NovelToon NovelToon
Veterinary Love

Veterinary Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Inayusrina

Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).

​Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.

​Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pintu penthouse eksekutif itu baru saja terkunci rapat saat efek obat perangsang buatan Vanessa menghantam kesadaran Barra dengan brutal. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan matanya menggelap penuh tuntutan gairah yang tak tertahankan.

​Farra yang melihat perubahan drastis pada suaminya langsung dilanda panik. "Barra... kamu kenapa? Ada apa sama kamu?" tanyanya cemas, berusaha menyentuh wajah Barra.

​Barra langsung merengkuh tubuh Farra, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil menghirup aroma tubuh Farra dalam-dalam. Dengan suara serak, berat, dan bergetar menahan siksaan obat, Barra menatap manik mata Farra penuh permohonan.

​"Farra... tolong aku... seseorang naruh sesuatu di minuman aku tadi," bisik Barra putus asa, jemarinya mencengkeram pinggang Farra dengan posesif namun tetap berhati-hati. "Aku... boleh melakukannya sama kamu malam ini? Tapi... kalau kamu nggak nyaman atau capek, aku bakal coba tahan..."

​Farra terpaku sejenak, lalu menyadari apa yang sedang terjadi pada suaminya. Alih-alih menolak, Farra justru mengusulkan senyum pengertian, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Barra.

​"Boleh, Barra... Lakuin aja," bisik Farra lembut. "Asal kamu tahu, tadi pagi waktu di rumah sakit, dokter bilang kandungan aku udah cukup kuat dan dalam kondisi sehat. Jadi... kita aman."

​Mendengar lampu hijau dari sang istri, pertahanan terakhir Barra runtuh seketika. Ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sarat akan rasa lapar dan kebutuhan yang mendesak. Di atas ranjang berukuran king-size di kamar CEO yang mewah itu, malam pun berubah menjadi lautan gempuran penuh gairah yang intens. Barra memuja setiap jengkal tubuh Farra, menyalurkan seluruh sisa racun obat biadab itu dalam sentuhan-sentuhan panas yang berlangsung selama berjam-jam hingga keduanya basah oleh peluh.

​Tengah malam menjelang pukul dua pagi, suasana di kamar penthouse itu sunyi senyap, diselingi deru napas teratur dari Barra dan Farra yang terlelap letih dalam dekapan erat di atas tempat tidur.

​Tiba-tiba, ponsel Farra yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring.

​Farra mengerang pelan, membuka matanya dengan susah payah karena tubuhnya terasa remuk redam akibat gempuran Barra sepanjang malam. Dengan tangan yang lemas, ia meraih ponselnya tanpa berniat membangunkan Barra yang masih memeluk pinggangnya erat.

​"Halo...?" jawab Farra dengan suara serak dan berat khas orang baru bangun tidur.

​"Farra! Ya ampun, kamu ke mana aja sih dari tadi dicariin?!" suara Gabriella terdengar panik dari seberang telepon. "Tadi pas acara prom mau selesai, tiba-tiba kamu sama Barra ngilang begitu aja. Anak-anak nyariin kalian di ballroom. Kalian sekarang di mana? Belum pulang?"

​Farra menelan ludahnya yang kering. Matanya melirik sekilas ke arah dada bidang Barra yang tertutup selimut di sampingnya. Saking lelahnya, ia bahkan tidak sanggup merangkai alasan yang panjang.

​"Eh... kita... kita udah di rumah, El," jawab Farra pelan, setengah berbisik karena kantuk yang teramat sangat. "Maaf ya nggak pamit tadi, Barra tiba-tiba nggak enak badan jadi kita langsung pulang duluan... Udah ya, aku ngantuk banget..."

​Tut.

​Tanpa menunggu balasan dari Gabriella atau Amelia yang mungkin masih ingin mencecarnya dengan seribu pertanyaan, Farra langsung mematikan sambungan telepon. Ia melempar ponselnya kembali ke nakas, lalu memejamkan mata dan kembali meringkuk di dalam pelukan hangat Barra, tenggelam dalam kelelahan yang manis hingga pagi menjemput.

Sinar matahari pagi merayap pelan melalui jendela kaca raksasa penthouse eksekutif Saputra Corp, menyinari ruangan mewah tempat Barra dan Farra terlelap.

​Farra lebih dulu membuka matanya. Namun, alih-alih merasakan kesegaran setelah tidur malam yang panjang, gelombang mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam perutnya secara telak. Wajahnya yang semula hangat langsung memucat. Tanpa membuang waktu, Farra menepis pelan tangan Barra yang masih melingkar di pinggangnya, lalu bergegas bangkit dan berlari kencang menuju kamar mandi dalam.

​Hoek... ugh...

​Suara muntah Farra menggema di dalam kamar mandi.

​Barra yang seketika terbangun karena gerakan brusuk istrinya langsung terlonjak dari tempat tidur. Sisa-sisa kantuknya menguap seketika. Dengan langkah terburu-buru dan hanya mengenakan celana bahan tanpa baju atasan, Barra menyusul masuk ke dalam kamar mandi.

​Ia langsung berlutut di samping wastafel, mengikat rambut panjang Farra ke belakang dengan lembut, lalu memijat tengkuk istrinya yang tengah terisak menahan mual.

​"Sayang... masih mual banget, hm?" bisik Barra cemas, matanya menyiratkan rasa bersalah sekaligus khawatir melihat kondisi Farra. Ia mengambil segelas air hangat yang tersedia di dekat situ untuk membantu Farra berkumur begitu reda.

​Farra menggeleng pelan dengan napas terengah-engah, bersandar lemas di dada bidang Barra. "Pusing banget, Barra... mualnya parah pagi ini," keluhnya lirih dengan suara serak.

​Barra mengecup puncak kepala Farra berkali-kali penuh kasih sayang, lalu menggendong tubuh istrinya kembali ke atas tempat tidur yang empuk. Ia menyelimuti Farra dengan rapat, memastikan istrinya merasa hangat dan nyaman.

​"Maafin aku ya... semalam bikin kamu kecapekan sampai pagi ini morning sickness-nya makin parah," sesal Barra lembut sambil merapikan helaian rambut Farra yang basah oleh keringat dingin.

​Farra tersenyum tipis, menggenggam tangan suaminya dan menggeleng pelan. "Bukannya salah kamu, Barra... Ini kan emang bawaan si kembar. Yang penting sekarang aku mau istirahat pelukan sama kamu."

​Mendengar itu, Barra langsung berbaring di samping Farra, mendekap erat tubuh istrinya dengan penuh kelembutan, dan menemani Farra beristirahat sepanjang pagi di kamar penthouse tersebut, melupakan sejenak dunia luar demi menjaga ratu hati dan calon buah hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!