Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai otomatis di kamar tidur utama penthouse. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Udara pagi kota Jakarta terasa sejuk, namun di dalam kamar bernuansa abu-abu elegan itu, suhu tubuh Rania justru terasa meningkat drastis hingga membuat pipinya merona merah.
Rangga Pratama, CEO yang terkenal dingin, kaku, dan disegani sekota Jakarta, pagi ini bertransformasi menjadi sosok yang tingkat kemanjaannya jauh melampaui batas kewajaran.
Berdiri di depan cermin besar berbingkai perak di kamar mandi utama, Rangga dengan santai melipat kedua tangannya di dada, sementara matanya menatap tajam ke arah Rania melalui pantulan cermin. Di hadapannya, Rania berdiri dengan wajah tertekuk masam, memegang sisir rambut kayu di tangan kanannya.
"Cepat sisir rambutku dengan benar, Rania," perintah Rangga dengan nada santai namun absolut. "Bagian sebelah kiri masih agak berantakan. Aku ingin tatanan rambutku rapi sempurna sebelum memeriksa laporan operasional cabang pagi ini."
Rania mendengus kesal, menggertakkan giginya menahan emosi yang sudah berada di ujung tanduk. Dengan gerakan kasar, ia menyisir rambut hitam tebal suaminya. "Aku ini kepala pelayan pribadi atau istri, hah?! Kenapa semua urusan mulai dari milih baju, merapikan dasi, sampai menyisir rambut harus aku yang urus?!" serunya protes dengan nada ketus.
Rangga melirik sekilas lewat cermin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menyebalkan. "Kau istriku. Dan ingat, Black Card hitam di dompetmu itu masih berada di bawah kekuasaanku penuh. Kalau kau membantah atau tidak melayaniku dengan telaten hari ini, kartu itu akan langsung aku blokir."
Mendengar ancaman maut tersebut, Rania langsung menelan mentah-mentah protesnya. Ia merubah ekspresi wajahnya secepat kilat, memasang senyuman palsu paling manis sedunia, lalu merapikan helai rambut suaminya dengan ekstra hati-hati.
"Baik, Mas... suamiku yang paling tampan sedunia," cicit Rania dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan secara sarkas. "Sudah rapi kan? Tidak ada sehelai rambut pun yang berdiri."
Namun, di balik senyuman terpaksa dan omelan kasarnya, ada satu hal yang membuat Rania jauh lebih merasa tersiksa ketimbang ancaman blokir kartu. Setiap kali ia berdiri sedekat ini dengan Rangga—mencium aroma parfum maskulin yang khas, merasakan embusan napas hangat pria itu, dan bersentuhan fisik secara langsung—jantung di dalam dadanya selalu berdegup kencang tak karuan.
Bum... bum... bum... iramanya bergemuruh keras, seolah ingin merobek rongga dadanya sendiri.
Rania sangat tahu dan sangat sadar apa arti dari debaran liar tersebut. Ia bukan wanita naif yang tidak mengerti perasaan sendiri. Jantungnya berdetak kencang karena ia mulai menyukai pria di hadapannya ini. Ia mulai terbiasa dengan kehadirannya, mulai menikmati perhatian terselubungnya, dan mulai merasa nyaman dalam rengkuhan suaminya.
Tetapi seketika kesadaran itu melintas di kepalanya, rasa bersalah yang teramat berat langsung menghantam ulu hatinya. Rania mendadak tersentak mundur selangkah, menepis jauh-jauh perasaan hangat tersebut.
'Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya! batin Rania memperingatkan dirinya sendiri dengan keras, menggigit bibir bawahnya erat-erat.'Pernikahan ini palsu. Hubungan ini hanya bersifat sementara. Dan yang paling penting.... Mas Rangga bukan milikku. Pria ini adalah suami dari kak Resti. Kakak kandungku sendiri. Begitu kakak kembali dari Paris nanti, posisiku harus dikembalikan. Aku tidak boleh lancang mencintai suami kakakku sendiri!'
Menyadari Rania tiba-tiba melangkah mundur menjauhinya dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah murung dan gelisah, Rangga mengernyitkan alisnya. Pria itu memutar tubuhnya menghadap sang istri sepenuhnya.
"Kenapa berhenti? Rambutku belum sepenuhnya rapi di bagian belakang," tanya Rangga datar, menyelidiki perubahan drastis pada raut wajah Rania.
"Sudah! Cukup! Tidak ada yang perlu dirapikan lagi!" ketus Rania buru-buru, mencoba menutupi kegugupannya dengan melipat tangan di depan dada dan membuang muka ke arah jendela. "Sana pergi bekerja atau urus kantormu sendiri. Jangan rewel terus kayak anak kecil!"
Rangga mendengus pelan, melangkah mendekat untuk menutup jarak di antara mereka. Rania yang merasa terpojok secara refleks melangkah mundur hingga punggungnya membentur tepi meja rias marmer.
"Kau ini kenapa?" suara bariton Rangga terdengar lembut namun mengintimidasi, mengunci pergerakan wanita itu. "Dari tadi pagi sikapmu aneh. Wajahmu memerah, lalu tiba-tiba menghindar."
"Si-siapa yang menghindar?! Geer banget jadi orang!" sangkal Rania dengan suara agak meninggi, berusaha menyembunyikan gugupnya setengah mati.
Rangga tidak berkomentar. Pria itu justru mengangkat tangan kanannya, meraih ujung dasi abu-abu yang melingkar di leher kemejanya sendiri, lalu menatap Rania lekat-lekat.
