NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ampuni Kami Master!

Suasana di dalam galeri seni tadinya sempat sepi mendadak berubah mencekam kembali. Chandra berdiri membeku di tengah ruangan, matanya melotot menatap tiga kursi jati kesayangannya yang kini sudah berubah menjadi tumpukan kayu bakar tidak berbentuk. Napasnya naik turun menahan kekesalan yang amat sangat. Di tangannya, lukisan Gunung Merapi murah seharga lima ribu rupiah itu mendadak bergetar hebat.

BOOM!

Sisa-sisa pendar cahaya hijau keemasan meledak pelan dari permukaan kanvas, memercikkan sedikit abu yang langsung melayang di udara. Dandi sang Ketua Sekte Surgawi bersama Dila cuma bisa berdiri gemetaran setengah mati di sudut ruangan. Keringat dingin merembes deras membasahi jubah mereka. Dandi sama sekali tidak berani berkutik apalagi bersuara. Di matanya, Chandra yang sedang memegang lukisan itu bukan lagi manusia biasa, melainkan sosok keberadaan absolut yang baru saja membelah dimensi ilusi hanya dengan satu sentilan jari.

Chandra memegang bingkai kayu lukisan itu dengan raut wajah panik dan penuh kebingungan. Pikiran manusianya benar-benar tidak sanggup mencerna apa yang baru saja terjadi. Kok bisa-bisanya lukisan cat minyak yang dia buat asal-asalan kemarin malam punya efek ajaib seperti ini? Tadi jelas-jelas ada orang-orang aneh yang melompat keluar dari balik kanvas!

"Ini lukisan ada konsletnya apa gimana sih?" gumam Chandra dengan nada suara heran bercampur takut.

Dengan hati-hati dan perasaan was-was, Chandra mulai meraba-raba permukaan lukisan yang agak kasar itu. Dia mengelus bagian kawah gunung, memutar-mutar bingkai kayu, lalu mengetuk-ngetuk kanvas murah tersebut memakai ujung jarinya. Dia berharap bisa menemukan tombol rahasia, kabel rahasia, atau mungkin bekas baterai kelap-kelip yang lupa dibuang oleh penjual bahan lukisnya.

Namun, di mata spiritual Dandi, tindakan santai Chandra yang sedang meraba-raba kanvas itu adalah proses pemulihan struktur Hukum Alam yang sangat mengerikan! Setiap kali ujung jari Chandra menyentuh permukaan lukisan, gelombang Takdir Surgawi bergulung-gulung menata ulang segel dimensi Gunung Qunlun yang sempat rusak.

Setelah sekian lama Chandra sibuk meraba dan mengelus lukisan tersebut, tiba-tiba ruangan galeri bergetar pelan.

Fwooosh!

Sebuah celah cahaya muncul kembali di udara galeri. Tiga tubuh kakek-kakek berkulit pucat terlempar keluar dari celah tersebut dan tersungkur mengenaskan di atas lantai kayu. Mulut ketiga kultivator Penjaga Qunlun itu meluapkan darah segar yang sangat pekat. Jubah keagungan mereka sudah robek-robek, dan pedang pusaka mereka telah hancur menjadi serpihan tak berguna.

Bersamaan dengan itu, Yueji ikut muncul kembali di ruangan. Wajah cantiknya terlihat sedikit pucat dengan napas yang agak terengah-engah. Begitu melihat sosok suaminya berdiri di sana, Yueji langsung berlari kecil dan memeluk erat pinggang Chandra dari samping. Yueji menyembunyikan wajahnya di dada Chandra, berpura-pura menjadi seorang istri rapuh yang sangat ketakutan setelah diserang oleh penjahat misterius.

"Mas Chandra... Aku takut sekali..." bisik Yueji dengan suara bergetar lembut, sangat bertolak belakang dengan statusnya sebagai Ratu Siluman Rubah Ekor Sembilan yang sanggup meratakan gunung.

Merasakan tubuh istrinya yang gemetaran di dalam pelukannya, dada Chandra langsung terbakar amarah yang luar biasa. Rasa bingung dan paniknya seketika menguap, berganti menjadi kemarahan seorang kepala keluarga yang melihat istrinya diganggu oleh sekelompok kakek-kakek tidak dikenal.

"Kalian ini sebenarnya siapa sih?!" teriak Chandra dengan suara melengking penuh emosi. "Kenapa malah berantem dan rusuh di toko orang?! Lihat istriku sampai ketakutan begini! Kursi jati mahal gua dihancurin, sekarang kalian malah bikin trauma istri gua!"

Chandra merasa harga diri keluarganya benar-benar diinjak-injak hari ini. Tanpa sadar, Chandra menatap lurus ke arah tiga kultivator tua yang masih tergeletak di lantai. Dia melotot dengan tatapan mata yang sangat tajam, memancarkan amarah murni seorang rakyat biasa yang perabotannya dirusak.

Namun, bagi tiga kultivator Penjaga Qunlun yang baru saja bangkit, tatapan mata Chandra terasa sepuluh ribu kali lebih mengerikan daripada hukuman guntur surgawi! Tatapan itu memancarkan aura Dao Murni yang persis sama dengan pemilik lengan emas raksasa yang baru saja meremukkan kultivasi mereka di dalam domain ilusi!

