NovelToon NovelToon
Selir Figuran Bertahan Hidup

Selir Figuran Bertahan Hidup

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Selama tiga hari tiga malam, Paviliun Teratai Biru berubah menjadi ruang tahanan cendekiawan. Pintu paviliun dikunci rapat, tirai ditarik turun, dan tidak ada satu pun yang diizinkan masuk kecuali Xiu'er, Su Wan, dan Tabib Zhao.

Di tengah ruangan yang dipenuhi gulungan bambu yang berserakan, Shen Yu duduk bersila dengan mata panda yang menghitam dan rambut yang diikat asal-asalan. Di hadapannya, Su Wan memegang Kitab Kebajikan Langit yang tebalnya menyaingi bantal tidur, membacakan awal bait dengan nada sabar bagaikan seorang guru yang membimbing murid paling keras kepala di kekaisaran.

"Bait ketujuh puluh dua, Kakak," ucap Su Wan pelan. "Langit tidak memihak pada emas dan sutra..."

"...melainkan pada keluhuran budi dan tangan yang tak gentar memegang keadilan," sambung Shen Yu cepat, napasnya tersengal-sengal. Ia meneguk teh ginseng pekat yang sudah dingin. "Lalu... bait ketujuh puluh tiga... ah, Langit membenci keserakahan..."

"Salah, Kakak. Langit merendahkan mereka yang menumpuk gandum saat rakyat memakan tanah," koreksi Su Wan lembut.

Shen Yu menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan bunyi 'duk' yang keras. Di kehidupan masa lalunya, menghafal laporan anggaran tahunan seluruh divisi saja sudah membuatnya mual, apalagi sekarang ia harus menghafal seratus halaman puisi kuno yang bahasa dan tata bahasanya meliuk-liuk tidak karuan!

"Aku tidak akan sanggup," ratap Shen Yu, suaranya teredam meja kayu. "Otakku sudah penuh. Jika ada satu kata lagi yang masuk, ingatan tentang namaku sendiri pasti akan terdorong keluar."

"Nona pasti bisa!" Xiu'er yang sedang mengipasi tungku arang ikut memberi semangat dengan mata berkaca-kaca. "Nona adalah calon ibu dari seluruh daratan ini!"

Tiba-tiba, dari arah pintu utama, terdengar suara langkah kaki berat. Li Jingchen melangkah masuk tanpa pemberitahuan. Selama tiga hari ini, sang Kaisar memang menepati janjinya untuk tidak tidur di paviliun ini agar Shen Yu bisa belajar, namun pria itu datang setiap dua jam sekali hanya untuk memastikan gadis itu belum pingsan.

Wajah Li Jingchen tampak sangat tidak bersahabat saat melihat Shen Yu membenturkan kepala ke meja.

"Cukup. Berhenti menghafal omong kosong itu," titah Li Jingchen dengan nada mutlak, berjalan mendekat dan merampas kitab kuno itu dari tangan Su Wan. "Aku akan membunuh Ketua Dewan Ritual sekarang juga. Masalah selesai."

"Yang Mulia! Kembalikan kitab itu!" Shen Yu langsung melompat dari kursinya, merebut kembali gulungan usang tersebut dengan panik. "Ini sudah malam ketiga! Besok malam adalah titik balik matahari musim dingin! Jika hamba menyerah sekarang, tiga malam kurang tidur hamba akan sia-sia!"

Li Jingchen menatap gadis itu dengan rahang mengeras. Tangannya terulur, mengusap lingkaran hitam di bawah mata Shen Yu. "Udara di luar sudah mencapai titik beku terdalam, Shen Yu. Dan kau harus menaiki sembilan puluh sembilan anak tangga marmer tanpa alas kaki. Menghafal adalah satu hal, tapi tubuhmu tidak akan bertahan melawan es."

Shen Yu terdiam sejenak. Sang Naga benar. Ia bisa saja menghafal kitab itu di luar kepala, namun jika kakinya membeku dan ia kehilangan kesadaran di tengah jalan, ujian itu tetap akan gagal.

