NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Furnitur Hidup

Seminggu kemudian.

Ruang santai lokasi syuting film terasa pengap meski pendingin ruangan menyala penuh.

Shafira Maharani duduk di depan cermin rias, menatap refleksi Citra yang berdiri kaku di belakangnya melalui kaca. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya.

"Ayo! Mataharinya pas sekali di luar," kata Shafira tanpa menoleh, suaranya ringan namun mengandung racun. "Ambil kostum-kostum yang perlu kupakai beberapa hari lagi dan jemur di bawah sinar matahari!"

Citra mendongak, alisnya berkerut halus. "Saudari Siska, bahan sutra itu tidak cocok—"

"Jangan banyak bicara!" potong Shafira tajam. "Hati-hati, jangan sampai kusut. Dan tetaplah di luar, awasi mereka, dan tunggu sampai kering. Aku tidak percaya pada mesin pengering."

Ini jelas pelecehan terselubung. Di tengah musim panas, menjemur kostum sutra di bawah terik siang hari bukan hanya akan merusak kain—tapi juga menyiksa siapa pun yang harus menjaganya.

Tubuh Citra menegang sesaat. Ia menelan rasa marah yang mendidih di dadanya, lalu memaksakan dirinya untuk rileks. Kepalanya tertunduk hormat.

"Mengerti, Saudari Siska."

Ia berbalik, mengambil tumpukan kostum berat dari rak, dan berjalan keluar menuju terik matahari.

Pintu ruang tertutup, memutus aliran udara dingin. Panas menerjang wajah Citra seperti dinding tak terlihat.

Ia menemukan sudut yang relatif bersih di halaman belakang studio, membentangkan kostum satu per satu di rak penjemuran. Lalu berdiri diam di bawah naungan pohon yang jarang daunnya.

Meskipun berada di tempat teduh, panas bumi tetap memancar ke atas. Keringat segera mengalir di dahinya yang halus, membasahi rambut-rambut halus di pelipisnya dan menempel di pipi serta tepi kacamatanya.

Citra tidak mengeluh. Ia hanya berdiri di sana dengan tenang, punggungnya tegak, menjaga kostum-kostum mahal itu seperti penjaga istana.

Pandangannya tanpa sadar beralih ke lokasi syuting di bawah kanopi besar tidak jauh dari sana.

Shafira Maharani sedang syuting adegan klimaks. Karakternya baru saja dikhianati oleh orang kepercayaan, dan harus meluapkan kesedihan serta keputusasaan yang mendalam. Di depan kamera, kecantikan Shafira tetap mempesona. Matanya merah, suaranya tercekat karena isak tangis yang terlatih, dan gerakan tubuhnya dramatis.

"Cut!" teriak sutradara.

Para staf bertepuk tangan.

"Nona Shafira, emosimu tepat sekali!"

"Kekuatan ledakan mu sungguh luar biasa!"

Shafira menerima botol air dari asisten lain, tersenyum puas sambil menikmati pujian. Ia tampak bersinar, ratu panggung yang tak terbantahkan.

Citra mengamati dari kejauhan, tatapannya terfokus di balik kacamata berbingkai hitam tebal.

Kemampuan akting Shafira memang diakui sebagai yang terbaik di antara para selebriti influencer. Ia memiliki daya ledak yang kuat, tahu cara memanfaatkan sudut kamera terbaik, dan sangat peka terhadap pencahayaan.

Namun Citra selalu merasa ada sesuatu yang kurang.

Ada jarak, batinnya. Shafira bermain sebagai 'Shafira yang sedang sedih', bukan sebagai karakter itu sendiri.

Seperti komentar tajam para netizen di forum daring—akting Shafira tidak kaku, tapi ia tidak pernah memiliki momen ikonik yang membuatnya keluar dari zona nyaman kecantikannya. Ia terlalu sadar akan betapa cantiknya ia saat menangis.

Jika aku yang memerankan ini... bagaimana aku akan menangani emosi sekuat itu?

