Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK PERLU MEMBALAS
Obrolan tentang Refan masih menjadi topik panas di grup perawat, tampang dokter itu pun seperti tak punya dosa. Berwajah datar dan bersikap emang gue pikirin saat bekerja. Memang para perawat beraninya di dalam grup, ketika bertemu dengan dokter itu di secara tatap muka, mereka tetap profesional. Bahkan dokter Rahman, juga tak membahas keteledoran dokter Refan tempo hari, benar-benar profesional. Namun catatan tentang dokter Refan sudah masuk penilaian dokter Rahman.
Kekasih Refan sudah pulang dari rumah sakit, sehingga dokter ganteng itu benar-benar istirahat di ruang tunggu dokter. Beberapa perawat senior sudah tak pernah ikut obrolan bersama dokter Refan, mungkin sudah malas dengan karakternya.
Kejutan para tenaga kesehatan soal Refan kembali berlanjut saat ada perawat shift malam yang sedang scroll media sosial, ada unggahan sebuah video terkait penggrebekan di salah satu klub malam, dilaporkan dilakukan tes urin di tempat. Mereka yang mengikuti tes tersebut menunduk dari sorotan kamera. Namun yang menarik perhatian salah satu perawat itu adalah headline video menyebutkan salah satu pengunjung yang berprofesi dokter mengikuti tes urin. Sontak saja, perawat tersebut langsung share video ke grup perawat.
Kok suudzon dokter Refan ya yang dimaksud. Tulis perawat itu di grup perawat.
Feelingku juga sama. Balas perawat lain.
Dokter Refan kapan jaga lagi? Mereka mulai kroscek jadwal praktik dokter problematik tersebut.
Besok jadwal pagi. Kalau sampai gak masuk fix dia kena kasus tersebut. Makin tak sabar para nakes tersebut menyambut esok hari.
"Loh kok dokter Intan yang jaga pagi ini?" tanya Bu Sita, perawat senior yang akan pulang, saatnya tukar shift.
"Oh, tukar shift dengan dokter Refan," jawab dokter muda itu. Mendadak beberapa perawat langsung duduk melingkar dengan menatap dokter Intan. "Kenapa?" tanya dokter cantik itu bingung.
"Alasan tukar shift, kita boleh tahu?" tanya salah satu perawat, mewakili rasa penasaran rekan nakes lain.
"Katanya ada urusan di polres, mungkin mau buat SKCK kali," jawab dokter Intan, sepertinya tak tahu berita update tentang dokter Refan.
"Dokter, jangan kaget ya!" salah seorang perawat menekan tautan video yang ramai jadi perbincangan di grup perawat. Dokter Intan melihatnya dengan seksama, dan masih belum ngeh.
"Lalu? Apa hubungannya dengan dokter Refan?" tanya dokter Intan, karena setahunya dokter Refan bukanlah dokter yang suka clubbing. Apalagi di video itu tak menyebutkan inisial.
"Dokter Intan gak curiga sama dokter yang dimaksud di video ini?" tanya Bu Sita dengan menatap dokter itu serius. Dokter Intan mengembalikan ponsel perawat tersebut sembari tersenyum.
"Tidak perlu curiga, nanti akan ketahuan sendiri. Netizen +62 kan paling pintar," ujar dokter Intan kemudian membubarkan kerumunan segera kembali bekerja.
Perawat juga bisa disebut netizen bukan? Yap, sekarang di ruangan introgasi, dokter Refan bersama sang kekasih dan beberapa rekan lain yang terlibat party malam itu, dijemput satu per satu oleh keluarga, termasuk kedua orang tua dokter Refan.
Untung saja dokter Refan hasil tes urine negatif, sehingga tak menambah amarah sang papa. Begitu sampai rumah, mama Refan langsung menonyor kepala sang putra, gemas sekali. Kalau boleh malah ingin menempeleng sekalian.
