Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Dihapus
Perpustakaan umum kota tutup pukul delapan malam.
Rio sampai di sana pukul empat sore, langsung setelah bel pulang sekolah, tanpa mampir ke kontrakan dulu. Serigala sudah bisa ditinggal lebih lama sekarang — kakinya sudah pulih, instingnya sudah hafal seluruh sudut kontrakan, dan Rio sudah meninggalkan cukup daging di piring plastik sebelum berangkat sekolah tadi pagi.
Wukong di pundaknya masuk ke mode kamuflase begitu melewati pintu perpustakaan — kepala tertunduk, mata setengah terpejam, monyet peliharaan biasa yang menemani tuannya belajar.
Petugas perpustakaan di meja depan melirik sekali, tidak berkomentar, kembali ke bukunya.
---
Rio langsung menuju bagian arsip.
Bukan bagian yang ramai — tidak ada murid SMA yang datang ke perpustakaan untuk membaca koleksi majalah lama dan koran edisi terbatas yang bahkan indeksnya belum pernah didigitalisasi. Rak-raknya berdebu dengan cara yang menunjukkan bukan sekadar tidak dibersihkan, tapi memang tidak pernah dikunjungi.
Rio mengetikkan nama itu di terminal pencarian arsip digital yang ternyata hanya mencakup koleksi lima tahun terakhir.
**Adrian Albert.**
Nol hasil.
Ia pindah ke indeks manual — buku tebal bercover cokelat yang daftar isinya diketik dengan mesin tik dan beberapa bagiannya sudah tidak terbaca karena tinta memudar.
Mencari di bawah kategori *Hunter — Tamer Terdaftar Nasional.*
Nol.
*Anomali Dungeon — Laporan Khusus.*
Nol.
*Tokoh Hunter — Profil dan Wawancara.*
Nol.
---
Rio menarik napas pelan dan berpindah ke rak fisik — koleksi majalah hunter yang diterbitkan sebelum era digital, dijilid per kuartal, diurutkan berdasarkan tahun di rak paling belakang yang catnya sudah mengelupas di bagian atas.
Tiga belas tahun lalu.
Ia menarik seluruh jilid dari tahun itu — empat bundel tebal yang debunya membuktikan tidak ada tangan yang menyentuhnya dalam waktu sangat lama — dan membawanya ke meja baca di sudut paling sepi.
Mulai dari edisi pertama. Membalik halaman per halaman.
Tidak ada nama Adrian Albert di edisi satu.
Tidak ada di edisi dua.
Tidak ada di edisi tiga.
---
Satu jam berlalu.
Wukong sudah bosan pura-pura tidur dan sekarang benar-benar tidur di sudut meja, kepala di atas tangan yang dilipat, ranting kayu tersembunyi di balik tubuhnya.
Rio sampai di bundel terakhir — edisi keempat, kuartal terakhir tahun itu. Jilidan yang ujung-ujungnya sudah mulai terurai dan satu sudutnya tampak pernah terkena air dan mengering tidak rata.
Ia membalik halaman dengan metodis yang sudah ia pertahankan selama satu jam terakhir.
Tidak ada.
Tidak ada.
Tidak ada.
---
Rio hampir menutup bundel itu ketika jarinya berhenti.
Bukan karena menemukan sesuatu di halaman yang terbuka.
Tapi karena ada sesuatu yang jatuh dari antara dua halaman terakhir — selembar kertas yang terselip di sana, bukan bagian dari majalah, bukan sengaja diarsipkan. Hanya selembar halaman yang terpotong dari majalah lain, dilipat dua, warnanya sudah menguning dan sudut-sudutnya rapuh.
Rio membukanya.
Setengah halaman. Terpotong tidak rapi di sisi kiri, seperti seseorang yang merobek dengan tergesa-gesa. Sebagian besar teksnya hilang bersama bagian yang terpotong.
Yang tersisa hanya satu paragraf yang terbaca setengah, dan di sudut kanan bawahnya — sebuah foto.
Buram. Kecil. Kualitas cetak majalah yang sudah berumur tiga belas tahun dan disimpan tidak dengan benar.
Tapi cukup jelas.
---
Foto itu menampilkan dua orang yang berdiri di depan sebuah gerbang dungeon yang terbuka. Latar belakangnya tidak bisa diidentifikasi — terlalu buram, terlalu gelap.
Orang pertama berdiri dengan punggung sebagian ke kamera, wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi postur tubuhnya, cara berdirinya yang sedikit condong ke kiri dengan tangan di saku — Rio mengenalinya.
Raymond Pratama. Lebih muda, tapi tidak diragukan.
Orang kedua berdiri menghadap kamera. Lebih jelas dari yang pertama meskipun fotonya tetap buram oleh usia dan kualitas cetak.
Rambut acak-acakan. Tinggi sedang. Senyum tipis yang sangat spesifik di sudut bibirnya — bukan senyum lebar, bukan senyum yang dibuat-buat untuk foto. Senyum seseorang yang kebetulan tertangkap kamera di momen yang tidak ia rancang.
Rio menatap wajah itu.
Dan berdiri sangat diam di antara rak-rak buku yang sepi selama enam detik penuh.
---
Wajah itu adalah wajahnya sendiri.
Bukan mirip. Bukan serupa. Bukan *ada kemiripan yang mencolok* seperti kata orang-orang saat membandingkan wajah yang punya satu atau dua fitur yang sama.
