membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
...28: MENU YANG DI PERSIAPKAN...
...****************...
"Hah... Baik... Baiklah, terserahmu saja, Master! Kalau begitu, di mana semua barang yang aku minta disediakan? Aku ingin segera mengambilnya," ujar Kenzie Laurent sembari melambai-lambaikan tangannya dengan santai, mencoba memotong sepihak sesi ocehan Arvendel yang hendak memberinya nasihat panjang lebar.
"Kamu bocah nakal benar-benar ya!" tunjuk Arvendel, wajahnya memerah kesal ke arah Kenzie. Namun, melihat kekukuhan muridnya yang bermuka tebal itu, ia hanya bisa menghela napas pasrah. "Haiis... Sudahlah! Itu barang-barang yang kamu inginkan sudah disiapkan di dalam kotak penyimpanan pusaka. Segera ambil dan pergi secepatnya dari hadapanku! Kamu datang kemari hanya membuat kepalaku pusing!" seru Arvendel sambil memijat kedua alisnya yang mendadak terasa pening akibat perilaku ajaib Kenzie.
Arvendel memandangi wajah Kenzie sembari kembali mengingat masa lalu. Jika dipikir-pikir kembali, dulu saat Kenzie masih remaja, ia adalah sosok anak yang begitu sopan, polos, dan penurut. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, sifatnya mendadak berubah drastis menjadi seorang pria narsistik yang seolah tidak memiliki tabiat baik sama sekali. Hmph, entah sifat buruk milik siapa yang ditirunya di dalam hidupnya, sampai-sampai dia tumbuh menjadi bocah yang begitu lancang, batin Arvendel yang masih menyisakan sedikit rasa heran di hatinya.
Pada titik ini, Arvendel benar-benar tidak menyadari satu fakta krusial, bahwa sifat Kenzie saat ini sebenarnya adalah cerminan dari bagian sifat lain dari dalam dirinya sendiri yang enggan ia akui secara jujur. Seorang guru adalah teladan utama bagi muridnya, dan tentu saja jika sifat dasar gurunya sekonyol dan sekeras itu, maka sang murid pun akan tumbuh tidak jauh berbeda.
Vargan yang sedari tadi duduk tenang melihat ke arah Arvendel hanya bisa menahan senyum dan tawa kecil di balik cangkir araknya. Di mata Vargan, perilaku Kenzie saat ini adalah replika sempurna dari cerminan diri Arvendel sendiri ketika masih muda dulu. Kedua orang tersebut memang sangat cocok ditakdirkan menjadi sepasang guru dan murid karena memiliki frekuensi sifat yang sama persis.
"Terima kasih banyak Master Arvendel, Master Vargan, karena telah menuruti dan mengabulkan permintaanku," ucap Kenzie tulus. Ia menaruh kotak pusaka yang berisi alat-alat latihan misterius itu ke dalam dimensi cincin penyimpanannya, lalu tersenyum ramah sembari membungkuk memberi hormat formal.
"Bagus, seperti itulah sifat seorang murid yang tahu tata krama," ucap Arvendel, sedikit merasa puas melihat Kenzie akhirnya mau membungkuk sopan.
"Tidak perlu sungkan atau menganggapnya berlebihan seperti itu, Kenzie. Sudah menjadi kewajiban yang semestinya bagi seorang guru untuk memberikan sesuatu yang mendukung perkembangan muridnya," timpal Vargan pada Kenzie sambil menyunggingkan senyuman hangat yang menenangkan.
"Baik, Master... Kalau begitu, aku ingin bertanya, ke mana sebenarnya arah tujuan kedua adikku pergi saat ini?" tanya Kenzie kemudian, dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan ke arah dua orang yang sangat ia sayangi.
Mendengar Kenzie menyebut nama saudaranya, Rava dan Ryujin yang sedari tadi hanya membisu seketika memasang wajah penasaran. Dipenuhi rasa ingin tahu yang teramat besar mengenai sisi lain dari kehidupan masa lalu Kenzie, keduanya langsung menajamkan pendengaran dan menyimak obrolan tersebut secara saksama.
"Reinzie dan Chelsea... Mereka berdua mungkin saat ini telah menempuh perjalanan petualangan yang teramat jauh dari tempat ini," ucap Vargan dengan gurat wajah yang menyiratkan sedikit rasa sedih dan rindu atas kepergian Reinzie dan Chelsea, matanya memandangi jauh ke atas hamparan langit biru.
