Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Tangisan yang Tak Diinginkan
Hujan turun tanpa henti sejak sore. Angin malam berembus dingin, menerpa jendela rumah sederhana yang berdiri di ujung desa. Di dalam kamar sempit itu, suara tangisan bayi memecah kesunyian.
Namun, tangisan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru disambut tatapan penuh kebencian.
"Anak ini pembawa sial!"
Suara lantang seorang wanita paruh baya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah masam, menatap bayi mungil yang baru beberapa jam lahir ke dunia.
Di atas ranjang, seorang perempuan muda yang masih lemah setelah melahirkan spontan memeluk bayinya semakin erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Bu... jangan bilang begitu. Dia tidak salah apa-apa," ucapnya lirih.
"Tidak salah?" Wanita itu tertawa sinis. "Sejak kamu mengandung anak itu, hidup keluarga ini tidak pernah tenang. Sekarang suamimu menghilang tanpa kabar. Apa itu bukan karena dia?"
Perempuan muda itu menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis lebih keras.
Ia tahu, apa pun yang diucapkannya tidak akan mengubah kebencian ibu mertuanya.
Tangannya perlahan mengusap pipi bayi laki-lakinya yang masih memejamkan mata. Wajah mungil itu begitu damai, seolah belum tahu bahwa dunia telah menolaknya bahkan sebelum sempat mengenalnya.
"Maafkan Ibu..." bisiknya sambil mengecup kening sang bayi. "Ibu akan menjaga kamu."
Wanita paruh baya itu mendengus kasar sebelum meninggalkan kamar sambil membanting pintu.
Suara benturan pintu membuat bayi itu kembali menangis.
Perempuan muda itu buru-buru menggendongnya. Dengan tubuh yang masih terasa sakit, ia berjalan perlahan mengelilingi kamar sambil menimang buah hatinya.
"Jangan menangis, Nak... Ibu di sini."
Beberapa menit kemudian tangisan bayi itu mulai reda.
Tatapan perempuan itu beralih ke ponsel yang sejak tadi berada di atas meja kecil.
Tidak ada satu pun pesan masuk.
Tidak ada panggilan.
Sudah tiga hari suaminya pergi tanpa kabar.
Semua nomor yang dihubungi tidak aktif.
Teman-temannya mengaku tidak tahu.
Bahkan tempat kerjanya mengatakan pria itu sudah tidak masuk sejak beberapa hari lalu.
Rasa cemas semakin memenuhi dadanya.
"Mas... sebenarnya kamu di mana?" gumamnya.
Ia masih percaya suaminya tidak mungkin sengaja meninggalkan dirinya dan bayi mereka.
Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Pasti.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuatnya tersentak.
Ia buru-buru mengusap air mata sebelum membuka pintu kamar.
Di ruang tamu berdiri dua pria berpakaian rapi. Salah satunya membawa sebuah map cokelat.
"Permisi. Apa benar ini rumah Pak Arman?" tanya pria itu sopan.
"Iya... saya istrinya."
Pria itu saling berpandangan dengan rekannya seolah sedang mencari kata yang tepat.
"Kami dari pihak kepolisian."
Jantung perempuan itu langsung berdegup kencang.
"Ada apa, Pak?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Dua hari yang lalu Pak Arman mengalami kecelakaan lalu lintas."
Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti.
"Apa...?"
Tubuhnya mendadak lemas.
Tangannya yang menggendong bayi mulai bergetar.
"Beliau sempat dibawa ke rumah sakit."
Air mata perempuan itu mulai mengalir.
"Kalau begitu... sekarang suami saya di mana? Saya mau menemuinya."
Pria itu kembali terdiam beberapa detik.
Sorot matanya berubah penuh iba.
"Kami turut berduka cita..."
Kalimat berikutnya membuat napas perempuan itu tercekat.
"Pak Arman tidak berhasil diselamatkan."
Brak!
Tubuh perempuan itu ambruk berlutut di lantai.
Bayi di pelukannya menangis keras, sementara surat yang dibawa pria itu jatuh tepat di hadapannya.
Air matanya mengalir tanpa henti.
Ia bahkan tidak sempat melihat wajah suaminya untuk terakhir kali.
Dunia yang selama ini ia bangun bersama pria itu runtuh dalam sekejap.
Namun, penderitaan itu ternyata belum berakhir.
Wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di belakang langsung menunjuk bayi kecil itu dengan tatapan penuh amarah.
"Aku sudah bilang! Anak itu pembawa sial! Baru lahir saja ayahnya meninggal!"
Perempuan muda itu spontan memeluk bayinya erat.
"Jangan salahkan anak saya!"
"Kalau bukan karena dia, anakku pasti masih hidup!"
Tangisan bayi semakin keras memenuhi rumah yang kini dipenuhi duka.
Sementara di luar, hujan turun semakin deras, seolah langit ikut menangisi nasib seorang bayi yang bahkan belum sempat mengenal kasih sayang ayahnya.
Dan malam itu menjadi awal dari kehidupan Raka... seorang anak yang sejak hari pertama kelahirannya telah dicap sebagai pembawa sial oleh keluarganya sendiri.