NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Bahkan Jika Lawanku Adalah Dewa.

Ledakan raksasa yang mengguncang bumi itu telah mereda beberapa menit yang lalu.

Di tengah-tengah kawah menganga seluas ratusan meter, Edward melayang pasrah di udara dengan hanya selembar celana yang masih tersisa dan melekat di tubuhnya.

Napasnya memburu tajam, naik-turun secara tidak teratur.

Bzzzt...

Rambutnya yang semula berwarna hitam pekat mendadak berangsur-angsur berubah warna secara tak wajar.

Awalnya, helai demi helai berubah menjadi putih kebiruan yang menyilaukan. Tak lama kemudian, warnanya berganti lagi menjadi kuning cerah bagaikan kilatan petir, sebelum akhirnya bertransformasi kembali menjadi warna merah tua yang pekat bagaikan kobaran api.

Hal mistis yang sama juga terjadi pada sepasang bola matanya. Pendar cahayanya meredup dan bergejolak, berganti warna seirama dengan helai rambutnya.

Edward perlahan membiarkan tubuhnya melayang turun. Tepat saat telapak kakinya menyentuh permukaan tanah yang hangus, kedua lututnya langsung lemas dan ia terduduk pasrah.

Serangan pamungkas tadi benar-benar telah menguras habis cadangan energinya hingga ke batas akhir.

Keringat dingin tak henti-hentinya mengucur deras melintasi kulit dada dan wajahnya.

Fiuh...

Pemuda itu mengembuskan napas berat, lalu menjatuhkan tubuhnya memanjang—terbaring lemas di atas tanah yang menghitam. Ia membiarkan hembusan angin membelai lembut kulitnya, menikmati rasa lelah yang menghantam seluruh persendiannya.

Meski di sekelilingnya terdapat puluhan titik api dan kebakaran hutan yang merebak akibat gelombang panas radiasi tadi, Edward sama sekali tidak ambil pusing.

Untuk saat ini, ia hanya ingin dianjani oleh kesunyian dan mengistirahatkan tubuhnya.

“Tuan Muda!” seru sebuah suara familiar dari kejauhan.

Edward menegakkan tubuhnya, melirik ke arah asal suara tersebut.

Di atas tebing pinggiran kawah yang menganga, Bernard sudah berdiri di sana, melambaikan tangan sembari memanggil namanya.

Tak jauh di belakang sang Pelayan, Raja Nolan muncul dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat. Tanpa ragu, sang Raja meluncur turun melintasi lereng kawah yang terjal, berlari menghampiri putra semata kalangnya.

Grep!

Ia seketika merengkuh dan memeluk erat tubuh Edward.

“Syukurlah... Syukurlah kau baik-baik saja, Nak...” bisik sang Raja dengan nada suara yang bergetar lega.

“Ayahanda terlalu berlebihan dalam khawatir,” ujar Edward santai, menepuk pelan punggung ayahnya. “Aku sudah pasti baik-baik saja.”

Sang Raja perlahan melepaskan pelukannya, lalu tersenyum simpul menatap putranya.

Pandangannya lantas tertuju pada helai demi helai rambut Edward yang kini berwarna merah tua pekat. Sang Raja mendengus pelan, lalu mengembuskan napas panjang.

Di masa lalu, Edward memang pernah mengalami kondisi serupa.

Setiap kali pemuda itu memaksakan fisiknya hingga kelelahan atau kehabisan pasokan energi secara ekstrem, warna rambutnya akan bertransformasi secara drastis sebagai sinyal alami tubuhnya.

Jika warna rambutnya berubah menjadi merah tua seperti sekarang, itu menandakan bahwa cadangan energi Edward telah menyentuh batas terendah yang paling kritis.

Sebaliknya, jika warna rambutnya mulai berangsur-angsur bergeser menjadi kuning cerah, lalu naik ke tingkatan putih kebiruan, dan akhirnya kembali menjadi hitam pekat—itu adalah tanda bahwa pasokan energi di dalam tubuhnya sedang terisi kembali secara bertahap hingga mencapai kapasitas maksimalnya.

Edward perlahan memaksakan tubuhnya untuk bangkit, dibantu oleh tangan Bernard yang sigap menopang di sampingnya.

Sang pelayan menatap Tuan Mudanya dari dekat, lalu bertanya dengan suara setengah berbisik yang sangat pelan.

“Tuan Muda... Apakah dia... sudah benar-benar...?”

“Aku tidak bisa memastikan seratus persen,” jelas Edward jujur, merapikan napasnya.

“Namun, aku sudah menghancurkan seluruh area ini dan memastikan tidak ada satu pun celah Dungeon yang tersisa untuk dijadikannya wadah beregenerasi.”

Edward melirik ke arah kawah yang hangus. “Seharusnya... dia tidak akan pernah bisa kembali lagi.”

Bernard terdiam bungkam.

Meskipun raut wajahnya berusaha tetap tegar dan tenang, kilat di matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Ia tahu betul siapa sosok monster era kuno yang baru saja dihadapi oleh Tuan Mudanya. Ia tahu persis betapa licik dan mengerikannya hal-hal yang sanggup dilakukan oleh Penyihir Hitam tersebut.