Citra bersandar pada batang pohon yang kasar, menutup matanya. Ia membayangkan kehidupan karakter tersebut. Keceriaan masa muda yang hilang. Rasa sakit ketika keluarga hancur. Ketidakpercayaan yang menusuk hati.

Keringat menetes di dagunya, jatuh ke tanah berdebu. Ia sama sekali tidak menyadarinya—tenggelam dalam imajinasinya, merasakan denyut nadi karakter itu seolah-olah itu miliknya sendiri.

Sesekali, staf lewat dan melirik gadis kecil yang berkeringat di bawah panas itu. Mereka hanya memberikan pandangan simpati sekilas sebelum bergegas pergi.

Di industri hiburan, kamu baru diperhatikan setelah menjadi terkenal. Sebelum itu, kamu hanyalah furnitur hidup. Kecantikan tanpa nama bukan sumber daya—hanya latar belakang.

Malam hari. Apartemen penthouse.

Ketika Citra kembali, tubuhnya terasa seperti akan hancur berantakan. Setiap langkahnya berat, tulang-tulangnya nyeri, dan tenggorokannya kering akibat dehidrasi.

Ruang luas itu sunyi. Hanya lampu sensor pintar yang menyala lembut, mengikuti langkah kakinya yang menyeret.

Kelelahan fisik itu parah, namun kelelahan mentalnya jauh lebih menghancurkan. Dihina tanpa alasan, dipaksa bekerja di kondisi ekstrem, dan diabaikan keberadaannya—itu menguras energinya lebih daripada lari maraton.

Untungnya...

Citra menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang stabil dan kuat.

Terima kasih, Sistem. Terima kasih, nutrisi dari Arjuna.

Jika tubuhnya masih dalam kondisi lemah seperti bulan lalu, ia pasti sudah pingsan di bawah terik matahari tadi. Perawatan intensif dari Arjuna Pratama telah memperkuat fondasi fisiknya secara signifikan. Itu adalah satu-satunya alasan ia masih bisa berdiri tegak.

Ia melepas sepatu kanvasnya yang berdebu, melangkah tanpa alas kaki ke lantai marmer yang sejuk. Ia berjalan ke kamar mandi seperti anak kucing kecil yang kalah dan lelah.

Air hangat membasuh tubuhnya, menghilangkan lapisan keringat, debu, dan rasa malu. Setelah berganti dengan gaun tidur katun yang lembut, ia merasa sedikit lebih hidup.

Ia baru saja mengeringkan rambut hitam panjangnya ketika bunyi klik lembut dari kunci sidik jari bergema dari pintu masuk.

Arjuna Pratama telah kembali.

Pria itu masuk dengan langkah percaya diri. Ia melepas jaket jasnya yang rapi, meletakkannya di lemari dekat pintu, dan melonggarkan dasinya yang ketat. Wajahnya tampak lelah setelah seharian rapat, namun aura dominasinya tetap utuh.

Ketika Citra melihatnya, matanya yang awalnya linglung dan kosong tiba-tiba berbinar.

Rasa sakit, kelelahan, dan rasa diperlakukan tidak adil yang ia tahan sepanjang hari tiba-tiba membanjiri bendungan pertahanannya.

Bibir merah lembutnya mengerucut, gemetar. Mata almond nya dengan cepat berkaca-kaca, dipenuhi air mata yang tertahan.

Seperti anak burung yang akhirnya menunggu pemiliknya kembali ke sarang setelah badai—ia melangkah dengan kaki rampingnya, terhuyung-huyung mendekat. Tidak berkata apa-apa. Hanya ingin dekat. Ingin dipastikan bahwa ia aman.

Arjuna mengangkat alis, melihat gadis kecil yang tampak rapuh dan menyedihkan itu mendekatinya dengan mata berkaca-kaca.

Jantungnya, yang biasanya dingin, berdetak sedikit lebih cepat.

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!