NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Seline membeku cukup lama sampai Anya harus menyentuh sikunya.

Di depan seluruh aula, Cicely masih memegang kartu nama, menunggu jawaban Keira dengan wajah tenang. Tawaran itu bukan basa-basi. Semua orang bisa mendengarnya dari cara Cicely berdiri, dari cara ia tidak menoleh sedikit pun pada Seline.

Menjadi murid Cicely adalah pintu besar.

Bagi mahasiswa desain perhiasan biasa, itu bisa mengubah hidup.

Seline tahu itu lebih baik daripada siapa pun.

Karena pintu itu dulu terbuka untuknya.

Kini gurunya menawarkan pintu yang sama kepada Keira.

Seline menarik napas, lalu memaksa senyum kembali ke wajahnya. "Bagus dong, Kak. Kalau Kak Keira jadi murid Guru Cicely, kita bisa satu guru."

Suara itu manis.

Terlalu manis.

Kartu nama di tangan Cicely tidak bergerak.

Alvin yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju. "Tunggu dulu. Keira pernah punya masalah plagiarisme di kampus. Kalau langsung diterima sebagai murid, reputasi Bu Cicely bisa terkena dampak."

Beberapa mahasiswa langsung berbisik.

Keira menatap Alvin.

Sudah lama ia tidak merasa apa-apa ketika Alvin membuka mulut. Dulu suara laki-laki itu pernah membuat tubuh asli Keira mengecil. Sekarang, setiap kalimatnya hanya terdengar seperti pintu tua yang berderit karena engselnya berkarat.

Cicely menoleh pada Alvin. "Saya menilai karya, bukan gosip."

Alvin tersedak oleh kalimat itu.

Keira hampir ingin bertepuk tangan.

Namun ia hanya menerima kartu nama itu dengan dua tangan, membacanya sebentar, lalu mengembalikannya dengan sopan.

"Terima kasih, Ci. Tapi saya sudah punya jalan desain sendiri."

Aula kembali hening.

Seline terkejut.

Alvin juga.

Bahkan Cicely tampak sedikit mengangkat alis.

Beberapa mahasiswa saling pandang. Mereka baru saja menyaksikan seorang pemenang Piala Gemilang menolak Cicely, bukan karena takut, bukan karena sombong yang kosong, tetapi karena ia sungguh tampak memiliki arah sendiri.

Di dunia desain, penolakan seperti itu bisa dianggap gila.

Di mata Keira, itu hanya perlindungan identitas.

Keira tersenyum tipis. "Saya menghormati karya Anda. Tapi untuk saat ini, saya tidak mencari guru."

Dalam hatinya, kalimat yang lebih jujur lewat tanpa suara.

Aku adalah Liora.

Cicely adalah rival Lumina, bukan guruku.

Kalau aku benar-benar menjadi muridnya, Kairin mungkin akan terbang ke kampus membawa kontrak, kopi, dan amarah kreatif.

Cicely menatap Keira beberapa detik.

Lalu, bukannya tersinggung, ia tersenyum.

"Menarik."

Ia memasukkan kartu nama itu ke tangan Keira lagi. "Kalau berubah pikiran, hubungi saya kapan saja. Orang yang tahu jalannya sendiri biasanya justru paling layak diajak bicara."

Keira kali ini tidak menolak kartu itu. "Terima kasih."

Seline merasa lega dan kesal pada saat bersamaan.

Lega karena Keira tidak masuk ke lingkaran Cicely.

Kesal karena penolakan Keira justru membuat Cicely semakin menghargainya.

Setelah acara resmi selesai, Wulan pamit pulang lebih dulu karena ada kelas pengganti. Ia memeluk Keira singkat dan berbisik, "Lo keren. Seline kayak mau pecah tapi masih dibungkus pita."

Keira membalas, "Hati-hati di jalan."

"Jangan terlalu kalem. Bikin orang emosi."

Wulan pergi sambil melambaikan tangan.

Di sisi lain aula, Seline berdiri dengan wajah rapuh yang mulai mengundang simpati baru. Beberapa mahasiswa mendekatinya, tetapi yang paling cepat adalah Brandon.

"Sel."

Seline mengangkat wajah. Matanya sudah sedikit basah, cukup untuk terlihat terluka.

"Aku nggak apa-apa," katanya.

Brandon jelas tidak percaya. "Nggak apa-apa gimana? Tadi semua orang..."

