NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Suara Gamelan yang Membuai Tidur

Setelah kabut asap hitam lenyap tertiup angin malam, suasana di perbatasan Desa Sindangasih kembali sunyi—namun kali ini terasa lebih berat, seolah udara pun dipenuhi rasa kantuk yang halus tapi menusuk tulang. Cepot masih berdiri dengan posisi agak jongkok, tangannya masih memegang erat gagang Golek Pancasona yang perlahan meredup cahayanya kembali. Dawala turun dari atas batu besar dengan kaki sedikit gemetar, napasnya terengah-engah sambil mengelap keringat dingin di dahinya.

“Ya ampun, Kang Cepot! Tadi bilang ular itu cocok dijadikan ikat pinggang, eh nyaris malah jadi santapan mereka saja!” seru Dawala sambil menepuk-nepuk debu di bajunya. Suaranya masih terdengar sedikit bergetar karena sisa ketakutan.

Cepot berdiri tegak kembali, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan malu. “Ih, itu cuma gaya biar kelihatan gagah, lah! Mana ada orang berani langsung tanpa persiapan. Untung saja pusaka warisan ini tahu kapan harus bekerja, kalau tidak bisa-bisa kita pulang cuma tinggal tulang belulang saja, hehehe.”

Mereka pun melangkah masuk lebih dalam ke dalam desa. Jalan setapak yang tadinya tertutup kini terbentang lurus, diapit oleh deretan rumah panggung yang terlihat sepi—pintu dan jendelanya tertutup rapat. Tidak ada suara anak-anak bermain, tidak ada suara ayam berkokok atau orang mengobrol; hanya suara angin yang berdesir lembut di sela-sela atap ijuk.

Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara lembut mengalun dari arah tengah desa. Suara itu seperti irama gamelan yang lambat, merdu tapi terasa asing, mengambang di udara seperti kabut tipis. Semakin mereka berjalan mendekat, iramanya semakin jelas dan terasa meresap masuk ke dalam telinga, bahkan sampai ke dalam tulang sumsum.

“Kang… dengar itu?” bisik Dawala, matanya mulai terasa berat seolah kelopak matanya terikat benang yang ingin ditarik turun. “Suara apa yang merdu sekali… rasanya badan jadi ringan, ingin sekali duduk dan memejamkan mata sebentar saja…”

Cepot pun merasa hal yang sama, tapi ia segera teringat pesan Jin Caplak tadi. Ia menggigit bibirnya sendiri sampai terasa sedikit perih, berusaha melawan rasa kantuk yang mulai menyergap. “Ingat pesan Jin Caplak tadi, Da! Kalau kita ikut terbuai, bisa-bisa jiwa kita dihisap seperti warga desa ini. Ayo, pegang pundakku erat-erat, jangan sampai lepas! Tetap sadar, jangan sampai lengah!”

Dawala terkejut mendengar peringatan itu, rasa kantuknya sedikit memudar. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras sambil berkata, “Benar juga kata Kang! Rasanya kepala jadi pusing dan ingin tidur terus tanpa sadar. Kalau begini terus, kita bisa celaka juga.”

Mereka terus melangkah dengan susah payah, seolah berjalan melawan arus air yang deras. Semakin dekat ke pusat desa, terlihat sebuah balai pertemuan besar yang diterangi cahaya kuning redup dari pelita yang tergantung di tiang. Di depan balai itu berdiri seorang wanita anggun mengenakan kebaya berwarna merah darah, rambutnya terurai panjang sampai ke pinggang. Wajahnya cantik mempesona, namun matanya kosong tanpa sorot, sedang memetik alat musik kecil yang mengeluarkan irama gamelan yang membahayakan itu.

Itulah Nyai Ronggeng Sukma.

Begitu melihat kedatangan kedua bersaudara itu, Nyai Ronggeng berhenti memetik senarnya. Ia menoleh perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya yang merah. Suaranya merdu seperti suara burung tapi terasa dingin menusuk hati.

“Wah… tamu dari mana datangnya? Jarang ada yang sanggup menembus kabut dan melawan buaian iramaku. Kalian pasti memiliki sesuatu yang istimewa, bukan?” katanya perlahan, suaranya pun mengandung sihir yang halus.

