“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tiara berdiri beberapa saat di depan sebuah pintu kaca dengan tulisan ruang khusus CEO yang terpampang jelas di sana.
Tangannya terangkat, tetapi berhenti di udara.
Entah mengapa, meskipun sudah cukup lama mengenal Permana, kali ini ada rasa segan yang membuatnya ragu untuk mengetuk pintu itu.
Ia menarik napas panjang.
Tok! Tok!
Dari dalam terdengar suara yang sangat dikenalnya.
“Masuk.”
Tiara perlahan membuka pintu kaca tersebut.
Matanya langsung menemukan sosok Permana yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Beberapa dokumen tersusun rapi di hadapannya.
Namun, begitu melihat Tiara masuk, Permana segera meletakkan berkas yang sedang dibacanya.
Seulas senyum muncul di wajah pria itu.
“Akhirnya kau datang juga.”
Tiara tersenyum kecil. “Maaf membuat Bapak menunggu.”
“Tidak masalah. Aku memang sudah menunggumu sejak tadi.”
Permana menunjuk kursi di hadapannya.
“Duduklah.”
Tiara menurut.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Ada banyak hal yang berubah sejak terakhir kali mereka bertemu.
Tiara terlihat lebih tenang.
Tidak ada lagi raut wajah tertekan seperti dulu. Tidak ada lagi tatapan kosong seorang perempuan yang setiap hari harus menerima perlakuan buruk dari suaminya.
Permana memperhatikannya dengan saksama.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya kemudian. “Lama tidak bertemu.”
“Aku baik-baik saja, Pak.”
“Benarkah?”
Tiara mengangguk.
“Benar. Aku jauh lebih baik sekarang.”
Permana tersenyum lega.
“Tinggal dengan siapa sekarang?”
“Dengan bibiku.”
Permana terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku dengar kau akhirnya bercerai dari Haikal.”
Tiara mengangguk.
“Dan Haikal sudah menikah lagi.”
“Benar.”
Tidak ada kesedihan dalam suara Tiara.
Anehnya, menyebut nama mantan suaminya sekarang tidak lagi membuat dadanya terasa sesak.
“Aku dan Haikal sudah bercerai,” ucap Tiara. “Terima kasih atas saran Bapak tempo hari. Akhirnya aku bisa lepas dari beban itu dan hidup dengan tenang.”
Permana mengangguk pelan.
“Aku senang mendengarnya.”
Ia kemudian meraih sebuah map cokelat yang sejak tadi berada di sampingnya.
Map itu didorong ke hadapan Tiara.
“Baca itu.”
Tiara mengernyitkan dahi.
“Ini apa, Pak?”
“Buka saja.”
Dengan perasaan penasaran, Tiara mengambil map tersebut.
Tangannya membuka pengaitnya.
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam.
Begitu membaca bagian atas laporan itu, wajahnya langsung berubah.
Hasil Pemeriksaan Kesehatan.
Tiara mengerutkan kening.
Matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat.
Kemudian tubuhnya mendadak kaku.
“Ini…”
Suaranya bergetar.
Permana tidak menjawab.
Tiara membaca kembali laporan tersebut dari awal.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya baik. Tidak ditemukan gangguan pada sistem reproduksinya. Bahkan pada bagian kesuburan tertulis dengan sangat jelas bahwa Tiara dinyatakan subur dan tidak memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan kesuburan.
Napas Tiara tercekat.
“Tidak mungkin…”
Tangannya mulai gemetar.
Ia mengangkat wajah menatap Permana.
“Pak… dari mana Bapak mendapatkan ini?”
“Laporan aslinya.”
“Laporan asli?”
Permana mengangguk.
Tiara kembali melihat kertas di tangannya.
Ingatan beberapa tahun lalu tiba-tiba berputar di kepalanya.
Saat itu Haikal memberinya sebuah surat hasil pemeriksaan.
Dalam surat itu tertulis bahwa dirinya mengalami masalah kesuburan.
Haikal kemudian menggunakan surat tersebut sebagai alasan untuk menikahi Intan.
Rumi bahkan berkali-kali menghina dan menyebutnya perempuan mandul.
Semua hinaan itu selama ini membuat Tiara bertanya-tanya apakah memang dirinya yang menjadi penyebab rumah tangganya gagal.
Namun sekarang…
Ternyata hasil pemeriksaannya berbeda.
“Kalau hasil pemeriksaan ini benar…” Suara Tiara semakin lirih. “Lalu kenapa surat yang diberikan Mas Haikal kepadaku waktu itu menyatakan aku mandul?”
Permana menghela napas.
“Itulah alasan aku memintamu datang.”
Tiara menatapnya.
“Aku tidak sengaja mendengar percakapan Intan dengan temannya kemarin di sebuah kafe.”
Wajah Tiara berubah tegang.
“Intan?”
“Ya.”
Permana mengangguk.