Ia lalu menoleh ke arah Tabib Zhao yang sedari tadi berdiri mematung di sudut ruangan.

"Tabib Zhao," panggil Shen Yu dengan nada sangat serius. "Aku membutuhkan tanaman obat yang memiliki sifat panas paling ekstrem. Apakah kau memiliki persediaan cabai merah paling pedas dari wilayah selatan dan akar jahe tua?"

Tabib tua itu mengelus jenggot putihnya dengan bingung. "Hamba memilikinya, Yang Mulia. Ramuan itu biasanya digunakan dalam jumlah sangat sedikit untuk mengusir hawa dingin dari luka prajurit. Namun... untuk apa Yang Mulia membutuhkannya dalam jumlah banyak?"

"Tumbuk halus semuanya," perintah Shen Yu, matanya berkilat penuh tekad. "Buatlah menjadi pasta kental yang cukup untuk menutupi kedua telapak kakiku dan bagian bawah betisku. Dan tambahkan minyak arak agar efek panasnya bertahan lama."

Semua orang di ruangan itu tersentak kaget, termasuk Li Jingchen.

"Kau gila?!" sergah sang Kaisar, mencengkeram lengan Shen Yu. "Pasta cabai dan jahe tua yang dioleskan langsung ke kulit akan membakar dagingmu! Kau tidak akan bisa berjalan karena rasa perihnya!"

"Lebih baik perih karena terbakar daripada diamputasi karena radang beku!" balas Shen Yu tak kalah keras, menatap langsung ke mata pria itu. "Rasa panas dari ramuan itu akan menipu saraf-saraf di telapak kakiku, menjaga aliran darah tetap berjalan saat bersentuhan dengan es. Hamba mungkin akan merasa seperti berjalan di atas paku panas, tapi setidaknya, hamba tidak akan mati kedinginan."

Li Jingchen terdiam. Ia menatap wajah Shen Yu lekat-lekat, menyadari bahwa tekad gadis ini sama kerasnya dengan baja pedang miliknya. Ia tidak sedang menghadapi selir yang rapuh, melainkan seorang pejuang yang siap mengorbankan kulitnya sendiri demi berdiri sejajar dengannya.

"Lakukan apa yang diperintahkannya, Tabib Zhao," suara Li Jingchen terdengar serak, menahan badai emosi di dalam dadanya. "Jika terjadi sesuatu pada kakinya besok, aku akan menuntut kepalamu."

Malam puncak titik balik matahari musim dingin akhirnya tiba.

Angin utara melolong ganas, menerbangkan kepingan salju tebal yang menghalangi pandangan. Di kaki Gunung Altar Surgawi yang terletak di bagian utara kompleks istana, ribuan obor dinyalakan oleh para prajurit pengawal, menerangi sembilan puluh sembilan anak tangga marmer putih yang kini sepenuhnya tertutup lapisan es tipis yang mematikan.

Di bagian atas altar, para menteri Dewan Ritual berdiri dalam balutan jubah tebal berlapis bulu beruang, menunggu dengan wajah pongah. Di bawah, barisan pejabat kekaisaran berkumpul, napas mereka mengepulkan uap putih di udara yang membekukan darah.

Tandu kekaisaran tiba diiringi derap kuda. Li Jingchen turun lebih dulu, mengenakan jubah kebesaran naga hitam yang berkibar gagah ditiup badai salju. Matanya menyapu deretan anak tangga es itu dengan niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat para menteri di sekitarnya menundukkan kepala ketakutan.

Kemudian, tirai tandu disingkap.

Shen Yu melangkah keluar. Ia tidak mengenakan sutra awan atau mahkota emas. Sesuai tuntutan tradisi, ia hanya mengenakan gaun rami putih berlapis ganda yang sangat sederhana. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apa pun. Wajahnya pucat, namun rahangnya mengeras penuh determinasi.

