Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada
Suara seretan roda koper terdengar nyaring dari ujung jalan, menyebarkan bunyi gemuruh pelan yang memecah keheningan. Langkah kaki yang terasa berat itu terus bergerak mendekat, sesekali tersendat saat roda koper menghantam permukaan jalanan yang tidak rata.
Di halaman sebuah rumah, seorang wanita tua bertubuh sedikit membungkuk sedang sibuk mengayunkan sapunya. Begitu pendengarannya menangkap suara kegaduhan kecil itu, ia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah sumber suara.
Dugaannya tepat. Cucu kesayangannya berjalan mendekat sambil membawa sebuah koper di tangan kanan, sementara tangan kirinya membawa kantong plastik berukuran besar.
Wajah Rin Tachibana ditekuk dalam-dalam dengan mata yang tampak sedikit memerah. Begitu menyadari keberadaan sang nenek yang berdiri di halaman, Rin mendadak melepaskan grip kopernya di depan pintu. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menghampiri wanita tua itu.
“Obaachan…”
Rin langsung memeluk neneknya dengan erat. Hanya butuh beberapa detik sampai bahunya mulai bergetar hebat.
“Ayah dan Ibu mulai lagi, obaachan…” ucap Rin dengan suara tercekat. “Aku nggak tahan tinggal di rumah.”
Sang nenek menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap punggung cucunya lembut untuk memberikan ketenangan.
“Kalau begitu, kenapa tidak kuliah saja?”
Rin perlahan melepaskan pelukannya, kemudian menatap wanita tua di hadapannya dengan mata yang sudah sembap.
“Buat apa?”
“Biar sibuk. Kalau kuliah, setidaknya ayah dan ibumu tidak akan terus menyuruhmu menikah.”
Bukannya tenang, Rin malah makin mengerucutkan bibir mendengarnya.
“Obaachan sama saja…”
“Apa?”
“Obaachan juga menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak mau kulakukan.”
“Daripada kau mengurung diri di kamar dan bermain game seharian.”
Rin mendengus kasar.
“Game juga bisa menghasilkan uang obaachan.”
Neneknya seketika mengangkat sebelah alisnya “Uang dari mana?”
“Ya Dari game..”
“Yang benar saja kau ini”
Dengan perasaan jengkel, Rin berbalik dan menarik koper yang tadi sempat ia jatuhkan begitu saja. Namun, roda koper itu mendadak tersangkut tepat di ambang pintu.
“Ah!”
Rin menariknya jauh lebih kuat secara paksa hingga koper itu terlepas, memicu entakan keras yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Kantong plastik besar yang masih ada di tangannya pun ikut terayun ke sana kemari.
Melihat tingkah cucunya, sang nenek hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pasrah.
***
Menjelang malam, rumah kecil itu mulai dipenuhi aroma harum masakan. Sementara di kamar lantai dua, Rin masih sibuk di depan laptopnya. Kedua telinganya tertutup rapat oleh headset dan matanya fokus menatap layar tanpa berpaling.
“Sedikit lagi…” gumamnya seraya menggerakkan jari-jarinya dengan cepat. Karakter di layar tampak lincah berlari menghindari serangan lawan. “Ah! Jangan ke situ!” Rin mencondongkan tubuhnya ke depan, makin panik. “Jangan mati… jangan mati…”
Di saat yang sama, suara neneknya memanggil dari lantai bawah. “Rin!” Suara itu sama sekali tidak terdengar olehnya. Nenek memanggil sekali lagi, “Rin!” Namun tetap tidak ada sahutan.
Nenek menghela napas panjang lalu menaiki tangga dengan langkah perlahan. Begitu sampai di depan kamar, ia mengetuk pintu.
Tok. Tok.
“Rin, turun makan.”
Tidak ada jawaban. Nenek kembali mengetuk pintu, “Rin.”
Masih tidak ada respons sama sekali. Kesabarannya mulai habis, lalu ia langsung membuka pintu kamar. Rin bahkan tidak menoleh sedikit pun, masih asyik bermain dengan headset terpasang.
Nenek berdiri beberapa detik tepat di belakangnya. “Anak ini…” bisiknya gemas. Ia melangkah mendekat, lalu tangannya langsung menarik headset dari kepala Rin.
“Eh?!” Rin menoleh kaget.
Sebelum ia sempat merebut headset itu kembali, tangan nenek sudah bergerak cepat menutup layar laptopnya. Permainan yang sedang berlangsung sengit pun terputus seketika.
Rin membelalakkan mata tak percaya. “Obaachan!”
Ia menatap neneknya dengan raut wajah tidak percaya sekaligus kesal.
“Obaachan jahat ihh”
PLAK!
Tangan nenek mendarat ringan di atas kepalanya.
“Aduh!” Rin meringis sambil mengusap kepalanya. “Obaachan Kenapa dipukul?”
“Karena dari tadi kau dipanggil tidak menjawab.”
“Aku nggak dengar..!”
“Justru itu masalahnya.” Rin mengembungkan pipinya cemberut. Nenek lalu menunjuk ke arah pintu. “Turun.!!”
“Nanti saja Obaa-.”
PLAK!
“Aduh!” Kali ini Rin refleks mengusap kepalanya dengan kedua tangan. “Obaachan!”
“Sekarang Kau Turun ,,, Ayo Makan..!!”
Rin masih memasang wajah kesal dan menatap protes. “Tolong bawa ke sini saja obaachan, aku Makan di sini saja.”
