NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Medan Perang

​Pagi di Desa Haruto dimulai dengan ritme kesibukan yang produktif seperti biasa. Mentari pagi baru saja merayap naik menembus kanopi pepohonan ketika Haruto dan Brom mulai membongkar sebagian kecil struktur dinding rumah utama Haruto. Bangunan itu sengaja diperbesar, bukan karena mengalami kerusakan, melainkan karena ukurannya sudah mulai terasa sempit seiring bertambahnya jumlah barang, persediaan logistik, serta peralatan baru yang masuk. Ruang penyimpanan kini membutuhkan area yang lebih luas untuk menampung hasil panen dan perkakas besi.

​Di waktu yang sama, rumah-rumah para Ras Kelinci juga mulai direnovasi secara bertahap. Dinding kayu mulai diperkuat, dan beberapa tiang penopang yang mulai lapuk diganti dengan kayu baru yang jauh lebih kokoh.

​Di tengah kesibukan mengukur balok kayu, Brom melirik Haruto dengan ekspresi setengah merengut. "Hei, Haruto... rumahku sendiri kapan akan mulai dibangun?"

​Haruto tertawa kecil mendengarnya. "Sabar, Brom. Rumah sementara yang kau tempati sekarang masih sangat layak dipakai."

​Brom mendengus pelan, pura-pura kesal, namun kembali melanjutkan pekerjaannya memotong papan dengan antusias.

​Suasana damai itu mendadak terpecah ketika Mira, yang sedang berjaga di atas menara pengawas, tiba-tiba melihat sesuatu yang ganjil bergerak di antara pepohonan di batas luar hutan.

​Sejumlah orang tampak berjalan pelan, menyeret langkah mereka dengan terseok-seok mendekati arah desa. Jumlahnya sekitar dua belas orang. Dari kejauhan, Mira bisa melihat wajah mereka yang sangat pucat, pakaian compang-camping penuh koyak, dan beberapa di antaranya bahkan harus dipapah oleh rekan mereka karena terluka parah.

​Tanpa membuang waktu, Mira meluncur turun dari menara dengan sigap, berlari ke tengah desa sambil berseru panik, "Haruto! Ada sekelompok orang asing mendekat ke arah gerbang!"

​Seketika itu juga, seluruh aktivitas pekerjaan di desa terhenti total.

​Haruto segera melangkah ke depan, didampingi oleh Elara dan Brom yang memegang palu pandai besi. Sesampainya di gerbang, kedua kelompok saling berhadapan dalam keheningan yang sarat ketegangan. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik; kedua belah pihak saling mengukur situasi.

​Beberapa saat kemudian, salah satu prajurit iblis dari kelompok asing itu melangkah maju. Tubuhnya penuh luka sayatan senjata, napasnya tersengal-sengal, dan pedang militernya masih tergantung di pinggang. Dengan suara serak, ia berkata, "Kami... kami hanya ingin meminta makanan..."

​Belum sempat Haruto membuka mulut untuk merespons, seorang prajurit lain di belakangnya menyela dengan nada putus asa dan agresif, "Jangan memohon pada mereka! Buat apa meminta? Kita rebut dan ambil saja semuanya!"

​Suasana di luar gerbang seketika berubah menjadi genting. Mira langsung melompat ke atas pagar kayu, merentangkan busurnya dengan panik. Fira dan Fina sigap mencabut belati mereka, sementara Brom mengangkat palu besinya tinggi-tinggi, siap menghantam siapa saja yang berani berbuat anarkis.

​Namun, Haruto justru bergerak sebaliknya. Dengan langkah tenang tanpa rasa takut, pemuda itu berjalan maju melewati barisan pertahanan. Sambil memejamkan mata sejenak, ia memanggil Divine Shadow Tool miliknya, wujud tombak hitam legam muncul di tangannya.

​Tanpa aba-aba, dengan gerakan tangan yang santai namun penuh tenaga, Haruto melemparkan tombak itu ke udara.

​ZRAASS!

​Tombak itu melesat secepat kilat dan menembus tepat di tengah batang pohon raksasa beberapa meter di belakang rombongan pengungsi. Batang pohon itu retak seketika, disusul suara hantaman keras saat pohon besar tersebut tumbang ke tanah.

​Seluruh orang di tempat itu membeku. Prajurit iblis yang tadi berteriak agresif langsung menelan ludah mentah-mentah, lututnya lemas seketika.

​Haruto berbicara dengan nada suara yang datar, pelan, namun menusuk langsung ke dalam mental pendengarnya, "Kalau kalian mau bertarung... silakan maju. Tapi jangan salahkan aku atas akibatnya."

