NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tin-tin!

Terdengar suara klakson mobil dari arah depan, disusul deru mesin yang perlahan mati di pelataran rumah.

Jantung Fatma langsung berdegup kencang. Ia tahu, Abah dan Umi sudah sampai.

Adrian yang berada di dapur segera membalikkan tubuhnya.

Sikap ketus dan kejamnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh topeng keramahan yang luar biasa rapi.

Ia melangkah lebar menuju pintu utama, lalu membukanya lebar-lebar. Di depan teras, tampak sosok Abah dan Umi baru saja turun dari mobil travel.

"Assalamualaikum,"

"Waalaikumsalam, Abah, Umi..." ucap Adrian dengan senyum tipis yang tampak sangat sopan dan hangat di bibirnya.

Ia segera mengulurkan tangan, menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tua mertuanya itu dengan takzim.

"Abah... Umi..." panggil Fatma yang menyusul keluar dari arah dapur.

Begitu melihat wajah teduh kedua orang tuanya, pertahanan mental Fatma runtuh.

Mengabaikan rasa perih yang luar biasa menyengat di antara kedua kakinya serta linu di punggungnya akibat cambukan semalam, Fatma berlari kecil dan langsung berhambur ke pelukan Umi, lalu beralih memeluk erat tubuh Abah.

Ia mendekap mereka dengan sangat erat, seolah-olah pelukan itu adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa di dunia ini.

Air matanya hampir saja tumpah, namun ia menahannya mati-matian.

Abah dan Umi sempat terkejut mendapat pelukan yang begitu erat dan mendadak dari sang putri. Abah terkekeh pelan, mengusap lembut punggung Fatma yang tertutup jilbab panjang—tanpa menyadari bahwa usapan itu sebenarnya membuat luka cambukan di punggung Fatma berdenyut nyeri.

"Lho, putri Abah dan Umi ini. Sudah jadi istri orang, ada suaminya di sini, kok sifat manjanya masih seperti anak kecil," goda Abah dengan senyum kebapakan yang khas.

Umi pun ikut tersenyum melihat tingkah putrinya, meski di dalam hati kecilnya ada rasa heran melihat pundak Fatma yang sedikit bergetar.

Fatma mengeratkan pelukannya sejenak, menghirup aroma tubuh kedua orang tuanya yang selalu menenangkan, sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu dengan perlahan.

Ia memaksakan sebuah senyuman manis di wajah pucatnya, persis seperti yang diancamkan oleh Adrian.

"Fatma kangen sekali sama Abah dan Umi..." jawab Fatma dengan suara yang diusahakan terdengar ceria, meski hatinya menjerit meminta tolong.

Di sampingnya, Adrian menatap drama itu dengan senyuman yang terus mengembang, seolah mereka adalah pasangan pengantin baru yang paling bahagia.

Fatma menghidangkan masakan yang telah ia buat dengan susah payah di atas meja makan. Aroma sayur lodeh hangat dan ikan asin seketika menyeruak, memancing senyum di wajah Abah dan Umi.

Di hadapan kedua orang tuanya, Fatma terpaksa memakai topeng ketegaran.

Ia tersenyum manis, lalu bergerak melayani Adrian dengan mengambilkan nasi dan lauk-pauk layaknya seorang istri yang patuh dan berbakti.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap gerakan kecil yang dilakukan Fatma—saat merentangkan tangan mengambil sendok atau menyendokkan sayur—memicu rasa perih yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

Kulit punggungnya yang melepuh akibat cambukan semalam terasa seperti ditarik paksa.

Lebih kejamnya lagi, di sela-sela makan, Adrian sesekali sengaja menyentuh pundak atau pinggang Fatma dengan dalih menunjukkan kemesraan di depan mertua.

Pria itu menekan jemarinya tepat di atas bagian tubuh Fatma yang terluka.

Sentuhan itu terasa bagai hantaman godam yang membuat Fatma harus menggigit bibir dalam-dalam agar tidak menjerit kesakitan.

Tubuhnya menegang, namun ia dipaksa untuk tetap tersenyum lembut dan bungkam.

Abah, yang sejak semalam merasa tidak tenang dan memiliki kepekaan batin yang tinggi, mulai menangkap ada sesuatu yang janggal.

Tatapan teduh pria paruh baya itu tidak lepas dari gerak-gerik putrinya.

Abah memperhatikan bagaimana jemari Fatma bergetar hebat saat memegang sendok, serta guratan lelah dan pucat yang tersembunyi di balik polesan bedak tipis di wajahnya.

"Fatma, apakah kamu baik-baik saja, Nduk?" tanya Abah tiba-tiba, menghentikan suapan nasinya.

"Fatma..." Umi ikut menatap putrinya dengan pandangan khawatir.

Sebelum Fatma sempat menyusun kata-kata untuk berbohong, keheningan di meja makan itu mendadak terpecah oleh suara ketukan pintu yang sangat keras dari arah depan.

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukan yang bertalu-talu itu membuat Adrian mengernyitkan kening.

Dengan senyum yang dipaksakan, Adrian bangkit dari kursinya.

"Biar Adrian yang buka, Bah, Mi," ujarnya sopan.

Namun, begitu pintu utama dibuka, senyum palsu di wajah Adrian runtuh seketika.

Hakam berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu dan tatapan mata yang tajam, menghunjam langsung ke arah sepasang mata kakaknya.

Adrian terkejut bukan main. Amarahnya langsung mendidih di dalam dada melihat sang adik berani melanggar perintah telak yang ia teriakkan semalam.

Belum sempat Adrian melontarkan makian, Hakam sudah lebih dulu mengeraskan suaranya, sengaja agar terdengar sampai ke ruang makan.