Identik. Sampai ke proporsi rahang, sampai ke cara mata itu terbuka, sampai ke senyum tipis yang bahkan Rio tidak sadar sering ia buat sampai seseorang mengomentarinya.
Seperti cermin yang menampilkan versi dirinya yang dua puluh tahun lebih tua.
Atau — versi ayahnya yang dua puluh tahun lebih muda.
---
Di bawah foto itu, caption yang setengahnya ikut terpotong hanya menyisakan tujuh kata:
*"...A. Albert bersama rekan, sebelum operasi terakhir—"*
Sisanya hilang bersama sisi kiri halaman yang dirobek.
---
Rio membalik kertas itu.
Di sisi belakang, dengan tulisan tangan yang sudah memudar tapi masih terbaca, ada satu kalimat. Bukan ketikan. Bukan bagian dari majalah. Ditulis oleh seseorang yang pernah memegang kertas ini sebelum Rio, dengan pena yang tekanannya berat dan tergesagesa.
*Jangan percaya siapapun yang mengklaim melindungimu.*
Tidak ada nama. Tidak ada tanggal.
Hanya itu.
---
Panel sistem menyala.
---
**[Pembaruan Protokol Memori Biru:]**
**[Pesan Tambahan dari Adrian Albert — Fragment 2/7]**
**["Sistem ini meninggalkan tujuh pesan. Kamu baru membuka dua. Yang berikutnya tidak bisa dibuka dengan kata kunci — hanya bisa dibuka ketika kamu sudah siap. Dan sistem yang menentukan kapan kamu siap, bukan kamu."]**
---
Rio menatap kertas tua di tangannya, kemudian menatap panel itu, kemudian menatap kertas itu lagi.
*Fragment 2 dari 7.*
Lima pesan lagi.
Lima hal yang ayahnya putuskan untuk disembunyikan di dalam sistem ini, dikunci di balik kondisi yang bahkan Rio sendiri tidak tahu apa syaratnya.
---
Wukong terbangun dari tidurnya — bukan karena suara, karena Rio tidak mengeluarkan suara apapun. Tapi kera itu membuka matanya, menatap ke arah Rio yang berdiri diam di depan meja baca, dan mencicit sangat pelan.
Satu kali.
Nada yang Rio terjemahkan dengan sangat jelas: *aku tahu.*
Dua kata yang dalam konteks ini mengandung lebih banyak dari yang bisa muat di dalam dua kata.
Rio melipat kertas tua itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam dompetnya di antara kartu nama dua belas digit Raymond Pratama.
Dua lembar kertas. Berat yang tidak proporsional dengan ukurannya.
---
Ia keluar dari perpustakaan pukul setengah tujuh, tiga puluh menit sebelum tutup.
Langit di luar sudah gelap — bukan gelap malam yang penuh, masih ada gradasi ungu di garis cakrawala yang tersisa dari matahari yang baru saja tenggelam. Lampu-lampu jalan menyala dengan cahaya kuning hangat yang memantul di aspal yang masih sedikit basah dari hujan gerimis yang rupanya turun sementara Rio di dalam tadi.
Rio berjalan ke halte angkot dengan tangan di saku dan pikiran yang sibuk dengan cara yang sangat sunyi.
*Jangan percaya siapapun yang mengklaim melindungimu.*
Kalimat yang terlalu spesifik untuk ditulis tanpa alasan. Terlalu mendesak untuk tidak dimaksudkan kepada seseorang yang tertentu.
Raymond Pratama mengklaim ingin membantu.
Arinda Kusuma mengklaim hanya melakukan investigasi standar.
Sistem pemerintah yang menghapus seluruh jejak Adrian Albert mengklaim — tidak mengklaim apapun, karena penghapusan yang sempurna tidak meninggalkan jejak yang cukup untuk diklaim.
Rio menaiki angkot yang datang, duduk di pojok jendela, menatap kota yang bergerak mundur di luar kaca.
Satu foto buram dari tiga belas tahun lalu. Satu kalimat tulisan tangan yang tidak ada tanda tangannya. Dan lima pesan tersisa yang dikunci oleh sistem dengan syarat yang tidak ia jelaskan.
Cukup banyak untuk memulai. Tidak cukup untuk menyimpulkan apapun.
Yang Rio tahu hanya satu hal dengan pasti malam ini — wajah di foto itu adalah wajahnya sendiri. Dan orang yang memiliki wajah itu bukan orang yang menghilang karena memilih pergi.
Ia disembunyikan.
Oleh seseorang yang hari ini berdiri di depan kamera dan microphone dengan sebutan pelindung terbesar negara ini.
---
Angkot berbelok di tikungan terakhir menuju gang kontrakannya.
Panel sistem menyala satu kali terakhir sebelum Rio turun.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — 47.8%]**
---
Hampir setengah.
Rio menatap angka itu, mengangguk pelan untuk dirinya sendiri, dan turun dari angkot.
Di sakunya, dua lembar kertas.
Di kepalanya, lebih banyak pertanyaan dari sebelum ia masuk ke perpustakaan tadi.
Dan di suatu tempat di kota yang sama, di balik jabatan dan reputasi dan nama yang dipercaya jutaan orang — seseorang yang menyembunyikan ayahnya tiga belas tahun lalu mungkin sudah mulai merasakan bahwa sistem yang pernah ia pikir sudah hilang bersama pemiliknya ternyata tidak hilang sama sekali.
Hanya berpindah tangan.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