NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 27 Naga Paraha

Setelah mendapat izin dari Azhmar, Lintha lalu turun ke dalam kegelapan jurang. Dia tidak perlu tali, cukup bermodal obor cahaya di tangan kanan.

Lintha tidak perlu tali pengaman untuk turun ke dasar jurang Kandang Jurang. Masih ingat di Bukit Seratus Lubang ketika dia mencari suaminya? Lintha memiliki kelebihan bisa berlari tegak horisontal di tebing batu yang vertikal. Maka, ia pun melakukan hal yang sama pada tebing jurang. Dia berlari turun dengan kedua telapak kaki seperti memiliki daya perekat super-super kuat pada batu tebing jurang.

Di dasar jurang ada pula setitik cahaya terang warna putih. Semakin Lintha dekati maka terlihatlah sosok Azhmar yang menunggu di dasar. Sedangkan obor cahaya dipegang oleh salah satu pengawal pribadinya, yaitu Cukur.

“Owwek owwek!”

Jleg!

Tepat ketika Lintha hendak sampai di dasar, ada beberapa suara aneh tapi seragam, meski tidak kompak ritmenya.

Penerangan dari obor cahaya membuat Lintha bisa melihat, selain Azhmar dan Cukur, ada tiga binatang berkaki empat di dekat mereka yang menyalak seperti anjing.

Binatang itu berkulit tebal seperti badak mungil berwarna hijau gelap. Punggungnya berbentuk seperti pelana dan memiliki tanduk pendek di pundaknya. Keempat kakinya lebih tebal dari kaki kambing dan juga berkulit tebal. Kepalanya semodel macan, tetapi tidak memiliki kumis dan taring yang menakutkan.

Ketiga binatang itulah yang menyalak “owwek owwek” seperti bayi yang marah-marah. Binatang itu dikenal dengan jenis tomel, tapi lebih dikenal dengan nama macan ompong gegara tidak punya taring seruncing harimau. Tinggi punggungnya sepinggang Azhmar.

Lintha sudah tahu bahwa Keluarga Rungga Zamar berternak tomel. Selaku hewan ternak, tomel jelas salah satu hewan yang diperjualbelikan karena dagingnya dikonsumsi.

Tomel dikenal sebagai hewan yang galak di suara saja, tapi tidak suka menyerang orang baru. Terlebih Lintha bukan orang baru. Lintha sudah beberapa kali datang ke Kandang Jurang.

Setelah Cukur menenangkan ketiga tomel itu, barulah mereka berhenti menyalak.

“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanya Azhmar.

“Semua baik-baik saja. Selain Perwira Singa menemuiku, Laksamana Pasukan Penguasa Ombak juga menemuiku di tengah lautan. Di pantai pun aku bertemu dengan komandin Zirah Ungu dan pasukannya,” lapor Lintha.

“Dengan dia menjadi buronan Istana Elindra, dia tidak akan berani datang lagi ke sini. Kita harus bersabar untuk menunggu manusia lain yang lebih sakti datang sebagai pengacau,” kata Azhmar.

“Jika kita menunggu, Istana akan lebih dulu memasang kembali pengaman yang terbuka, Ketua,” kata Lintha.

“Tidak. Kau harus tahu, Komandan. Dibutuhkan waktu paling cepat satu tahun untuk memasang pengaman segel karena itu dilakukan hanya oleh beberapa orang demi terjaganya kerahasiaan,” jawab Azhmar sambil berjalan pergi.

Lintha mengiringi dan Cukur mengikuti. Demikian pula ketiga tomel piaraannya.

Tidak berapa lama, mereka sampai di sebuah tempat yang lebih bercahaya, yaitu area kandang-kandang berjeruji balok kayu bulat-bulat yang rapi. Kanan dan kiri adalah kandang beratapkan langit-langit batu. Setiap kandang memiliki sejumlah obor cahaya yang lebih kecil, membuat suasana kandang terlihat terang dan jelas.

Di setiap kandang ada sekitar sepuluh tomel dengan keluasan yang longgar. Tomel-tomel itu tampak banyak yang tengkurap di tanah atau meringkuk seperti kucing tidur. Bahkan ada yang tidurnya terlentang bebas seolah-olah dunia milik sendiri, tidak risih memperlihatkan jenis kelaminnya.

Kandang Jurang itu memiliki puluhan kandang.

Mereka terus berjalan melewati antara kandang. Sesekali terlihat ada pekerja yang sedang bekerja di dalam kandang. Entah apa yang dilakukannya di saat para tomel itu di masa tidur?

Akhirnya mereka masuk ke area yang lain lagi, yaitu lorong.

“Pulau Kurayu menjadi lokasi pembuka pengaman kedua,” ungkap Azhmar.

“Tapi, bukankah pulau itu termasuk pulau milik Keluarga Istana?” kata Lintha.

“Benar. Kita tidak akan bisa masuk ke sana, kecuali penjahat. Karena itu, setelah kepulangan suamimu, kita sedang menunggu penjahat dari negeri manusia. Aku akan segera mencari tahu tentang daun taring tunggal yang menjadi kunci pengaman kedua,” kata Azhmar.

Akirnya mereka berhenti di depan dinding teralis besi raksasa. Tebal satu batang teralis sebesar satu pelukan hangat Lintha. Celah antara dua teralis hanya selebar miringan badan Azhmar. Lintha akan sulit melewati celah itu.

