Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Nala, Ibu Kangen
Benih sawi pecah pada pagi ketiga.
Tunas hijau sebesar kuku muncul dari kapas, tetapi surat untuk Dukuh Sumberejo belum membawa jawaban.
Aku sudah menitip uang, susu formula, dan surat melalui mobil logistik. Sopir mengembalikan tanda terima dengan cap jempol Mbah Wagiyem. Hanya itu. Tak ada kabar apakah Nala sehat, apakah dia masih diare, atau apakah ia menangis mencariku.
Bram datang malam itu membawa berita lain.
"Darman merekomendasikanmu untuk pelatihan dapur pekan depan."
"Merekomendasikan sebagai apa?"
"Pelatih teknis. Hendra sedang menyusun surat tugas dan honor."
Aku hampir menjatuhkan kain popok. "Saya bukan ahli gizi."
"Kamu tidak akan memakai gelar yang bukan milikmu. Kamu mengajar teknik masak, porsi, pencatatan resep, dan penghematan bahan."
"Kalau ibu-ibu protes?"
"Biarkan hasil penilaian menjawab."
Sena yang duduk di pangkuanku meraih kancing seragam Bram. Lelaki itu membiarkannya menarik sampai benang kancing menegang.
"Jangan ditarik, Le," kataku.
Bram melepaskan jari Sena satu per satu. "Kuat sekarang."
"Karena makan."
"Karena kamu."
Aku menunduk, pura-pura sibuk membetulkan popok.
Pelatihan diumumkan keesokan hari. Beberapa ibu datang meminta resep tumis sawi. Aku memberi versi sederhana dan meminta mereka menjaga api serta urutan bahan. Ratna tidak datang, tetapi salah satu temannya berdiri paling lama mencatat.
Pada sesi pertama, delapan orang berkumpul di dapur. Aku tidak langsung menunjukkan resep. Setiap peserta kuberi satu piring nasi dan meminta mereka menakar satu porsi yang sama. Hasilnya berbeda hampir dua kali lipat.
"Kalau porsi berubah-ubah, stok habis sebelum akhir bulan atau prajurit pulang latihan masih lapar," jelasku. "Kita mulai dari sendok yang sama, bukan perasaan tangan."
Sari membantu mencatat. Tuti bertugas mencicipi dan terlalu serius menikmati perannya.
"Yang ini kurang garam," katanya pada piring ketiga.
"Itu baru nasi putih, Bu Tuti."
Semua tertawa. Ketegangan pecah.
Kami mempraktikkan tumis sawi dalam kelompok. Perempuan yang dekat dengan Ratna sengaja bertanya apakah satu sendok asam wajib sama persis untuk semua jenis sayur.
"Nggak," jawabku. "Catatan itu dasar. Setelah mencicipi, kita sesuaikan kadar air dan umur sayur. Standar bukan berarti lidah dimatikan. Standar membuat kita tahu apa yang diubah."
Darman yang mengawasi dari pintu mengangguk puas. Seusai pelatihan, Hendra menyerahkan surat tugas dan amplop honor pertama.
Tanganku gemetar saat menghitungnya. Jumlahnya cukup untuk susu Nala selama beberapa minggu.
Jatah makanku pun membaik. Darman mulai menyisihkan lauk sesuai formulir, tidak berlebihan dan tidak kurang. Tubuhku perlahan punya tenaga untuk menyusui, mengajar, dan mengurus kebun.
Namun setiap kali merasa kenyang, rasa bersalah datang.
Nala makan apa hari ini?
Aku masih ingat cara putriku mengerutkan hidung saat pertama mencicipi bubur beras. Wahyu tertawa dan berkata wajahnya persis aku ketika minum jamu. Foto momen itu tidak ada. Kami terlalu miskin untuk mengabadikan setiap hal kecil, sehingga aku menyimpannya di kepala.
Sekarang aku takut ingatan baru Nala justru terbentuk tanpa diriku: tangan Mbah yang menyuapi, suara tetangga yang menenangkan, dan sudut atap bambu yang dilihatnya saat bangun. Apakah bayi bisa lupa pada bau ibunya?
Pertanyaan itu membuat susu merembes sebelum waktunya. Tubuhku masih mengingat Nala meski jarak memisahkan kami.
Aku menitip pesan kedua melalui pedagang yang lewat Sumberejo. Tiga hari berlalu tanpa jawaban.