Nenek menyapu pandangan ke kamar yang berantakan itu.
“Aku sudah susah payah naik ke lantai dua hanya untuk memanggilmu.” Nenek kemudian menjewer telinga Rin tanpa ragu.
“Aduh..Aduh! Sakit!”
“Kalau telingamu bisa mendengar, aku tidak perlu naik.”
Rin buru-buru memegang tangan neneknya di telinga. Gadis itu sebenarnya masih ingin membantah, tapi ia sadar betul satu hal. Ia bisa saja melawan ayahnya atau berdebat dengan ibunya. Tapi kalau sudah berhadapan dengan Obaachan, Rin tahu kapan harus berhenti. Tidak ada tempat lain untuk bersembunyi jika neneknya sudah marah.
“Ya sudah…” Rin akhirnya bangkit berdiri dengan malas.
Nenek berjalan lebih dulu dan Rin mengikutinya dari belakang sambil memasang wajah cemberut.
Mereka berjalan turun ke lantai bawah. Namun begitu Rin sampai di ruang makan, langkahnya mendadak berhenti. Seseorang sudah duduk menunggunya di sana. Rin langsung mengerutkan keningnya rapat-rapat.
“Ayah?”
Pria yang duduk di seberang meja itu menoleh lurus padanya. “Lama sekali ibu ,, cucu ibu buat drama lagi kan ...”
Wajah Rin yang tadinya sudah kesal berubah menjadi semakin masam. “Kenapa Ayah ada di sini?”
Ayahnya mengambil sumpit dengan santai. “Kenapa ?? Ini rumah ibu nya ayah ,, ini juga rumah masa kecil ayah kan "
Rin menarik kursinya lalu duduk dengan enggan. Ayahnya tersenyum tipis.
“Lalu kamu sendiri kenapa ada di sini? Lagi Ngambek? Atau kamu Kabur dari rumah?”
Rin mendengus keras. “Aku cuma nggak mau tinggal di rumah.”
“Karena kami menyuruhmu menikah?”
Rin tidak menjawab. Ia meraih mangkuk nasinya lalu bergumam pelan, “Lah, apa sih… Ini rumah Obaachan. Aku cuma mau tinggal di sini.” Ia kemudian menatap ayahnya berani. “Setidaknya di sini masih ada yang memanusiakan manusia.”
PLAK!
Tangan nenek tiba-tiba mendarat telak di kepala ayah Rin dari belakang Kemudian tangan yang sama berpindah menyasar kepala Rin
PLAK!
“Aduh!”
Keduanya seketika terdiam sambil mengusap kepala masing-masing yang terasa panas. Nenek berdiri tegak di samping meja sambil berkacak pinggang.
“Hei. Diam. Tidak ada yang mengajari kalian? Saat makan malam, kita harus diam..hm”
Ayah dan Rin saling pandang sejenak, lalu kompak menundukkan kepala.
“Anak sama ayahnya sama saja.”
Tidak ada yang berani menjawab. Makan malam pun akhirnya berlangsung dalam keheningan yang kaku. Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan tentang desakan kuliah, rencana pernikahan, ataupun perdebatan game. Hanya suara benturan sumpit dan mangkuk yang sesekali terdengar memecah sunyi.
Begitu selesai makan, Rin langsung berdiri. Ia membawa mangkuk kotornya ke dapur, mencucinya sendiri, lalu melangkah cepat menaiki tangga. Tanpa menoleh dan tanpa berkata apa-apa, pintu kamarnya kembali tertutup rapat.
---
Beberapa menit kemudian, suara percakapan dari lantai bawah mulai terdengar menembus celah kamarnya. Rin awalnya tidak peduli dan kembali duduk di depan meja belajar. Namun, suara ayahnya perlahan meninggi.
“Bu, Rin tidak bisa terus seperti ini. Dia harus menentukan pilihan.”
Suara neneknya menyahut lebih tenang. “Dia masih muda.”
“Justru karena masih muda, dia harus memikirkan masa depannya! dia menolak kuliah.”
“Kalau begitu biarkan dia bermain game.” nenek menyela
“Apa?!” Ayah Rin terdengar makin kesal. “Game tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa!”
Di dalam kamar, Rin mendengus sinis. “Nah, kan…”
Ia meraih headset-nya kembali. Namun belum sempat memasangnya, suara ayahnya terdengar lagi.
“Kalau dia tidak mau kuliah, lebih baik menikah. Calonnya bagus, keluarganya juga baik.”
Nenek menghela napas. “Dia tidak akan bisa menyukainya.”
“Perasaan bisa tumbuh seiring waktu.” suara ayah kembali
Rin mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tidak akan,” bisiknya tajam. Ia langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat menggunakan tangan. “Aku nggak mau…”
Namun kata-kata itu seolah terus bergema memenuhi kepalanya.
Kuliah. Menikah. Kuliah. Menikah.
Ia akhirnya memasang headset ke kepalanya. Laptop dinyalakan kembali dan volume suara dinaikkan hingga maksimal. Suara permainan perlahan menenggelamkan pertengkaran dari lantai bawah. Rin kembali menatap layar dengan tajam.
“Aku nggak mau kedua-duanya.”
Malam itu, Rin bermain game jauh lebih lama dari biasanya. Terus bertarung sampai matanya berat dan tubuhnya benar-benar lelah, hingga akhirnya ia tertidur di lantai dingin. Headset masih menempel di telinga, laptop masih menyala, dan layar permainan terus bergerak sendiri tanpa ada pemain yang mengendalikan.