Cepot melangkah maju sedikit, tangannya tetap siap memegang gagang Golek Pancasona, tapi wajahnya tetap santai seolah sedang mengobrol biasa. “Kami datangnya dari kaki Gunung Karang, Nyai. Cuma lewat saja, ingin melintasi desa ini untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kenapa desanya sepi senyap seperti kuburan saja? Semua orang tidur sampai tidak bangun-bangun? Apakah mereka sangat lelah bekerja sampai begini?” tanya Cepot sambil pura-pura tidak tahu apa-apa.

Nyai Ronggeng tertawa renyah, tapi tawanya tidak sampai ke matanya. “Hahaha… Mereka tidak tidur karena lelah, anak muda. Mereka sedang beristirahat abadi, menyiapkan tenaga untuk melayani tuanku, Ki Burak, saat ia bangkit kembali. Dan kalian… boleh saja ikut bergabung bersama mereka. Rasanya sangat tenang, tidak ada beban pikiran, tidak ada rasa sakit sama sekali…”

Belum selesai wanita itu bicara, Dawala sudah memotong dengan nada takut tapi berani. “Jangan mencoba merayu kami! Kami tahu maksud Nyai! Tidur seperti itu bukan tidur yang menyegarkan tubuh, tapi tidur yang tidak akan membangunkan kita selamanya!”

Nyai Ronggeng menatap Dawala dengan pandangan tajam. “Anak kecil banyak bicara rupanya. Kalau tidak mau tidur dengan tenang, maka aku akan memaksa kalian terlelap selamanya!”

Ia kembali memetik senar alat musiknya dengan cepat. Irama yang keluar kali ini lebih kencang dan memusingkan, melayang seperti ombak yang menghantam tubuh Cepot dan Dawala. Kedua bersaudara itu terhuyung-huyung, telinga mereka berdenging hebat. Kepala Cepot terasa melayang, matanya mulai berkunang-kunang.

“Kang… kepalaku terasa berat sekali… rasanya ingin duduk saja dan memejamkan mata…” gumam Dawala, kakinya mulai terasa lemas ingin meluruh ke tanah.

Cepot menggigit lidahnya sendiri sampai terasa asin darah mengalir sedikit ke mulutnya. Rasa sakit itu membangunkan kesadarannya seketika. Ia berteriak keras agar semangatnya dan adiknya tetap menyala. “Ingat, Da! Tubuh adalah tempat tinggal jiwa. Kalau jiwa pergi meninggalkan tubuh, maka jadilah mayat yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi! Kita harus bertahan!”

Ia lalu mengangkat Golek Pancasona setinggi dada, berbicara dengan penuh keyakinan. “Wahai pusaka warisan leluhur! Jika ada kekuatan yang berniat merusak kedamaian dan mengambil nyawa orang tak bersalah, tunjukkanlah kekuatanmu! Usirlah kegelapan dan hancurkanlah sihir yang mempesona ini!”

Sekali lagi, pusaka itu bereaksi. Dari lubang matanya yang pahatan, memancar cahaya putih keemasan yang lebih terang dari sebelumnya—sampai-sampai menerangi seluruh lapangan desa, membuat pelita-pelita terlihat redup seperti lilin kecil. Cahaya itu menyapu suara irama gamelan yang jahat itu, membuatnya terputus-putus dan akhirnya lenyap sama sekali, digantikan oleh suara angin yang berhembus segar.

Nyai Ronggeng menjerit kesakitan saat cahaya itu menyentuh tubuhnya. Ia mundur tergesa-gesa, tangannya menutupi wajah yang mulai terasa panas terkena sinar suci itu. “Tidak mungkin… benda apa ini?! Sinar ini membakar kekuatanku!”

Cepot tersenyum miring, lalu melangkah maju dengan gagah—meski sebenarnya kakinya masih agak gemetar juga. “Ini? Namanya Golek Pancasona, warisan leluhur yang tidak suka melihat makhluk jahat mempermainkan hidup orang lain. Dengar baik-baik, Nyai! Kami datang bukan untuk berkelahi kalau bisa damai, tapi kalau dipaksa melawan, kami juga tidak akan mundur selangkah pun!”