​Tidak ada teriakan marah, tidak ada ancaman berlebihan. Justru ketenangan itu membuat rasa takut mencengkeram jiwa para pengungsi perang tersebut. Prajurit yang tadinya ingin merampas langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, gemetar ketakutan.

​Elara maju mendampingi Haruto, menatap rombongan itu dengan sorot mata tegas namun penuh belas kasih.

​"Jika kalian datang ke sini sebagai tamu yang menghormati aturan tempat ini," ucap Elara tenang, "kami akan dengan senang hati membantu kalian." Ia melirik sekilas ke arah pohon besar yang baru saja tumbang. "Tapi, jika kalian datang sebagai musuh... kalian sudah melihat sendiri hasilnya."

​Pemimpin rombongan pengungsi itu akhirnya berlutut, membungkuk memohon ampun. "Maafkan ucapan bodoh bawahanku... kumohon, ampuni kami. Kami sudah dua hari tidak makan apa pun di dalam hutan ini."

​Haruto menarik napas perlahan, lalu menghilangkan tombaknya. Ia mengangguk kecil. "Masuklah."

​Di bawah pengawasan ketat, kedua belas orang asing itu dipersilakan duduk di halaman terbuka. Mereka segera diberi mangkuk berisi sup sayur hangat, potongan ikan bakar, dan sedikit porsi nasi putih.

​Jumlahnya memang sengaja tidak dibuat berlebihan, mengingat Haruto belum mengetahui latar belakang atau niat asli mereka. Namun, bagi kedua belas orang yang nyaris mati kelaparan di Hutan Kematian itu, semangkuk makanan hangat tersebut terasa seperti kemewahan tertinggi di dunia. Beberapa dari mereka bahkan tidak kuasa menahan haru, menangis dalam diam sambil menyuapkan makanan ke mulut mereka.

​Selesai makan, saat tenaga mereka sedikit pulih, Haruto langsung berbicara secara terus terang tanpa basa-basi.

​"Kalian tidak bisa tinggal di dalam rumah kami," kata Haruto tegas.

​Semua pengungsi langsung terdiam, kecemasan kembali merayap di wajah mereka.

​Namun Haruto melanjutkan kalimatnya, "Tapi, kalian juga tidak mungkin dibiarkan tidur di luar pagar hutan." Ia menunjuk sebuah area lahan kosong yang cukup luas di dekat gerbang bagian dalam. "Kita akan membuat bangunan tempat tinggal sementara di sana."

​Pekerjaan pembuatan tempat tinggal darurat langsung dimulai. Semua orang—termasuk para pengungsi yang baru saja pulih—turut dikerahkan untuk bekerja bersama.

​Haruto sengaja menyuruh mereka ikut membantu membangun tempat itu. Bukan karena ia ingin memanfaatkan tenaga orang yang sedang lemah, melainkan agar mereka merasa memiliki keterikatan dan ikut memiliki tempat berteduh tersebut.

​Menjelang sore hari, sebuah bangunan sederhana berukuran cukup besar akhirnya berdiri tegak: tiang-tiang kayu tertanam kokoh, dindingnya tersusun dari papan kayu, atapnya ditutup rimbunan daun tebal, dan lantainya berupa tanah yang dipadatkan dengan rapi. Tempat itu cukup untuk menampung dua belas orang tidur berdesakan dengan aman.

​Malam tiba dengan cepat menyelimuti desa. Di dalam rumah sementara, Haruto duduk melingkar bersama Elara dan Brom untuk melakukan evaluasi serius.

​Brom menyesap air dari cangkirnya, lalu bertanya, "Haruto, apa kau benar-benar mempercayai orang-orang asing itu?"

​Haruto menggeleng perlahan. "Belum."

​Elara mengangguk menyetujui. "Aku juga belum bisa memercayai mereka sepenuhnya."

​Haruto menatap ke luar jendela yang mengarah ke bangunan baru. "Untuk sementara waktu... mereka hanyalah tamu asing yang menumpang."

​Di dalam aula darurat, kedua belas pengungsi akhirnya dapat merebahkan tubuh dan memejamkan mata dengan tenang untuk pertama kalinya setelah bermalam-malam dihantui teror perang dan monster.

​Di luar, Mira tetap siaga berjaga di atas menara pengawas. Sementara itu, Haruto berdiri sendirian di halaman, mendongak menatap taburan bintang di langit malam Hutan Kematian.

​Desanya kini tidak lagi dihuni oleh sembilan orang saja.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah singkat berdirinya desa itu, ada orang-orang asing yang tidur di dalam pagar perlindungan mereka. Dan Haruto tahu pasti, mulai hari ini... dinamika desanya akan berubah untuk selamanya.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!