Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Memulai dan selesai di rumah kita
“Sekarang.”
Begitu pintu kamar dibuka oleh Adinata, Nadine sudah berdiri dengan membawa map merah di tangannya.
Adinata menghembuskan nafasnya. “Aku baru pulang kerja. Bisa kamu tunggu aku untuk mandi dulu, Nadine?”
“Tidak bisa.” Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Sesuai perkataanmu saja, Adinata. Sekarang kamu dan aku berada di rumah yang sama, jadi cepat tanda tangani. Tidak usah bertele-tele.”
“Beri aku alasan, kenapa kamu ingin sekali berpisah dariku, Nadine?”
Pintu kamar mereka sengaja Adinata kunci tanpa memandang caranya mengunci pintu. Ia melangkahkan kakinya memangkas jarak mereka berhadapan. Hanya menyisakan satu langkah saja.
“Aku hanya ingin cerai denganmu. Tidak usah bertanya tentang alasannya. Aku hanya ingin bercerai saat ini juga denganmu, cukup itu saja yang harus kamu tahu, Adinata.”
Adinata terkekeh. “Jawab.”
Tidak membentak. Adinata hanya memberi tekanan pada ucapannya.
Nadine memundurkan langkahnya ketika pandangan mata Adinata sudah berubah.
“Beri saja jawabanmu, Nadine. Aku perlu mengerti sebelum memberi tanda tangan di kertas sialan yang kamu bawa ini.” Map merah di tangan Nadine diambil paksa oleh Adinata dan dilemparkan begitu saja di lantai. “Kamu hanya perlu menjawab dan aku akan mendengarkannya, sayang.”
“Adinata berhenti.” Nadine menahan dada Adinata agar tidak semakin membuat dirinya terpojok.
“Terlambat, sayang,” ejek Adinata.
Tubuh kecil Nadine sudah terhimpit diantara tubuh kekar Adinata dan tembok kamar ini.
Nadine melayangkan tatapan kesal ke Adinata. “Minggir.”
Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sebelum kamu memberi jawaban yang masuk ke akal kepadaku.” Tangan kanan Adinata mengusap pipi Nadine dengan usapan lembut, penuh perhatian dan kasih sayang.
Nadine menghindari usapan Adinata di pipinya. “Singkirkan tanganmu, Adinata.”
“Tidak mau.” Adinata memberi gelengan kepala dengan wajah yang semakin mendekat. “Aku ingin mencium bibirmu, Nadine.”
“TIDAK.”
Penolakan Nadine tidak berguna. Adinata sudah membekap bibir Nadine dengan bibir miliknya.
Nadine memberi protes. Ia mencoba memberontak dengan menggerakkan wajahnya ke kanan dan kiri.
Adinata yang kesal dengan respon Nadine memberi gigitan kecil di bibir Nadine sampai mengeluarkan darah segar karena ulahnya.
Adinata terkekeh. “Aku suami kamu, Nadine. Kita sah secara agama dan negara.”
“Ceraikan aku.”
“Jawab dulu pertanyaan yang aku beri, Nadine.” Di posisi yang masih sama, tangan kanan Adinata kembali mengelus pipi Nadine dengan lembut.
“Lepaskan aku dulu.”
“Tidak mau. Kita tidak usah bercerai. Aku akan memperbaiki kesalahan di pernikahan ini.”
Nadine tertawa kecil. “Kamu berani membantah ibumu dan keluarga besarmu, Adinata?”
Adinata terdiam, tapi tidak dengan tatapan matanya.
“Sudahlah. Dengan perceraian kita, anggap saja aku juga membantumu. Kamu tidak perlu repot lagi menyatukan aku dan keluarga besarmu ditempat yang sama. Kamu tidak akan mendapat dosa lagi karena membantah omongan ibumu.”
“Kamu akan menjauh dariku?”
Nadine menganggukkan kepalanya. Keputusannya sudah ia pertimbangkan dengan penuh keyakinan. “Itu lebih baik untuk mentalku.”
“Aku tidak bisa memperbaikinya lagi, Nadine?”
“Aku tidak ingin kamu memperbaikinya, Adinata. Lagi pula, apa yang akan kamu perbaiki? Hubunganmu denganku atau hubunganmu dengan ibumu?”
Adinata berada di pilihan yang sulit. Antara sang ibu atau sang istri. Adinata tidak ingin memilih. Ia masih ingin ibunya tetap disini dan memiliki Nadine sebagai istrinya.
“Setelah mendapat tanda tanganku, apakah kamu akan bahagia?”
“Sangat bahagia.” Nadine menatap Adinata dengan tatapan bahagia. “Hidupku hanya sekali di dunia ini. Sia-sia saja jika aku harus terus-menerus untuk bersedih.”
Adinata menghembuskan nafasnya secara kasar di depan wajah Nadine. Setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri. Ia melepas jas dan dasi dari tubuhnya.
“Kamu.” Adinata tertawa. Tangannya membuka 2 kancing kemejanya dengan kasar. “Puaskan aku. Setelahnya aku akan memberi tanda tanganku dan aku segera mendaftarkan perceraian kita di pengadilan.”
Mata Nadine terbuka dengan lebar. “Kamu gila!”
“Setidaknya aku masih bisa merasakan milikmu sebelum kita resmi bercerai, Nadine.” Adinata menatap wajah Nadine dengan lapar. “Pilihanmu hanya iya, Nadine.”
“Sialan.”
“Kamu menolaknya? Berarti aku tidak perlu memberi tanda tanganku.”
“Perceraian ini juga memberi keuntungan untukmu, Adinata.” Suara Nadine sengaja dikeraskan.
“Pelankan suaramu, Nadine. Cukup desahanmu saja yang perlu kamu keraskan di depanku.” Adinata melipat tangannya di depan dada. “Pilihlah, sayang. Aku tidak sesabar itu untuk menunggu.”
Tangan Nadine mengepal di sebelah tubuhnya. Adinata brengsek!
“Tidak memakai alat kontrasepsi dan keluar di dalam.”
“KAMU GILA?!” bentak Nadine dengan keras.
Adinata menghela nafasnya. “Sudah ‘ku bilang, Nadine. Cukup desahanmu saja yang kamu keraskan.”
Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Aku tidak mau.”
“Iya sudah. Aku tidak rugi.” Adinata melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
“Tunggu.” Nadine menggigit kuku jari telunjuknya. Dengan ragu ia menyuruh Adinata untuk menunggu. “Sekali. Setelahnya beri tanda tanganmu di kertas ini.”
Adinata belum ingin membalikkan tubuhnya. Ia terkekeh. “Sekali? Tidak.”
“Maumu bagaimana, Adinata?”
“Sampai aku puas. Setelahnya aku kabulkan permintaanmu.”
Kedua mata Nadine terbuka dengan lebar. Jika sampai Adinata puas, sama saja dengan Nadine yang akan langsung pingsan karena menuruti keinginan Adinata.
“Baiklah.”
Nadine memegang perutnya sebentar. Bantu Mama, ya, Nak. Ini untuk kebaikan kita nantinya, Nak. Setelahnya ia jauhkan tangannya dan melangkahkan kakinya menghampiri Adinata yang sudah membalikkan tubuhnya. Tatapannya lapar seolah menunggu santapan lezat.
“Aku tidak akan memaksa kamu. Kamu yang memilih sendiri pilihannya, Nadine.”