Ia lalu melanjutkan dengan nada mengejek yang khas, tetap santai agar ketegangan berkurang sedikit. “Ngomong-ngomong, alat musiknya bagus juga bentuknya, tapi nadanya bikin pusing kepala dan perut terasa mual. Coba saja dipakai untuk hal yang baik, bukan untuk menipu orang tidur terus. Ibaratnya memasak nasi: kalau terlalu matang jadi hangus, kalau kurang matang masih keras. Begitu juga kekuatan sihir, kalau dipakai sembarangan justru merugikan diri sendiri pada akhirnya!”

Dawala yang sudah mulai tenang kembali ikut menyahut dengan nada polos tapi menggelikan. “Benar kata Kang Cepot! Nyai juga pakai baju yang bagus dan indah warnanya, tapi wajahnya terlihat pucat dan lelah sekali. Kalau ingin tetap kuat dan cantik, tidak perlu mengambil tenaga orang lain. Lebih baik cari makan di kebun—ada singkong, ada ubi, ada pisang juga, rasanya enak dan tidak membawa dosa sama sekali!”

Mendengar ejekan yang tidak terduga itu, Nyai Ronggeng makin geram sekaligus bingung. Ia tidak pernah bertemu lawan yang sedang dalam bahaya besar tapi masih bisa bercanda seenaknya. Dengan sisa kekuatannya yang mulai menyusut, ia mengangkat kedua tangannya, memanggil kabut hitam pekat untuk melindungi dirinya.

“Kalian kira hanya dengan cahaya itu bisa menghentikanku? Aku adalah pelayan setia Ki Burak! Ia akan bangkit dan menghancurkan tempat ini, dan kalian hanyalah debu yang akan terhembus angin!” bentaknya, suaranya kini berubah menjadi parau dan bergema.

Namun sebelum ia sempat melancarkan serangan balik, dari balik kabut hitam itu terdengar suara cekikikan kecil yang sudah mereka kenal. Sesosok asap berubah wujud menjadi Jin Caplak, muncul sambil menggaruk perutnya dan tersenyum lebar.

“Wah, wah… ternyata kalian sudah sampai sejauh ini juga! Cepat sekali jalannya, lebih cepat dari yang aku perkirakan!” kata Jin Caplak sambil melirik Nyai Ronggeng dengan pandangan setengah kasihan. “Eh, Nyai, jangan terlalu sombong juga. Pusaka yang mereka pegang itu bukan sembarangan barang. Bahkan Ki Burak pun dulu ketakutan menghadapinya, lho. Masih ingin melanjutkan pertarungan?”

Nyai Ronggeng terkejut melihat Jin Caplak hadir membantu mereka. “Kau… kau pengawal jalan! Mengapa berkhianat pada tuanku?!”

Jin Caplak mengangkat kedua tangannya tanda pasrah, lalu menjawab dengan gaya santai seperti biasa. “Wah, jangan bilang begitu! Aku ini cuma disuruh jaga pos dan memberi peringatan, bukan disuruh ikut menghisap nyawa orang. Aku juga makhluk yang butuh istirahat dan hidup tenang, lho! Kalau terus-terusan menakuti orang dan menyiksa warga desa, rasanya tidak enak di hati. Lagian, melihat mereka berdua yang hatinya bersih dan tetap berani meski ketakutan… aku jadi kasihan melihat keadaan desa ini. Lebih baik menjaga kebenaran daripada ikut terjerumus dalam kesalahan, bukan?”

Ia melanjutkan sambil cengengesan. “Lagipula, kalau Ki Burak benar-benar bangkit nanti, siapa yang tahu dia akan membagi rezeki atau malah menjadikan kita semua santapannya? Lebih baik memilih jalan yang aman dan tidak menyakiti orang lain saja, menurutku.”

