azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh enam
Azalea berdiri ragu di depan daun pintu lebar berwarna coklat itu, pembicaraan pagi tadi masih menggelayuti pikirannya.
Sebenarnya hari ini memang Azalea tidak bekerja, ia hanya tak ingin berada di rumah. Seharian tadi Azalea hanya menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, berkeliling sendirian seperti orang bodoh.
Sekarang Azalea berdiri di depan pintu rumah dengan keraguan yang menguar hebat. Sudah pukul 7 malam, sudah pasti Kiano ada di dalam rumah.
"ibukk!" seru seseorang mengagetkan Azalea yang sontak berbalik.
Mbak Asti, pengasuh rania menggendong bocah itu yang tertidur gelisah, di belakangnya berdiri Kiano yang menatapnya dengan sorot kecewa.
Wajah Azalea seketika berubah cemas, dengan lincah hendak meraih Rania dari gendongan pengasuhnya, namun ucapan Kiano menahannya.
"Antar Rara ke kamar saya, mbak Asti"
Azalea menatap pria itu, dengan tatapan kebingungan.
"Rara kenapa Mas?"
Tanpa menjawab pertanyaan Azalea, Kiano mengikuti langkah pengasuh Rania yang sudah lebih dulu masuk.
"Mas Kian!" panggil Azalea dengan suara bergetar takut, takut terjadi sesuatu pada Rania tanpa sepengetahuannya.
Langkahnya panjang separuh mengejar Kiano, sorot matanya sangat khawatir.
"Mas" panggilnya lagi, setelah mbak Asti berlalu dari kamar Kiano. Azalea berdiri bingung di ambang pintu, masuk atau gimana.
"Rara kenapa Mas?"
"tidak kenapa-kenapa" sahut Kiano dingin, pria itu tidak menoleh sama sekali, ia duduk di tepian ranjang, menepuk lembut punggung Rania yang gelisah.
"Maaas" panggil Azalea dengan suara semakin cemas, "kalian baru pulang dari rumah sakit kan?"
Kiano tak bergeming, diam seribu bahasa. Membuat Azalea semakin bingung dan ketakutan.
"Mas" sentuh Azalea ke pundak Kiano yang tersentak. Kiano menoleh, gadis itu menatapnya dan Rania bergantian.
Kiano menghela nafasnya, mengapa pula ia melampiaskan kekesalannya pada Azalea. Bukankah dirinya sendiri yang tegas menarik garis antara mereka.
Dia yang melarang Azalea untuk terlalu dekat dengan Rara, dan kini uring-uringan sendiri hanya karena Rania harus masuk rumah sakit karena kelalaiannya.
Kiano menyerapahi dirinya sendiri, yang tak tahu diri dan plin-plan begini.
"Rara kenapa?"
Bola mata indah itu menatap Kiano penuh harap, berharap Kiano menjawabnya.
"Rara dehidrasi, aku lalai menjaganya"
Azalea mendekati Rania, ia berdiri. Ingin rasanya memeluk tubuh mungil itu, namun Azalea takut Kiano tidak mengijinkannya.
"Boleh Rara tidur denganku malam ini, mas?" pinta Azalea hati-hati, Kiano menoleh, menatap Azalea lekat.
Nada suara Azalea yang terdengar sangat khawatir, menghangatkan hatinya. Apalagi Azalea yang berdiri tepat di sisinya, tanpa gadis itu sadari tubuhnya berdiri rapat di tubuh Kiano, separuh bersandar.
Kiano sedari tadi sibuk mengatur debar dadanya, akibat posisi mereka itu. Aroma harum tubuh gadis itu menyeruak bebas, membuat debar di dada Kiano semakin kencang tak beraturan.
"Besok, kalau Rara sudah membaik, Rara bisa tidur dengan Mas Kian lagi"
Tiba-tiba Kiano berdiri, Azalea sontak mundur. Menatap Kiano lekat, Azalea takut kalau pria itu marah.
"Duduklah.." perintah Kiano, pria itu sedikit menjauh dari ranjang, lebih tepatnya sedikit menjauh dari Azalea, ada debar yang terasa semakin aneh, jika ia berada dekat dengan gadis itu.
"Malam ini, sampai Rara sembuh, tidurlah di kamar ini"
Bola mata Azalea membelalak kaget, mulutnya sampai separuh terbuka. Apa maksud pria ini, apakah Kiano mengajaknya tidur sekamar.
Kiano yang memahami tatapan kaget itu, segera menggeleng. Seakan menepis tuduhan apapun yang ada di kepala Azalea.
"Tadi Mbak Asti bertanya padaku, sebenarnya kita suami istri atau tidak, mengapa kita tidur terpisah?"
Azalea masih diam, mencoba mencerna ucapan pria itu, benar sih, beberapa kali pengasuh Rania itu pernah bertanya padanya juga, cuman Azalea tidak menggubrisnya sama sekali.
