NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Jangan Sentuh Perutnya

Arkan menemukan Naya di gudang ekspedisi dekat Kemayoran.

Bukan karena polisi.

Bukan karena laporan warga.

Karena Lila menggigit tangan penculiknya dan berhasil menekan tombol darurat di jam tangan Rayyan yang diam-diam ia bawa.

Saat Arkan masuk, dua pengawalnya sudah menjatuhkan satu laki-laki. Raka menahan perempuan paruh baya di dekat pintu. Di lantai, Naya duduk bersandar pada kardus, wajah pucat, satu tangan melindungi perut, tangan lain memeluk Lila.

"Naya."

Ia membuka mata.

Begitu melihat Arkan, reaksi pertamanya bukan lega.

Ia justru menarik Lila lebih dekat.

"Jangan ambil dia."

Arkan berhenti.

Kalimat itu lebih sakit daripada luka apa pun yang pernah ia terima.

"Aku tidak akan ambil siapa pun."

Naya tertawa lemah. "Semua orang bilang begitu sebelum mengambil."

Raka menunduk. "Pak, mereka dibayar lewat rekening perusahaan cangkang. Nama penerima awal mengarah ke staf lama Pradipta."

Arkan menatap laki-laki yang terikat di lantai.

"Siapa yang menyuruh?"

Laki-laki itu meludah darah. "Saya cuma kerja."

Arkan berjalan mendekat.

Naya tiba-tiba berkata, "Jangan."

Arkan menoleh.

"Jangan pukul dia di depan Lila."

Arkan melihat Lila. Anak itu gemetar, wajahnya basah, tetapi matanya menatap semua orang.

Arkan menarik napas dan mundur.

"Bawa ke polisi. Dengan rekaman lengkap."

Pengawal menyeret laki-laki itu keluar.

Naya mencoba berdiri. Kakinya lemah. Arkan refleks maju, tetapi ia mengangkat tangan.

"Saya bisa."

Ia tidak bisa.

Setelah dua langkah, tubuhnya jatuh.

Arkan menangkapnya.

Naya memukul dadanya sekali, lemah.

"Lepas."

"Tidak."

"Bapak selalu tidak dengar."

"Kali ini aku dengar. Tapi kamu berdarah."

Naya menunduk.

Ada noda merah kecil di roknya.

Wajahnya kehilangan warna.

"Tidak..."

Arkan mengangkatnya.

"Raka, rumah sakit."

Lila menangis, "Mama sakit?"

Naya memaksa suara keluar. "Mama tidak apa-apa."

Arkan menatapnya. "Jangan bohong pada anak."

Naya menatap balik, marah dan takut bercampur.

"Kalau saya tidak bohong, dia hancur."

"Dia lebih hancur kalau semua orang dewasa terus berbohong."

Naya tidak menjawab.

Di mobil, ia memegang perutnya sepanjang jalan. Setiap guncangan kecil membuat matanya terpejam. Arkan duduk di sampingnya, tidak menyentuh kecuali ketika tubuhnya miring.

"Anak itu..." suaranya serak.

"Dokter akan periksa."

"Kalau terjadi apa-apa..."

"Tidak."

"Bapak tidak bisa bilang tidak."

Arkan menatap tangannya yang menutupi perut.

"Aku bisa berdoa."

Naya menoleh.

Ia hampir ingin tertawa. Arkan Wiratama, laki-laki yang selalu memerintah seperti dunia bisa disusun ulang dengan tanda tangan, berkata ia hanya bisa berdoa.

Itu membuatnya lebih takut.

Di IGD, dokter memeriksa cepat. Lila dibawa Raka ke ruang tunggu, tetapi anak itu menolak jauh dari pintu. Rayyan datang bersama Nenek Ratih setengah jam kemudian, masih memakai piyama.

"Mama Naya!" Ia berlari, tetapi Arkan menahannya.

"Pelan. Mama diperiksa."

Rayyan menangis marah. "Kenapa Papa tidak jagain?"

Arkan tidak membela diri.

"Papa salah."

Rayyan memukul lengannya. "Selalu telat."

Nenek Ratih memejamkan mata.

Arkan menerima pukulan kecil itu satu per satu.

Di ruang periksa, dokter akhirnya berkata, "Masih ada detak. Tapi Ibu harus istirahat total beberapa hari. Jangan stres, jangan banyak bergerak."

Naya menutup mata.

Air mata keluar.

Ia belum memutuskan apakah ia berani mencintai bayi itu, tetapi ketika mendengar detaknya masih ada, seluruh tubuhnya lemas seperti baru keluar dari air.

Arkan berdiri di sisi ranjang.

"Aku akan cari rumah aman."

"Tidak."

"Naya."

"Saya tidak mau dikurung."

"Bukan dikurung. Dilindungi."

"Bapak belum paham bedanya."

Arkan diam.

Naya menatapnya, wajah pucat tetapi mata menyala.

"Apa sebenarnya saya bagi Bapak?"

Pertanyaan itu jatuh begitu saja.

Arkan tidak siap.

Naya tertawa hambar. "Lihat? Bapak bahkan tidak tahu. Saya ibu dari anak yang mungkin anak Bapak. Perempuan yang pernah Bapak sakiti. Mantan napi yang sekarang Bapak kasih pengawal. Apa saya? Tanggung jawab? Utang? Kasus?"

"Tidak."

"Lalu?"

Arkan menatapnya lama.

Di balik kaca, Rayyan dan Lila berdiri berdampingan, dua wajah kecil yang menunggu jawaban yang bahkan tidak mereka pahami.

Arkan berkata pelan, tetapi jelas.