Begitu udara malam menghantam tubuhnya, Shen Yu refleks menggigil. Dinginnya benar-benar menusuk hingga ke tulang. Namun, di bawah gaun raminya, telapak kaki dan betisnya terasa seperti dipanggang di atas bara api berkat ramuan mematikan racikan Tabib Zhao. Rasa panas yang menyengat itu menjadi satu-satunya pertahanannya.

"Waktu pemujaan telah tiba," seru Ketua Dewan Ritual dari atas altar, suaranya menggema membelah badai. "Calon Permaisuri, lepaskan alas kaki dan mulailah mendaki! Langit akan menilai kelayakanmu!"

Li Jingchen maju selangkah, berniat menghentikan semua kegilaan ini. Namun Shen Yu menahan lengan pria itu dengan lembut.

"Tunggulah hamba di atas sana, Yang Mulia," bisik Shen Yu, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang mulai membiru. "Jangan biarkan para menteri tua itu tertawa."

Li Jingchen menelan ludah. Ia menekan gejolak di dadanya, lalu berbalik dan berjalan cepat melewati jalur samping menuju ke puncak altar, bersiap menyambut gadis itu di akhir ujian.

Dengan tarikan napas panjang, Shen Yu melepaskan sepatu kainnya. Kakinya yang telanjang menyentuh anak tangga marmer pertama yang berlapis es.

Ssssh.

Rasa dingin ekstrem dari es langsung berbenturan dengan panasnya pasta cabai dan jahe di telapak kakinya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah kakinya sedang disayat oleh ribuan pisau kecil secara bersamaan. Shen Yu nyaris memekik, namun ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah.

Satu langkah. Dua langkah.

"Langit yang Agung, menciptakan daratan tanpa cela," Shen Yu mulai merapalkan Kitab Kebajikan Langit, suaranya bergetar namun dilantangkan agar terdengar oleh para pejabat di bawah. "Matahari dan bulan berputar, mengikat takdir tanpa pandang bulu..."

Lima langkah. Sepuluh langkah.

Angin badai seolah ingin merobek gaun rami tipisnya. Kaki Shen Yu mulai kebas, namun sensasi terbakar dari ramuan itu memaksa jantungnya terus memompa darah ke bagian bawah tubuhnya. Ia tidak lagi melihat wajah-wajah menteri yang terkejut, ia hanya menatap ke atas, ke arah sosok hitam tinggi yang berdiri tegap di puncak altar.

"Pemimpin yang bijak... menanggung beban rakyatnya... seperti bumi menahan akar pepohonan raksasa..."

Setiap bait yang diucapkannya mengundang keheningan mutlak dari kerumunan di bawah. Mereka mengira selir rendahan ini akan pingsan pada anak tangga kedua puluh. Namun Shen Yu terus melangkah. Posturnya tegap, meski setiap jejak kakinya di atas salju kini mulai meninggalkan bercak kemerahan yang samar.

Lima puluh langkah.

Rasa sakit di kakinya telah mati, digantikan oleh kebas yang menakutkan. Bibir Shen Yu berdarah karena terus digigit. Otaknya berteriak untuk menyerah, tapi insting bertahannya menolak.

Apakah aku akan kalah oleh salju setelah selamat dari panah beracun? Tidak akan pernah!

"Keadilan Langit tidak terletak pada keturunan... melainkan pada keberanian membela yang lemah!"

Tujuh puluh langkah. Delapan puluh langkah.

Wajah Ketua Dewan Ritual di puncak altar mulai pias. Ia memundurkan langkahnya, tak percaya melihat wanita dalam balutan pakaian rami itu terus mendaki bagaikan dewi es yang tak terkalahkan.

Sembilan puluh delapan langkah.

Shen Yu berhenti sejenak. Kakinya sudah mati rasa total. Napasnya tersengal parah. Ia mengangkat wajahnya, menatap anak tangga terakhir dan wajah Ketua Dewan Ritual yang memucat pasi.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Shen Yu melangkah naik ke pelataran utama altar, menapakkan kakinya yang merah dan bengkak tepat di depan wajah sang menteri tua.