Dengan bantuan Jin Caplak dan kekuatan Golek Pancasona yang terus memancarkan cahaya, kabut hitam di sekitar Nyai Ronggeng mulai menipis. Kekuatannya makin melemah hingga ia tidak sanggup berdiri tegak lagi. Ia jatuh berlutut, matanya perlahan kembali mendapatkan pandangan aslinya—penuh kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

“Sudah lama… aku terikat janji yang salah… terjebak dalam kegelapan karena takut kehilangan kekuatanku sendiri…” bisiknya lemah. “Jika cahaya ini dapat membebaskanku dari ikatan itu… biarkan aku kembali ke tempat asal, dan kembalikanlah warga desa ini pada tidur yang nyenyak dan alami…”

Nyai Ronggeng pun perlahan berubah menjadi kabut berwarna perak, melayang naik ke langit malam dan menghilang bersama angin yang membawa hawa segar. Saat itu juga, irama yang membahayakan lenyap sepenuhnya. Dari rumah-rumah di sekitar desa, mulai terdengar suara napas teratur yang tenang—tidur yang wajar, bukan tidur abadi lagi.

Cepot menurunkan Golek Pancasona yang akhirnya berhenti bersinar dan kembali menjadi kayu biasa seperti sedia kala. Ia menghela napas panjang sambil tersenyum lega. “Syukurlah… selesai juga urusan ini. Kita berhasil, Dawala!”

Dawala melompat senang sambil menepuk pundak kakaknya itu pelan. “Hebat sekali, Kang! Pusakanya kuat, akal pikiran Kang juga tidak kalah hebat meski sering bercanda. Sekarang warga desa aman, tinggal menunggu mereka bangun sendiri saat matahari terbit nanti.”

Jin Caplak tertawa melihat kegembiraan mereka, lalu berkata dengan nada ramah. “Nah, tugas kalian di sini sudah selesai. Tapi ingat, Ki Burak belum benar-benar musnah. Kekuatannya masih tersimpan di tempat tersembunyi, dan ia akan mencari cara lain untuk bangkit sepenuhnya. Kalian harus melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi, mencari petunjuk dari orang bijak agar bisa menghentikannya selamanya.”

“Mau ke mana lagi kami harus melangkah, Jin?” tanya Cepot dengan wajah serius namun tetap santai.

Jin Caplak menunjuk ke arah timur, tempat puncak gunung yang diselimuti awan tebal terlihat samar di kejauhan. “Ke Hutan Alas Jati Mulya. Di sana tinggal seorang lelaki tua yang sangat bijak dan mengetahui segala rahasia kekuatan kuno. Jalan ke sana lebih berbahaya lagi, penuh rintangan dan makhluk yang tidak sebaik aku ini. Tapi percayalah pada hati nurani dan kekuatan yang sudah kalian miliki, semuanya akan terbantu.”

Setelah memberikan petunjuk itu, Jin Caplak melambaikan tangannya perlahan. “Nah, aku harus kembali menjaga pos lagi, takut nanti ada yang memarahi karena meninggalkan tugas! Sampai jumpa lagi, semoga perjalanan kalian selamat sampai tujuan!”

Ia pun lenyap menjadi kepulan asap wangi yang terbang terbawa angin malam.

Cepot dan Dawala berdiri di tengah desa yang kini kembali damai, memandang ke arah puncak gunung yang menjadi tujuan selanjutnya. Bintang-bintang mulai terlihat jelas di langit yang bersih, menerangi jalan yang akan mereka tempuh esok hari.

“Baiklah, Da. Istirahatlah sebentar di sini saja, nanti kalau matahari terbit kita lanjutkan langkah lagi. Jalan masih panjang dan tantangan belum selesai,” kata Cepot sambil duduk bersandar di pohon beringin tua.

Dawala mengangguk setuju sambil tersenyum. “Siap, Kang! Semoga di jalan nanti tidak ketemu lagi rintangan yang menyusahkan, tapi kalau pun ada, kita hadapi bersama dengan cara kita sendiri—tetap berani tapi tidak lupa bercanda agar hati tidak tegang, kan?”

Cepot hanya tertawa mendengarnya, dan malam itu mereka beristirahat dengan hati tenang, bersiap menghadapi babak baru yang akan membawa mereka pada pertarungan melawan kekuatan kegelapan yang sesungguhnya.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!