Di balik dinding teralis adalah sebuah ruangan batu yang luas dengan langit-langit yang tinggi. Ada lampu cahaya di beberapa titik dinding yang saling berjauhan, tetapi cukup memberi gambaran ruangan yang mirip penjara raksasa tersebut. Dasar ruangan itu jauh lebih dalam dari dasar jurang tersebut.

“Naga Paraha sudah semakin dewasa,” kata Lintha saat melihat makhluk penghuni tempat itu.

Di tempat itu ada sesosok makhluk raksasa berkulit warna biru gelap, bertanduk bercabang-cabang seperti tanduk kijang. Kepalanya yang besar menyeramkan dengan dua lubang hidung yang juga besar, tampak sedang tertidur. Cahaya tidak begitu memperjelas fisiknya karena posisinya di titik yang cukup gelap. Namun, dapat dilihat bahwa dia memiliki bagian belakang yang berupa badan ular besar berwarna merah gelap. Mungkin bisa disebut ekor dengan panjang beberapa meter.

Binatang itu dikenal sebagai jenis naga. Naga milik Azhmar tersebut dinamai Paraha.

Wik wik wik!

Naga Paraha tampak lelap dalam tidurnya, meski di sekitarnya ada sejumlah lolot yang berkeliaran. Apakah sekedar berjalan ke sana ke mari atau sedang saling bermain seperti sepasang anak kucing.

“Lima, delapan, dua belas,” sebut lintha menghitung jumlah lolot yang ada di kandang raksasa tersebut.

Selain itu, ada juga beberapa telur lolot yang berserak. Di antaranya adalah tiga telur lolot milik Purwasaga.

“Sifat Naga Paraha akan terwariskan kepada semua lolot yang diasuhnya. Mereka nantinya tidak akan takut dengan cahaya terang dan kelak bisa berkeliaran di dunia luar saat siang hari,” jelas Azhmar.

“Jika mewarisi sifat Naga Paraha, berarti mereka akan menjadi lebih buas dari lolot biasa?” terka Lintha.

“Benar.”

“Apakah suatu saat nanti kau akan menggunakan Naga Paraha untuk menyerang Istana?” tanya Lintha.

“Jika aku butuhkan. Tapi, Naga Paraha masih membutuhkan waktu untuk menjadi semakin buas. Tidak bisa terbang bebas membuat kemampuannya masih jauh dari harapan. Aku hanya bisa membawanya terbang di saat tengah malam agar tidak ada yang melihatnya,” kata Azhmar.

“Setahuku, hati ikan hitam bisa memancing sifat ganas seseorang,” kata Lintha.

“Tapi ikan itu jarang ada di Elindra,” kata Azhmar.

“Ketua, kau bisa meminta Rungga Zamar untuk membeli di Negeri Ofu,” saran Lintha.

“Sepertinya bisa,” ucap Azhmar setelah diam berpikir sebentar atas usulan anak buahnya itu. Lalu katanya, “Tidak usah pergi ke Pulau Hekhek. Tidak membawakannya makanan sampai purnama tiba tidak akan membuatnya mati. Di sana banyak cacing hekhek dan burung kekitik kitik. Laut juga menyediakan ikan yang banyak. Datanglah sehari sebelum purnama tiba untuk memastikan dia tidak ditemukan oleh pasukan Elindra dan memastikan dia pulang ke negerinya.”

“Baik, Ketua,” ucap Lintha patuh. (RH)

1
rajes salam lubis
lanjut om jangan Malu malu
rajes salam lubis
nenek buyut sandaria mungkin om
rajes salam lubis
aseeekkk....
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi
rajes salam lubis
terbayang bayang hingga terbang
rajes salam lubis
berarti seperti telur ceplok la y
rajes salam lubis
alaamaak parah bener,,, tapi lebih parah si om,sampai cawatnya aja tau kebalik di dalam
rajes salam lubis
adeknya Dadung kulo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sampai bingung mau komen apaan Om kenapa kagak ada kodok emas 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wahhh pada penasaran sama cerita Purwasaga yang pernah berada di negeri Elindra jangan sampai dicurigai nanti mau memberontak 🤔
👣Sandaria🦋
nanti saat bulan madu kita, aku mau istilahnya meteor madu ya, Om😉🤧
👣Sandaria🦋
apakah ini artinya Om lebih ganteng dibanding Sukrowo, Om?🤔
rajes salam lubis
khawatir boleh,cemas jangan
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
hahaha
rajes salam lubis
durian goreng???
Om Rudi: hahahahaha bisa dicoba🤣🤣
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
atu aja sayangnya gak abis2 ya om 😍🤩
Om Rudi: betuuuul
total 1 replies
👣Sandaria🦋
kalau pegangan cinta Om "nyawa tidak berharga. selingkuhan harus bahagia"🤧
Om Rudi: setuju sih, tapi....
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ada hubungan dengan Sanggana, Om? cerita di sebelah kemarin ya?🤔
Om Rudi: heheheheh iya
total 1 replies
👣Sandaria🦋
valid infonya nih, Om? bukannya menguasai pasukan yg sedang mati di Elindra?🤔
Om Rudi: meragukan, habis yg cerita dia
total 1 replies
👣Sandaria🦋
akrab dengan Om juga perkara membanggakan bagi aku yg hanya perempuan paling cantik nomor 3 sesumatera ini, Om🙄
Om Rudi: Om lupa yg paling cantik pertama sama yg kedua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!