NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di batas Rasa Khawatir

“Assalamu’alaikum,” sapa Fatih setelah menepikan motornya dengan rapi.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Maira dan Aisyah berbarengan.

Fatih menatap Maira sekilas dengan sorot mata yang menyiratkan rasa khawatir yang samar. “Mbak—eh, maksud saya... Maira. Kenapa hari ini sudah nekat masuk kerja? Apa kondisinya memang sudah benar-benar mendingan?”

Maira terkekeh santai, menepuk bahunya yang kemarin memar. “Gue udah sehat walafiat, Fatih. Tenang aja, ini buktinya gue udah kuat kerja seharian penuh di kafe.”

“Alhamdulillah kalau begitu,” ucap Fatih lega. “Lalu... apa sudah dapat taksi online-nya untuk pulang?”

“Belum nih, aplikasinya lagi muter-muter terus dari tadi. Tapi santai aja, sebentar lagi juga dapet kok. Sok aja kalau kalian berdua mau duluan pulang,” usir Maira ramah.

Mendengar hal itu, pikiran Fatih mendadak melayang pada sosok Rayn. Ada ketakutan hebat yang tiba-tiba menyergap dada Fatih, takut jika lelaki berengsek itu kembali mengusik dan membahayakan keselamatan Maira di jalanan malam yang sepi.

“Ooh... begitu,” gumam Fatih pelan.

Aisyah yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya langsung menyipitkan matanya penuh selidik. Ia sempat menangkap basah seulas senyuman teramat tipis yang terbit di sudut bibir kakaknya saat menatap Maira. Kecurigaan Aisyah semalam kini terasa semakin nyata dan kuat.

“Ya udah kalau gitu, Mbak Maira, kami duluan ya. Mbak hati-hati di jalan!” seru Aisyah sengaja menengahi, lalu segera naik ke atas boncengan motor Fatih.

Fatih mengangguk sopan ke arah Maira. “Mari, Maira. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya kalian!” lambai Maira.

Setelah punggung Fatih dan Aisyah hilang di balik padatnya arus lalu lintas jalan raya, Maira mendudukkan dirinya di bangku kayu luar kafe. Ia kembali memeriksa layar miliknya, mencoba mencari taksi online. Namun, setelah hampir setengah jam menunggu dengan bosan, aplikasi itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda mendapatkan pengemudi.

“Ah... lama banget! Naik angkot aja kali ya, siapa tahu di pertigaan depan ada yang lewat,” gerutu Maira kesal. Ia bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju halte terdekat.

Namun, takdir sore itu seolah sedang mengujinya. Hingga matahari tenggelam sepenuhnya dan azan Magrib berkumandang dari pengeras suara, tidak ada satu pun angkot yang melintas.

“Ya Allah... lama banget. Mending gue salat Magrib dulu aja kali ya, biar tenang,” gumam Maira. Ia akhirnya memutuskan melangkah menuju masjid jami yang terletak tidak jauh dari sana untuk menunaikan kewajibannya.

Setelah selesai menunaikan salat Magrib dan berdoa khusyuk, Maira melangkah keluar dari gerbang masjid. Jam di tangannya kini sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kegelapan malam mulai menyelimuti jalanan yang terasa semakin sunyi.

Maira baru saja hendak melangkahkan kakinya menyusuri trotoar saat sebuah suara bariton yang teramat familier memanggil namanya dari arah belakang.

“Maira? Kamu... kamu tidak apa-apa, kan?”

Maira tersentak kaget. Ia membalikkan badannya cepat dan mendapati sosok Fatih yang berdiri di samping motornya dengan napas yang sedikit memburu, menyiratkan rasa khawatir yang teramat nyata di wajah tampannya.

“Fatih?! L-lo... ngapain balik lagi ke sini?” tanya Maira heran setengah mati dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.

Fatih mengembuskan napas lega yang teramat panjang, seolah baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya. “Syukurlah kamu tidak apa-apa... Tadi saya kembali lagi ke kafe karena disuruh oleh Aisyah. Dia khawatir sekali karena kamu belum juga memberi kabar sudah sampai rumah atau belum. Aisyah takut kamu belum dapat kendaraan.”