Mata ketiga kultivator itu membelalak lebar. Kesadaran mengerikan menyengat otak mereka seketika.

" T-Tangan emas raksasa tadi... S-Siapa sangka... Master Agung Tiada Tanding itu adalah pria ini?!" batin ketua kultivator dengan tubuh yang gemetaran amat sangat.

Tanpa memikirkan rasa sakit di sekujur tubuh mereka, ketiga kakek tua itu langsung merayap cepat, menyatukan kening mereka ke lantai kayu, dan bersujud khidmat di hadapan Chandra. Wajah mereka penuh dengan ketakutan, penyesalan, dan rasa hormat yang mendalam.

"Yang Mulia Pakar Agung! Ampuni hamba bertiga yang bodoh ini! Hamba bertiga bermata tapi tidak melihat Gunung Tai!" seru ketua kultivator dengan suara bergetar ketakutan, darah masih menetes dari sudut bibirnya.

Karena tidak sanggup menahan tekanan aura tak terlihat dari Chandra, ketiga kultivator itu merayap mundur perlahan dan berlindung di balik punggung Dandi. Mereka menjadikan Dandi sebagai perisai hidup sambil terus menggigil ketakutan.

Dandi yang tiba-tiba dijadikan tameng langsung makin jantungan. Muka Dandi sudah seputih kertas. Dia tahu kalau dia tidak segera membereskan masalah ini, seluruh Sekte Surgawi miliknya bisa dimusnahkan oleh Chandra dalam hitungan detik!

"A-Anu... Pakar Agung Chandra, tolong redakan amarah Anda!" panggil Dandi dengan suara gagap, langsung membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. "S-Saya mengaku salah! Tiga kakek-kakek ini sebenarnya adalah... rombongan saudara jauh saya dari kampung! Mereka memang rada terbelakang dan suka main pedang-pedangan cosplay tidak jelas! Saya yang kurang mendidik mereka sampai bikin kerusuhan di galeri milik Anda!"

Chandra menaikkan sebelah alisnya, meredakan sedikit tatapan galaknya saat mendengar penjelasan Dandi. "Ooh... Jadi ini rombongan lu, Dan? Lu gimana sih! Punya saudara bukannya diajak berobat malah dilepas sembarangan sampai ngerusak barang-barang toko orang!"

"Iya, Pak Chandra, saya sangat menyesal dan memohon maaf sebesar-besarnya!" seru Dandi panik sambil merogoh saku jas mewahnya dengan cepat. "Sebagai bentuk ganti rugi dan kompensasi atas kerusakan kursi serta rasa terkejut yang dialami Ibu Yueji, tolong terima ini!"

Dandi menyodorkan sebuah kartu ATM berwarna hitam pekat dengan ukiran emas di pinggirannya. Kartu itu diserahkan memakai kedua tangannya yang masih gemetaran.

"Ini Kartu Black Card terbatas, Pak Chandra. Di dalamnya ada saldo tunai sebesar satu miliar rupiah! Tolong gunakan ini untuk membeli kursi jati yang baru dan mengajak Ibu Yueji berlibur untuk menghilangkan trauma!" kata Dandi penuh keringat dingin.

Melihat kartu hitam mengilap di tangan Dandi, mata Chandra langsung berbinar-binar. Saldo satu miliar rupiah! Angka yang sangat fantastis untuk seorang pemilik galeri lukis sepi pelanggan seperti dirinya. Kemarahan Chandra yang tadinya membumbung tinggi langsung menguap begitu saja, berganti dengan senyuman lebar.

"Wah, aduh... Lu kok jadi repot-repot begini sih, Dan?" ujar Chandra sambil dengan sangat cepat menyambar kartu hitam tersebut dari tangan Dandi dan memasukkannya ke dalam dompet. "Ya sudah kalau begitu, karena lu bertanggung jawab dan tahu tata krama, gua maafin kali ini. Tapi bawa pulang saudara-saudara lu ini sekarang! Jangan sampai mereka bikin ulah lagi di sini!"

"Baik, Pak Chandra! Kami permisi sekarang juga!" seru Dandi lega luar biasa.

Dandi langsung menarik baju ketiga kultivator tua itu beserta Dila, lalu ngacir keluar dari dalam galeri seni dengan kecepatan seperti kilat, meninggalkan galeri yang kini kembali hening.

Setelah ruangan benar-benar sepi, Chandra merangkul bahu Yueji dengan lembut. Dia menatap istrinya dengan rasa sayang yang mendalam.

"Sayang, kamu pasti kaget dan capek banget ya gara-gara kejadian aneh tadi?" tanya Chandra dengan suara sangat lembut. "Yuk, kita ke kamar aja sekarang. Kamu istirahat ya, biar Mas yang urus sisanya nanti."

Yueji mengangguk pelan sambil tersenyum manis, menyandarkan kepala cantiknya di dada suaminya yang hebat itu. Chandra kemudian merangkul mesra pinggang Yueji, membimbing sang Ratu Siluman berjalan perlahan menuju kamar tidur mereka di lantai dua, meninggalkan puing-puing kursi kayu dan lukisan Gunung Merapi ajaib di lantai galeri.

1
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!