NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

​Danu menatap Kinan beberapa detik, disusul dengan embusan napas pendek. Ia buru-buru mengambil satu tusuk sate usus dari piring kecil di dekatnya. Dengan gerakan cepat, dia meletakkan sate itu di atas mangkuk bubur Kinan sambil memaksakan cengiran.

​"Maksud gue, semoga lu gak jatuh cinta sama dia. Biar lu gak mendadak berubah jadi cewek anggun, dan lupain sahabat lu ini," ucap Danu, kembali ke mode bercandanya. "Buruan habisin buburnya, nanti keburu dingin."

​Kinan mendengus, melempar tisu bekasnya ke arah Danu yang langsung ditangkis pria itu dengan tawa renyah.

**

​Hari Sabtu pukul sembilan pagi ibarat bencana bagi seorang Kinan.

​Di saat biasanya dia masih tergulung nyaman di dalam selimut sambil memeluk guling, hari ini Kinan justru harus berdiri tegak di tengah-tengah butik pengantin yang ber-AC dingin. Ditambah kepalanya yang mendadak terasa pening karena perdebatan tanpa akhir antara ibunya, Ibu Rina, dan ibu Arga, Tante Mira.

​"Astaga, anak ini... Jangan lemas begitu, Nan. Tegakkan bahumu!" bisik ibu Rina setengah menyikut pinggang Kinan saat Tante Mira sedang sibuk berkonsultasi dengan desainer butik di sudut lain.

​"Kinan ngantuk, Bu. Ini masih pagi banget," gumam Kinan dengan suara pelan, matanya menatap pasrah pada deretan gaun putih yang tampak sangat berat dan penuh payet di sekelilingnya.

​"Pagi bagaimana? Ini sudah jam sembilan lewat! Untung Tante Mira baik sekali mau menjemput kita tadi. Coba kalau calon mertuamu itu tipe yang menuntut, sudah dicoret kamu dari daftar menantu," omel Ibu Rina lagi, dengan tangannya yang tetap sibuk merapikan rambut Kinan.

​Kinan hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Dia merindukan ayahnya, Bapak Juna, yang saat ini pasti sedang tenang menyiram tanaman hias di teras rumah sambil menyeruput kopi hitam tanpa harus terlibat dalam pusaran sosial yang melelahkan ini. Bapak Juna adalah satu-satunya orang di rumah yang tidak pernah mempermasalahkan status pengangguran terselubung Kinan, berbeda dengan Ibu Rina yang memiliki ambisi setinggi gedung pencakar langit.

​"Kinan, Sayang, coba kemari," panggil Tante Mira dengan suara lembutnya. "Tante rasa gaun dengan potongan A-line yang simpel ini sangat cocok untuk tubuh kamu yang tinggi. Bagaimana menurutmu?"

​Kinan melangkah mendekat, mengamati gaun putih gading tanpa payet berlebih yang ditunjukkan Tante Mira. Potongannya sederhana, tidak memiliki ekor panjang yang menyapu lantai, dan yang terpenting, terlihat sangat ringan.

​"Kinan suka yang ini, Tante. Kelihatan... tidak merepotkan untuk dipakai jalan," jawab Kinan jujur.

​Ibu Rina sempat memutar bola matanya mendengar jawaban Kinan, namun dia segera menahan diri di depan calon besannya. "Iya, Mira. Pilihanmu memang selalu elegan. Ayo, Nan, cepat dicoba di dalam."

​Kinan pun pasrah diseret oleh staf butik masuk ke dalam ruang ganti yang luas dengan cermin besar di segala sisi. Butuh waktu sekitar lima belas menit bagi Kinan untuk memakai gaun tersebut dibantu oleh dua orang staf. Gaun itu berbahan satin premium yang jatuh dengan indah, menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping tanpa terkesan berlebihan. Rambut cepolnya dibiarkan tergerai lurus membingkai wajahnya yang hanya dipoles bedak tipis dan lipstik merah muda.

​Saat tirai ruang ganti ditarik terbuka, Ibu Rina dan Tante Mira langsung kompak menahan napas.

​"Ya ampun, Kinan..." Tante Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar haru. "Kamu cantik sekali, Nak."

