Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Langkah Senyap di Sektor Barat
Kepekatan malam di Sektor Anggrek Barat terasa begitu mencekam setelah kelompok pertama yang dipimpin oleh Mayor Cakra dan Hana menghilang di balik kabut. Di bawah dermaga pelabuhan usang yang berderit pelan dihantam ombak udara, Kapten Alden memastikan kembali kesiapan dua prajurit elite kapal yang berada di barisan belakang.
Alden kemudian berbalik, menatap Clara yang sedang merapikan posisi tongkat komando elang perak di punggungnya. Mata abu-abu badai sang Kapten melembut sejenak, tangannya bergerak merapikan kerah jubah wol bulu beruang langit milik istrinya agar menutupi leher Clara dari tusukan angin malam yang dingin.
"Jalur masuk kita adalah pipa pembuangan limbah hidrolik yang berada di bawah tebing fondasi luar istana," ujar Alden, suaranya berupa bisikan rendah yang sarat akan ketegasan militer. "Medannya basah dan vertikal. Ingat, Clara, jangan paksakan lengan kananmu yang cedera. Jika kau merasa lelah, katakan padaku."
Clara tersenyum menenangkan, tangan kirinya menepuk punggung tangan Alden yang berada di kerah jubahnya. "Aku bukan lagi wanita lemah yang terkejut oleh dinginnya malam, Kapten. Keberadaan Leo, Rin, dan Toby yang bersembunyi di *The Sky Leviathan* adalah kekuatanku sekarang. Mari kita bergerak sebelum paruh malam berganti."
Alden mengangguk tegap. Dengan lambaian tangan yang efisien, ia memberi komando kepada dua prajurit di belakang untuk mulai bergerak.
Empat orang itu melangkah membelah kegelapan Sektor Anggrek Barat, memanfaatkan rimbunnya kelopak anggrek raksasa yang menggantung di dinding tebing sebagai pelindung alami dari sorotan lampu patroli kapal-kapal udara militer milik Marsekal Vane.
Mereka bergerak seperti empat bayangan senyap, menyusuri jalan setapak berbatu yang licin hingga tiba di sebuah jeruji besi besar yang tertanam di dasar dinding beton pembatas luar Kekaisaran bawah.
Dari dalam jeruji tersebut, aroma besi berkarat dan hawa lembab menguar pekat, diiringi suara dengungan mesin hidrolik istana yang bergetar secara periodik dari kejauhan. Ini adalah pintu masuk menuju jaringan labirin air bawah tanah.
Salah satu prajurit elite melangkah maju, menggunakan alat pemotong mekanis bertenaga kristal energi untuk merusak engsel jeruji bawah tanpa menimbulkan suara. Setelah celah terbuka cukup lebar, Alden memimpin barisan untuk menyelinap masuk ke dalam, diikuti oleh Clara yang bergerak tangkas mengabaikan rasa tidak nyaman pada pergelangan tangan kanannya.
Begitu mereka menapakkan kaki di dalam koridor beton jalur air, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat pekat. Di atas langit-langit terowongan yang melingkar, deretan lampu sensor pelacak aura memancarkan semburat warna merah redup yang menyapu permukaan lantai secara berkala.
"Tahan posisi," desis Alden, merentangkan tangan kirinya untuk menghentikan langkah Clara tepat di batas bayang-bayang pilar beton.
Lampu-lampu sensor merah itu terus bergerak, memindai setiap jengkal ruang dengan fluktuasi energi sihir yang pekat. Jika salah satu dari mereka melangkah maju sekarang, sistem pertahanan pusat istana akan langsung mengenali anomali aura dan meletuskan alarm bahaya di seluruh sektor.
Clara melirik jam saku mekanis yang tersemat di pinggang Alden. Jarum tembaga kecilnya berdetak konstan, memburu waktu yang kian menipis. "Masih ada waktu tiga menit sebelum jadwal sabotase Mayor Cakra dan Hana di ruang kendali logistik atas, Alden."
"Kita akan menunggu di sini," sahut Alden rendah. Pria itu menggeser posisi tubuh tegapnya yang tinggi besar, berdiri kokoh di depan Clara untuk menghalanginya dari rembesan air dingin yang menetes dari sela-sela langit-langit beton.
Dalam keheningan bawah tanah yang mencekam itu, detak jantung mereka seolah beriringan dengan ritme putaran mesin pompa raksasa di ujung terowongan. Clara meraba saku pakaian wolnya, memastikan botol kristal berisi sisa esensi kutukan hitam milik anak-anak mereka tersimpan dengan aman, senjata kebenaran yang akan mereka bawa ke hadapan Kaisar Tertinggi.
Alden melirik kembali pergelangan tangan kirinya, menghitung detik demi detik yang terasa berjalan sangat lambat di tengah ketegangan taruhan politik ini.
"Dua menit lagi menuju waktu eksekusi Mayor Cakra," bisik Alden, memastikan seluruh kru bersiaga penuh pada posisi mereka.
Lentera energi di tangan kirinya sengaja diredupkan hingga menyisakan pendaran tipis, siap meluncur menembus katup hidrolik begitu kegelapan yang mereka nantikan tiba memutus kuncian sihir Kekaisaran.
