NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa familier

Kinara melajukan kendaraan roda duanya, meninggalkan rumah yang sudah membuatnya merasa tidak pernah dianggap. Angin malam menerpa wajahnya, membawa pergi rasa muak yang menumpuk di dada.

Tiga puluh menit perjalanan terasa begitu cepat. Roda kendaraannya akhirnya berhenti di sebuah tempat yang selalu menenangkan hatinya—alun-alun pelabuhan. Tempat itu merupakan tempat yang menjadi pelarian sekaligus tempat untuknya menenangkan diri selama ini.

Langkah kakinya mengantarnya ke bibir pagar pembatas yang menghadap laut lepas. Suara debur ombak yang beradu dengan batu karang berpadu dengan tiupan angin laut. Malam itu langit sedang murah hati. Bintang-bintang bertebaran, seakan berlomba menampakkan diri di tengah gelap.

Hati Kinara yang semula gusar seketika mereda. Ia menatap laut dengan mata berkaca-kaca, seolah ingin membuang semua beban ke tengah samudera.

Lampu taman yang remang-remang menciptakan bayangan samar di tanah, pohon-pohon bergoyang pelan, dan angin berputar di sekelilingnya seperti tarian lembut. Malam itu, segalanya terasa begitu syahdu.

Namun ketenangan itu pecah ketika langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Kinara terkejut, tak menyangka ada sosok pria yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.

Pria itu memiliki kulit bersih, bibir tipis, dan wajah tampan yang mudah diingat. Bahunya bidang, penampilannya rapi, dan auranya berbeda dari kebanyakan orang yang sekadar berjalan-jalan di pelabuhan malam hari.

Udara yang sejuk membuat pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dari ekspresinya, seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk menghampiri wanita yang berdiri sendirian itu.

"Tidak baik jika seorang wanita muda berdiri sendirian di malam hari seperti ini," ucapnya, suaranya dalam dan penuh keyakinan.

Kinara sontak waspada. Hatinya berdegup kencang. Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Hm… baiklah. Saya akan pergi sekarang."

Ia baru hendak melangkah mundur ketika tiba-tiba pria itu meraih tangannya. Kinara membeku, tubuhnya menegang. Tatapan pria itu menusuk ke dalam wajahnya, seolah sedang mencari sesuatu.

Wajah itu. Ada sesuatu di wajah Kinara yang membuat pria itu teringat pada sosok dalam foto yang pernah ia lihat.

Setelah menepis keraguannya, pria itu kembali bersuara. "Kenapa harus buru-buru pergi? Saya bukan pria jahat."

Kinara semakin panik. Tangannya masih berada dalam genggaman lelaki asing itu. Ia melirik sekitar, mendapati suasana yang sudah sepi, hanya ada desiran angin dan bunyi laut. Rasa takut menjalari tubuhnya.

"Bisakah anda… melepaskan tangan saya?" Pintanya hati-hati, khawatir ucapannya membuat pria itu tersinggung dan melakukan hal yang lain.

Pria itu terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. "Okey, saya akan lepaskan. Tapi setidaknya, saya perlu tahu namamu terlebih dahulu." Ujarnya.

Kinara menelan ludah lagi. Suaranya hampir tak terdengar ketika menjawab, "Saya… Kinara."

Senyum pria itu melebar. "Oke, Kinara. Saya William. Kamu bisa memanggilku Will. Dan mungkin… kita akan bertemu kembali."

Barulah ia melepaskan cekalannya. Kinara menarik tangannya cepat-cepat, seperti baru saja terbebas dari sesuatu yang menakutkan. Ia tak ingin berlama-lama di sana. Tanpa sepatah kata pun, ia segera berbalik, menyalakan kendaraannya, lalu melaju menjauh.

Di balik senyumnya, William menatap punggung Kinara yang kian menghilang. Ekspresinya berubah serius. Ia mengeluarkan ponselnya dan berbicara dengan seseorang di ujung sana, memerintahkan untuk mengikuti gadis itu dan mencari tahu di mana ia tinggal.

Dua bodyguard yang sejak tadi mengawasinya dari jauh akhirnya menghampiri. "Kita pulang," Ucap William tegas.

Malam itu, ia merasa langkahnya tidak sia-sia. Ia datang hanya untuk mencari udara segar, meninggalkan hiruk pikuk dunia malam yang membosankan. Tapi siapa sangka, perasaan aneh mendorongnya ke alun-alun pelabuhan, hingga akhirnya bertemu dengan wanita bernama Kinara.

Dalam perjalanan pulang di mobil mewahnya, William bersandar pada kursi kulit hitam. "Ke rumah," ujarnya singkat pada sopir.

Pikirannya melayang, kembali pada wajah wanita yang baru saja ia temui. Ada rasa iba sekaligus perasaan akrab yang muncul.

Entah mengapa, pertemuan singkat itu membangkitkan ingatan akan seorang wanita paruh baya yang telah membesarkannya sejak bayi. "Sepertinya aku harus mengunjunginya besok." Batinnya sambil tersenyum samar.

Beberapa menit berkendara, Kinara akhirnya tiba di apartemen. Rasa letih menghantam tubuhnya. Setelah memasukkan kode sandi dan pintu terbuka, ia melangkah dengan gontai. Langkah kakinya membawa dirinya ke kasur pemberian Renald.

