Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 22
Rasanya jemari lentik Yumna ingin sekali mengirim seribu kalimat yang mengatakan jika postingan itu hanyalah tipuan. Tapi sayangnya, yang bisa di lakukan Yumna saat ini hanyalah membuang napas lelah. Kepala menggeleng pelan. Karena masih tidak menyangka, jika ada orang seperti pemilik akun itu.
"Benar-benar kurang kerjaan." Batin Yumna. Sebelum melihat ke arah Sella yang spontan berdiri untuk menerima telepon seseorang dari seberang sana. Dan membuat napas lelah itu kembali Yumna hembuskan.
"Pekerjaan paling berat, ditanggung oleh Sella." Yumna mengatakannya begitu rendah. Pandangan mata melihat kepergian Sella yang terus menampilkan senyumannya dengan kalimat pengelakan sebagai balasan untuk sang penelpon.
"Orang cantik pasti banyak yang tidak suka. Itu sangat wajar sekali. Kenapa Malla terus menerus mendapat komentar negatif dan tuduhan palsu seperti itu." Cetus Vallen fokus melihat kearah layar handphonenya. Di mana postingan tidak bermutu yang membuat senyum pahit itu tercetak jelas diwajahnya.
Yumna yang mendengar tidak langsung memberi balasan. Wanita itu berpikir sebentar untuk mengatakan suatu hal yang sangat ragu Yumna bisikan kepada Vallen. Karena kepercayaan Yumna pada Vallen belum utuh seratus persen. Jika pun mereka rekan kerja, tapi Yumna harus menjaga batasa. Tapi jika Yumna mengandalkan Tama, apa pemilik akun itu dapat dihentikan secepat mungkin?
"Aku hanya ingin bertanya padamu?" Ragu Yumna kini menghadap sedikit posisi duduknya ke arah Vallen, yang hanya sekilas melihat Yumna dengan memberi balasan. 'Apa?'
"Jika kau bertemu dengan pemilik akun itu. Apa yang akan kau lakukan?" Kening Yumna mengerut samar. Menunggu balasan dadi Vallen.
Diam memainkan sebentar bibirnya. Sebelum meletakkan handphonenya, membalas tatapan Yumna. "Menarik rambutnya, jika hak itu tidak membuatnya membawaku ke pihak berwajib."
"Kenapa kau membuang uang mu demi hal konyol seperti itu?" Bukan Vallen maupun Yumna. Melainkan seorang wanita bersurai sebahu. Duduk di depan Vallen. Membuat tiga wanita yang ada di ruangan itu melayangkan ekspresi yang berbeda.
"Sepertinya dia tidak membuang uangnya. Tapi dia yang mendapat uang." Balas Yumna untuk wanita itu.
"Benarkah, dari mana kau tahu?" Sorot mata dari wanita itu tidak membuat Yumna merasa kecil hati.
Tanpa ragu Yumna menunjukkan balasan dari anonim yang begitu senang menanggapi komentarnya waktu itu. Kepada wanita bersurai sebahu itu. "Dia hanya bersenang-senang. Dan aku akan menghancurkannya."
"Memangnya kau tahu siapa pemilik akun itu?" Tanya sang lawan bicara dengan tampang yang terlihat sedikit penasaran.
Yumna diam, tidak langsung memberi balasan. Ludahnya sedikit merasa keluh. Ingin udara jujur, tapi ini belum waktunya. Tapi dilain pemikiran Yumna juga tidak bisa berbohong secara terang-terangan. "Aku pasti akan bertemu dengan pemilik akun itu secara pribadi." Keraguan terselip di setiap kata yang keluar dari mulut Yumna.
"Kau serius ingin mencari orang itu?" Sedikit hati-hati, Vallen mengatakannya.
"Memangnya kenapa?" Tidak begitu cepat pertanyaan itu dicetuskan Yumna.
"Bukannya apa-apa. Hanya saja hal itu bukan tugasmu. Kecuali, kau dengan Malla memiliki hubungan lebih dari seorang rekan kerja." Timpal Vallen yang ampuh membuat Yumna menutup rapat mulutnya.
"Jika kau terlalu ikut campur. Kau pasti akan sulit menjalani hidupmu. Jadi, kerjaan apa yang sudah ditugaskan tanpa melewati batas. Aku hanya memberi mu saran. Karena kau sendiri yang bilang padaku, mencari pekerjaan di jaman sekarang itu sedikit lebih sulit dari kemampuan kita." Sambung Vallen, menuntaskan perkataannya. Sebelum kembali bekerja untuk membaca satu-persatu tawaran dari berbagai sumber untuk sang artis perusahaan.