"Kalau begitu, bantu aku merapikan dasi ini lagi," titah Rangga pelan, mendorong tubuhnya maju hingga jarak di antara mereka kini tinggal beberapa sentimeter saja.
Rania menelan ludah kelat. Dengan tangan sedikit gemetar, ia terpaksa mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh simpul dasi di leher suaminya.
Karena jarak yang begitu dekat, wajah mereka kini benar-benar bertatapan sangat intim. Rania bisa melihat pantulan bayangan dirinya di dalam bola mata hitam legam Rangga yang jernih, sementara Rangga dapat melihat setiap bulu mata lentik yang bergetar gugup di kelopak mata istrinya.
Napas mereka beradu dalam satu irama yang sama. Di saat Rania sibuk merapikan simpul dasi dengan jemari yang kaku, pandangan mata Rangga perlahan turun dari mata Rania, bergeser menatap lurus ke arah bibir merah muda wanita itu yang sedikit terbuka karena terengah menahan debar jantungnya.
Tanpa aba-aba, sebelah tangan kokoh Rangga bergerak cepat. Dengan cengkeraman yang tegas namun lembut, tangan itu melingkar dan merengkuh pinggang ramping Rania dengan erat, menarik tubuh gadis itu agar menempel sempurna pada tubuh bidangnya tanpa memberinya celah sedikit pun untuk melarikan diri ke mana pun.
Rania terperanjat hebat. Sentuhan hangat di pinggangnya membuat seluruh aliran darah di tubuhnya berdesir naik ke kepala. Ia mendongakkan kepalanya secara spontan, melotot tajam ke arah Rangga dengan napas tertahan.
"Ma-mas R-Rangga! Apa-apaan ini?!" protes Rania dengan suara bergetar tertahan, mencoba mendorong dada bidang suaminya dengan kedua tangannya. "Lepasin! Kenapa main rangkul pinggang orang sembarangan, hah?!"
Alih-alih melepaskan rangkulannya, Rangga justru mempererat pegangan di pinggang Rania. Pria itu menundukkan sedikit wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di dekat telinga Rania, lalu berbisik dengan nada suara datar namun menyembunyikan getaran tersembunyi.
"Diamlah, jangan banyak bergerak," bisik Rangga dingin dengan wibawa palsunya.
Rania mendengus semakin kesal, berusaha meronta kecil. "Lepasin dulu, Tuan CEO! Kenapa kau suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan?!"
Mendengar protes galak itu, Rangga perlahan menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Rania dengan ekspresi datar tanpa dosa yang amat menyebalkan. Sebuah alibi klasik dan sarkas sengaja ia lontarkan untuk menutupi debar jantungnya sendiri yang juga bergemuruh hebat di dalam dadanya.
"Aku tidak sedang mencari kesempatan," dalih Rangga dengan nada suara formal yang dibuat-buat, menatap lurus ke dalam mata Rania. "Aku cuma sedang memeriksa apakah gaun rumah dan pakaian yang kau kenakan ini dibeli pakai uang hasil kerja kerjamu sendiri... atau jangan-jangan semuanya ini dibeli pakai limit Black Card milikku?"
Deg!
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rangga. Alih-alih membuat Rania merasa tersinggung, kata-kata itu justru terdengar bagaikan sebuah lelucon konyol di tengah situasi yang begitu intim dan menyesakkan.
Rania membelalakkan matanya, lalu mendengus keras penuh kejengkelan yang amat sangat.
"Oh, jadi kau meragukanku?!" seru Rania sengit, melotot tajam ke arah suaminya. "Asal kau tahu ya, Tuan Rangga Pratama yang terhormat! Kemeja dan celana yang aku pakai ini kubeli pakai uang tabunganku sendiri dari hasil keringat jualan roti di Sweet Crumb! Tidak sepeser pun aku menggunakan uang dari kartu hitammu itu untuk belanja pakaian pribadi!"
Rangga menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus ke arah penampilan Rania dari atas sampai bawah dengan sorot mata menilai. "Benarkah? Kalau begitu buktikan. Tunjukkan resi pembelanjaannya malam ini juga."
"Ogah banget!" balas Rania ketus. "Sekarang cepat lepaskan tanganmu dari pinggangku sebelum aku injak sepatumu sampai remuk!"
Rangga menatap wajah istrinya yang merona merah padam karena marah bercampur malu. Di balik ekspresi dingin dan datar yang ia pasang, sudut bibirnya berkedut menahan senyuman penuh kemenangan. Rangga perlahan melonggarkan rangkulannya di pinggang Rania, membiarkan wanita itu mundur beberapa langkah untuk menyelamatkan diri.
Namun, meski keduanya kembali berjarak, badai debar jantung yang bergemuruh di dalam dada masing-masing tidak bisa disembunyikan lagi.
Rania berbalik badan dengan tergesa-gesa, melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar utamanya dengan napas memburu dan tangan memegang dadanya sendiri. Ia merutuki dirinya yang begitu mudah goyah oleh sentuhan sederhana seorang pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Rangga menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia mengepalkan tangan kanannya pelan, merasakan sisa kehangatan tubuh Rania yang masih melekat di telapak tangannya. Pria itu terdiam lama, menyadari bahwa benteng pertahanan es batu yang ia bangun di sekeliling hatinya kini perlahan-lahan mulai runtuh, terkikis habis oleh kehadiran si kucing garong cerewet yang telah berhasil menjajah seluruh isi kepalanya.
•
•
•
•