saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22. kabar yang menghancurkan harapan
Kabar itu datang tiba-tiba, tanpa diduga, dan dari mulut orang yang sama sekali tidak terlibat dalam benang kusut perasaan mereka. Sore itu, saat Raka sedang duduk di beranda rumah sambil mencoba menenangkan pikiran yang kacau, telepon gawainya berdering. Nama penelepon itu adalah Dimas teman lama mereka bertiga sewaktu sekolah dulu, yang kini bekerja di kota terdekat dan jarang berkunjung ke desa. Raka mengangkatnya dengan perasaan kosong, tak menyangka bahwa percakapan singkat ini akan mengubah segalanya.
“Halo, Ka! Apa kabar? Lama tak jumpa, nih,” sapa suara ceria dari seberang sana.
“Kabar baik, Dim. Kau sendiri bagaimana? Sedang di desa atau masih di kota?” jawab Raka datar.
“Masih di kota, baru saja urus pekerjaan. Kebetulan sekali aku mau cerita tadi siang aku lihat pacarmu lewat di dekat taman kota, lho. Zahra, kan? Dia jalan berdua sama orang yang gagah, berbrewok rapi, kayaknya sahabatmu itu, Rendra. Mereka kelihatan akrab sekali, jalan beriringan sambil tertawa. Aku sempat mau menyapa, tapi takut mengganggu kalau mereka lagi ada urusan penting,” ujar Dimas santai, mengira itu hanya hal biasa.
Namun bagi Raka, kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong. Tubuhnya kaku seketika, napasnya tertahan.
“Kau... yakin benar itu Zahra dan Rendra? Berdua saja?” tanyanya dengan suara yang bergetar, berharap ia salah dengar.
“Pasti benar, Ka. Wajah Zahra tidak mungkin aku lupa, dan ciri khas brewok Rendra itu juga unik sekali. Mereka terlihat sangat dekat, bahu mereka hampir bersentuhan. Maaf ya kalau aku salah bilang, tapi itu yang kulihat langsung,” jelas Dimas jujur.
Raka tidak sanggup menjawab lagi. Ia hanya mengucapkan terima kasih dengan suara tercekat, lalu mematikan sambungan telepon itu perlahan. Pikirannya kini berputar kacau semua kebohongan, alasan yang dibuat-buat, pesan yang disembunyikan, perubahan sikap, hingga keinginan putus yang tiba-tiba... semuanya kini terhubung menjadi satu kenyataan pahit yang tak bisa lagi ia sangkal.
Raka mencoba menyusun ingatannya satu per satu. Ia teringat saat Zahra bilang ia hanya diam di rumah membantu ibu Rendra selama Raka pergi. Ia teringat alasan Zahra menunda atau mematikan telepon dengan dalih sedang lelah atau sibuk. Ia juga teringat saat Rendra menawarkan diri mengantar Zahra ke kondangan dan setelah itu, tidak ada cerita rinci, tidak ada foto, tidak ada penjelasan tentang bagaimana perjalanan mereka berdua.
Ternyata itu bukan sekadar kondangan. Ternyata itu awal dari semua rahasia. Mereka berjalan berdua, pergi ke kota, menikmati waktu bersama, dan menyembunyikannya darinya seolah ia orang asing yang tidak berhak tahu. Raka merasa hatinya diremas kuat bukan hanya karena dikhianati kekasihnya, tapi juga karena dikhianati sahabat yang selama ini ia percaya nyawanya sendiri.
“Kau berjanji akan menjaganya, Ren. Kau bilang kau menganggapnya seperti saudaramu sendiri. Lalu kenapa kau membawanya jalan berdua ke kota tanpa sepengetahuanku? Kenapa kalian bersembunyi seperti orang yang bersalah?” batin Raka, matanya memerah menahan amarah dan kesedihan yang meluap.
Tanpa menunggu lama, Raka berjalan cepat menuju halaman samping tempat ia melihat Zahra sedang duduk bersama Rendra. Momen itu terlihat biasa saja Rendra sedang menunjuk sesuatu di buku catatan, dan Zahra menyimak dengan lekat, wajahnya tenang dan damai. Pemandangan itu saja sudah cukup membuktikan bahwa kedekatan mereka bukan sekadar tugas menjaga.