Sedangkan Yuman masih diam, menyandarkan punggungnya. Menerima sangat baik apa yang Vallen katakan. Dan itu memang benar, seharusnya Yumna tidak ikut campur hak itu. Tapi Yuman juga tidak bisa diam saja di tempatnya, melihat adiknya mendapat perlakuan tidak adik dari para publik, tanpa fakta yang jelas.
Beranjak dari duduknya, kini Yuman berjalan keluar dari ruangan untuk menemui seseorang yang mungkin akan mengabaikannya. Karena Yumna begitu tiba-tiba menemui orang itu tanpa janji. Apalagi datang bertamu tanpa kartu undangan, masuk ke dalam ruang manajemen yang langsung menarik semua pasang mata disana.
Dan Yumna hanya fokus pada kepala pimpinan ruang itu. Siapa lagi jika bukan Tama, diam membalas tatapan Yumna tanpa senyum karena raut lelah itu terlihat sangat jelas di wajah Tama.
"Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Apa kau punya waktu?" Suara itu terdengar pelan di pendengar Tama. Karena Yuman tidak ingin siapapun menguping perkataannya. Jika pun kehadirannya ditempat itu membuat tanda tanya dikepala beberapa orang di dalam ruangan itu. Kini berpura-pura fokus pada pekerjaan masing-masing, saat Tama melihat ke arah mereka.
"Sepertinya aku harus mengeringkan tenggorokan ku lebih dahulu." Seru Tama. Melihat Yumna, mengisyaratkan wanita itu untuk berjalan keluar lebih dahulu.
Karena Tama sendiri pun juga tidak mau rekan kerjanya itu berpikir aneh-aneh tentang Yumna. Jika mereka membicarakannya, Tama tidak masalah. Tapi Tama khawatir akan timbul rumor tidak baik soal Yumna. Walaupun Tama percaya pada teman-temannya yang tidak akan menyebarkan hal tidak benar seperti saat ini.
Tibanya dihalaman luar perusahaan, Yumna menghentikan langkah kakinya. Menunggu Tama kini berjalan mendekatinya dengan ekspresi yang penuh tanda tanya.
"Aku tidak tahu siapa pria itu. Tadi sore aku melihatnya menemui wanita yang sempat kau katakan padaku siang tadi." To the point Yumna, setelah menunjukkan foto kepada Tama. Di mana dua insan yang duduk berhadapan.
"Apa kau mengenalnya?" Sambung Yumna. Berharap jika Tama tahu siapa pria itu.
"Tidak!!" Tama mengembalikan handphone itu pada Yumna. "Tapi pernah bertemu dengannya."
"Di mana?" Tidak begitu cepat Yumna mengatakannya.
"Di sekolah." Tanpa dosa Tama memberi balasan.
"Sekolah?" Ucap Yumna tidak percaya.
"Dia teman sekolah ku, dan kita juga berada di kelas yang sama. Tapi aku tidak begitu dekat dengannya. Karena dia orang yang sangat pendiam." Kepala Tama mengangguk kecil, untuk mengingat di mana dirinya tidak begitu sering berinteraksi dengan orang itu.
"Berarti dia tidak bekerja di perusahaan?" Pertanyaan konyol yang Yumna sendiripun sudah tahu jawabannya seperti apa. Tapi Yumna tetap mengatakannya.
Tama menggeleng pelan sebagai jawaba. "Kenapa? Kau mengira jika orang itu yang memberi bocoran soal Malla sebagai artis pendatang baru, kepada anonim itu?"
"Aku hanya menduga. Tidak menuduh." Yumna mengembungkan sedikit kedua pipinya, sembari menyelipkan anak rambutnya itu dibalik daun telinganya.
Tama mengangguk paham. "Kau sudah mengirim pesan pada Malla. Dia ada di rumah bukan?"
"Ibu yang mengirim ku pesan. Malla ada di rumah bersama ibu." Balas Yumna membalas tatapan Tama sebentar. Sebelum melihat ke sembarang arah dengan napas berat.
"Kau masih marah dengan ibumu?" Entah kenapa, Tama mengatakan hal itu pada Yumna. Karena bagi Tama sendiripun menerima keluh kesah dari Yumna bukanlah suatu hal yang harus Tama hindari.
"Rama yang mengatakannya padamu?" Rasa kesal itu sedikit terselip pikiran Yumna saat ini.
"Karena tidak ada teman yang bisa diajaknya bicara selain diriku. Jadi kau harus mengerti keadannya."