Maira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum canggung. “Iya nih, emang belum dapet taksi dari tadi. Nunggu angkot juga nihil gak ada yang lewat, makanya tadi gue putusin buat salat Magrib dulu di masjid ini.”

Fatih menatap lekat-lekat manik mata Maira, matanya memancarkan ketegasan yang meneduhkan. “Mau saya antar pulang?” tanyanya lembut. “Takutnya... kondisi malam begini, kamu... di jalan nanti diganggu lagi oleh laki-laki yang waktu itu.”

Deg.

Dada Maira seketika bergemuruh hebat mendengar tawaran tulus tersebut. “Fatih... khawatir sama gue? Ah, gak mungkin, Maira! Jangan kepedean deh Lo! Dia kayak gini murni cuma karena gue ini temen kerja adeknya aja,” batin Maira mencoba menepis segala spekulasi manis di kepalanya.

Maira berdehem kecil untuk menutupi kegugupannya. “Maksud Lo... Rayn? Ya... kalau dia berani ganggu lagi sih gapapa, gue bisa lawan kok sekarang. Lo gak perlu khawatir berlebihan gitu, Fatih.”

“Kalau kejadian buruk seperti kemarin malam terulang lagi bagaimana, Maira? Sampai kamu harus kecelakaan dan terluka lagi?” potong Fatih cepat, menatap lurus ke dalam netra Maira dengan sorot mata yang begitu dalam dan penuh pelindung. “Maaf... tapi saya tahu kecelakaan kamu kemarin malam itu terjadi karena ulah paksaan dari lelaki itu, kan?”

Maira seketika bungkam, kehilangan kata-kata. Sorot mata Fatih yang begitu menuntut keselamatannya membuat pertahanan ego Maira runtuh seketika. Wajahnya mendadak terasa hangat, bersemu merah jambu di bawah temaram lampu jalan.

“Ahh... ya sudah. Kalau Lo emang gak keberatan dan gak ngerasa direpotin buat nganterin gue balik... makasih ya,” ucap Maira pelan, tersipu malu sembari menundukkan wajahnya agar Fatih tidak melihat rona merah di pipinya.

“Sama-sama. Mari, silakan naik,” ucap Fatih sopan sembari membetulkan posisi motornya.

Namun, begitu Maira menaiki boncengan motor matic tersebut, ia seketika dibuat tertegun sebelum akhirnya menahan tawa mati-matian. Fatih sengaja memajukan posisi duduknya hingga sangat mepet ke arah stang motor depan. Tindakan konyol itu sengaja Fatih lakukan demi menjaga jarak aman agar tubuh mereka tidak sampai saling bersentuhan selama perjalanan.

“Hahaha! Fatih... Lo duduknya kok maju banget begitu sih? Pasti gak nyaman banget kan nyetirnya?” goda Maira dengan tawa renyah yang menghidupkan suasana malam. “Munduran dikit aja gajadi masalah kok. Biar gue aja yang duduknya agak munduran mepet ke belakang.”

Fatih tersenyum canggung, namun tetap bersikeras pada batasannya. “Tidak apa-apa, Maira. Kamu duduk saja yang nyaman di belakang.”

Motor pun mulai melaju perlahan membelah keheningan malam yang dingin. Seiring berjalannya roda motor, suasana di antara mereka mendadak kembali berubah menjadi hening dan sarat akan kecanggungan yang manis. Tidak ada satu pun obrolan yang keluar di sepanjang aspal jalanan.

Di tengah keheningan itu, Maira menatap punggung tegap Fatih yang berbalut jaket gelap di depannya. Ada rasa hangat yang teramat nyaman menjalar di dadanya, namun sekaligus diiringi rasa takut yang luar biasa.

Maira memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. “Fatih... gue mohon, lebih baik Lo ngejauh dari gue sekarang. Tolong jangan pernah bersikap semanis dan sepeduli ini lagi... Jangan bikin gue menaruh hati dan berharap lebih dalam lagi sama sosok sempurna kayak Lo,” batin Maira dalam keheningan yang teramat perih, menyadari jurang pemisah di antara mereka yang teramat lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!