NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22.Perasaan kekaguman.

Di ruangan remang yang baunya masih bercampur anyir tanah basah dan asap dupa hitam pekat yang memenuhi ruangan, Alif kembali berlutut di hadapan sosok pemimpin yang kini duduk tegak di atas singgasana batu yang dingin dan retak. Cahaya lilin yang berkedip-kedip redup memantulkan bayang-bayang panjang yang menari-nari menyeramkan di dinding bebatuan, membuat suasana semakin mencekam dan penuh tekanan.

"Kau sudah melihat mereka," ucap sang pemimpin bukan sebagai pertanyaan, melainkan pernyataan yang pasti seolah ia sendiri yang hadir di sana.

"Benar, Guru," jawab Alif sambil menundukkan kepala lebih dalam, tak berani sedikit pun melirik ke arah wajah gurunya yang tersembunyi di balik bayangan tudung. "Saya sudah melihat bagaimana mereka berlatih setiap hari di sekitar mata air pegunungan yang terlindungi."

"Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah ia sudah mulai menguasai kekuatan yang ada di dalam dirinya? Apakah Inti Sakti benar-benar merespons tubuhnya?" tanyanya perlahan, nada bicaranya rendah namun penuh tekanan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

"Belum sepenuhnya menguasai, Guru. Namun kemajuannya terlihat sangat jelas. Dulu ia terlihat lemah, mudah lelah, dan sering terjatuh tanpa alasan yang kuat. Kini ia mampu mengikuti setiap arahan Ba nas pati tanpa banyak protes atau keluhan yang berlebihan. Tubuhnya semakin kuat, napasnya semakin teratur, dan hubungannya dengan energi alam di sekitarnya semakin erat dan menyatu."

Pemimpin itu mengangguk pelan, namun sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan dan penuh ambisi. "Bagus. Itu artinya dugaan kami benar. Inti Sakti benar-benar telah menyatu dengan jiwa dan raganya. Semakin kuat ia terlatih, semakin berharga ia bagi rencana besar kita nanti."

Ia menatap tajam ke arah Alif yang masih menunduk tak bergerak.

"Apa tugasku sudah selesai, Guru? Apakah saya boleh kembali atau masih memantaunya lagi? " tanya Alif hati-hati.

"Tidak. Kau masih harus mengawasi gadia itu.Sekarang itu menjadi tugas utamamu, tapi ingat berhati-hati."

"Siap, Guru. Saya akan menjalankan tugas ini sebaik mungkin dan juga berhati-hati," jawab Alif mantap, meski hatinya kini mulai terasa berat.

"Pergilah." Jawab singkat pemimpin organisasi itu.

Sejak hari itu, setiap hari tanpa putus Alif kembali ke area hutan tempat Raisa dan Arya berlatih. Awalnya, ia melakukannya hanya sebagai kewajiban buta yang harus ia tunaikan. Baginya Raisa hanyalah sebuah target misi, sebuah wadah yang harus dipantau sampai saatnya tiba untuk diambil alih. Namun seiring berjalannya waktu, pandangan dingin itu perlahan berubah pelan namun pasti seiring dengan apa yang ia lihat setiap harinya dari balik semak belukar yang rimbun.

Pagi itu, embun masih menetes dari ujung daun saat Alif sudah berada di tempat persembunyiannya. Ia melihat bagaimana Raisa kembali terjatuh saat mencoba menjaga keseimbangan di atas batang pohon yang licin dan tinggi. Tubuhnya terguling ke tumpukan rumput basah dan berduri, namun sebelum Arya sempat melangkah mendekat untuk membantunya berdiri, Raisa sudah bangun sendiri sambil mengusap debu dan daun kering di pakaiannya dengan senyum canggung yang tak hilang dari wajahnya.

"Aduh... lihatlah, aku masih belum bisa tenang sekali saat di atas sana," keluhnya sambil tertawa kecil, seolah jatuh dan terluka adalah hal yang lucu dan wajar saja.