“Dia sedang membicarakan masa lalu kalian.”
Tiara mengepalkan kertas di tangannya.
“Apa yang dia katakan?”
Permana menatapnya sejenak sebelum menjawab.
“Dia bilang bahwa dialah yang menyuruh dokter yang memeriksamu waktu itu untuk memalsukan hasil pemeriksaan kesehatanmu.”
Dunia Tiara seolah berhenti.
“Apa?”
“Dokter itu sengaja membuat laporan palsu seolah-olah kau mengalami masalah kesuburan.”
Air mata mulai menggenang di mata Tiara.
“Kenapa…”
Satu kata itu keluar begitu lirih.
“Kenapa dia melakukan semua itu?”
“Karena dia ingin Haikal percaya bahwa kau tidak bisa memberinya keturunan.”
Tiara menutup mulutnya dengan tangan.
Air mata akhirnya jatuh.
Jadi selama ini…
Bukan dirinya yang bermasalah.
Bukan tubuhnya yang membuat Haikal mencari perempuan lain.
Bukan karena ia tidak layak menjadi seorang ibu.
Semua itu adalah kebohongan.
Kebohongan yang sengaja diciptakan seseorang untuk menghancurkan dirinya.
Permana melanjutkan, “Aku menemui dokter itu setelah mendengar percakapan Intan. Awalnya dia tidak mau mengaku. Tetapi setelah aku menunjukkan bukti yang kumiliki, akhirnya dia mengatakan semuanya.”
“Lalu Bapak mendapatkan laporan asli ini?”
“Ya.”
Permana mengangguk.
“Aku membayarnya cukup mahal agar dia memberikan laporan asli hasil pemeriksaanmu waktu itu.”
Tangis Tiara semakin deras.
Ia begitu kesal.
Bukan hanya kepada Intan, tetapi juga kepada Haikal yang dengan mudahnya mempercayai kebohongan tersebut.
Namun anehnya, di balik rasa sakit itu, Tiara tidak menyesal sedikit pun telah bercerai.
Justru kini ia semakin yakin bahwa keputusan meninggalkan Haikal adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Tiara mengusap air matanya.
“Wanita jahat memang cocok dengan pria jahat yang suka playing victim seperti Haikal.”
Permana terdiam.
Tiara tertawa hambar.
“Kalau aku tahu dari awal bahwa aku tidak bermasalah, mungkin aku akan merasa lebih marah.”
“Kenapa?”
“Karena selama bertahun-tahun aku dibuat merasa tidak berharga.”
Ia menunduk.
“Tapi sekarang aku tidak peduli lagi.”
Tiara menarik napas panjang.
“Aku sudah pergi dari kehidupan mereka. Dan aku tidak ingin kembali.”
Permana mengangguk.
“Itu keputusanmu.”
Tiara kemudian merapikan kembali dokumen tersebut.
“Terima kasih banyak, Pak.”
“Sama-sama.”
“Dan untuk uang yang Bapak keluarkan untuk mendapatkan laporan ini…” Tiara menatap Permana dengan sungguh-sungguh. “Aku akan menggantinya.”
Permana mengangkat alis.
“Tidak perlu.”
“Tapi saya harus menggantinya.”
“Tiara…”
“Aku akan bekerja. Setelah punya uang, aku akan mengembalikannya. Kalau jumlahnya besar, akan aku cicil.”
Permana justru tertawa.
“Jangan konyol. Jangan kembalikan uang itu. Lagi pula jumlahnya tidak terlalu banyak bagiku.”
Tiara tersenyum tipis.
“Tentu saja uang itu tidak ada artinya untuk Bapak. Bapak kan kaya.”
Permana tertawa lagi.
“Tapi aku tidak mau punya hutang budi.”
Kali ini Permana terdiam.
Tatapan matanya berubah.
Ia menyandarkan tubuh ke kursinya sambil menatap Tiara cukup lama.
Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau begini saja?”
Tiara mengerutkan kening.
“Apa?”
“Aku akan menganggap hutang budimu itu lunas.”
Wajah Tiara langsung cerah.
“Benarkah?”
“Asal…”
Permana berhenti.
Tiara menunggu.
“...kau mau memenuhi satu permintaanku.”
Senyum di wajah Tiara perlahan menghilang.
“Permintaan apa itu?”
Permana tidak langsung menjawab.
Tatapannya begitu serius hingga membuat Tiara merasa tidak nyaman.
“Kenapa Bapak terlihat sangat serius?”
Permana bangkit dari kursinya.
Ia berjalan mendekati jendela besar di belakang meja, lalu menatap pemandangan kota dari balik kaca.
Beberapa detik kemudian, pria itu berbalik.
Tatapan matanya tepat tertuju kepada Tiara.
“Karena permintaanku ini…”
Permana berhenti sejenak.
“…mungkin akan mengubah hidupmu selamanya.”
Bersambung....