​Ibu Rina bahkan sampai berkaca-kaca, mendadak melupakan semua omelannya. "Anak Ibu... ternyata kalau dandan dengan benar bisa jadi perempuan juga," bisiknya dramatis, membuat Kinan refleks meringis kecil mendengar pujian yang agak menyindir itu.

​Tepat saat Kinan hendak melangkah turun dari podium tempatnya berdiri, pintu kaca butik berdenting terbuka.

​Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar masuk, diikuti oleh suara berat yang sangat familier bagi Kinan.

​"...Yes, I understand the risk, but we need to lock the server integration before Monday. Tell the Singapore team to hold the deployment until I arrive."

​Arga Draken melangkah masuk ke dalam butik dengan gaya yang sangat berbeda dengan ketenangan tempat itu. Dia mengenakan kemeja biru tua, sebelah tangannya memegang tablet, sementara telinganya masih terdapat earphone nirkabel. Pria itu tampak sangat sibuk.

​"Arga, akhirnya kamu datang juga! mama pikir kamu lupa jalan ke sini," tegur Tante Mira setengah bercanda.

​Arga melepaskan satu earphone-nya, lalu mematikan sambungan telepon di tabletnya. "Maaf, mam. Ada meeting darurat dengan tim teknis yang tidak bisa ditunda. Saya..."

​Kalimat Arga mendadak terputus di udara.

​Langkah kakinya terhenti tepat tiga meter di depan podium ruang ganti. Matanya yang tajam di balik kacamata langsung tertuju pada sosok gadis yang berdiri mengenakan gaun pengantin.

​Arga terdiam. Bahkan tablet di tangannya perlahan diturunkan ke sisi tubuhnya. Dia menatap Kinan dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip.

​Gadis itu terlihat sangat anggun dan sempurna. Dengan rambut hitamnya yang tergerai membuat wajahnya terlihat jauh lebih lembut dari biasanya.

​Kinan yang ditatap sedalam itu mendadak merasa salah tingkah. Dia merapatkan jemarinya di sisi gaun, lalu berdehem kecil.

​"Bagaimana, Pak CEO?" tanya Kinan dengan nada santai khasnya. "Apakah desain gaun ini sudah memenuhi standar operasional pernikahan kita?"

​Pertanyaan sarkas Kinan berhasil menarik kesadaran Arga kembali.

​Arga tersentak kecil, lalu buru-buru membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang agak kikuk. Ia berdehem keras, berusaha mengembalikan ekspresi datarnya, meski telinganya perlahan mulai memerah di balik helaian rambutnya.

​"Ya," jawab Arga singkat, sebelum dia berdehem sekali lagi. "Potongannya... cukup praktis. Tidak akan menghambat waktu jika dipakai berjalan dengan langkah kamu yang lambat itu."

​Kinan mendengus dalam hati. Benar-benar manusia korporat sejati, pikirnya.

​Sedangkan para ibu kini sedang menatap mereka berdua dengan senyuman penuh arti.

​"Nah, karena Arga sudah datang dan bajunya juga sudah pas, bagaimana kalau kita sekalian makan siang bersama?" usul Tante Mira penuh semangat.

​Ibu Rina langsung mengangguk setuju. "Ide bagus, Mira. Biar anak-anak ini juga bisa mengobrol lebih banyak."

​Kinan mengerang dalam hati. Makan siang formal di restoran dengan energiku yang tinggal lima persen? Astaga... Aku lelah sekali, keluhnya nelangsa.

​Arga melirik jam tangan digitalnya, lalu menggeleng sopan. "Maaf, mam, Tante. Jadwal saya setelah ini sudah penuh. Tiga puluh menit lagi saya harus meninjau lokasi proyek baru di Jakarta Barat."

​Kinan hampir saja mengembusen napas lega secara terang-terangan jika Ibu Rina tidak melotot ke arahnya.

​"Kalau begitu, Arga pergi dulu. Besok pagi saya akan menjemput Kinan jam delapan tepat untuk sesi foto studio," sambung Arga datar, memberikan anggukan formal kepada Ibu Rina sebelum berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Kepergiannya disusul suara beratnya yang kembali terdengar berbicara dalam bahasa Inggris begitu melangkah keluar pintu butik.

​Kinan menatap punggung tegap itu dengan dahi berkerut. Jam delapan tepat? Aaahh... Manusia korporat itu, yang benar saja dia! ucap batinnya merana.

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!