Baru saja ia merebahkan tubuhnya, perutnya langsung berbunyi. "Aduh, kenapa harus lapar sekarang," gumamnya. Karena tak ada tenaga lagi untuk memasak, Kinara akhirnya memesan makanan lewat ponsel: nasi goreng seafood favoritnya dan seblak pedas.

Tiga puluh menit kemudian, makanan tersaji di hadapannya. Kinara menyantap dengan lahap, seolah semua rasa cemas dan takut di pelabuhan tadi menguap bersama suapan hangat. Malam itu, ia tidak menyisakan sepiring pun.

Setelah beres membereskan meja makan, ia membersihkan diri lalu kembali merebahkan tubuh.

Ting. Sebuah pesan masuk dari ponsel yang baru saja dipegangnya.

"[Mentang-mentang udah pindah divisi, jadi nggak mau kenal lagi sama gue ya. Sombong banget sekarang.]"

Kinara terkikik membaca pesan itu. "[Yeii, enak aja dibilang sombong,]" balasnya cepat.

"[Gue kangen banget sama elu, Kinaraaa.]"

"[Gue juga, Gisel. Besok istirahat makan siang kita ketemu ya,]" jawab Kinara.

"[Oke, baby. Udah ya, gue mau bobok cantik dulu. See you]"

Kinara tersenyum melihat pesan terakhir dari sahabatnya. Ia merindukan saat-saat sederhana bersama Gisella. Sayangnya, meski dirinya dan Gisel masih kerja di perusahaan yang sama, namun karena ia kini adalah sekretaris Renald membuat mereka sulit untuk bertemu.

"Semangat, besok aku bakal kerja lembur," batinnya sebelum mata lentiknya perlahan terpejam.

"Rasa lelah yang melanda membuat Kinara cepat terlelap dalam tidurnya. Tanpa ia sadari, pada saat yang sama pintu apartemen terbuka perlahan. Sesosok pria masuk dengan tenang, seolah ia pemilik apartemen tersebut. Pandangannya jatuh pada Kinara yang tertidur pulas.

Ia mendekat, menyibakkan helai rambut dari wajah cantik itu. "Cantik." batinnya. Lalu mengecup kening Kinara lembut sebelum beranjak pergi.

•••

Pagi menjelang, sinar matahari menembus celah jendela dan menyapa hangat. Kinara telah siap dengan blouse biru-putih sederhana dipadukan celana panjang. Kaki jenjangnya melangkah santai memasuki ruangan Renald, diiringi bunyi ketukan high heels yang ia kenakan.

Ruangan itu masih terasa asing baginya, meski sudah beberapa hari ia dipindahkan ke sana. Karena Renald belum datang, ia pun buru-buru membersihkan meja, merapikan berkas, bahkan menyiapkan kopi untuk bosnya itu sebelum di semprot seperti hari-hari sebelumnya.

Kinara kini sudah lihai membuat kopi, berkat rajin menonton video tutorial di ponselnya demi menyenangkan sang atasan.

Satu jam, bahkan dua jam kemudian ruangan itu tetap sepi. Renald tak kunjung datang. Ia pun mulai merasa resah. Matanya bergantian menatap jam tangan dan pintu yang tak kunjung terbuka.

"Tunggu, kenapa aku harus cemas? Bukannya bagus kalau dia nggak datang?" batinnya dengan raut tersenyum kecil.

Hingga sampai jam makan siang, Renald tak juga muncul. "Apa dia lagi rapat, jadi datangnya nanti setelah makan siang, ya?" gumam Kinara menenangkan diri.

Karena waktu istirahat telah tiba, sesuai janji semalam dengan Gisel, ia pun berniat menemuinya untuk makan siang bersama. Namun saat mencoba menghubungi berulang kali, Gisel tak kunjung mengangkat telfonnya. Akhirnya, Kinara pun memutuskan untuk melangkah menuju divisi lamanya—tempat Gisel bekerja.

Baru memasuki koridor menuju meja kerja Gisel, Kinara langsung disambut tatapan menusuk dari orang-orang di divisi lamanya.

Kinara menahan diri. Ia ingin menyapa, tapi niat itu mendadak lenyap. Ia memilih menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya, lalu mempercepat langkah menuju meja kerja Gisel.

Hingga tiba-tiba Gisel muncul. Dengan wajah ceria, ia langsung meraih tangan Kinara. "Kinara sorry, gue baru dari toilet tadi. Yuk, kita makan," serunya, menariknya menuju kantin.

Di perjalanan, Kinara mencondongkan sedikit badannya. "Eh, Sel… ada yang aneh ya dari pakaian gue hari ini?" tanyanya lirih, merasa tatapan orang-orang tadi masih menusuk.

Gisella terkekeh. "Aneh dari mana? Lo cantik banget malah. Blouse itu cocok banget di lo."

Kinara menghela napas lega, meski masih ada perasaan aneh. "Nggak tahu kok rasanya… kayak semua orang ngeliatin gue beda ya."

Gisella menepuk bahunya perlahan. "Santai aja. Mereka mungkin iri, soalnya lo kan sekarang kerja langsung di bawah Renald. Itu posisi yang semua orang pengen, tahu nggak?"

Ucapan itu membuat Kinara terdiam. Ia sendiri masih belum mengerti, apakah berada dekat dengan Renald adalah keberuntungan… atau masalah besar.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!