"Karena Mbak Asti nginap di sini, akan semakin aneh kalau kita beda kamar terus, sampai Rara sehat saja Za"
Azalea mengangguk, namun sorot matanya masih kebingungan. "Trus selama aku tidur di sini, Mas Kian tidur dimana?, di situ?" tunjuk Azalea di sofa panjang tempat Kiano tidur dulu saat orangtua Azalea datang.
Kiano mengangguk, "Kan nggak mungkin kita tidur di ranjang yang sama" gumamnya pelan, namun suaranya terdengar oleh Azalea yang mengerutkan keningnya.
"Mas Kian barusan ngomong apa?"
"Nggak ada", geleng Kiano cepat, wajah pria itu, tepatnya pipinya merona merah.
Dengan langkah terburu, meninggalkan Azalea yang masih menatapnya, Kiano menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir sesuatu yang hadir di kepala, sesuatu yang membuat dirinya sendiri jengah karena malu.
***********
Azalea duduk di atas ranjang king size sembari memangku Rania yang mulai terlihat riang, sejak Maghrib tadi, dia tak lagi keluar. Apalagi Kiano juga sibuk di ruang kerjanya, sementara pengasuh Rania juga sudah masuk kamar sejak sore.
Karena Kiano memberi tahu kalau Azalea akan mengurus Rania, pengasuh Rania itu juga meminta ijin untuk mengikuti kuliah malam daringnya.
Azalea malam ini berpenampilan sedikit feminim, ia memakai piyama hello kittynya. Sudah lama sebenarnya Azalea meninggalkan tampilan tomboynya, dia tak ingin orang akan meragukan kemampuannya sebagai ibu, hanya karena penampilannya.
Rambutnya juga sudah melewati bahu, dengan tampilan feminim dan lembut seperti ini, kecantikan Azalea memang tak dapat tertutupi sama sekali.
Azalea memang jauh lebih cantik dari Naima, secara visual Azalea memang di atas Naima, namun cara pikirnya yang sederhana, membuat gadis itu terlihat biasa saja, berbeda dengan Naima yang pintar dan modis.
Rania tertidur setelah minum satu botol susu yang Mbak Asti siapkan tadi, Azalea menyelimuti bayi cantik itu, menyalakan ac sedikit hangat dari biasanya.
Azalea selesai menyisir rambutnya, duduk di meja rias membersihkan wajahnya, saat tiba-tiba pintu kamar itu terbuka.
Azalea sedikit tersentak, namun dengan cepat kembali biasa saja. Dia tahu, pasti Kiano sudah mengantuk.
Azalea berdiri, hendak mengambilkan bantal dan selimut untuk Kiano. Namun ternyata pria itu sudah mencangkung di tepi ranjang, meraih bantal dan selimut, sembari mengamati Rania yang tertidur pulas.
Azalea hampir menabrak tubuh Kiano, dengan cepat ia menarik tubuhnya, namun sayangnya gerakannya terlambat.
Dada Azalea menabrak punggung pria itu yang mencangkung, "Maaf mas" seru Azalea, ternyata Kiano juga hendak berdiri.
Alhasil kini tubuh Azalea malah menabrak dada bidang Kiano yang telah berdiri sempurna.
Nafas Azalea sesaat rasanya terhenti, apalagi tangan Kiano langsung menjatuhkan selimut dan meraih pinggangnya. Terasa tangan kekar itu menariknya rapat, kini mereka saling berpelukan dengan deru nafas yang tertahan.
Sangking rapatnya pelukan itu, Azalea yakin mereka bisa merasakan debaran jantung mereka masing-masing.
Azalea mendongak, menatap mata Kiano yang menatapnya juga, mereka terjebak ke dalam suasana hening, sibuk menenangkan jantung yang rasanya pengen jatuh.
Mereka masih saling tatap, wajah keduanya sudah memerah jengah, namun kaitan tangan di pinggang sama sekali tak terlepas.
Azalea menahan nafasnya yang terasa hendak membuncah, rasa mulas menyerang perutnya namun indah. Pose mereka terlihat begitu romantis, dan jika mereka tak juga mengurai pelukan ini, azalea tahu, pasti salah satu dari mereka akan mulai mencium yang lain.
'nggak boleh begini'
Azalea tahu ini salah, walau ia menginginkan Kiano menciumnya, tapi Azalea tak mau terlarut lagi. Ada Yohan yang harus ia ingat, dan lagian Azalea tak ingin hanya menjadi sebuah kekhilafan bagi Kiano.
"Maaf Mas" ujar Azalea sembari mendorong tubuh Kiano, ia mengurai pelukan itu, saat Kiano hendak menurunkan kepalanya.
Azalea memang tak menyadari gerakan itu, namun Kiano malu sendiri, dengan gerakan cepat, meraih bantal dan selimutnya yang terjatuh, meninggalkan Azalea menuju sofa di ujung kamar.
Kiano menyerapahi dirinya sendiri yang hampir hilang kendali tadi, hampir saja ia mempermalukan dirinya sendiri, mencium Azalea yang sudah pasti akan menolaknya.
Bersambung...
.