"Dan kebajikan tertinggi..." Shen Yu berteriak menantang badai salju, menyelesaikan bait keseratus dengan suara serak yang membelah kebekuan malam, "...adalah kesetiaan tak tergoyahkan yang menyatukan naga dan burung phoenix!"

Keheningan absolut menyelimuti puncak Gunung Altar.

Ketua Dewan Ritual jatuh berlutut, kakinya lemas. Ia tidak bisa lagi membantah. Seluruh pejabat di bawah altar yang menyaksikan kejadian itu perlahan-lahan menjatuhkan diri mereka ke atas salju, bersujud dalam-dalam.

"Hidup Sang Permaisuri! Langit telah merestui!" Seruan itu dimulai dari Kasim Su, dan dalam hitungan detik, ribuan prajurit dan pejabat mengumandangkannya secara serempak.

Shen Yu tersenyum tipis. Ia telah menang. Ia telah merobek tradisi arogan mereka hingga tak bersisa.

Namun, bersamaan dengan kemenangannya, sisa-sisa tenaga di tubuh gadis itu pun habis. Kakinya goyah, dan dunia di sekelilingnya berputar menjadi gelap. Tubuhnya terhuyung ke depan.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai es, sebuah jubah naga berlapis bulu beruang yang tebal dan hangat langsung membungkusnya dari segala arah. Li Jingchen merengkuh tubuh Shen Yu dengan kecepatan kilat, memeluknya begitu erat seolah nyawanya sendiri bergantung pada pelukan itu.

"Kau berhasil, permaisuriku. Kau berhasil," bisik Li Jingchen dengan suara bergetar, membenamkan wajah Shen Yu yang sedingin es ke ceruk lehernya yang hangat.

Sang Kaisar mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongannya, lalu menoleh menatap para menteri Dewan Ritual yang masih bersujud ketakutan dengan tatapan sedingin dewa kematian.

"Tradisi kalian telah terpenuhi. Mulai malam ini, barangsiapa yang berani meragukan kedudukan Permaisuri Shen, akan kuhukum mati beserta sembilan keturunannya," titah Sang Naga, sebelum melangkah turun membawa harta paling berharganya menjauh dari altar yang membekukan itu.

1
Aidil Kenzie Zie
sepertinya semenjak ada Shen Yu sang Kaisar lupa sama Selir yg lainnya 🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
selamat Permaisuri Shen🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semangat Shen Yu 💪🏻💪🏻💪🏻
Aidil Kenzie Zie
Aaa Shen Yu OTW jadi Permaisuri 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semakin lama semakin manis sang Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu kamu sekarang sudah jadi kesayangan Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
👍🏻👏🏻👏🏻 Selir Shen
Aidil Kenzie Zie
sepertinya bakalan susah untuk mengelabui Su Wan 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
a a. a Shen Yu si unboxing Kaisar 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
nggak usah ditipu Kaisar nya Selir Shen wong dia tau kamu pintar tapi masih pura-pura 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
Merdeka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu turut berdukacita 🤭🤭🤭🤭
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
Aidil Kenzie Zie
siap-siap dipenggal Kaisar Selir Shen 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
cerita di novel sama yang kamu jalani beda Shen Yu atau mungkin kamu yang akan dibawa oleh Kaisar untuk naik ke ranjangnya 🫣🫣🫣🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
apa Kaisar nggak takut kalau Shen Yu di bully atau mau di racun lagi
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie: makasih tor soalnya kurang paham
lah ni mau cari selir baru lagi🤔🤔🤔
total 2 replies
Wawan
Hmmmm .....menarik 👍
Aidil Kenzie Zie
kamu sudah jadi kesayangan Kaisar Selir Shen 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lagian ada aja kelakuan mu Shen
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha 🤭🤭🤭turut bahagia atau sedih y atas nasibmu 🤔🤔🤔🤔😭🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
selamat menikmati hidup dibawah hidung Li Jengchen 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!