“Jadi begitulah kenyataannya,” suara Raka terdengar dingin dan tajam, memecah keheningan.
Keduanya menoleh kaget. Zahra wajahnya seketika pucat pasi, sementara Rendra perlahan menutup bukunya dan menatap Raka dengan pandangan yang sudah siap menghadapi apa pun.
“Ka... kau dengar dari mana?” tanya Zahra lirih, tahu bahwa pembohongannya sudah habis.
“Dari teman yang melihat kalian berjalan berdua di kota tadi siang. Berdua saja, tertawa bersama, seolah kalianlah pasangan yang sesungguhnya. Lalu aku? Aku hanya orang bodoh yang menunggu kabar, yang percaya pada alasan-alasan palsu kalian!” bentak Raka, emosinya tak lagi bisa dibendung. Ia menatap tajam ke arah Rendra. “Dan kau, Ren... kau sahabatku. Orang yang paling aku percaya di dunia ini. Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau diam-diam mendekati Zahra di belakang punggungku?”
Rendra berdiri perlahan, wajahnya tidak tampak membela diri, melainkan penuh penyesalan namun tetap tegas.
“Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, Ka. Awalnya aku hanya ingin membantu, menjaganya saat kau pergi. Tapi perasaan tidak bisa dipaksa. Dan Zahra... dia juga sudah berusaha jujur padamu dengan meminta putus waktu itu. Hanya saja kau menolak mendengarnya,” jawab Rendra tenang namun lugas.
“Jadi benar semua dugaan ini? Kalian memang sudah saling mendekat, sudah sering jalan berdua, sudah menyembunyikan banyak hal dariku?” tanya Raka lagi, matanya beralih ke Zahra yang menangis diam-diam.
Zahra mengangguk pelan, tak sanggup lagi berbohong. “Benar, Ka. Maafkan aku... aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi hatiku sudah berubah, dan aku tidak sanggup lagi berpura-pura mencintaimu sementara hatiku sudah condong ke lain hati.”
Kata-kata itu membuat Raka terdiam lama. Ia melihat ketulusan di mata Zahra, namun melihat juga ketegasan di mata sahabatnya sendiri. Ia sadar, pertarungan ini bukan tentang siapa menang atau kalah, melainkan tentang kenyataan bahwa dua orang yang paling berharga baginya telah membangun dunia baru tanpa dirinya.
“Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Ren?” ujar Raka dengan suara parau. “Bukan kau mencintai Zahra. Tapi kau menyembunyikan nya dariku. Kau membiarkanku berharap, membiarkanku percaya persahabatan kita masih utuh, padahal kau sudah mengambil separuh hidupku.”
“Aku tahu aku salah, Ka. Aku sudah berusaha menahan diri, menjaga jarak... tapi semakin aku menahan, semakin kuat perasaan ini. Aku tidak berniat merebut, tapi aku juga tidak bisa memaksakan hatiku untuk berhenti,” jawab Rendra rendah.
Suasana menjadi hening dan berat. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang tahu harus berkata apa lagi. Di kejauhan, Rana yang melihat semuanya dari balik jendela hanya bisa menghela napas panjang kini rahasia itu sudah terbuka sepenuhnya, luka di hati Raka pun mulai tergores, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu.
Malam itu, tidak ada lagi rahasia. Kabar dari teman lama itu menjadi kunci yang membuka pintu kenyataan pahit. Raka akhirnya paham mengapa Zahra berubah, mengapa Rana menjauh, dan mengapa Rendra selalu ada di dekat Zahra. Ia merasa dikhianati, namun di sisi lain ia juga mulai menyadari bahwa memaksakan hubungan yang sudah tidak ada rasa cinta hanya akan menyakiti dirinya sendiri lebih lama lagi.
Namun bagi Raka, menerima kenyataan ini bukan hal mudah. Ia harus berjuang melawan rasa kecewa pada sahabat sekaligus rasa kehilangan pada wanita yang dicintainya. Dan bagi Zahra serta Rendra, meski kini jujur, mereka pun harus siap menghadapi konsekuensi nama baik persahabatan yang ternoda, penilaian orang sekitar, serta tanggung jawab untuk membuktikan bahwa perasaan mereka bukan sekadar kesalahan sesaat.