Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 "HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔
"Hihihihi... Ahahaha..." tawa Haruma.
"Ahahahaha.. Hahaha..." tawa Harumi juga.
Mereka berdua masih saja tertawa riang di teras rumahku malam ini. Bercanda-canda bersama sejak setelah Isya tadi.
Padahal jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul 21.14 malam.
Sudah seharusnya mereka berdua untuk tidur.
Harumi malam ini berniat untuk menginap di rumahku. Ia juga sudah izin pada orang tua angkatnya, dan mereka mengizinkan Harumi menginap.
Aku berjalan dari arah kamar, setelah selesai membaca Al-Qur'an sebanyak dua juz penuh.
"Ahahahaha... Aduh-duh, perutku sakiiit... Ahahaha..." tawa Harumi, sambil memegangi perutnya yang keram karena kebanyakan tertawa.
"Hahahaha... Hahahaha..." tawa Haruma juga, sangat geli kulihat.
Aku berdiri di ambang pintu depan rumah. Memperhatikan mereka.
Terasa mengembang juga senyuman di bibirku.
"Kalian, dari tadi ketawa-ketawa terus, ngetawain apa, sih?" tanyaku.
"Eh, hahaha... Hihihi... Anu Bu, anu... Ahahaha..." kata Harumi saat melihatku sudah berdiri di ambang pintu.
"Hahahaha... Hihihihi..." suara Haruma juga yang masih saja terlihat geli.
"Eeehhh... Istighfar, ah! Udah malem! Jangan ketawa terus!" kataku.
Aku juga sedikit menahan geli melihat tingkah mereka berdua yang gemas dan lucu malam ini.
Namun, Haruma dan Harumi masih saja saling ketawa, bercanda lagi malah.
Kudekati mereka berdua, dan menjewer kuping mereka pelan, tapi tak sampai menyakiti kuping mereka.
"Aduh-duh-duh! Hahaha..." kata Haruma.
"Aduh-duh! Ibu, Ibu! Hihihi..." kata Harumi.
"Hayooo... Denger gak Ibu ngomong apa?" tanyaku.
"Iya-iya, iiihhh..." jawab Haruma.
"Iya Bu, denger koook... Hihihi..." jawab Harumi kemudian.
"Udah malem, gak bagus masih cekikikan gitu, ah!" tambahku.
"Iya-iyaaa... Maaf, Buuu..." balas Haruma.
"Udah mau jam setengah sepuluh loh, tidur sana." perintahku.
"Aaahhh... Ibuuu... Ngapain sih tidur cepet? Kan besok hari Minggu. Libur sekolah." kata Haruma.
"Eeehhh... Kalo dibilangin ya, ngeyel!" jawabku, sambil mencubit manja pipi Haruma.
"Ahahahaha..." Harumi malah tertawa lagi, melihat Haruma yang kucubit pipinya.
"Yeeehhh... Kamu juga nih, ya!" kataku, dan kucubit pelan juga pipinya.
"A-a-aduh-duh..." Harumi meringis pelan.
"Ayok, tidur, udah malem! Dasar!" kataku lagi.
"Iya-iyaaa..." balas Haruma, sambil mulai bangkit dari duduknya, memegang tongkatnya.
"Harumi, ayok ke kamar! Disini ada monster!" tambah Haruma.
"Hah? Monster? Monster apa?" tanyaku heran.
Haruma malah berjalan melewatiku, sambil cekikikan sedikit. Lalu ia meraba tangan Harumi.
Harumi pun berdiri, mengikuti langkah Haruma, masuk ke dalam.
"Eh, monster apa tadi kamu bilang, Nak?" tanyaku yang masih sedikit penasaran.
Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu kamar, dan Haruma menatapku dengan mata putihnya.
"Monsternya kan Ibu! Ahahahahaha..." kata Haruma.
"Wah?! Hahahaha... Aku takuuut!! Hihihi..." balas Harumi.
Saat sadar bahwa mereka berdua sedang meledekku, aku langsung melototkan mataku pada mereka.
Harumi yang bisa melihatku, langsung menarik tangan Haruma masuk dalam kamar.
"Eh! Monsternya ngamuk! Ayok masuk, Haruma! Hahahaha..." kata Harumi.
Dan...
"Bruk!!"
Pintu kamar itu segera ditutup oleh Haruma dari dalam.
"Ya Alloh, bisa-bisanya mereka ngeledek aku pakek sebutan monster??" gumamku.
Tapi, sedetik kemudian, terdengar lagi suara cekikikan mereka di dalam kamar.
Dan, tiba-tiba, dalam kepalaku muncul sebuah ide.
Aku pun berjalan pelan ke arah pintu kamar itu.
Dan kuketuk pelan, sebanyak tiga kali.
"Tok!"
"Tok!"
"Tok!"
Terdengar suara Harumi yang berkata dari dalam, "Eh? Siapa?"
Kembali kuketuk pintunya tiga kali, sama persis.
Kali ini, suara Haruma bertanya, "Siapa?"
Dan...
"Ceklek!"
Pintu kamar itu kubuka pelan, tapi tak sampai terbuka lebar. Hanya terbuka celah sedikit.
Aku bersembunyi di balik tembok, tepat di samping luar pintu itu. Menahan tawaku sendiri.
Terdengar suara langkah dari dalam, mendekati pintu. Tapi aku tak tahu, apakah itu langkah Haruma, atau Harumi.
"Siapa? Ibu, ya?"
Ternyata yang melangkah ke pintu adalah Harumi.
Semakin kuat ideku untuk menjahili mereka. Karena barusan sudah meledekku dengan kata monster.
Dan, saat daun pintu itu dibuka...
"BAAAAAA!!! HAYOLOOOH!!!" teriakku seketika.
"AAAAAAAAAAA!!!!" Harumi berteriak kaget, langsung berlari ke arah kasur!
"HAHAHAHAHAHA!!! MONSTER DATAAAANG!!!" teriakku lagi sambil tertawa dan berlari juga ke kasur.
Mereka berdua langsung teriak-teriak bersamaan, sambil berusaha menutupi tubuh dan wajah mereka dengan selimut.
"HAAAAAA!!! HAHAHAHA!!!" teriakku sambil menggelitiki mereka yang panik geli di atas kasur.
Aku, Haruma, dan Harumi, malah bercanda di atas kasur bersama.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tiba-tiba...
"HEH!! UDAH MALEM!! MALAH BERISIK!!"
Kami bertiga kaget, ternyata Bapak (Kakek) sudah berdiri di depan pintu kamar. Dia mengomel karena kami bertiga malah semakin berisik.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