Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Mulai Semua Dari Nol Sendirian
Keesokan paginya, matahari terbit seperti biasa. Cahayanya masuk menyelinap lewat celah jendela, jatuh lembut di lantai tempat aku duduk semalaman. Dunia ternyata tetap berputar walau hatiku rasanya sudah berhenti berdetak semalaman. Udara pagi terasa sejuk menyentuh wajahku, membawa kesadaran perlahan — hari baru sudah datang, dan aku harus melangkah lagi, walau kakiku terasa berat sekali untuk bergerak.
Aku bangkit berdiri, merapikan pakaianku, lalu melangkah keluar pintu. Tak ada yang menanyakan ke mana aku pergi. Tak ada yang menunggu pulang. Tak ada pesan singkat yang menanyakan kabar. Awalnya rasanya sepi sekali, sepi yang menusuk dada. Selama bertahun-tahun setiap hari selalu ada yang harus kuhubungi, ada yang harus kuperhatikan, ada yang harus kutanya sudah makan atau belum. Sekarang tak ada lagi. Awalnya terasa hampa luar biasa, seakan ada bagian dari diriku yang hilang. Tapi pelan-pelan, seiring langkah kaki yang terus melangkah, aku mulai merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang dulu tak pernah kurasakan selama aku masih bersamanya — aku bebas. Bebas menentukan mau ke mana kakiku melangkah. Bebas memilih mau makan apa pagi ini. Bebas memutuskan mau berhenti di mana, mau berjalan sejauh mana, tanpa harus menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.
Namun bebas ini ternyata tak datang dengan mudah. Semua hal yang dulu tak pernah kupikirkan karena selalu ada yang mengurus atau menentukan, kini harus kupikirkan sendiri semuanya dari awal. Harus cari tempat berteduh yang sederhana dan terjangkau. Harus berpikir dari mana uang untuk makan hari ini dan hari-hari berikutnya. Harus mencari cara agar bisa tetap hidup dengan bermodalkan keahlian yang kupunya sendiri. Kadang aku berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap orang-orang yang berjalan berpasangan sambil tersenyum, dan hati kecilku sempat bertanya — apakah aku sanggup melewati semuanya sendirian? Apakah jalan ini tak terlalu berat untuk kutempuh seorang diri?
Lalu aku teringat kembali masa-masa dulu saat masih bersamanya. Bukankah saat susah pun aku sendirian memikul beban berat di hatiku? Bukankah saat sedih pun tak ada yang benar-benar mendengarkan dan memelukku dengan tulus? Bukankah sebenarnya selama ini aku sudah berjalan sendirian, hanya saja ada orang yang berjalan di sampingku tanpa pernah benar-benar menemaniku? Kalau begitu, apa bedanya sekarang? Sekarang aku benar-benar sendirian, setidaknya aku tak lagi berharap pada hati yang tak pernah peduli padaku. Setidaknya sekarang aku tak lagi memaksakan diriku menyenangkan hati orang yang tak pernah menganggapku berharga.
Pelan-pelan aku mulai mencari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan. Awalnya malu rasanya, takut dianggap rendah, takut gagal, takut ditolak berkali-kali. Tapi lalu kuingat — bukankah rasa ditinggalkan jauh lebih sakit daripada rasa malu saat berusaha mencari nafkah sendiri? Bukankah rasa diabaikan jauh lebih perih daripada rasa lelah setelah bekerja seharian demi diriku sendiri? Maka kuurungkan rasa maluku. Kuusahakan apa saja yang bisa dikerjakan. Sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti. Hasilnya memang tak banyak, tak seketika mewah seperti dulu. Tapi setiap rupiah yang kuterima terasa berat manisnya, karena murni hasil keringat dan usahaku sendiri. Tak ada yang perlu dimohon, tak ada yang perlu ditukar dengan harga diri. Setiap hari aku belajar hal baru. Setiap hari aku menemukan kekuatan yang tak pernah kutahu ada di dalam diriku. Ternyata kakiku ini kuat sekali. Ternyata tanganku ini sanggup mengerjakan banyak hal. Ternyata hatiku ini lebih teguh dari yang kubayangkan selama ini. Perlahan langkahku makin lama makin tenang. Tak perlu terburu-buru. Tak perlu mengejar siapa pun. Cukup melangkah pelan, asal tak pernah berhenti maju. Karena jalan yang mulai dari nol ini, walau terasa berat di awal, akan menjadi milikku sepenuhnya selamanya. Tak ada yang bisa mengambilnya, tak ada yang bisa merampasnya, dan tak ada yang bisa meninggalkannya. Karena yang kubangun ini bukan lagi untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk menjaga diriku sendiri seumur hidupku.
.
"