"Jangan salahkan Kak Keira. Dia memang hebat hari ini."

Kalimat itu terdengar mulia.

Keira, yang sedang memasukkan kartu nama Cicely ke tas, hampir kagum pada konsistensi aktingnya.

Brandon mengepalkan tangan. "Tetap aja. Cara mereka ngomong ke kamu keterlaluan."

"Sudahlah. Aku cuma... sedikit lelah."

"Makan malam yuk. Aku traktir. Biar mood lu membaik."

Seline menunduk seolah ragu. Dari sudut matanya, ia melihat pintu aula tempat Gilbert baru saja pergi. Lalu ia mengangguk pelan.

"Kalau kamu tidak keberatan."

"Mana mungkin keberatan."

Brandon tersenyum lebar, hangat dan polos, seperti anak yang belum sadar sedang memegang kaca tajam.

Keira melihat adegan itu dari jauh.

Ia tidak ikut campur.

Belum.

Brandon pernah berdiri di depan Keira dengan prasangka yang dipinjam dari Seline. Hari ini, setelah melihat karya Keira menang, matanya sempat goyah. Namun satu tetes air mata Seline cukup untuk menariknya kembali ke sisi lama.

Keira tidak bisa menyelamatkan orang yang masih ingin mempercayai kebohongan.

Setidaknya belum.

Di luar Balai Kompetisi Gemilang, sore mulai turun. Sponsor dan alumni berjalan menuju parkiran. Peserta membawa kotak karya masing-masing. Keira berjalan ke gerbang kampus, berniat memesan Grab sebelum kembali ke Mansion.

Di dekat gerbang, seorang pemuda melambai ke arah Brandon.

"Bran!"

Brandon yang sedang berjalan bersama Seline langsung menoleh. "Bryan!"

Pemuda itu berlari kecil mendekat. Tubuhnya tinggi, rambutnya berantakan dengan cara yang terlihat disengaja, dan senyumnya mudah disukai. Di lehernya tergantung kalung logam sederhana dengan liontin kecil.

"Lama nggak lihat lu di kampus," kata Bryan, menepuk bahu Brandon. "Latihan Nova bikin lu makin sombong, ya?"

"Sombong gimana? Lu yang jarang nongol."

"Gue sibuk jadi calon legenda."

Brandon tertawa. "Kenalin. Ini Seline. Sel, ini Bryan Sutanto. Temen gue dari kecil, satu tim di Nova juga."

"Dari kecil itu bukan kiasan," Bryan menambahkan sambil menunjuk Brandon. "Gue tahu semua foto aib dia, termasuk waktu dia nangis karena kalah turnamen warnet."

Brandon langsung mendorong bahunya. "Jaga image gue."

"Image lu sudah kalah sejak lahir."

Mereka tertawa dengan mudah. Keakraban itu terlihat alami, terlalu lama untuk dipalsukan dalam satu pertemuan. Bahkan Seline ikut tersenyum, karena persahabatan seperti itu berarti Bryan punya posisi penting di hidup Brandon.

Seline tersenyum ramah. "Halo."

Bryan mengangguk sopan, lalu matanya sempat melewati Keira yang berdiri beberapa langkah di belakang. Ia tidak terlalu memperhatikan, hanya memberi senyum umum.

Keira hampir berjalan melewati mereka.

Gerbang kampus saat itu ramai oleh peserta yang pulang, suara motor ojek online, dan satpam yang mengatur mobil sponsor. Dalam keramaian seperti itu, satu bisikan benda biasanya mudah tenggelam. Tetapi kalung Bryan memanggil seperti logam dingin yang menyentuh tengkuk.

Keira menoleh sedikit.

Liontin itu tampak biasa saja.

Justru karena biasa, suaranya terasa lebih mengerikan.

Lalu kalung di leher Bryan berbicara.

Suaranya tidak seperti benda lain yang cerewet, manja, atau lucu.

Suara itu rendah.

Gelap.

Penuh kebencian yang sudah lama dipendam sampai berkarat.

"Kasihan sekali majikanku..."

Langkah Keira terhenti.

Kalung itu berbisik lagi.

"Sepuluh tahun berteman, tapi sekarang dia mau membunuh sahabatnya sendiri."

Keira membeku di tempat, sementara suara tawa Brandon masih terdengar dekat sekali di telinganya saat itu.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!