"Sejak dulu mama gak suka dengan perempuan itu, tapi kamu tetap saja kembali padanya. Bahkan kamu melepas Pevita demi perempuan itu. Kamu melihat kehebatan dia itu apa? Kalau kamu terus terlibat ke hal yang negatif. Dulu saat kuliah awal, kamu terlibat baku hantam dengan mantannya, sekarang malah keciduk polisi. Heran mama sama kamu, bela-belain dia dapat apa sih?" gerutu mama Refan sudah sangat menahan kesabaran menghadapi tingkah sang putra.
"Yang pasti sudah bobog bareng lah, Ma!" sahut papa dengan berkacak pinggang, mama sontak melotot. Tangan yang sejak tadi beliau tahan mendarat mulus di pipi sang putra.
"Kamu jadi dokter, disekolahkan tinggi-tinggi, malah tidak bisa menjaga kehormatan. Apa mentang-mentang kamu dokter sehingga kamu tahu obat penunda kehamilan jadi seenaknya kamu bisa tidur tanpa ikatan yang jelas. Pantas saja kamu mundur menikahi Pevita. Kamu sadar kalau kamu gak layak jadi suami perempuan terhormat seperti dia. Memang kamu layak sama perempuan itu, hanya bermodalkan nafsu belaka! Kalau kamu masih berhubungan sama perempuan itu, keluar dari rumah ini. Sebelum kamu punya penyakit memalukan di rumah ini, lebih baik keluar!" sentak mama. Kalau ibu negara sudah setegas ini, tidak akan ada kompromi lagi ke depannya. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Refan. Yang jelas kalau memilih kedua orang tuanya, masa depan dan hidupnya masih terjamin. Berbeda bila dia mempertahankan sang kekasih, hanya kenikmatan sesaat di ranjang sedangkan uang tak punya. Sial.
Kasus Refan jelas saja tak ada yang tahu di kalangan dokter muda dan perawat. Berbeda dengan dokter senior seperti dokter Adi dan dokter Rahman, keduanya tahu kabar Refan dari rekan sejawat yang praktik di area narkotika instansi kepolisian. Bukan maksud membuka riwayat pemeriksaan pasien, tapi rekan papa Pevita itu mengenal sosok yang ia periksa dini hari tadi, bahwa dia adalah mantan calon menantu dokter Adi. Selepas bertugas ia mengirimkan pesan pada papa Pevita. Pesan singkat yang membuat hati papa Adi lega sebagai seorang ayah.
Beruntung putrimu tidak menikah dengan dokter Refan. Dia pergaulannya di luar batas kewajaran seorang dokter.
Tentu saja papa Pevita langsung menghubungi rekan beliau, dan menceritakan secara singkat kronologis penangkapan serta tes urin yang menimpa Refan.
"Hati-hati, dia bisa saja punya pengaruh buruk pada dokter muda lain," ujar rekan papa Pevita mengingatkan. Meski bukan porsi beliau mengatur rumah sakit untuk mempertahankan dokternya, tetap saja beliau punya tanggung jawab moril untuk menilai dokter yang kredibel atau enggak, terutama soal pergaulan.
"Kamu harus bersyukur gak jadi menikah dengan Refan, Mbak!" ujar papa saat makan siang, kebetulan hari ini Pevita selesai kuliah sebelum makan siang, dan tidak ada janji kerja kelompok makalah. Sedangkan papa Pevita dinas sore nanti.
"Tiba-tiba banget bahas Refan, Pa?" tanya Tante Lily, sedangkan Pevita mana minat bahas cowok brengse* satu itu. Apalagi ia sudah merasakan menjadi istri seutuhnya bersama Kala. Mendadak lupa siapa tuh Refan?
Papa pun menceritakan tes urine Refan, dan tak menyangka pergaulan lelaki itu sudah sangat jauh. Beliau bersyukur sang putri tidak mendapat suami dengan pergaulan seperti itu. "Dia terpengaruh sama mantannya, Pa. Makanya selalu oleng. Cuma dia kok bodoh banget ya, Pa. Mau saja mengikuti pergaulan sang mantan, padahal jelas-jelas memberi pengaruh negatif."
"Pasti ada timbal balik lah, Kak. Gak mungkin pergaulan mereka hanya sebatas pegangan tangan," lanjut Tante Lily dan diangguki oleh Pevita.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh