaraku tak lagi memudar. Aku milik dunia ini sepenuhnya, sekarang. Tapi harga yang dibayar Arga terus menghantui pikiranku. Ia terlihat lebih lelah, lebih sering beristirahat, dan sesekali tangannya gemetar tanpa sebab.
"Apakah kau benar-benar baik-baik saja?" tanyaku cemas saat kami berjalan turun ke ruang makan.
"Aku sempurna," jawabnya mantap, merangkul bahuku. "Karena kau di sini."
Hari itu, Ibu Arga mengusulkan sesuatu yang mengejutkan. "Kita harus merayakannya. Sebuah makan malam kecil — untuk menyambut kembalinya Freya sepenuhnya, untuk merayakan kebersamaan kita yang utuh kembali."
Malam itu, rumah keluarga Pratama bersinar terang. Lampu-lampu gantung menyala di ruang makan besar, meja panjang tertata rapi dengan taplak sutra putih dan bunga-bunga segar. Aroma masakan lezat memenuhi ruangan. Tawa Ibu Arga terdengar renang, Arga tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rasanya damai itu nyata — bukan sekadar mimpi.
"Untuk keluarga kita yang utuh," ucap Ibu Arga, mengangkat gelas anggur. "Dan untuk cinta yang melampaui segala batas."
Kami mengangkat gelas, saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca. Namun tepat saat gelas itu menyentuh bibir, suara ketukan pelan terdengar dari pintu utama — ketukan yang tenang, namun menembus keheningan ruangan hingga kami semua terdiam.
"Siapa yang datang di jam seperti ini?" gumam Arga, meletakkan gelasnya perlahan. Pelayan seharusnya sudah diberi instruksi, dan tak ada tamu lain yang diundang malam ini.
Pelayan yang menjaga pintu tampak bingung saat membukanya — dan di ambang pintu, berdiri sesosok pria yang tak kami kenal. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, wajahnya tampan namun dingin, matanya tajam dan menatap lurus ke dalam ruangan seakan ia adalah tuan rumah di sini.
"Maaf mengganggu makan malam yang indah ini," ucapnya, suaranya rendah namun berwibawa, terdengar begitu yakin seakan ia tahu kami semua sedang menunggunya. "Namaku Damar. Dan aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
Arga segera berdiri, melangkah maju dan menghalangi jalan pria itu. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Dan apa maksudmu dengan 'hakmu'?"
Damar tersenyum tipis — senyum yang tak sampai ke matanya. Ia melirik sekilas ke arahku, lalu kembali menatap Arga dengan tatapan yang seakan melihat sesuatu yang lucu.
"Aku bukan orang asing, Arga. Setidaknya... bukan bagi leluhurmu." Ia melangkah maju perlahan, seakan tak takut diusir. "Keluarga Pratama berhutang pada keluargaku. Hutang yang sudah lama tertunda, dan sekarang... saatnya dibayar."
Ibu Arga berdiri perlahan, wajahnya pucat pasi. Tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Damar... anak dari keluarga Suryawijaya? Itu namanya yang jarang terdengar, tapi dulu..."
"Benar, Nyonya Pratama," potong Damar, menatap Ibu Arga dengan hormat yang terasa paksa. "Kakekku dan kakek suamimu pernah bersahabat dekat. Dan mereka berjanji — jika suatu saat keturunan salah satu dari mereka menemukan jodoh yang bukan dari dunia ini, maka keturunan yang lain berhak mengambil alih seluruh kekuasaan dan harta keluarga Pratama. Sebagai jaminan bahwa sihir terlarang takkan disalahgunakan."
Ruangan itu seketika hening mematikan. Jantungku berdegup kencang hingga nyeri di dada. Arga menatapku sekilas, lalu kembali menatap Damar dengan tatapan tak percaya.
"Itu tak mungkin," desis Arga. "Tak ada janji seperti itu. Dan kau tak bisa begitu saja masuk dan mengklaim semuanya!"
"Kau yakin?" Damar mengeluarkan selembar dokumen tua dari saku jasnya — kertas yang sudah menguning, dengan segel lilin yang masih utuh dan tanda tangan dua nama yang pernah menjadi legenda keluarga ini. "Ini salinan aslinya. Yang asli tersimpan di arsip kota. Dan isinya... sangat jelas."
Ia melangkah maju, matanya menatapku lurus — tatapan yang membuatku merinding. "Freya... jiwa dari dunia lain yang mengikat hidupnya dengan keturunan Pratama. Itu melanggar perjanjian lama. Dan karena itu... seluruh harta, perusahaan, dan rumah ini — semuanya menjadi milikku. Mulai malam ini."
Arga melompat maju, mencengkeram kerah jas Damar dengan kuat. "Kau tidak akan mengambil apa pun! Rumah ini, orang-orang ini, wanita ini — semuanya milikku!"
Damar tidak terkejut. Ia hanya tersenyum dingin, menatap Arga tanpa takut sedikit pun. "Kau bisa menolaknya. Tapi kau tahu apa akibatnya jika perjanjian itu dilanggar? Bukan hanya hartamu yang hilang — tapi nyawa orang-orang yang kau cintai. Termasuk dia." Ia menunjukku dengan dagunya. "Ikatan yang kalian buat semalam? Itu bukan melindunginya — itu justru membukanya bagi kekuatan yang jauh lebih gelap dari yang kau bayangkan. Dan aku... aku satu-satunya yang bisa menahannya."
Tangannya perlahan melepaskan cengkeraman Arga dari kerahnya, dengan tenang dan kekuatan yang tak terduga.
"Berpikirlah baik-baik, Arga. Berikan aku apa yang menjadi milikku, dan aku akan menjaga kalian berdua. Menolak... dan kau akan melihat apa yang tersembunyi di balik bayang-bayang dunia ini. Sesuatu yang bahkan kau tak berani bayangkan."
Damar berbalik perlahan, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sekilas. "Aku beri waktu tiga hari. Sampai bulan ketiga terbit di langit ini, aku ingin jawaban. Dan jika jawabannya tidak... aku datang kembali — dan kali ini, aku takkan pergi dengan tangan kosong."
Pintu tertutup pelan di belakangnya, seakan tak pernah ada yang datang. Namun ruangan itu terasa berubah — udara menjadi lebih dingin, cahaya lampu terasa redup. Arga berdiri mematung, tangannya masih terulur ke depan, seakan tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
"Siapa dia?" bisikku, mendekat dan menggenggam tangannya yang dingin. "Apa maksudnya semua itu?"
Arga menatapku, matanya penuh kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam. "Dia bukan sekadar penuntut harta, Freya. Dia tahu tentang ikatan kita. Dia tahu tentang perjanjian lama yang bahkan Ibu dan aku tak pernah mendengarnya." Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Dan itu berarti... dia bukan orang biasa. Dia jauh lebih berbahaya dari Surya, dari Laras, dari Bibi Ratih digabung menjadi satu."
Malam itu, pesta perayaan berakhir dengan air mata dan ketakutan baru. Damar — nama yang begitu tenang, namun membawa badai terbesar yang pernah menghantam keluarga Pratama. Dan di kejauhan, bulan purnama yang sama bersinar dingin, seakan menyaksikan bahwa perjuangan kami baru saja dimulai.
bersambung.....