Semoga saja kekhawatirannya hanyalah sesuatu yang kosong tanpa dasar, dan tidak ada skenario buruk yang akan terjadi di masa depan.

Tanpa membuang waktu lagi, mereka bertiga melangkah naik menyusul barisan Pasukan Kerajaan yang telah setia menunggu di atas tebing.

Rombongan besar itu segera melangkah pulang menuju istana megah mereka, berjalan mantap tanpa pernah menoleh lagi ke belakang.

***

Edward menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar ketakutan, sementara Ratu Tiana menatapnya dengan tatapan tajam yang seolah sanggup merobek kulit.

Di belakang Edward, baik Raja Nolan maupun Bernard sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Kedua pria yang biasanya tangguh itu kini hanya bungkam seribu bahasa, memilih menyerahkan nasib sang Pangeran sepenuhnya pada kemurahan hati sang Ratu.

Sejak awal kedatangan rombongan di gerbang istana, wanita nomor satu di kerajaan itu tak mengucapkan sepatah kata pun.

Ia berdiri menunggu tepat di depan pintu masuk istana dengan raut wajah masam. Kedua tangannya bersilang ketat di dada, sementara salah satu jarinya mengetuk-ngetuk cepat di lengan.

Tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata, siapa pun yang berada di sana mengerti betul bahwa sang Ratu sedang marah besar.

“M-maaf, Ibunda.... A-aku pulang...?” bisik sang Pangeran dengan nada suara yang bergetar hebat.

Ratu Tiana mendengus dingin, menatap putranya dari atas ke bawah.

“Coba aku ulas kembali,” ujar sang Ratu dengan nada suara datar namun menusuk.

“Ceroboh dalam bertindak... Masuk ke dalam Dungeon liar tingkat S secara sembrono... Melawan penyihir hitam era kuno sendirian... Lalu pulang dalam keadaan lemas hingga kehilangan sebagian besar kekuatanmu.”

Sang Ratu menyipitkan matanya tajam. “Menurutmu, apakah seluruh rangkaian tindakan memalukan yang baru saja kusebutkan itu cukup ditebus hanya dengan sepatah kata maaf?”

“T-tidak..., Ibunda....” Edward makin mengkerut, tak berani menatap mata ibunya.

Ratu Tiana perlahan mengangkat salah satu tangannya ke udara.

Edward yang melihat pergerakan itu refleks memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap pasrah menerima hukuman fisik yang akan mendarat di wajahnya.

Namun...

Puk.

Alih-alih tamparan keras, telapak tangan lembut Ratu Tiana justru merengkuh dan menepuk perlahan puncak kepala Edward.

 Tanpa aba-aba, sang Ratu menarik tubuh putranya dan langsung memeluk erat pemuda itu sembari menitikkan air mata.

“Syukurlah kepada Dewa... Kau selamat, Nak...” ungkap Ratu Tiana penuh rasa syukur.

“Kau tahu betapa cemasnya aku saat mendengar berita dari para prajurit? Aku... aku sempat berpikir tidak akan bisa melihatmu lagi.”

“Maafkan Edward karena sudah membuat Ibunda begitu khawatir,” bisik Edward pelan sembari membalas hangat pelukan ibunya.

Sementara di belakang mereka, baik Raja Nolan maupun Bernard hanya bisa tersenyum lega menyaksikan pemandangan manis yang menghangatkan hati tersebut.

Ratu Tiana perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat-lekat wajah Edward yang tampak kelelahan, lalu pandangannya tertuju pada helai rambut sang pangeran yang masih berwarna merah tua pekat.

Wanita itu tersenyum lembut, kembali mengelus pelan rambut putranya.

“Kau pasti sangat kelelahan, bukan? Sana bersihkan dirimu terlebih dahulu.”

Ratu Tiana menatap mata Edward dengan binar kebanggaan yang tulus. “Ibunda sangat bangga padamu, Edward. Berkat dirimu, kita semua selamat. Terima kasih banyak, Anakku.”

Edward seketika bungkam seribu bahasa.

Dada pemuda itu bergetar hebat. Rasa haru yang membuncah membuatnya hampir meneteskan air mata mendengar kata-kata tulus tersebut.

Meski ia tahu betul bahwa dirinya bukanlah anak kandung mereka, kedua orang dewasa ini selalu memperlakukannya dengan kasih sayang yang tanpa batas. Mereka bahkan tak pernah ragu berdiri paling depan untuk membelanya di tengah hinaan dan cemoohan orang-orang.

Di dalam hatinya, Edward mematri sebuah janji yang tak tergoyahkan.

Apa pun yang terjadi nanti... Siapa pun lawannya, bahkan jika itu adalah sosok Dewa sekalipun... Jika mereka berani mengusik orang-orang yang kucintai, aku akan melindungi mereka meski harus mempertaruhkan nyawaku sendiri.

Edward lantas mengukir senyum riang di wajahnya, mengangguk mantap.

“Iya, Ibunda!”

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!