"Apakah mereka berdua telah berhasil menjadi seorang pendekar yang hebat di luar sana?" tanya Kenzie kembali, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Ya, mereka berdua sekarang sudah sangat kuat. Kehebatan dan kerja sama mereka bahkan sudah lebih dari cukup untuk menyapu bersih segerombolan monster tingkat tinggi dalam sekali jalan," jawab Vargan tersenyum hangat, bangga atas perkembangan dua remaja yang sempat ia didik dan menetap bersamanya tersebut.
"Hmph, tentu saja. Tak heran jika Reinzie bisa tumbuh menjadi orang sehebat itu dalam waktu singkat. Bakat alami dan kejeniusan mutlak yang ia miliki sejak lahir memang sangat mendukung dirinya untuk berkembang jauh lebih cepat daripada siapa pun di dunia ini," ujar Kenzie dengan seulas senyuman bangga yang teramat tulus di wajahnya, sama sekali tidak merasa cemburu pada potensi adiknya yang melompati langit.
Di sisi lain, Rava maupun Ryujin langsung terbelalak dan melongo hebat mendengar penuturan Kenzie. Otak mereka mendadak kosong. Kenzie—sosok monster hidup yang kekuatannya sudah berada di luar nalar manusia biasa hingga mampu meratakan puluhan peserta ujian tanpa keringat—ternyata mengakui dengan jujur bahwa bakat dan kejeniusan adiknya jauh lebih mengerikan hingga tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya.
Jika Kenzie yang sekuat ini saja sampai sebegitu bangganya mendewakan kekuatan sang adik, maka seberapa menakutkannya sosok adik kandung Kenzie yang asli? Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk Rava dan Ryujin merinding ngeri.
"Kalau begitu, urusan kami di sini sudah selesai. Kami pamit pergi dulu, Master," ucap Kenzie akhirnya berpamitan. Ia membungkuk memberi hormat terakhir kepada kedua orang pria bertampang dewasa tersebut, yang kemudian langsung diikuti secara serentak oleh gerakan Rava dan Ryujin.
"Mohon pamit, Master Arvendel dan Master Vargan! Terima kasih atas kebaikan Anda hari ini!" ucap Rava dan Ryujin secara bersamaan dengan nada yang teramat sopan.
Melihat punggung ketiga pemuda itu mulai melangkah menjauh dan berjalan naik ke atas kereta kuda terbang di ujung halaman, Arvendel yang sejak tadi diam mendadak merasakan firasat yang aneh. Insting pendekar agungnya mendeteksi ada sebuah niat jahat tersembunyi yang diselimuti kelicikan masif di dalam senyuman terakhir Kenzie tadi.
Arvendel mengalihkan pandangannya ke arah Rava dan Ryujin, lalu memasang wajah penuh rasa kasihan yang mendalam kepada dua pemuda malang tersebut. Entah siksaan neraka apa yang akan terjadi, Arvendel tahu pasti bahwa hal yang teramat buruk akan segera menimpa mereka berdua begitu Kenzie membawa pergi barang-barang gravitasi ekstrem tersebut dari tempat ini.
Perjalanan pulang di atas kereta terbang berlangsung dengan sangat cepat. Sepanjang perjalanan membelah awan, Kenzie hanya duduk bersandar sembari memejamkan mata, mematangkan cetak biru dari skenario latihan brutal yang sudah ia rancang. Sementara Rava dan Ryujin hanya berani duduk diam di pojokan kabin kereta, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun karena atmosfer di sekitar Kenzie mendadak terasa begitu dingin dan pekat bagaikan seorang algojo yang siap mengeksekusi korbannya.
*Wushhhh!*
Kereta terbang mendarat dengan senyap di area luar. Tanpa membuang waktu sepeser pun, Kenzie langsung menggiring Rava dan Ryujin berjalan menuju area belakang dari kediaman Master Helena.
Sesuai dengan instruksi yang ditinggalkan Kenzie sebelum pergi siang tadi, di area luas yang terletak tepat di bawah gemuruh air terjun besar yang megah itu, tiga sosok gadis cantik Wulan Tsuyoki, Liera, dan Snowy, rupanya sudah berdiri menunggu kedatangan mereka sejak lama.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..