"Itulah gunanya latihan. Jika kau sudah benar-benar bisa, kau tak akan jatuh lagi sekalipun kakimu tersandung batu," jawab Arya dengan nada datar namun matanya memperlihatkan rasa lega karena gadis itu tak terluka parah.

"Iya, siap Tuan Guru! Sekali lagi, pasti bisa!" seru Raisa bersemangat sambil kembali memanjat batang pohon itu dengan tekad yang tak pernah padam, meski keringat dingin sudah membasahi seluruh dahi dan pelipisnya.

Alif tertegun lama di tempat persembunyiannya. Selama belasan tahun ia hidup di dalam organisasi itu, ia hanya melihat amarah, kebencian, cemoohan, dan saling mencela jika ada yang gagal melaksanakan tugas. Kegagalan selalu dihukum dengan kekerasan atau kata-kata yang menyakitkan. Namun di sini, seseorang yang jatuh dan gagal bukan dimarahi atau dihina, melainkan didorong untuk mencoba lagi dengan sabar. Dan yang lebih mengherankan, orang yang gagal itu sendiri yang bangkit kembali dengan senyum tulus di wajahnya.

Tak hanya itu, saat jam istirahat tiba dan perut mulai terasa lapar, Alif melihat bagaimana Raisa menyambut Sekar yang membawa keranjang bekal makanan hangat dari rumah.

"Terima kasih banyak ya, Sekar. Kau pasti repot sekali harus berjalan jauh mendaki bukit membawa ini semua," ucap Raisa tulus sambil menerima nampan berisi makanan itu dengan hati-hati.

"Tidak repot sama sekali, Non. Tuan Arya sudah berpesan agar Non Raisa makan dengan cukup dan bergizi," jawab Sekar tersenyum ramah.

"Bahkan kau pun terlihat berkeringat dan lelah membawanya naik ke sini. Mari kita duduk sebentar dan makan bersama, ayo," ajak Raisa sambil menarik perlahan tangan Sekar agar duduk bersamanya di atas batu datar.

"Tidak bisa, Non. Saya harus segera kembali ke rumah untuk menyiapkan keperluan lain," tolak Sekar dengan sopan.

"Sekali saja... masa makan sendiri rasanya sepi sekali. Lagian Arya nanti sibuk mengawasi keadaan sekitar, jadi tidak akan tahu," rayu Raisa terus menerus hingga akhirnya Sekar tersenyum tak tega dan duduk sejenak menikmati hidangan itu bersama.

Saat Jatmika datang melapor atau sekadar memeriksa keadaan di sekitar, Raisa pun tak pernah bersikap angkuh atau merasa lebih tinggi. Ia selalu menyapa dengan ramah, bahkan sering bertanya dengan tulus apakah Jatmika sudah makan atau butuh istirahat.

"Jatmika, duduklah istirahat sebentar. Kau terus berkeliling mengawasi hutan, pasti lelah kan?" tanyanya suatu hari saat melihat Jatmika kembali berubah wujud menjadi manusia.

"Terima kasih, Non Raisa. Saya tidak lelah, tubuh saya sudah terbiasa," jawab Jatmika sopan.

"Tetap saja istirahatlah sebentar. Anggap saja ini permintaanku sebentar," ucap Raisa sambil menyodorkan sepotong pisang rebus hangat yang masih utuh miliknya.

Melihat semua itu berkali-kali, hati Alif perlahan terasa bergetar hebat. Selama ini ia diajarkan bahwa manusia yang menjadi Wadah Inti Sakti adalah orang yang sombong, serakah, haus kekuasaan, dan akan menyakiti siapa pun yang menghalangi jalannya. Namun apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri sungguh sangat berbeda. Gadis itu bahkan tak merasa dirinya istimewa, tak merasa lebih mulia dari siapa pun, meskipun ia memegang kekuatan yang bisa mengubah nasib seluruh dunia.