Tuti mencoba menenangkan. "Mungkin Mbah Wagiyem nggak bisa menulis."
"Bisa minta tetangga."
"Atau orang yang biasa menulis sedang pergi. Jangan pikir yang buruk dulu."
Aku mengangguk, tetapi malam membuat semua kemungkinan buruk tumbuh lebih besar.
Sena terbangun setelah isya. Aku menyusuinya di dekat jendela sambil memandang lampu pos. Setelah kenyang, ia menyentuh wajahku dan mengeluarkan bunyi `ma` berulang kali.
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
"Mama di sini untuk Sena," bisikku. "Tapi mamanya Nala justru nggak ada di dekatnya."
Aku mencium telapak tangannya. "Kalau adikmu marah nanti, kamu bantu Mama minta maaf, ya?"
Sena tertawa kecil, lalu tertidur.
Aku tidak tahu Bram berdiri di luar sampai bayangannya bergerak di bawah pintu. Ia tidak mengetuk. Langkahnya berbalik menuju tangga.
Keesokan siang, seorang sopir akhirnya membawa kabar lisan.
"Mbah Wagiyem bilang paket sudah sampai. Nala sempat mencret dua hari, sekarang nggak panas. Susunya diminum sedikit-sedikit."
Lututku lemas karena lega sekaligus takut. "Kenapa nggak dibawa ke puskesmas?"
"Katanya tetangga sudah panggil bidan. Saya cuma disuruh menyampaikan itu."
"Badannya kurus?"
Sopir ragu. "Saya nggak lihat langsung, Mbak. Paket diterima tetangga di jalan."
Kabar setengah justru membuka lebih banyak lubang.
Malamnya aku mencoba menyanyikan lagu lama yang biasa dinyanyikan ibuku. Suaraku pelan agar Sena tidak bangun.
"Judulnya apa?"
Bram berdiri di pintu. Kali ini ia mengetuk setelah bicara.
"Lagu yang sering dinyanyikan ibu saya. Nggak tahu judul resminya."
"Suaramu bagus."
Jarum di tanganku berhenti. "Bapak sering memuji orang?"
"Kalau benar."
Ia melihat mataku yang bengkak. "Ada kabar Nala?"
"Sempat diare. Katanya sudah membaik. Tapi saya nggak tahu seberapa kurus dia sekarang."
"Mau saya minta klinik kirim orang?"
Aku cepat menggeleng. "Jangan pakai fasilitas satuan untuk urusan pribadi saya. Saya akan cari cara."
Bram tidak membantah. Ia hanya mengangguk dan pamit.
***
Di luar kamar, aku, Bram, berhenti di ujung tangga.
Laras benar. Mengirim kendaraan klinik resmi tanpa alasan kedinasan akan membuatnya menjadi sasaran baru. Namun membiarkan bayi keluarga prajurit gugur sakit tanpa pemeriksaan juga bukan pilihan.
Aku memanggil Adi.
"Besok kamu ke Sumberejo pakai cuti setengah hari. Beli susu, oralit, dan minta bidan desa periksa Nala. Pakai uang saya. Jangan bawa kendaraan dinas."
"Lapor ke Mbak Laras?"
"Jangan dulu. Pastikan kondisinya."
Adi menatapku dengan senyum yang perlahan melebar.
"Kalau kamu komentar, cutimu batal."
"Siap. Saya nggak komentar apa-apa, Komandan."
Malam semakin larut. Aku kembali menjahit sambil menyenandungkan lagu yang sama.
Di luar, langkah Bram menuju kantor, bukan rumahnya.
Aku tidak tahu ia memanggil Adi malam itu. Aku tidak tahu sebuah daftar berisi susu formula, oralit, dan obat dari klinik sedang ditulis atas namanya.
Yang kutahu hanya satu.
Di tempat yang berjarak dua puluh kilometer, putriku membutuhkan ibunya.
Dan aku harus berdiri cukup kuat agar suatu hari bisa membawanya pulang ke pelukanku.
Aku memasukkan honor pertama ke amplop baru dan menulis nama Nala dengan huruf besar. Bukan uang banyak yang membuatku menangis, melainkan bukti bahwa tanganku mulai mampu menyediakan jalan pulang. Suatu hari nanti, jika aku terus bekerja dan bertahan, aku tak perlu lagi memilih anak mana yang bisa kenyang dan tidur aman di dekatku.