"Assalamualaikum! Mas Adrian, maaf saya langsung kemari. Tadi saya dengar dari kerabat di pesantren kalau Abah dan Umi sedang berkunjung ke kota hari ini. Jadi, saya sengaja mampir untuk menyapa mereka," ucap Hakam dengan nada suara yang dibuat seolah-olah semuanya normal.

Hakam berpura-pura datang sebagai seorang adik yang ingin bersilaturahmi, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, niat aslinya hanya satu: memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Fatma masih bernyawa dan selamat setelah penyiksaan biadab yang dilakukan Adrian semalam.

Hakam melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan tatapan mata Adrian yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

Ia langsung menuju ruang tengah untuk menyalami Abah dan Umi dengan takzim, lalu mengambil tempat duduk di sofa tunggal.

Kehadiran Hakam seketika mengubah atmosfer ruangan.

Kehangatan pagi yang sempat dibangun Fatma lewat hidangannya kini menguap, berganti dengan ketegangan yang dingin mencekam.

Di antara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, perang dingin yang senyap dimulai.

Terjadi saling sindir dengan kalimat kiasan yang sangat tajam antara dua bersaudara itu, membuat Fatma duduk di atas bara api, ketakutan setengah mati jika rahasia kelam semalam terbongkar di depan orang tuanya.

Adrian menatap adiknya dengan senyum sinis yang tertahan.

"Kamu perhatian sekali pada kakak iparmu, Hakam. Sampai-sampai meluangkan waktu pagi-pagi begini hanya untuk berkunjung," sindir Adrian, suaranya terdengar ramah di telinga Abah dan Umi, namun penuh penekanan yang mengancam bagi Hakam.

Hakam tidak gentar dan memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata kakaknya.

Hakam sengaja melontarkan pertanyaan-pertanyaan menjebak yang sarat akan kiasan tajam untuk memojokkan Adrian.

"Tentu saja, Mas. Sebagai adik, saya wajib memastikan keluarga kita baik-baik saja," jawab Hakam dengan nada tenang namun menusuk.

Ia lalu mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Fatma yang menunduk dalam, sebelum kembali menatap Adrian.

"Bagaimana malam pertamanya, Mas? Mbak Fatma sepertinya lelah sekali sampai wajahnya pucat begitu," pancing Hakam, membuat sendok di tangan Fatma hampir saja terlepas.

Hakam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh tuntutan pertanggungjawaban.

"Mas Adrian harus menjaga Mbak Fatma baik-baik. Jangan sampai memperlakukannya kasar, atau mengurungnya seperti burung dalam sangkar. Wanita selembut Mbak Fatma itu harus dijaga, bukan dihancurkan."

Mendengar kalimat menjebak itu, rahang Adrian mengeras seketika genggaman tangannya pada gelas air minum mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

Di seberang meja, Abah kembali meletakkan sendoknya.

Tatapan mata Abah yang tajam dan sarat akan pengalaman hidup mulai bergulir bergantian, menatap Adrian dan Hakam dengan penuh selidik.

Firasat buruk di hati Abah sepertiga malam tadi kini kembali berdenyut, seolah membenarkan bahwa ada badai besar yang sedang disembunyikan di bawah atap rumah mewah ini.

Adrian membalas ucapan adiknya dengan tatapan mata yang siap membunuh.

Sorot matanya menajam, mengirimkan pesan peringatan yang sangat jelas kepada Hakam.

"Tentu saja aku menjaganya, Hakam. Kamu tidak perlu mengajari seorang suami bagaimana cara memperlakukan istrinya," sahut Adrian dengan nada suara yang ditekan, terdengar berat dan penuh penekanan tersirat.

"Di dalam rumah tangga, ada batasan-batasan sakral yang tidak boleh dilewati oleh orang luar. Sekalipun orang luar itu adalah adik kandung sendiri. Urusan di dalam kamar ini adalah mutlak milikku dan Fatma."

Mendengar perdebatan terselubung itu, Fatma yang duduk di antara mereka merasa jantungnya berdebar kencang, bertalu-talu bagai ingin melompat keluar.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Ia tahu persis watak Adrian; jika Hakam terus memancingnya, Adrian bisa nekat membongkar semuanya atau bahkan mengamuk di depan Abah dan Umi.

Fatma tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hati Abah dan Umi jika mengetahui putri mereka telah disiksa dan dihina dengan begitu keji.

Demi menyudahi ketegangan yang kian mencekam dan mengalihkan kecurigaan Abah yang terus mengamatinya, Fatma terpaksa melakukan sandiwara terbesar dalam hidupnya.

Fatma tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan terdengar renyah dan bahagia di telinga kedua orang tuanya.

"Hakam ini ada-ada saja, bicaranya serius sekali," ucap Fatma memecah keheningan dengan nada jenaka yang dibuat-buat.

Kemudian ia menoleh ke arah orang tuanya, "Mas Adrian suami yang sangat baik, Abah, Umi. Dia sangat memperlakukan Fatma dengan lembut."

Untuk meyakinkan Abah dan Umi, Fatma mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia bergerak mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.

Sreeek...

Gerakan itu seketika menarik kulit bahu dan punggungnya yang melepuh, menimbulkan rasa perih luar biasa yang membuat seluruh tubuh Fatma bergetar menahan sakit. Namun, di atas bahu Adrian, Fatma tetap memejamkan mata sambil memamerkan senyuman paling manis yang ia bisa, bersembunyi di balik topeng kebahagiaan demi melindungi kehormatan orang tuanya dan keselamatan pesantren mereka.

1
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!