Bab 28: Langkah Senyap di Sektor Barat
Kepekatan malam di Sektor Anggrek Barat terasa begitu mencekam setelah kelompok pertama yang dipimpin oleh Mayor Cakra dan Hana menghilang di balik kabut. Di bawah dermaga pelabuhan usang yang berderit pelan dihantam ombak udara, Kapten Alden memastikan kembali kesiapan dua prajurit elite kapal yang berada di barisan belakang.
Alden kemudian berbalik, menatap Clara yang sedang merapikan posisi tongkat komando elang perak di punggungnya. Mata abu-abu badai sang Kapten melembut sejenak, tangannya bergerak merapikan kerah jubah wol bulu beruang langit milik istrinya agar menutupi leher Clara dari tusukan angin malam yang dingin.
"Jalur masuk kita adalah pipa pembuangan limbah hidrolik yang berada di bawah tebing fondasi luar istana," ujar Alden, suaranya berupa bisikan rendah yang sarat akan ketegasan militer. "Medannya basah dan vertikal. Ingat, Clara, jangan paksakan lengan kananmu yang cedera. Jika kau merasa lelah, katakan padaku."
Clara tersenyum menenangkan, tangan kirinya menepuk punggung tangan Alden yang berada di kerah jubahnya. "Aku bukan lagi wanita lemah yang terkejut oleh dinginnya malam, Kapten. Keberadaan Leo, Rin, dan Toby yang bersembunyi di The Sky Leviathan adalah kekuatanku sekarang. Mari kita bergerak sebelum paruh malam berganti."
Alden mengangguk tegap. Dengan lambaian tangan yang efisien, ia memberi komando kepada dua prajurit di belakang untuk mulai bergerak.
Empat orang itu melangkah membelah kegelapan Sektor Anggrek Barat, memanfaatkan rimbunnya kelopak anggrek raksasa yang menggantung di dinding tebing sebagai pelindung alami dari sorotan lampu patroli kapal-kapal udara militer milik Marsekal Vane. Mereka bergerak seperti empat bayangan senyap, menyusuri jalan setapak berbatu yang licin hingga tiba di sebuah jeruji besi besar yang tertanam di dasar dinding beton pembatas luar Kekaisaran bawah.
Dari dalam jeruji tersebut, aroma besi berkarat dan hawa lembab menguar pekat, diiringi suara dengungan mesin hidrolik istana yang bergetar secara periodik dari kejauhan. Ini adalah pintu masuk menuju jaringan labirin air bawah tanah.
Salah satu prajurit elite melangkah maju, menggunakan alat pemotong mekanis bertenaga kristal energi untuk merusak engsel jeruji bawah tanpa menimbulkan suara. Setelah celah terbuka cukup lebar, Alden memimpin barisan untuk menyelinap masuk ke dalam, diikuti oleh Clara yang bergerak tangkas mengabaikan rasa tidak nyaman pada pergelangan tangan kanannya.
Begitu mereka menapakkan kaki di dalam koridor beton jalur air, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat pekat. Di atas langit-langit terowongan yang melingkar, deretan lampu sensor pelacak aura memancarkan semburat warna merah redup yang menyapu permukaan lantai secara berkala.
"Tahan posisi," desis Alden, merentangkan tangan kirinya untuk menghentikan langkah Clara tepat di batas bayang-bayang pilar beton.
Lampu-lampu sensor merah itu terus bergerak, memindai setiap jengkal ruang dengan fluktuasi energi sihir yang pekat. Jika salah satu dari mereka melangkah maju sekarang, sistem pertahanan pusat istana akan langsung mengenali anomali aura dan meletuskan alarm bahaya di seluruh sektor.
Clara melirik jam saku mekanis yang tersemat di pinggang Alden. Jarum tembaga kecilnya berdetak konstan, memburu waktu yang kian menipis. "Masih ada waktu tiga menit sebelum jadwal sabotase Mayor Cakra dan Hana di ruang kendali logistik atas, Alden."
"Kita akan menunggu di sini," sahut Alden rendah. Pria itu menggeser posisi tubuh tegapnya yang tinggi besar, berdiri kokoh di depan Clara untuk menghalanginya dari rembesan air dingin yang menetes dari sela-sela langit-langit beton.
Dalam keheningan bawah tanah yang mencekam itu, detak jantung mereka seolah beriringan dengan ritme putaran mesin pompa raksasa di ujung terowongan. Clara meraba saku pakaian wolnya, memastikan botol kristal berisi sisa esensi kutukan hitam milik anak-anak mereka tersimpan dengan aman—senjata kebenaran yang akan mereka bawa ke hadapan Kaisar Tertinggi.
Alden melirik kembali pergelangan tangan kirinya, menghitung detik demi detik yang terasa berjalan sangat lambat di tengah ketegangan taruhan politik ini.
"Dua menit lagi menuju waktu eksekusi Mayor Cakra," bisik Alden, memastikan seluruh kru bersiaga penuh pada posisi mereka.
Lentera energi di tangan kirinya sengaja diredupkan hingga menyisakan pendaran tipis, siap meluncur menembus katup hidrolik begitu kegelapan yang mereka nantikan tiba memutus kuncian sihir Kekaisaran.