Ia juga memperhatikan dengan saksama bagaimana sikap Raisa kepada Arya. Meski sering ditegur keras, sering disuruh melakukan hal yang sangat berat, dan sering dikatakan masih lemah, Raisa tak pernah menunjukkan rasa benci, kesal berlebihan, atau dendam sedikit pun. Justru ia selalu menuruti perkataan Arya dengan penuh rasa hormat, bahkan sering menyelipkan candaan ringan untuk mencairkan suasana yang kadang menjadi terlalu tegang.

"Kau tidak marah jika aku menyuruhmu lari lagi mengelilingi hutan setelah ini?" tanya Arya saat Raisa terengah-engah napasnya tak beraturan setelah berputar tiga kali mengelilingi area hutan yang luas.

"Kenapa harus marah? Aku tahu betul kau melakukan semua ini supaya aku bisa menjaga diriku sendiri nanti saat kau tak ada di sampingku," jawab Raisa sambil mencoba mengatur napas perlahan, lalu tersenyum tipis menatap pria itu. "Lagipula... siapa lagi yang akan melatihku dengan sabar dan tegas seperti kau? Tidak ada kan?"

Mendengar ucapan itu, Arya terdiam cukup lama sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan dan memberikan botol air minum yang ia bawa sendiri kepada gadis itu.

Di balik rimbunnya pepohonan, Alif mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Perbandingan antara kehidupan kelam di organisasi yang penuh ancaman, rasa takut, dan saling menjatuhkan dengan kehidupan sederhana namun penuh kehangatan yang dimiliki Raisa dan Arya begitu mencolok dan menyakitkan untuk dipikirkan. Di tempatnya, satu kesalahan kecil sekalipun bisa berujung pada hukuman berat atau bahkan kematian. Di sini, kesalahan justru dianggap sebagai cara untuk belajar menjadi lebih baik.

Rasa kagum yang awalnya hanya sekadar rasa hormat pada target yang patut dipantau, perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Setiap kali melihat senyum tulus yang terukir di wajah Raisa meski tubuhnya terlihat sangat lelah, setiap kali mendengar tawanya yang renyah meski baru saja harus mengulang latihan berkali-kali, hati Alif yang selama ini keras dan dingin perlahan mulai meleleh tak terbendung.

Ia mulai menanti hari demi hari bukan lagi semata-mata untuk melapor pada pemimpinnya, melainkan untuk sekadar melihat sosok gadis itu dari kejauhan. Ia mulai membandingkan setiap orang yang pernah ia kenal dengan Raisa, dan tak satu pun yang mampu menyamai ketulusan hati, kerendahan hati, dan semangat pantang menyerah yang dimiliki gadis itu.

Namun di sisi lain, ingatan akan sumpah setia dan ancaman maut dari pemimpinnya terus menghantui setiap sudut pikirannya. Ia tahu betul jika perasaan yang kini tumbuh di dadanya ini diketahui oleh gurunya, ia bisa dicabut nyawanya kapan saja tanpa ampun. Ia tahu bahwa gadis yang kini mulai ia kagumi, bahkan diam-diam mulai ia sukai, adalah target utama yang harus direbut oleh kelompoknya.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat menyisakan semburat jingga keemasan di langit dan latihan hari itu akhirnya selesai, Alif masih berdiri diam terpaku di tempat persembunyiannya, menatap punggung Raisa yang berjalan menjauh perlahan sambil tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Arya. Di dadanya kini ada dua kekuatan besar yang saling bertarung dengan hebat yaitu kewajiban setia pada orang yang telah memberikannya perlindungan setelah keluarga nya di buang dari desa, atau hati yang mulai berbisik perlahan bahwa apa yang mereka rencanakan selama ini mungkin benar-benar salah.

"Sampai kapan aku harus terus berdiri diam di sini... hanya melihatnya dari jauh tanpa bisa mendekat atau menyapa?" bisiknya pelan pada diri sendiri yang hanya dijawab oleh hembusan angin sore yang membawa suara tawa kecil Raisa yang perlahan menghilang di kejauhan.

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!