"Kamu perempuan yang aku inginkan tetap hidup, tetap marah, tetap ada di rumah yang sama denganku, bahkan kalau kamu tidak pernah memaafkanku."

Naya membeku.

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban jujur yang aku punya sekarang."

"Perasaan Bapak tidak bisa membayar masa lalu."

"Aku tahu."

"Tidak bisa membuat saya percaya."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa mengatakannya?"

Arkan menatap tangannya yang masih melindungi perut.

"Karena tadi, saat aku melihat kamu di gudang, aku sadar aku tidak takut kehilangan anakku saja."

Naya menahan napas.

Arkan melanjutkan, "Aku takut kehilangan kamu."

Ruangan itu sunyi.

Naya memalingkan wajah.

Air matanya jatuh, tetapi suaranya dingin.

"Terlambat, Pak Arkan."

Arkan mengangguk.

"Mungkin."

Pintu terbuka sedikit. Rayyan menyelipkan kepala.

"Boleh masuk?"

Naya cepat menghapus air mata. "Boleh."

Rayyan dan Lila masuk bersama. Rayyan memegang tangan Lila, Lila memegang boneka. Mereka naik ke sisi ranjang dengan hati-hati.

"Adik masih ada?" tanya Rayyan.

Naya menutup mata sebentar, lalu mengangguk.

Rayyan menempelkan telinga ke selimut. "Adik, jangan takut. Kakak di sini."

Lila ikut menempelkan tangan.

Naya menangis tanpa suara.

Arkan berdiri di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya, ia melihat jelas apa yang harus ia lindungi.

Bukan nama Wiratama.

Bukan calon ahli waris.

Keluarga yang belum berani menyebut dirinya keluarga.

Di luar ruang rawat, Nenek Ratih duduk dengan punggung lurus.

Bu Mira datang tidak lama kemudian, wajahnya dibuat cemas.

"Kami dengar ada penculikan. Ya Allah, mengerikan sekali. Rania sampai menangis di rumah."

Nenek Ratih menatapnya tanpa berkedip.

"Menangis karena gagal atau karena khawatir?"

Bu Mira tersentak. "Bu Ratih, tuduhan seperti itu..."

"Saya sudah terlalu tua untuk bahasa manis."

Raka datang membawa map.

"Nek, polisi sudah menerima dua pelaku. Salah satu mengaku dibayar lewat rekening atas nama sopir lama Pradipta. Tapi dia bilang perintah awal bukan dari Bu Rania langsung."

Bu Mira cepat berkata, "Dengar? Bukan dari Rania."

Raka menatapnya. "Tapi nomor yang menghubungi pelaku pernah tersambung ke ponsel staf rumah Anda."

Bu Mira menutup mulut.

Nenek Ratih berdiri pelan. "Mulai malam ini, tidak ada orang Pradipta masuk rumah saya tanpa pemeriksaan."

"Anda mengusir kami?"

"Saya membersihkan rumah."

Di dalam ruang rawat, Naya mendengar sebagian percakapan itu. Ia tidak merasa lega. Orang-orang kaya bisa mengusir hari ini dan mengundang besok kalau kepentingannya berubah.

Rayyan tertidur di kursi, kepalanya di pangkuan Arkan. Lila tidur di sisi ranjang sambil memegang tangan Naya.

Naya menatap Arkan.

"Bapak percaya keluarga Bapak sendiri tidak terlibat?"

Arkan tidak menjawab cepat.

"Aku sedang memeriksa."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tidak mau berbohong hanya untuk membuatmu tenang."

Naya menutup mata.

Jawaban itu jujur. Dan justru karena jujur, ia lebih menakutkan.

"Kalau orang dari rumah Bapak membantu Rania, saya tidak akan tinggal di sana."

"Aku tahu."

"Jangan bilang rumah aman."

"Aku tidak akan bilang."

Arkan mengusap rambut Rayyan yang tertidur.

"Tapi rumah sakit tidak bisa jadi tempat tinggal. Apartemenmu sudah diketahui. Rumah Nenek Sari tidak aman. Kalau kamu menolak rumahku, aku akan cari tempat lain dan kamu yang pilih."

Naya membuka mata.

"Kenapa baru sekarang Bapak bisa bicara seperti itu?"

Arkan tersenyum pahit. "Karena aku bodoh lebih lama dari seharusnya."

Naya hampir tertawa, tetapi rasa sakit di perut membuatnya menahan napas.

Arkan langsung berdiri.

"Kram?"

"Sedikit."

Ia memanggil dokter tanpa panik, tetapi cepat.

Naya melihatnya.

Untuk pertama kalinya, kepanikan Arkan tidak membuatnya merasa dikurung.

Mungkin karena kali ini, ia bertanya dulu sebelum menyentuh.

Dokter masuk dan memeriksa ulang.

"Tidak ada pendarahan baru. Tapi Ibu harus benar-benar istirahat."

Rayyan langsung mengangkat tangan. "Aku bisa jaga."

Dokter tersenyum. "Kamu boleh bantu dengan tidak membuat Mama khawatir."

Rayyan berpikir keras. "Itu susah."

Lila yang baru bangun berkata pelan, "Kita bisa gantian diam."

Naya tertawa kecil, lalu meringis karena perutnya tertarik.

Arkan langsung menegang, tetapi Naya mengangkat tangan.

"Saya tertawa. Bukan mau mati."

Rayyan menatap papanya. "Papa jangan panik. Mama cuma ketawa."

Arkan menghela napas.

Di tengah ketakutan malam itu, dua anak kecil justru mengajari orang dewasa cara bernapas.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!